NovelToon NovelToon
Antara Dua Pilihan Hati

Antara Dua Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Misteri / Perjodohan / Romantis / Pengantin Pengganti / Komedi
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 ADPH

"Dartooo, itu jamu buat buang air," seketika semua pada teriak ke arah Darto. "Lho tadi ibu warung yang jual jamu ini tuh bilang gitu toh mas, katanya jamu ini mujarab mas, mbak." kata Darto dengan polosnya.

Arden Sanjaya langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sedangkan Arsen masih berusaha menahan tawanya sambil menyenderkan bajunya ke dinding.

"Darto,.. Darto, emang semujarab apa sih, To,.. jamu itu? Tanya Arsen penasaran.

"Kata ibu warung itu, mujarab buat obati segala penyakit mas katanya." jawab Darto begitu meyakinkan dengan wajah polosnya.

Aluna menatap botol itu serius. Tak lama "Mas Prasha coba dulu saja jamu ini dulu, siapa tau bisa cepat sembuh." ucap Aluna

seketika semua teriak berjama'ah, Arden Maharana kakaknya sampai hampir saja tersedak nafasnya sendiri, sedangkan Prasha antara pasrah dan tidak percaya.

"Kamu serius Lun, gue lu suruh minum ini." sambil mengerjapkan kedua netranya dan menelan ludah dengan susah payah.

Membayangkannya saja terasa horor bagi Prasha. Seolah ini lebih horor dari membongkar kasus di perusahaannya.

Harus menghadapi seorang gadis si super super ga peka sama sekali. Aluna hanya manggut manggut antara yakin dan gaya polosnya. "Herbal itu bagus tau." ucapnya lagi sambi berusaha menyodorkan jamu itu lagi pada Prasha.

Arden Sanjaya sampai tidak kuat menahan tawanya.

"Aduh sha,..sumpah ya gue enggak tau entah harus kasian atau iri sama elo Sha, hahaha."

"Hah..Iri?."

"hmm IRI, gila bro ini ada cewek loh yang mau rawat elo dengan setulus hati, meskipun caranya pake metode hampir bunuh elo, bwhaahaha."

Arsen menepok bahu Darto sambil berkata ""mas lain kali kalo mau beli obat tuh tanya dulu sakit dan penyakit apa." jelas Arsen.

Darto hanya manggut manggut faham dengan wajah yang serius. "Kita tuh butuhnya Paracetamol mas, buka jamu buat pencernaan." jelasnya lagi.

"Loh mas Arsen piye toh mas, kalo perut sehatkan otomatis toh badan juga ikut sehat,..iya toh." semua langsung terdiam sejenak, namun tak lama ketawa berjama'ah lagi.

Pada akhirnya, Arden Sanjaya mengarahkan Aluna dengan menyuruh Darto mengambilkan air untuk mengompres Prasha saat itu. "seriusan kamu lun, ga pernah rawat orang sakit?." tanya Arden.

Aluna hanya mengangguk pelan, "iya, karena biasanya aku yang sakit dan dirawat, sekalinya sekarang ibu dan bapak udah enggak ada, kak Arden sakit ya langsung ke rumah sakit suruh bapak sebelum meninggal."

Arden Maharana hanya menunduk tak enak, dan Arden Sanjaya, Prasha dan Arsen sempat menoleh ke arah Arden Maharana sebentar.

Arden Sanjaya langsung melanjutkan tutorial merawat orang sakit di rumah. "nah handuknya taro deh dijidatnya si Prasha, tinggal tunggu dememturun selesai."

Aluna mengangguk memperhatikan dengan seksama, dan setelahnya seisi ruangan itu bubar satu persatu, Arden dengan Arsen dan arden Maharana ketiganya melanjutkan obrolan perihal kasus Adhikara.

Sedangkan saat ini tersisalah Aluna dan Prasha, walaupun sebelumnya Arsen sempat memperhatikan bagaimana cara Aluna merawat Prasha, seolah ada ketulusan dan rasa yang tidak disadari oleh Aluna, dan Arsen tidak suka itu.

Prasha menoleh heran pada Aluna, "Kamu masih disini kenapa?." tanya Prasha.

"Enggak tau, tadi disuruh kak Arden temenin mas Prasha disini."

"Aku kira kamu inisiatif haish Aluna,..Luna, kapan sih kamu sadar sama perasaan aku ke kamu lun." bisik prasha dalan hati kecilnya yang sudah gemas terhadap ke tidakpekaan Aluna.

"Tapi kalo aku tinggal juga enggak enaklah mas, ntar kalo mas kenapa napa gimana?." lanjut Aluna lagi. Ada rasa seperti kesetrum yang menjalar di tubuh Prasha saat itu.

Bunga-bunga seolah mengelilingi kepalanya saat ini, baru mendengar ucapan sederhana saja rasanya Prasha ingin melompat kegirangan saat itu.

***

Diruang tamu

"Gila sih ini sih ini, si Adhikara benar benar detail banget nyari taunya."

"Tapi menurut kalian tentang MR , ini curiga enggak sih ada tujuan lain?." ucap Arsen.

"Nah itu yang harus kita selidiki."

"Menurut aku sih, Enggak ada yang orang nolong sampai segitunya kalo enggak ada maksud tertentu gitu." ucap Arden Sanjaya.

Tak lama Arden Maharana memegang pelipisnya, membuat Arsen dan arden Sanjaya sempat khawatir. "Mas Arden are you okey?"

"Yea, I'm okey bro, cuma pusing sedikit santai."

"Jangan gitu mas, mas kan baru sembuh masih masa pemulihan sebaiknya mas istirahat saja ya." ucap Arsen penuh perhatian.

"Yasudah kalau begitu saya pamit ke kamar dulu ya."

Sedangkan dikamar Prasha sempat duduk sambil bersandar dan menatap lekat Aluna yang sedang tertidur dibangku. Kebetulan rasa pusing dan demamnya sudah jauh lebih baik.

Ia berdiri dan berjalan pelan menghampiri Aluna, lalu diam diam ia mencium bibir Aluna, lebih tepatnya mencuri ciuman pertama Aluna tanpa disadari Aluna.

Tak lama saat Aluna bergerak ia langsung ngibrit pura pura tidur dan memakai selimutnya, dengan memakai handuk kecil yang tadi dipakai untuk mengompres dahinya.

Dalam hati ia tersenyum senyum sendiri, dan berkata "Arsen 1:0." ucapnya dalam hati.

Sedangkan dibalik pintu Arden Maharana sempat memergokinya, hanya saja ia lebih memilih diam pura pura tidak tahu dan tidak melihat. Langsung kembali ke kamarnya saat itu.

Aluna terbangun lalu ia kembali mengecek dahi Prasha "Alhamdulillah sudah baikan ternyata."

"Perasaan tadi aku tidur mimpi itu berasa nyata banget ya?." ucapnya pelan.

Tak lama prasha terbangun perlahan membuka kedua netranya padahal ia sempat mengintip, Aluna sempat memegang bibirnya berkali kali sambil bergumam.

"Kenapa lun?." tanyanya serak.

"Eh mas Prasha, ini loh mas tadi aku mimpi tapi kok kaya nyara gitu."

"Mimpi apa?."

"Ehm enggak deh ra-ha-sia."

"Lah kalo rahasia ngapain tadi kamu cerita lun lun."

"Mas Prasha kan sudah baikan, makan dulu ya mas, Luna buatkan buburnya dulu."

"Tidak usah Lun, cukup kamu temani aku saja disini."

"Iya nanti Luna temani tapi makan dulu mas."

"Yasudah iya, tapi temani ya suapin."

"Dih manja banget sih."

"Ya enggak apa apa dong lun, emang ga boleh ya, anggap aja aku kakak kamu gapapa kan?."

"Ya sudahlah iya iya, ntar Luna suapin pakai sendok semen ya mas."

"Astaga."

"Becanda mas haha."

"Lun kamu kalo sama Arsen atau sama yang lain jangan kayak gitu ya ketawanya."

"Kenapa mas?."

"Jelek."

"Ish nyebelin."

Aluna langsung ngeloyor pergi membawa baskom, dan memulai memasak bubur didapur rumah Prasha.

Tak lama ibu Ratna menghampiri Aluna. "lagi apa lun?."

"Oh ini Tante, maaf,..mau buat bubur Tante, bikinin buat mas Prasha."

"Bisa?."

"Insya Allah Tante."

"Yasudah sini Tante bantu, disitu Tante taruh berasnya." keduanya pun langsung masak, dengan kompak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!