cinta? bagi ku, cinta itu adalah suatu rasa yang memang tidak pandang kepada siapapun rasa itu akan berlabuh, rasa itu akan bersemayam, dan bahkan rasa itu kepada siapa akan menetap. yang aku tahu, aku mencintai mu, aku mencintai dia dengan tulus dan penuh ikhlas. walau aku tahu kemungkinan aku dan dia akan bersatu dan akan hidup bersama sebagai pasangan suami istri sangatlah tipis. aku berusaha melupakannya, tapi sulit. dia masih saja ada dalam hati dan pikiran ku. aku mencintai mu, dia yang ada di hati ku sampai detik ini. rasa cinta yang sebenarnya dari awal sudah jelas sangatlah SALAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
"Sudah-sudah, tolong jangan dibahas lagi Niya. Aku sedang sibuk sekarang. Kau boleh pulang, nanti kita bicarakan itu dirumah saja."
Riyan memaksa Niya untuk berdiri, dia mendorong bahunya menuju pintu meminta Niya untuk segera pulang ke rumah.
Mendapat perlakuan seperti itu, Niya tidak bisa tinggal diam. Enak saja, sudah dibela bela datang ke sini untuk menyelesaikan kesalah pahaman, mas Riyan malah memintanya untuk pulang? Tidak! Pokoknya tidak bisa! Kesalah pahaman ini harus selesai sekarang juga!
Niya mengibas tangan suaminya, mendorong dadanya hingga terpentok didinding ruangan. Sekarang Niya menatap wajah mas Riyan yang sedikit memerah, masih dengan menekan dadanya.
"Aku tidak mau pulang sebelum kesalah pahaman ini selesai. Aku sudah datang ke sini lho mas, enak saja kau main mengusirku begitu saja. Demi hubungan kita supaya selalu baik baik saja, ayo kita selesaikan sekarang!"
"Niya, kau ini mendengar aku bicara atau tidak sih! Aku sibuk! Tidak ada waktu untuk itu!"
"Apa?" Niya terperangah. "Tidak ada waktu untuk ini?" Niya menggeleng tak percaya. "Oh! Oke! Ya sudah aku pulang. Percuma aku datang ke sini!"
Niya berbalik, berjalan keluar dari ruangan mas Riyan dengan membawa kekesalan. Niya hanya ingin kejujuran, bukan ingin meminta apa apa. Lagi pula kenapa mas Riyan marah ketika ditanya dia cemburu? Bukankah dalam suatu hubungan cemburu adalah hal yang lumrah? Apa salahnya jika mengakui rasa cemburunya itu? Toh Niya juga senang, karena cemburu itu adalah tanda sayang.
Riyan mengusap wajahnya kasar, dia kembali duduk di kursinya setelah Niya meninggalkan ruangannya. Hatinya merasa sesak melihat Niya yang sekarang marah padanya. Tetapi, entah kenapa dirinya terlalu gengsi untuk mengiyakan jika dirinya memang cemburu.
Riyan kembali fokus pada pekerjannya, dia akan berusaha pulang lebih awal untuk membujuk istrinya supaya Niya tidak marah lagi padanya. Riyan benar benar tidak bisa jika Niya marah dan berujung mendiamkannya.
...----------------...
Niya sudah tiba di rumah, dia menutup pintu kamar sedikit kasar, melampiaskan kekesalannya pada pintu yang tidak bersalah sama sekali. Tetapi Niya tidak peduli, yang dia inginkan sekarang ini adalah mencari hiburan supaya kekesalannya hilang.
Niya mengunci pintu kamar, merebahkan tubuhnya di kasur dengan ponsel di genggaman. Dia membuka aplikasi yang saat ini dia sukai, mengetik beberapa huruf hingga menjadi satu paragraf, hingga ketikan huruf yang tidak seberapa itu menjadi beribu ribu kata.
Sampai sampai ada satu notif dari aplikasi tersebut dari nama akun Riski. Dengan perasaan yang masih saja kesal, Niya membuka pesan itu. Niya membalas pesan itu hingga si akun Riski ini meminta nomor w-a nya.
Niya tidak memberinya, Niya justru mencoba mengalihkan pembicaraan hingga obrolan mereka berdua melalui via chat pribadi aplikasi itu mulai akrab dan hangat. Tanpa di sadari, Niya selalu tersenyum saat mendapat pesan balasan dari Riski.
Hingga Niya di buat kaget oleh Riski ketika Riski mengatakan jika dia baru berusia dua puluh tahun. Niya benar benar terkejut sekarang, ternyata sejak tadi Niya bertukar pesan dengan anak kuliahan.
"Benar benar tidak menyangka jika akun Riski ini baru berusia dua puluh tahun, dan dia sekarang masih kuliah di Jogja. Tapi dia nyambung sih di ajak ngobrol."
Niya tersenyum, dia kembali bertukar pesan dengan Riski sambil menunggu jam pulang sekolah anak anaknya. Semakin ke sini, obrolan mereka berdua semakin dekat saja bahkan Riski sampai mengajaknya bertemu. Tetapi Niya menolak untuk bertemu dengan alasan jarak tempuh mereka sangat jauh.
[ Kalau begitu, tunggu satu atau dua tahun lagi aku lulus kuliah, aku akan ke luar kota. Kita ketemuan ya kak? ]
Niya terdiam membaca pesan balasan dari Riski, Niya tidak menyangka jika Riski sungguhan akan menemuinya. Padahal Niya hanya iseng saja membalas pesan dari Riski itu. Seketika hati Niya mendadak gelisah, di antara kasihan dan juga tidak ada salahnya jika bertemu dengan Riski. Tapi...
"Aku sudah menikah, aku juga sudah punya anak. Jadi... Aku tidak perlu bertemu dengan Riski. Lagi pula aku menjelajah aplikasi ini dengan niat mencari penghasilan bukan untuk hal yang tidak tidak."
Niya beranjak dari kasur, menaruh ponsel di dalam tas tanpa membalas pesan dari Riski. Kemudian keluar kamar untuk pergi menjemput Zona di sekolahnya tanpa membawa tas itu.
...----------------...
Terniat pulang ke rumah lebih awal gagal total karena ada pengantaran barang mendadak. Sampai akhirnya di pukul dua belas malam ini Riyan baru sampai di rumah. Dengan wajah lelah Riyan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Aku harap, Niya sudah tidak marah lagi pada ku." lirihnya setelah Riyan selesai mandi.
"Yang," panggilnya saat Riyan masuk ke dalam kamar, dengan celana kolor tanpa memakai baju. Seragam kerjanya sengaja di tinggal di kamar mandi karena sudah kotor. Biarkan besok pagi Niya mencucinya.
"Sayang, aku pulang," Riyan berbisik di telinga Niya karena panggilan pertamanya, Niya sama sekali tidak ada pergerakan.
Riyan tersenyum ketika di panggilan kedua Niya menggeliat dengan mata yang mengerjab pelan, terlihat masih sangat mengantuk. "Hai, suami tampan mu ini sudah pulang. Apa kau masih marah padaku hn? Mari kita bahas kesalah pahaman itu."
"Mas, aku sangat mengantuk. Kita bisa bahas itu besok pagi saja." Niya berpindah posisi membelakangi Riyan, tanpa di sadari, wajah Riyan yang sempat berbinar itu kini berubah sendu.
"Oh, ayo lah Sayang, sekarang saja."
"Aku tidak mau. Aku sangat mengantuk,"
Melihat Niya yang malah menutupi badan hingga kepala, Riyan menghela, ini yang dia takutkan jika sampai membuat istrinya kesal, pasti susah sekali di bujuk, biasanya butuh waktu beberapa hari kedepan membuat kekesalan Niya hilang.
Riyan pikir dari pada butuh waktu dua hari ke depan untuk membujuk istrinya, Riyan lebih memilih untuk mengakui saja. "S-sayang, i-iya aku cemburu..." lirih tapi tetap jelas untuk didengar oleh Niya.
Niya terdiam, tidak bersuara sama sekali, hingga beberapa menit ke depan hening terjadi di antara mereka berdua. Hening itu menguasai sepasang suami istri itu hingga Riyan merasa di abaikan, seketika dia merasa malu dan juga...kesal.
Riyan kesal karena Niya tidak merespon, padahal Riyan sudah mau merendahkan dirinya untuk pengakuan itu, supaya hubungan ini tetap baik baik saja dan Niya tidak kesal lagi padanya. Tapi...perjuangan Riyan dalam merendahkan ego tidak di hargai sama sekali.
Oke, mulai sekarang aku tidak akan merendahkan diri ku sendiri di depan istri ku sekalipun
Kepalang kesal dam malu Riyan memilih tidur di luar, di kamar Zona.
pesan dari siapa?