Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DINAMIKA KARIER DAN SINYAL DISTRAKSI
Pagi ini, suasana di apartemen Dirgantara terasa seperti latihan simulasi darurat. Ini adalah hari pertama Kania kembali ke kantor secara penuh untuk menangani kasus besar di firma hukumnya, sementara Devan memulai tugasnya sebagai "Ayah Siaga" sekaligus dokter konsultan dari rumah.
"Dok, berkas audit ada di meja, botol susu Arlo sudah steril di rak bawah, dan tolong... jangan sampai lupa makan siang karena keasyikan baca jurnal," ujar Kania sambil memoleskan lipstik tipis, gerakannya cepat dan efisien.
Devan, yang sedang menggendong Arlo di bahu kirinya sambil memegang tablet di tangan kanannya, hanya mengangguk tenang. "Semua variabel terkendali, Kania. Saya sudah mengatur alarm setiap tiga jam untuk jadwal nutrisi Arlo. Kamu fokuslah pada negosiasi kontrak itu."
Kania mendekat, memberikan ciuman singkat di pipi Arlo dan kecupan lebih lama di bibir Devan. "Semangat, Pak Dokter. Jangan sampai Arlo diajak diskusi soal bedah saraf ya."
"Tergantung apakah dia memberikan respons kognitif yang memadai," jawab Devan dengan kerlingan mata nakal.
Setelah pintu tertutup, keheningan menyelimuti apartemen. Devan menatap putranya. "Oke, Arlo. Hari ini agenda kita adalah stabilitas domestik. Tidak ada tangisan di atas 60 desibel, sepakat?"
Arlo hanya menjawab dengan semburan air liur yang mendarat tepat di kemeja biru Devan. Sang dokter bedah saraf menghela napas. "Kontaminasi tahap satu. Masih dalam batas toleransi."
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Pukul sepuluh pagi, saat Devan sedang melakukan panggilan video konferensi dengan tim dokter dari Jerman mengenai kasus tumor langka, Arlo mulai menunjukkan tanda-tanda bosan.
"Jadi, Prof. Muller, saya rasa pendekatan _minimal invasive_ adalah—"
_Oeeekk! Oeeekk!_
Suara Arlo memecah keseriusan rapat internasional tersebut. Devan mencoba tetap profesional. Ia mengambil mainan kerincing dan menggoyangkannya di bawah meja, namun Arlo justru semakin kencang berteriak.
"Maaf, Prof. Sepertinya ada interupsi audio dari asisten kecil saya," ucap Devan dalam bahasa Inggris yang fasih.
Profesor di layar tertawa. "Tidak apa-apa, Devan. Sepertinya asistenmu sedang melakukan protes terhadap metode operasimu."
Devan terpaksa mengakhiri rapat lebih cepat. Ia menyadari bahwa menjadi dokter konsultan sambil mengasuh bayi adalah tantangan multitasking yang lebih berat daripada melakukan operasi _bypass_ pembuluh darah.
Sementara itu, di kantor firma hukum, Kania sedang menghadapi tekanan yang berbeda. Atasannya, Pak Baskara, memberinya tanggung jawab untuk memimpin tim dalam kasus merger perusahaan konstruksi besar.
"Kania, saya tahu kamu baru kembali dari cuti melahirkan, tapi saya butuh ketelitianmu di sini. Ada celah hukum di pasal 14 yang bisa merugikan klien kita," ujar Pak Baskara serius.
Kania menatap tumpukan dokumen di depannya. Di satu sisi, ia sangat bersemangat kembali ke dunianya. Di sisi lain, ia tidak bisa berhenti melirik ponselnya, menunggu laporan dari Devan.
"Saya akan kerjakan, Pak. Saya pastikan tidak ada celah yang terlewat," jawab Kania mantap.
Namun, saat jam makan siang, sebuah pesan masuk dari Bianca.
Bianca: Kan! Lo harus liat postingan terbaru di akun gosip RS Medika. Dr. Sarah balik lagi ke Jakarta buat seminar internasional besok, dan tebak siapa yang jadi moderatornya? Suami lo!
Kania tertegun. Devan tidak menyebutkan soal ini pagi tadi. Mungkin Devan pikir itu bukan hal penting, atau mungkin Devan sendiri baru mengetahuinya. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di hati Kania. Bukan karena ia tidak percaya pada Devan, tapi karena ia tahu betapa gigihnya Sarah di masa lalu.
Sore harinya, Devan sedang mencoba memasak makan malam sederhana saat Kania pulang. Rumah tampak sedikit berantakan ada beberapa popok yang belum sempat dibuang ke tempat sampah luar dan mainan berserakan tapi Arlo tampak sangat ceria di boks bayinya.
"Aku pulang..." suara Kania terdengar sedikit letih.
Devan segera menghampiri dan mengambil tas Kania. "Bagaimana harimu? Sidangnya lancar?"
"Lancar. Tapi melelahkan," jawab Kania pendek. Ia menatap Devan lekat-lekat. "Dok, Dokter ada acara di RS besok?"
Devan mengangguk sambil mengaduk sup. "Ya, ada seminar internasional sebagai bagian dari tugas konsultan saya. Kenapa?"
"Dokter tahu siapa yang jadi pembicara utamanya?"
Devan terdiam sejenak, lalu mematikan kompor. Ia berbalik menatap Kania. "Sarah. Saya baru tahu tadi siang saat menerima jadwal resmi dari panitia. Saya baru mau memberitahumu saat makan malam nanti."
"Oh. Jadi Dokter bakal satu panggung lagi sama dia?"
Devan berjalan mendekat, menangkup wajah Kania dengan kedua tangannya. Ia bisa merasakan ada sinyal distraksi dan sedikit kecemburuan di mata istrinya. "Kania, secara profesional, dia adalah rekan sejawat yang kompeten. Secara personal, dia adalah masa lalu yang sudah selesai. Moderator hanya bertugas mengatur lalu lintas pertanyaan, bukan perasaan."
Kania menghela napas, menyandarkan kepalanya di dada Devan. "Aku tahu, Dok. Aku cuma... aku baru aja balik kerja, ngerasa sedikit insecure sama penampilanku yang sekarang, terus denger dr. Sarah balik lagi dengan karier internasionalnya..."
"Dengarkan saya," suara Devan merendah dan penuh penekanan. "Sarah mungkin punya karier internasional, tapi kamu punya hati saya. Dan bagi saya, asisten legal yang sedang kelelahan ini jauh lebih menarik daripada pembicara medis mana pun di dunia."
Kania tersenyum kecil. "Gombalnya mulai lagi."
"Itu fakta medis, bukan gombalan," balas Devan sambil mengecup kening Kania.
Malam itu, saat mereka sedang bersantai, ponsel Devan bergetar. Sebuah pesan dari nomor internasional.
Sarah: _Hai Devan. Senang tahu kamu yang jadi moderator besok. Sampai jumpa di auditorium. Kuharap 'bantal bayi'mu tidak keberatan berbagi waktumu sebentar untuk sains._
Devan membaca pesan itu, lalu melirik Kania yang sedang asyik bermain dengan Arlo. Tanpa ragu, Devan membalas pesan itu dengan singkat dan tegas.
Devan: _Sampai jumpa, Sarah. Istri saya selalu mendukung perkembangan sains, selama itu tetap berada dalam batas profesionalisme yang jelas._
Devan meletakkan ponselnya, memutuskan untuk tidak membiarkan distraksi apa pun merusak ritme keluarganya. Namun, ia tahu bahwa pertemuan besok akan menjadi ujian bagi kedewasaan hubungannya dengan Kania.
"Besok kamu ikut ke RS?" tanya Devan tiba-tiba.
"Boleh?" Kania mengangkat alis.
"Tentu. Arlo bisa dititipkan sebentar di _daycare_ rumah sakit, dan kamu bisa melihat suamimu ini bekerja dalam mode 'kaku' yang sangat kamu rindukan," goda Devan.
Kania tertawa. "Oke. Aku bakal datang pakai baju paling keren, biar dr. Sarah tahu kalau 'bantal bayi' ini punya asisten legal yang sangat protektif."
Di bawah cahaya lampu apartemen, mereka menyadari bahwa tantangan bukan hanya datang dari dalam rumah, tapi juga dari dunia luar yang terus berputar. Namun selama mereka tetap berada di frekuensi yang sama, tidak ada sinyal distraksi yang bisa memutuskan ikatan mereka.