Riski seorang Fans Sepak bola fanatic saat pulang nonton pertandingan di tabrak mobil dan akhirnya terlempar Ke Dunia Lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Dominasi Sang Kurcaci di Liga Spanyol
Musim 2007/2008 menjadi panggung yang tak terlupakan bagi akademi La Masia. Riski, yang secara resmi terdaftar di tim Barcelona U-10 (Alevín), memulai perjalanan panjangnya dalam satu musim penuh kompetisi Liga Spanyol Junior. Meski usianya baru menginjak tahun ketujuh, ia harus bersaing dengan anak-anak yang secara fisik jauh lebih matang. Namun, sistem di kepalanya telah menetapkan target yang hampir mustahil bagi pemain seusianya.
[Ding! Misi Musim Penuh Aktif!]
[Nama Misi: Penguasa Spanyol Junior]
[Tujuan: Menjadi Top Skor, Top Assist, dan Juara Liga U-10]
[Hadiah Misi:]
Seluruh Stats meningkat 10 Poin
Uang Cash Rp 2.000.000 (Otomatis masuk ke Inventory)
Riski menatap layar itu dengan tekad baja. Sepuluh poin tambahan di setiap statistik akan mengubahnya menjadi pemain "curang" di kelompok usianya. Ia tahu, setiap pertandingan dalam liga ini adalah anak tangga menuju kejayaan tersebut.
Perjalanan musim ini dimulai dengan dominasi mutlak. Dari pertandingan pertama hingga pertengahan musim, Barcelona menyapu bersih kemenangan. Riski menjadi otak serangan, mencatatkan rata-rata dua assist per pertandingan. Di bawah langit Catalunya yang dingin, ia mulai menyesuaikan gaya bermainnya; tidak lagi sekadar mengandalkan giringan bola plastik ala Bau-Bau, melainkan visi bermain kelas dunia. Namun, ujian sesungguhnya datang saat mereka harus menghadapi dua raksasa dari ibu kota.
Pertempuran Sengit: Barcelona vs Atletico Madrid
Pertandingan melawan Atletico Madrid U-10 di paruh musim kedua adalah duel fisik yang brutal. Atletico dikenal dengan pertahanan gerendel mereka, bahkan di tingkat junior. Riski dijaga ketat oleh dua gelandang bertahan yang badannya hampir dua kali lipat darinya. Mereka tidak segan-segan menggunakan bahu dan sikut untuk menghentikan pergerakan Riski.
Menit ke-20, Riski menerima tekel keras yang membuatnya terjatuh di atas rumput. Wasit tidak meniup peluit karena menganggap itu benturan fisik biasa. Pemain Atletico tertawa meremehkan, "Kembalilah ke bangku TK, bocah!"
Riski bangkit tanpa mengeluh, menepis debu di celananya. Statistik Phy: 20 miliknya membuatnya cukup tangguh untuk menahan benturan. Balas dendamnya datang lima menit kemudian. Melalui skema serangan balik, Riski menggiring bola dari tengah lapangan. Ia melihat celah sempit di antara bek Atletico. Dengan Dri: 22, ia melakukan gerak tipu yang membuat lawan kehilangan keseimbangan. Riski melepaskan operan terobosan mendatar yang membelah pertahanan lawan tepat ke arah striker utama.
Pertandingan berakhir 2-1 untuk Barcelona. Riski mencetak gol penentu di menit akhir melalui tendangan bebas melengkung yang melewati pagar betis tinggi lawan. Atletico tunduk pada kecerdasan sang kurcaci.
El Clasico Junior: Barcelona vs Real Madrid
Pertandingan terakhir musim ini adalah penentuan gelar juara. Real Madrid berada di posisi kedua, hanya tertinggal dua poin dari Barcelona. Stadion mini di Valdebebas dipenuhi oleh orang tua, pencari bakat, dan media lokal yang penasaran melihat "Si Ajaib dari Indonesia".
Sebagai seorang Madridista di kehidupan sebelumnya, Riski merasakan sensasi aneh saat melihat logo Real Madrid di dada lawan-lawannya. Namun, profesionalisme mengalahkan emosi pribadinya. Ia harus menghancurkan tim impiannya demi mencapai tujuannya sendiri.
Menit ke-10, Real Madrid unggul lebih dulu lewat skema sepak pojok. Mental pemain Barcelona sempat goyah menghadapi tekanan pendukung tuan rumah. Di sinilah Riski mengambil peran sebagai pemimpin tak resmi. Ia meminta bola terus-menerus, turun jauh ke lini tengah untuk menjemput bola. Dengan statistik Pas: 19, ia mengatur ritme permainan, memaksa pemain Madrid mengejar bayangan bola hingga kelelahan.
Di babak kedua, "Sihir Bau-Bau" meledak. Riski mendapatkan bola di sisi sayap. Ia melakukan solorun, melewati tiga pemain Madrid dengan kombinasi step-over dan roulette. Saat berada di kotak penalti, ia melakukan umpan tarik yang diselesaikan dengan sempurna oleh striker Barcelona. Skor 1-1.
Menit terakhir pertandingan, suasana semakin tegang. Barcelona mendapat sepak pojok. Bola dibuang oleh bek Madrid dan jatuh tepat di kaki Riski yang berdiri bebas di luar kotak penalti. Tanpa kontrol, Riski melepaskan tendangan voli keras menggunakan punggung kakinya. Bola meluncur deras seperti peluru, menghujam pojok kiri gawang Madrid tanpa sempat dihalau kiper.
GOOOOL! Barcelona Juara!
Begitu peluit panjang ditiup di Valdebebas, Riski tidak hanya merayakan gelar juara, tetapi juga menandai momen transisi dalam hidupnya. Di hari kemenangan itu, Riski resmi menginjak usia 7 tahun. Ia berdiri di podium juara sebagai pencetak gol terbanyak (35 gol) dan pemberi assist terbanyak (28 assist) di Liga U-10.
Seketika, sistem memberikan notifikasi legendaris yang ia tunggu-tunggu.
[Ding! Misi 'Penguasa Spanyol Junior' SELESAI!]
[Mengkalkulasi Hadiah... Semua Target Tercapai!]
Sensasi energi yang luar biasa dahsyat menghantam tubuh Riski. Rasanya seperti setiap serat ototnya diperkuat secara paksa dan kapasitas otaknya untuk membaca arah bola meningkat berkali-kali lipat. Ini adalah evolusi fisik dan mental terbesar yang pernah ia alami.
Statistik Riski (Usia: 7 Tahun - Update Akhir Musim):
Pac (Speed): 25 (+10)
Sho (Shooting): 32 (+10)
Pas (Passing): 29 (+10)
Dri (Dribbling): 32 (+10)
Def (Defending): 27 (+10)
Phy (Physical): 30 (+10)
Overall: 29.1
Informasi Keuangan (Inventory):
Saldo Sebelumnya: Rp 1.175.000
Hadiah Misi: Rp 2.000.000
Pengeluaran Musim Ini (Kebutuhan & Kiriman Rahasia): Rp 175.000
Total Saldo Saat Ini: Rp 3.000.000
Di ruang ganti yang riuh oleh selebrasi, Albert Capellas menghampiri Riski. Ia berlutut agar bisa menatap langsung mata bocah tujuh tahun itu, ekspresinya tampak jauh lebih serius dari biasanya.
"Riski, hari ini kamu adalah raja di kategori U-10. Tapi singgasana ini sudah terlalu sempit untukmu. Kamu telah menghancurkan semua rekor yang ada," ujar Capellas dengan nada kagum sekaligus khawatir. "Kami telah berdiskusi dengan direktur utama La Masia. Mulai musim depan, kamu tidak akan bermain di U-11 atau U-12."
"Maksud Anda, Mister?" tanya Riski dalam bahasa Spanyol yang kini sangat fasih.
"Kamu akan dipromosikan langsung ke Cadete B. Kamu akan masuk ke kategori U-14. Di sana, kamu akan menghadapi remaja berusia 13 dan 14 tahun. Mereka lebih tinggi, lebih kuat, dan akan memperlakukanmu seperti pemain profesional, bukan anak kecil. Apakah kamu siap menghadapi para raksasa itu?"
Riski mengepalkan tangannya. Uang tiga juta rupiah di Inventory-nya adalah jaminan hidup, tapi tantangan melompati tiga jenjang usia adalah bahan bakar bagi ambisinya.
"Aku siap," jawab Riski mantap. "Semakin besar lawannya, semakin manis kemenangannya."
Dunia kini mulai berbisik tentang seorang bocah tujuh tahun dari Indonesia yang akan segera menggebrak level remaja Spanyol. Perjalanan sesungguhnya melawan para "raksasa" baru saja dimulai.