NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 7

Perang Dua Front

Matahari baru saja naik setinggi galah ketika sebuah iring-iringan mobil hitam berplat dinas memasuki desa. Bukan polisi, melainkan petugas berseragam rapi dengan papan jalan di tangan. Mereka memasang papan pengumuman di depan kedai Ayah Sinta: "TANAH INI DALAM PENGAWASAN NEGARA - PROYEK STRATEGIS NASIONAL."

Pertahanan Sinta: Perang Kertas

Sinta berdiri di depan papan itu, tidak gentar sedikit pun. Ayahnya gemetar, tapi Sinta memegang bahu pria tua itu dengan mantap.

"Bapak, masuk ke dalam. Biar aku yang bicara," bisik Sinta.

Seorang pria berkacamata kotak, Adit, asisten sang Anggota Dewan, turun dari mobil. "Nona Sinta, saya harap Anda kooperatif. Lahan ini akan dibangun pusat logistik. Kompensasinya sudah disiapkan, meski... yah, seadanya karena status tanah ini masih sengketa sejak era panti asuhan dulu."

Sinta tersenyum dingin. "Sengketa? Saya pemegang data arsip desa. Tanah ini punya sertifikat sah atas nama kakek saya sejak tahun 1970. Jika Anda ingin menggugat, kita bertemu di pengadilan tata usaha. Dan oh, jangan coba-coba menyentuh kedai ini sebelum ada perintah eksekusi resmi. Saya sudah memasang kamera live stream yang terhubung ke 50 ribu pengikut akun media sosial The Great Mawar."

Adit terdiam. Ia tidak menyangka gadis desa ini menggunakan kekuatan digital sebagai tameng.

Infiltrasi Aryo: Operasi "Mawar Hitam"

Sementara itu, 100 kilometer dari desa, di sebuah gedung pencakar langit yang menjadi markas Grup Hitam, tiga orang kurir makanan masuk lewat pintu belakang. Mereka mengenakan jaket hoodie lusuh, menutupi rompi taktis di baliknya.

"Aan, posisi?" bisik Aryo melalui mikrofon tersembunyi.

"Aku sudah di ruang server lantai 12, Yo. Sedang melakukan bypass pada CCTV. Kalian punya waktu 4 menit sebelum sistem reboot," jawab Aan dari dalam van yang terparkir di basement.

Aryo dan Dio bergerak cepat. Mereka tidak menggunakan motor besar mereka yang berisik. Kali ini, mereka adalah bayangan. Tujuan mereka satu: Brankas pribadi Sang Anggota Dewan.

Di dalam ruangan yang mewah, Aryo menemukan sebuah map cokelat tua yang tersegel. Saat ia membukanya, matanya membelalak. Itu bukan sekadar dokumen lahan, tapi Akta Kelahiran asli milik seorang anak laki-laki bernama Aryo Baskoro—lengkap dengan surat wasiat orang tuanya yang menyatakan bahwa seluruh lahan industri itu sebenarnya adalah milik sah keluarga Baskoro.

"Mereka tidak membunuh orang tuaku hanya karena tanah desa," gumam Aryo geram. "Mereka mencuri identitasku untuk membangun kerajaan ini."

"Yo! Penjaga bergerak ke arahmu! Sepuluh orang, bersenjata lengkap!" suara Aan meninggi di telinga Aryo.

Jebakan di Ruang Direksi

Pintu ruangan terbuka. Bukan penjaga biasa yang masuk, melainkan Baron yang lehernya masih diperban akibat duel di sungai kemarin. Ia memegang pistol semi-otomatis, mengarah tepat ke kepala Aryo.

"Kau pikir semudah itu masuk ke sini, Ksatria?" ejek Baron. "Aku tahu kau akan datang mencari masa lalumu. Itu umpan yang sangat lezat, bukan?"

Dio sudah bersiap dengan pisau lipatnya, tapi ia tertahan oleh tiga moncong senjata dari arah belakang. Mereka terjebak di lantai tertinggi, tanpa jalan keluar selain jendela kaca yang menjulang ratusan meter di atas aspal kota.

Kartu As dari Desa

Tiba-tiba, ponsel di saku Baron bergetar hebat. Bukan hanya ponselnya, tapi seluruh layar televisi di ruang direksi itu menyala sendiri.

Wajah Sinta muncul di layar besar tersebut. Dia tidak sedang di desa, dia sedang berada di depan Kantor Pusat Kepolisian Daerah, memegang map yang persis sama dengan yang dipegang Aryo.

"Halo, Tuan-tuan di Grup Hitam," suara Sinta terdengar tenang namun mematikan. "Aryo mungkin ada di sana sebagai umpan, tapi dialah yang mengirimkan koordinat transmisi data kalian padaku. Saat ini, Aan sedang mengunggah seluruh isi server kalian ke cloud publik. Dan tebak apa? Polisi baru saja menerima bukti aliran dana suap proyek strategis itu."

Baron tertegun. Ia menoleh ke arah Aryo.

Aryo tersenyum tipis, senyum yang sama saat ia memenangkan balapan jalanan tersulitnya. "Aku bilang kan? Di desa ini, kami tidak mengenal kasta. Dan di kota ini... kau baru saja kehilangan tahtamu."

Situasi memuncak!

 * Aryo dan Dio harus meloloskan diri dari kepungan Baron di lantai 12 sementara polisi mulai mengepung gedung.

 * Sinta dalam bahaya karena ia sekarang menjadi target utama pembunuhan karakter (atau fisik) oleh sang Anggota Dewan yang mulai panik.

Baron menarik pelatuknya, namun sebuah ledakan kecil dari saku celana Dio—sebuah bom asap modifikasi Aan—membutakan seisi ruangan dalam sekejap. Di tengah kepulan asap putih pekat, Aryo tidak lari menuju pintu. Ia justru berlari kencang ke arah meja direksi, melompat, dan menghantam kaca jendela setinggi plafon dengan bahunya yang dilapisi pelindung karbon.

PRANG!

Serpihan kaca berkilauan jatuh seperti hujan kristal dari lantai 12. Di bawah sana, sebuah truk sampah yang sudah dimodifikasi oleh tim elit The Great Mawar melaju tepat di jalur jatuh mereka. Aryo dan Dio terjun bebas, mendarat keras di atas tumpukan kasur bekas yang disamarkan di dalam bak truk tersebut.

"Jalan, Aan! Sekarang!" teriak Dio sambil terbatuk karena debu.

Truk itu melesat membelah kemacetan kota, sementara di atas gedung, Baron hanya bisa menggeram melihat mangsanya lolos. Namun, kemenangan ini terasa hambar karena di layar ponsel Aryo, sebuah notifikasi dari kamera pengawas desa muncul: Koneksi Terputus.

"Sinta dalam bahaya," desis Aryo.

Di desa, suasana berubah mencekam. Adit dan anak buahnya tidak lagi bicara soal hukum. Mereka tahu posisi mereka terpojok, dan cara terbaik untuk membungkam saksi adalah dengan melenyapkannya sebelum polisi tiba. Sinta terkepung di dalam kedai, sementara api mulai menjilat dinding kayu bangunan tua itu. Adit melemparkan botol bensin terakhirnya dengan tawa sinis.

"Jika aku hancur, desa ini juga harus rata dengan tanah," ucap Adit kalap.

Tiba-tiba, suara deru mesin motor yang sangat dikenal Sinta membelah kesunyian hutan belakang desa. Bukan satu, bukan sepuluh, tapi ratusan. Cahaya lampu depan motor-motor itu muncul dari jalur tikus yang dipetakan Sinta sebelumnya. Aryo memimpin di depan, mengendarai motornya dengan kecepatan gila, melompati pagar pembatas desa yang membara.

Tanpa menghentikan motornya, Aryo menyambar tubuh Sinta dari jendela kedai yang mulai runtuh, menariknya ke atas boncengan dalam satu gerakan akrobatik yang presisi.

"Kau telat dua menit, Ksatria," bisik Sinta sambil terengah, memeluk pinggang Aryo erat-erat.

"Aku harus mampir mengambil ini dulu," sahut Aryo sambil menunjukkan flashdisk merah yang ia ambil dari brankas gedung tadi.

Adit dan antek-anteknya terkepung. Bukan oleh polisi, tapi oleh warga desa yang kini dipersenjatai dengan keberanian dan alat tani, berdiri bahu-membahu dengan anggota The Great Mawar. Tidak ada lagi sekat antara "brandalan" dan "petani". Saat sirene polisi yang sebenarnya akhirnya terdengar mendekat, Aryo tidak melarikan diri.

Ia turun dari motor, melepas jaket kulitnya yang penuh abu, dan memberikannya kepada Sinta untuk menutupi bahunya yang kedinginan. Aryo berdiri tegak menghadap barisan Polisi yang datang, menyerahkan bukti korupsi besar itu dengan tangan terbuka.

Pagi itu, saat asap dari kedai yang terbakar mulai menipis, Aryo duduk di tanah, bersandar pada ban motornya. Sinta duduk di sampingnya, kepalanya bersandar di bahu Aryo. Untuk pertama kalinya, desa itu tidak lagi melihat Aryo sebagai ancaman, melainkan sebagai putra mereka yang hilang dan akhirnya pulang.

"Jadi," Sinta memecah keheningan, "setelah semua ini, apa rencanamu selanjutnya? Menjadi pengusaha properti karena tanah ini ternyata milikmu?"

Aryo tertawa kecil, suara yang jarang sekali terdengar. "Aku lebih suka menjadi mekanik di desa ini. Dan mungkin... memastikan tidak ada lagi 'Mawar' yang harus tumbuh di panti asuhan yang gelap."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!