Amanda, wanita tangguh yang "terjebak" oleh bakti. Di usianya yang sudah sangat matang, ia menutup rapat pintu hatinya. Takut suaminya nanti tidak sanggup menerima paket lengkap kehidupannya yang rumit. Ayahnya yang renta dan adiknya yang istimewa.
Dirga Wijaya, seorang pria kaya merupakan ayah dari mantan muridnya. Berlidah tajam, seringkali melontarkan kritik yang menyinggung perasaan, membuat keduanya kerap terlibat perdebatan.
Saat kehidupan tenang Amanda terusik oleh kemunculan kembali mantan kekasihnya yang obsesif dan mulai melakukan tindakan kriminal, Dirga Wijaya menawarkan pernikahan kontrak.
Dirga mendapatkan status "menikah" demi putrinya, sementara Amanda mendapatkan perlindungan bagi ayah serta adiknya.
Di bawah atap yang sama, Akankah pernikahan itu terus berlanjut, atau terputus ketika masa kontrak berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
“Susi…” gumam Dirga pelan, nama almarhumah istrinya terucap begitu lembut dari bibirnya. Pemandangan Amanda yang penuh kasih sayang terhadap anak-anak itu benar-benar mengingatkannya pada sosok wanita yang paling ia cintai dulu. Susi juga dulu sebaik itu, sehangat itu.
“Manda, siapkan makanan untuk kita makan bersama ya. Ajak juga Tuan Dirga untuk ikut makan. Mumpung sudah ada di sini.”
Amanda mengangguk patuh, lalu melepaskan pelukan pelukan anak-anak asuhnya. Namun, sebelum ia sempat bergerak, Dirga sudah lebih dulu mengangkat tangannya memberi isyarat menolak.
“Tidak usah repot-repot, Pak,” ucap Dirga sopan namun tegas. “Saya baru saja sarapan sebelum mengantar Bu Amanda pulang. Perut saya masih penuh. Silakan dinikmati saja bersama keluarga.”
“Tapi, Tuan. Masa Tuan sudah sampai sini dan kami tidak menyuguhkan apapun?” sahut Pak Hendra mengerti.
“Tidak apa-apa, Pak. Kalau begitu, saya pamit dulu. Terima kasih sudah menerima saya,” ucap Dirga lalu berdiri dan mengangguk hormat pada Pak Hendra dan Amanda, sebelum berbalik melangkah keluar menuju beranda rumah.
Baru saja kakinya melangkah keluar, tiba-tiba seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang terlihat menor dan wajah ketus datang dengan langkah tergesa-gesa. Wanita itu adalah pemilik rumah kontrakan tempat mereka tinggal.
“Heh, Amanda! Kamu itu kemana saja sih? Ditunggu dari kemarin malah ngilang. Sengaja sembunyi ya?!” teriak wanita itu begitu melihat Amanda yang baru saja muncul di balik pintu. Suaranya yang keras membuat suasana hangat di dalam rumah seketika berubah mencekam.
Amanda terkejut dan wajahnya langsung berubah pucat. “Bu Gina…”
“Sudah, gak usah basa-basi!” potong Bu Gina ketus. “Kamu sudah menunggak bayar sewa selama tiga bulan! Kalau hari ini juga tidak ada uangnya, kamu dan anak-anak itu keluar dari rumahku sekarang juga! Aku tidak mau rugi karena kamu!”
Amanda gemetar, ia mencoba menenangkan diri. “Bu, tolong beri saya waktu lagi. Saya janji akan melunasinya. Beri saya waktu tiga hari saja. Saya pasti akan cari uangnya.”
“Tiga hari?! Aku sudah tidak percaya lagi omong kosongmu!”
Di belakang mereka, Dirga yang semula hendak pergi kini berhenti. Ia berdiri mematung di halaman, menatap tajam ke arah wanita yang berteriak itu. Raut wajahnya berubah dingin dan mengintimidasi.
Langkahnya perlahan mendekat, membuat Bu Gina yang tadinya galak seketika menelan ludah melihat aura mengerikan dari pria tampan dan berwibawa di hadapannya itu.
“Berapa jumlah yang harus dibayar?” tanya Dirga datar, suaranya rendah namun terdengar berwibawa.
Amanda langsung menoleh panik. “Tuan Dirga! Tidak perlu! Ini urusan saya! Saya sendiri yang akan mencarinya!” serunya menolak bantuan.
Namun Dirga sama sekali tidak menoleh ke arah Amanda. Matanya tetap terkunci pada Bu Gina, menunggu jawaban.
Bu Gina terbatuk kecil, mencoba terlihat sopan di hadapan pria yang terlihat kaya raya itu. “Em… begini, Tuan… karena sudah menunggak tiga bulan, ditambah denda keterlambatan, totalnya jadi enam juta.”
Amanda ternganga, matanya terbelalak. Kenapa naiknya banyak sekali. Padahal sewa kontrak sebulan sesuai kesepakatan hanya satu juta lima ratus. Apa bu Gina mencoba mencari keuntungan?
Tanpa berkata apa-apa, Dirga merogoh saku belakang celananya, mengambil dompet kulit hitamnya, membuka dompet itu dengan santai, bersiap mengeluarkan sejumlah uang tunai. Namun, seketika gerakannya terhenti.
Isi dompetnya kosong melompong. Tidak ada selembar uang pun di sana. Mungkin karena terbiasa melakukan pembayaran apapun menggunakan kartu.
“Sial,” umpatnya dalam hati.
Namun, wajahnya tetap tenang. Matanya beralih menatap mobil mewahnya yang terparkir di ujung gang.
Tanpa menjelaskan apa pun pada Amanda, Dirga berbalik badan dan berjalan cepat menuju mobilnya. Ia membuka pintu pengemudi, meraih buku cek dan pulpen yang selalu ia simpan dalam kotak dashboard, lalu kembali lagi ke beranda rumah dalam waktu singkat.
Bu Gina yang semula sempat mencibir karena mengira Dirga hendak kabur, seketika memasang kembali wajahnya ramahnya.
Dengan wajah dingin, Dirga menuliskan angka dan nama penerima di atas secarik kertas cek tersebut. Ia tidak hanya menuliskan jumlah hutang tiga bulan, tapi ia menulis angka yang cukup besar untuk melunasi tunggakan sekaligus membayar sewa rumah untuk satu tahun penuh ke depan.
"Ambil," ucap Dirga singkat sambil menyodorkan cek itu ke hadapan Bu Gina.
Wanita paruh baya itu menerima kertas itu. Matanya terbelalak membaca angka yang tertera, lalu wajahnya yang tadinya masam berubah seketika menjadi sumringah penuh senyum.
"W-wah, terima kasih banyak, Tuan! Sangat murah hati sekali!" serunya berterima kasih dengan nada yang mendadak sangat manis. “Kamu benar-benar pintar cari mangsa, Manda!"
Bu Gina pun pergi dengan hati berbunga-bunga, meninggalkan keheningan yang canggung di antara Dirga dan Amanda.
Begitu sosok wanita itu hilang dari pandangan, Amanda langsung menatap Dirga dengan wajah kesal dan campur aduk.
"Harusnya Tuan tidak perlu melakukan itu?!" seru Amanda, suaranya terdengar berat. "Saya sudah bilang kan, saya bisa mencarinya sendiri! Saya tidak mau berhutang budi!"
Dirga menutup buku cek nya kembali dan menatap Amanda dengan tatapan datar namun tajam. Ia tidak suka nada bicara wanita itu seolah-olah bantuan yang diberikannya adalah sebuah beban.
"Jangan terlalu percaya diri," potong Dirga dingin. "Saya tidak melakukan ini karena kasihan padamu. Aku melakukannya untuk Putri. Jika dia tahu kamu dan anak-anak ini sampai diusir atau hidup susah karena masalah sepele seperti ini, dia pasti akan sedih dan kepikiran."
Pak Hendra yang sejak tadi hanya diam, mendekat dan menatap Dirga dengan wajah penuh rasa haru dan syukur.
"Terima kasih, Tuan Dirga... terima kasih banyak," ucap Pak Hendra berulang kali, suaranya terdengar parau menahan haru. "Saya tidak tahu harus membalas dengan apa kebaikan Tuan hari ini. Tuan sudah menyelamatkan kami semua."
Wajah Dirga yang selalu ketus dan dingin jika berhadapan dengan Amanda, seketika berubah hangat. Pria yang masih tetap tampan di usia yang tak lagi muda itu tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Sama-sama, Pak. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak," ucap Dirga sambil mengangguk hormat kepada Pak Hendra.
"Saya mengucapkan terima kasih sekali lagi. Semoga Tuan selalu diberi kesehatan dan rejeki yang berlimpah."
"Aamiin... terima kasih, Pak."
*
*
Angin berhembus sepoi-sepoi membelai wajah Putri. Ia dan Ega duduk bersandar di bangku kayu panjang, menikmati ketenangan di antara rerimbunan pohon. Ega memang mengajak Putri untuk mampir di taman kota setelah selesai berziarah di makam papanya.
Suasana hening menyelimuti mereka di tengah keramaian taman. Anak-anak yang bermain gembira, para pedagang yang menjajakan jajanan mereka, para muda mudi yang mungkin sedang berkencan.
"Put..." panggil Ega pelan. "Tentang apa yang pernah aku bicarakan sebelumnya... tentang pernikahan kita. Apa keputusanmu sekarang?"
Putri menoleh perlahan, lalu menghela napas panjang yang terdengar berat. Dadanya kembali terasa sesak mendengar pertanyaan itu. Ia menggelengkan kepalanya pelan namun tegas.
"Maaf, Kak... Putri masih belum bisa menerimanya," jawab Putri lirih.
“Kenapa… ?”
tapi kalo cinta kok memaksa
tanpa filter sekali pak
menurutku lebih pas.