Sudah 5 tahun sejak pernikahanku dengan Raymond. Di depan keluarga dan teman, kami adalah pasangan yang harmonis. Tapi ketika di dalam rumah kecilku, aku merasa hampa. Ini terasa seperti aku bermain sandiwara selama 5 tahun lebih. Aku pun tidak tahu apa yang salah dengan diriku sendiri kenapa aku masih memaksa diriku untuk bersamanya. Tapi satu hal yang pasti, suamiku mencintai statusnya sebagai suami bukan mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Di sebuah cafe tidak jauh dari kampus, Llyn dan Ray duduk berhadapan. Di meja sebelah ada Matt yang enggan pergi namun tidak memiliki hak apapun untuk melarang Llyn bertemu dengan Ray.
Sebelumnya, Ray tiba-tiba muncul membuat suasana hati semua orang menjadi buruk. Bahkan profesor Romi sengaja memberikan tugas agar Llyn langsung masuk. Kejadian masa lalu sangat membekas di benaknya dan secara otomatis ia tidak ingin kejadian itu terulang lagi.
"maafkan saya Llyn kalau sudah melewati batas."
"maksud profesor apa?"
"apa kamu ingin bertemu Ray?"
"tidak ingin dan tidak akan mau, aku sudah putus hubungan dengannya jadi tidak ada yang perlu dibahas lagi."
"tapi sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu kepadamu."
Llyn berusaha tidak memedulikan hal itu dan tetap sibuk dengan pekerjaannya.
"kalau kamu berkenan, temui dia dan tuntaskan masalah kalian. Saya mengizinkan kamu untuk menemuinya."
"tidak perlu prof, sekarang waktunya bekerja bukan jalan-jalan."
Saat pulang dari kampus dan berjalan menuju tempat parkir, Ray ternyata masih menunggu di lorong kampus menuju tempat parkir. Mau tidak mau ia tertahan dan berakhir di cafe.
"ada apa?"
"ayo pulang."
Llyn melihat mata sayu itu, tubuhnya sedikit lebih kurus dan ada kumis tipis yang mulai tumbuh. Ini bukan Ray yang dulu ia kenal. Ray yang dulu selalu mementingkan penampilan dan terlihat rapih.
"pulang ke mana?"
"ke rumah kita, aku membeli rumah baru untuk kita berdua. Kalau kamu mau, aku bisa memberikan rumah ini untukmu."
"sebagai kompensasi perceraian?"
"tidak, Llyn?"
Ray memegang tangan Llyn namun langsung ditepis oleh wanita itu. "kalau tujuanmu datang hanya untuk itu, sebaiknya pulang saja."
Llyn hendak berdiri namun tangannya kembali di tahan. "pulang ya, aku mohon," pintanya dengan nada memelas.
Llyn semakin muak dengan drama yang tiba-tiba muncul ini. Selama beberapa waktu ini ia sudah menikmati hari yang damai dan itu semua dirusak oleh pria itu.
"tidak ada gunanya kamu memohon."
Llyn langsung berdiri dan menepis lagi tangan Ray, ia menggandeng Matt dan keluar dari cafe. Ray dengan cepat mengikuti dari belakang dan berusaha menahannya lagi. Tapi kali ini Matt yang turun tangan langsung menghalangi Ray meraih Llyn.
"kenapa Llyn? apa alasannya kamu pergi?"
Wanita itu menarik nafas lalu memutar badannya menghadap ke arah Ray. Tanpa mendekati selangkah pun, ia memandang Ray dengan tatapan yang begitu tersakiti.
"apa aku perlu menjelaskannya lagi? kalau kamu mencari istri hanya untuk status saja, sebaiknya cari yang lain karena aku tidak mau."
Setelah mengatakan hal itu, Llyn langsung berbalik dan berjalan cepat menuju mobil Matt. Sementara Matt masih berusaha menahan Ray yang hendak mengejarnya.
"apa apaan kamu! siapa kamu berani menghalangi saya?"
"saya supir nona Llyn hari ini, saya bertanggungjawab menjaga keamanannya selama bersama saya."
"hanya supir saja belagu."
"bapak Ray yang terhormat, sebaiknya pulang dan berkaca. Cari sendiri di mana kesalahan anda, kalau sudah ketemu menyesal lah seumur hidupmu. Karena Llyn tidak akan pernah mau kembali lagi."
Setelah mengatakan hal itu, Matt sedikit tersenyum sebelum pergi menyusul Llyn. Ray hanya bisa menendang angin saat melihat mobil itu melaju kencang menjauh darinya.
Sementara itu, Llyn diam sepanjang perjalanan karena moodnya sudah rusak. Tanpa ia sadari, mobil yang ditumpanginya melintasi jalan yang bukan ke arah apartemennya. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti dan ia baru sadar kalau mereka berhenti di tempat asing.
"ini dimana?"
"ayo keluar."
"ini sepi banget, kamu nggak akan macam-macam kan?"
"nggak kok, satu macam aja."
"ih yang bener, kalau nggak aku telfon polisi nih."
Matt sedikit terkekeh lalu berjalan memutar dan membukakan pintu penumpang. Mengulurkan tangannya ke arah Llyn dan wajahnya terus dihiasi dengan senyuman. Sementara Llyn masih menatapnya dengan tatapan penuh curiga.
"dijamin kamu pasti suka."
Llyn meraih tangan Matt dan keluar dari mobil. Mereka lanjut berjalan dengan tangan yang saling bertaut. Matt menggenggamnya dengan erat karena pencahayaan yang remang membuatnya khawatir terjadi sesuatu kepada Llyn. Setelah berjalan kaki beberapa saat, mereka sampai di salah satu titik yang menurut Llyn itu sangat indah. Lokasinya seperti di bukit, tapi tidak terlalu tinggi. Dari tempat itu, ia bisa melihat taburan bintang di langit dengan bulan yang terlihat bulat penuh dan besar menjadi pusatnya.
Matt melepas jaket yang dikenakannya lalu memakaikannya ke tubuh Llyn. "maaf ya, ke sini nggak prepare dulu, kamu jadi harus kedinginan begini."
Llyn mengeratkan jaket ke tubuhnya sendiri sambil tersenyum ke arah Matt.
"aku lihat moodmu tadi kurang bagus, lalu aku ingat tempat ini. Tapi kalau mau ke sini jangan sendirian ya, harus ajak teman."
Llyn kembali memandang Matt lalu mengangguk. Ia bersyukur karena memiliki pria itu di sampingnya.