Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Piramida Tidur & Resonansi Kuno
Lokasi: Situs Megalitikum Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.
Waktu: 16.00 WIB (Satu Minggu Pasca Saranjana).
Hujan deras mengguyur bukit setinggi 885 meter di atas permukaan laut itu. Teras-teras batu andesit berbentuk balok yang biasanya dipenuhi turis kini ditutupi terpal biru raksasa. Area itu telah diisolasi total oleh garis polisi dan penjagaan militer berlaras panjang.
Sebuah mobil Land Rover Defender hitam lumpur berhenti dengan kasar di pos penjagaan bawah.
Dimas dan Sarah turun dari mobil, mengenakan jas hujan ponco berwarna hijau olive. Sarah menenteng koper peralatan pelican hitam, sementara Dimas membawa tabung gambar arsitek (berisi peta dan perkamen kuno).
“Satu minggu, Dim,” gerutu Sarah sambil meloncati genangan lumpur cokelat. “Kita cuma dapat libur satu minggu. Janjimu kita mau ke Kyoto.”
“Ini lebih eksotis dari Kyoto, Sar,” senyum Dimas mengembang di balik tudung jas hujannya. “Kita sedang berdiri di atas struktur buatan manusia yang umurnya bisa jadi lebih tua dari Piramida Giza. Anggap aja ini workcation.”
Sarah mendengus, tapi matanya berbinar antusias. Sebagai sejarawan dan arkeolog, Gunung Padang adalah Holy Grail (Cawan Suci) bagi kariernya.
Mereka berjalan menaiki tangga batu terjal menuju Teras Kelima (puncak situs). Di sana, sebuah tenda komando ber-AC telah didirikan oleh tim gabungan BPCBAN dan Badan Geologi.
Begitu mereka masuk ke tenda, udara dingin dan bau kopi instan menyambut. Layar-layar monitor menampilkan grafik seismik yang berantakan.
Seorang pria paruh baya dengan kemeja flanel lusuh dan kantung mata tebal menyambut Dimas dan Sarah. Dia adalah Dr. Hendra, Kepala Eskavasi Situs.
“Profesor Dimas. Dokter Sarah. Akhirnya kalian datang,” Dr. Hendra menyalami mereka dengan tangan gemetar. “Kalian harus lihat ini. Ilmu Geologi saya sudah menyerah.”
“Langsung ke intinya, Dok. Ada apa dibawah sana?” Sarah membuka ponconya, langsung mengambil alih meja tablet holografik di tengah tenda.
Dr. Hendra menekan beberapa tombol. Layar menampilkan pemindaian Ground Penetrating Radar (GPR) tiga dimensi dari perut Gunung Padang.
Gunung Padang bukan sekedar bukit alami. Citra radar menunjukkan ada empat lapisan budaya yang dibangun di era yang berbeda-beda. Namun, yang membuat Sarah terbelalak adalah Lapisan Kelima—zona terdalam pada kedalaman 30 meter di bawah tanah.
Di sana, terdapat sebuah struktur rongga (chamber) berbentuk setengah lingkaran sempurna.
“Kami mencoba melakukan pengeboran inti ke arah rongga itu kemarin sore,” jelas Dr. Hendra. “Tapi mata bor berlian kami meleleh di kedalaman 28 meter.”
“Meleleh? Kena Magma?” Tanya Dimas, mengerutkan kening.
“Bukan magma,” Dr. Hendra menelan ludah. “Kami menabrak lapisan logam padat. Aloy yang tidak ada di tabel periodik modern. Dan saat mata bor itu menyentuh logamnya… suara itu dimulai.”
“Suara gamelan yang ada di laporan?” Potong Sarah.
“Tepat. Tapi frekuensinya salah. Kalian harus dengar sendiri.”
Dr. Hendra memutar rekaman audio dari mikrofon seismik bawah tanah.
Terdengar dengungan bass yang sangat rendah (infrasound), diikuti dentingan ritmis logam. Neng… Nong… Neng… Gung…
Nadanya mirip alat musik kenong dan gong pada gamelan Jawa, tapi temponya tidak wajar. Suara itu terasa… mekanis. Seperti roda gigi raksasa yang sedang berputar perlahan.
Dimas memejamkan mata. Tangannya meraba meja. Dia bisa merasakan sisa getaran dari rekaman itu merambat ke kulitnya.
“Ini bukan nada Pelog atau Slendro, Dok,” bisik Dimas. Matanya terbuka, menatap tajam ke arah peta GPR. “Ini Mantra Kunci. Seseorang di bawah sana sedang mencoba membuka pintu dari dalam.”
“Dari dalam?” Sarah menatap Dimas tak percaya. “Dim, rongga itu umurnya minimal 10.000 tahun SM. Nggak ada makhluk biologis yang bisa hidup selama itu di bawah tanah.”
“Kalau dia biologis,” jawab Dimas. “Kamu ingat artefak Victor di Alas Purwo? Teknologi purba yang menggunakan energi spiritual. Gunung Padang ini bukan makam. Ini reaktor.”
Tiba-tiba, kopi di gelas Dr. Hendra bergetar. Riak airnya membentuk pola geometris.
Lampu tenda berkedip-kedip.
Layar monitor GPR dipenuhi noise merah.
NENG… NONG…
Suara itu bergema lagi. Bukan dari speaker rekaman. Tapi dari bawah telapak kaki mereka. Tanah batu andesit di bawah tenda bergetar hebat.
“Gempa!” Teriak salah satu teknisi di ujung tenda.
“Bukan gempa!” Sarah melihat layar seismograf. “Pusat getarannya lokal! Tepat di bawah Teras Kedua!”
Dimas langsung berlari keluar tenda, menembus hujan deras. Sarah menyambar tas pelicannya dan menyusul suaminya.
Di Teras Kedua situs (area yang dipenuhi balok batu yang berserakan), beberapa tentara penjaga sedang berteriak panik, mundur perlahan dengan senjata terhunus.
“Mundur! Kosongkan area!” Perintah Komandan Peleton.
Dimas dan Sarah menerobos barisan tentara.
Pemandangan di tengah Teras Kedua melawan hukum fisika Newton.
Balok-balok batu andesit seberat ratusan kilogram yang tadinya berserakan di tanah… kini melayang setinggi satu meter di udara.
Batu-batu itu berputar perlahan, bergesekan satu sama lain, mengeluarkan suara dengungan frekuensi rendah yang membuat telinga berdengung sakit.
Hujan yang turun di atas area itu tidak jatuh ke tanah. Titik-titik air hujan tertahan di udara, membentuk kubah medan gaya (force field) tak kasat mata.
“Anomali gravitasi,” bisik Sarah, mengarahkan pemindai di tabletnya. Wajahnya pucat pasi. “Medan elektromagnetik di titik ini melonjak 5000%. Kompas gila. GPS mati.”
Dimas berjalan perlahan mendekati anomali itu. Dia tidak melihatnya sebagai fenomena fisika, melainkan sebagai “Segel Yang Rusak”.
“Dim! Jangan dekat-dekat!” Teriak Sarah, menahan lengan Dimas.
“Bor tim Dr. Hendra merusak segel luarnya, Sar,” kata Dimas, tidak mengalihkan pandangannya dari batu-batu yang melayang. “Struktur di bawah sana sedang melakukan kalibrasi ulang untuk menambal kebocoran energi.”
Dimas mengambil segenggam garam dari saku kargonya. Dia melemparkan garam itu ke arah kubah air hujan yang melayang.
Begitu garam menyentuh medan itu, kilatan petir biru kecil meletup. Batu-batu andesit yang melayang langsung jatuh berdebum ke tanah lumpur.
BRAKK!
Gravitasi kembali normal. Dengungan hilang. Hujan kembali turun mengguyur mereka.
Tentara dan peneliti yang menonton terdiam dalam syok.
Sarah menelan ludah. “Oke. Logikaku resmi offline. Kita berhadapan sama apa sekarang?”
Dimas berjongkok didekat susunan batu andesit yang baru saja jatuh. Dia melihat sebuah lubang sinkhole selebar satu meter terbuka di tanah berlumpur, tepat di titik pusat anomali tadi. Udara panas dan berbau belerang menyembur dari dalam lubang gelap itu.
“Kita.” Kata Dimas sambil menyalakan senter taktisnya dan menyorotkannya ke dalam lubang tanpa dasar itu. “Berhadapan dengan mesin waktu yang macet, atau penjara dewa kuno. Dan sepertinya, kita harus turun ke bawah buat ngecek.”
Dimas mendongak menatap istrinya, tersenyum miring di bawah guyuran hujan.
“Siap kotor-kotoran lagi, Dokter Sarah?”
Sarah menghela napas pasrah, menekan tombol loading pada pistol SIG Sauer-nya.
“Malam ini aku batalin reservasi sushi kita. Ayo masuk ke lubang cacing ini.”