NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 — Perkelahian Di Koridor (1)

Bel istirahat baru saja berbunyi ketika suara ribut kecil terdengar dari ujung koridor.

Kebanyakan siswa sudah bergegas menuju kantin atau halaman, membuat lantai dua terasa lebih lengang dari biasanya. Hanya dengungan AC tua dan gema langkah kaki yang sesekali terdengar memantul.

Rakha berjalan sendirian di koridor, kedua tangannya diselipkan di saku celana. Earphone menggantung longgar di leher, dan senyum kecil masih tersisa di sudut bibirnya, efek dari latihan kemarin dengan Nayla yang entah kenapa terasa menyenangkan.

Tapi langkahnya terhenti begitu suara bentakan memecah keheningan.

"Woy! Kalau lewat tuh harus nunduk dulu!"

"M-maaf, Kak…"

Rakha menoleh.

Di ujung koridor, tiga anak kelas sebelas mengerumuni seorang junior kelas sepuluh. Tubuh anak itu kecil, ranselnya tergeletak di lantai dengan tali diseret-seret sepatu seolah cuma mainan. Tapi jelas dari wajah si junior, dia sama sekali tidak baik-baik saja.

Rakha menarik napas pendek. Bullies lagi. Model begini yang paling cepat bikin kepalanya panas.

Ia melangkah mendekat. Tidak terburu-buru, tidak dramatis, tetapi tatapan matanya sudah cukup untuk membuat suasana berubah.

"Hey," panggilnya datar. "Ngapain kalian?"

Tiga anak itu serempak menoleh.

Yang paling tinggi mendengus. "Lah, Kapten basket. Chill lah, bro. Cuma becanda doang."

Rakha berhenti beberapa meter dari mereka. Tangan masih di saku, bahunya santai seperti biasa—tapi dinginnya tatapan itu membuat tiga anak tadi menelan ludah hampir bersamaan.

"Becanda sampai orangnya hampir nangis?" suaranya rendah, tapi tegas.

Junior itu langsung menunduk makin dalam. Rakha memastikan cepat bahwa anak itu tidak terluka, lalu menatap lagi cowok sok jagoan yang sebenarnya satu tingkat dengannya.

Salah satu dari mereka tampak goyah, tapi yang lain justru maju setengah langkah.

"Gini, Rakha…" katanya, mencoba sok tenang padahal suaranya goyah. "Gue respek banget sama klub lu. Apalagi lu kapten. Jadi mending lu nggak usah ikut campur. Urus aja tim lu yang mau turnamen itu."

Rakha tersenyum tipis. Senyum yang tidak ramah sama sekali.

"So?" ucapnya pelan. "Yang kalian lakuin ini cuma ngerusak pagi hari gue yang indah."

Datar. Padat. Jauh lebih terasa sebagai ancaman daripada teriakan.

Anak itu mendengus—gerakan kecil, tapi jelas menunjukkan dia mulai panas. Tiba-tiba dia mendorong dada Rakha cukup keras.

Rakha nyaris tidak bergeser. Ia hanya menatap balik tanpa ekspresi.

"Padahal kita masih mau baik-baik aja sama lu," gumamnya sambil menarik kerah Rakha.

Dua temannya langsung ikut maju. Dan setelah itu semuanya pecah sekaligus.

Rakha menepis tangan pertama, memutar tubuh untuk menghindar pukulan, tapi tiga lawan satu tetap berat. Satu orang menahan lengannya, satu lagi mencoba memukul dari samping.

Rakha bertahan sebisa mungkin agar ini tidak jadi perkelahian besar. Namun satu pukulan lolos dan kena di sudut bibirnya.

"Agh—" ia mengusap darah dengan gesit menggunakan jempolnya, meludah sedikit.

Rakha membalas dengan menghantam perut salah satu dari mereka, membuat anak itu mundur sambil memegangi perut.

"LU—!" salah satu anak hendak menyerangnya lagi.

Namun sebelum dia sempat mendekat—Seseorang menarik kerahnya dari belakang, memutar badannya, lalu menghantamkan siku ke rusuknya.

Gerakannya cepat dan bersih, seperti refleks.

"Ngapain ribut-ribut di sini," suara seseorang terdengar begitu dingin. Tidak beremosi.

Rakha tahu siapa itu bahkan tanpa menoleh.

Keenan.

Hoodie setengah terbuka, rambut acak-acakan khas baru bangun tapi muka ready-to-fight kapan saja. Dia berdiri di samping Rakha seolah posisi itu memang sudah hak miliknya.

"Tiga lawan satu?" Keenan menatap ketiga anak itu datar. "Cupu banget."

Anak-anak itu saling pandang.Mereka tahu reputasi Keenan.

Tidak banyak bicara.

Tidak banyak ekspresi.

Tapi kalau dia sudah ikut, biasanya masalahnya selesai… dengan cara yang tidak enak.

Rakha melirik Keenan sebentar. "Lu ngapain di sini?"

"Lu bakalan bonyok kalau gue gak ada disini," jawab Keenan dengan nada datarnya.

Rakha belum sempat membalas ketika salah satu anak berteriak dan maju lagi, menyerang tanpa pikir panjang.

Dan kali ini—Rakha dan Keenan bergerak secara bersamaan.

Tanpa bicara.

Tanpa aba-aba.

Tapi nyaris sesinkron itu.

Rakha menepis tangan lawan, Keenan langsung menyapu kakinya. Keenan memutar badan salah satu dari mereka, dan Rakha memanfaatkan momen itu untuk menjatuhkannya ke lantai.

Anak kedua mencoba kabur, tapi Keenan menarik kerah bajunya dan menghantamnya ke dinding.

Anak terakhir nekat lari ke arah lain, namun Rakha sudah ada di sana, menghadangnya, lalu mendorong pundaknya sampai jatuh terduduk.

Beberapa detik penuh kekacauan.

Lalu hening.

Tiga anak itu tersungkur di lantai, ngos-ngosan, wajah pucat dan tak berani bergerak.

Rakha dan Keenan berdiri berdampingan.

Napas mereka teratur. Seolah yang barusan hanya pemanasan kecil.

Rakha mengusap sedikit darah kering di sudut bibirnya.

"Nggak usah sok jadi pahlawan," gumam Keenan sambil menggeleng. "Serius deh, Rakha. Lu tuh selalu begini."

Rakha menghela napas pendek, bahunya sedikit tertarik menahan nyeri. "Cuma beresin hal yang bikin mata sakit."

Keenan memutar bola matanya. Malas, tapi jelas nggak benar-benar kesal.

"Harusnya gue yang nanya," lanjut Rakha. "Lu kok tiba-tiba nongol di sini?"

Keenan langsung memalingkan wajah—cepat banget, nyaris refleks. "Gue nggak muncul buat siapa-siapa. Cuma kebetulan lewat."

Rakha mendecak pelan. "Iya. Lewat dengan timing paling dramatis sedunia."

Keenan tidak membantah. Tapi Rakha menangkap ujung bibirnya yang terangkat sedikit. Sangat tipis. Cukup buat bilang iya, gue peduli—tanpa perlu mengaku.

Junior tadi akhirnya bangkit perlahan, meraih tasnya dengan tangan masih gemetar.

"Makasih… Kak Rakha… Kak Keenan…" suaranya nyaris tenggelam.

Keenan hanya mengangguk kecil. Rakha merapikan kerah bajunya, lalu memberi senyum yang jauh lebih ramah dari nada bicaranya tadi.

"Hati-hati," katanya. "Kalau ada apa-apa, langsung lapor OSIS. Atau bilang aku."

"Bilang ke gue juga," tambah Keenan tanpa menoleh. "Biar Rakha nggak sok jadi superhero sendirian."

Rakha melirik tajam. "Ngatain mulu."

"Fakta," balas Keenan santai.

Koridor kembali sepi setelah junior itu pergi. Suasana terasa begitu sunyi, tapi bukan kosong. Ada sesuatu yang menggantung di udara, tipis, sulit dijelaskan.

Rakha merenggangkan bahunya pelan, meringis sedikit. "Aduh… kayaknya ototku ketarik."

Keenan melirik cepat. Sangat cepat.

Rakha hampir tidak menangkapnya.

"Makanya jangan sok," gumam Keenan.

Rakha terkekeh kecil. "Lu kan datang nyelametin juga."

"Refleks," jawab Keenan singkat, terlalu cepat untuk terdengar meyakinkan.

Rakha menatapnya, mencoba membaca. Tapi Keenan sudah memasukkan tangan ke kantong, menyandarkan punggung ke dinding, pura-pura cuek.

Beberapa detik berlalu. Langkah orang di lantai bawah samar-samar terdengar, tapi di lantai ini hanya ada mereka.

Rakha menatap Keenan lagi. "Lu tadi lari ya ke sini?"

Keenan mengedip pelan, lalu mengalihkan pandangan. "Nggak."

"Kedengeran banget napas lu ngos-ngosan waktu dateng."

"Ilusi."

Rakha mendecak sambil tertawa pendek. "Yaelah."

Hening kembali turun, tapi bukan hening yang canggung. Lebih seperti… dua orang yang belum sadar kalau mereka mulai nyaman satu sama lain.

Rakha membuka mulut, ingin ngomong sesuatu lagi.

Dan tepat pada momen itu—

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!