NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7.Telepon dari rumah sakit

Raina baru saja menyelesaikan sarapannya ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Nomornya tidak dikenal. Ia sempat ragu, namun firasatnya mengatakan untuk mengangkat—mungkin dari pihak rumah sakit.

“Selamat pagi, apakah benar ini Ibu Raina Anjani?” suara perempuan, tenang dan profesional.

“Betul, Dengan siapa ya?”

“Saya dari Rumah Sakit Bhayangkara. Dokter yang menangani pasien yang Anda bawa malam itu ingin bertemu dan menyampaikan informasi penting. Apakah Anda bisa datang ke rumah sakit pagi ini?”

Raina menegakkan punggungnya, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. “Baik, Bu. Saya akan ke sana… sekitar satu jam lagi.”

“Terima kasih. Kami tunggu kedatangannya.”

Telepon terputus." Semoga ada kabar baik" ,gumamnya, meski sebagian hatinya bersiap untuk kemungkinan sebaliknya.

Matahari sudah cukup terik walaupun jam baru menunjukkan pukul 08.30,ketika ia tiba di rumah sakit. Aroma disinfektan, suara langkah cepat perawat, roda brankar yang berdecit—semua terasa sama seperti kemarin malam, tapi dadanya kini jauh lebih berat.

Dokter yang menangani pasien sudah menunggunya di ruang konsultasi kecil.

“Silakan duduk, Bu Raina.”

Raina menurut, kedua tangannya saling meremas tanpa sadar. “Ada apa, Dok?”

Dokter membuka berkas medis, wajahnya serius namun tidak terburu-buru. “Saya akan jelaskan secara langsung. Kondisi pasien… stabil. Setelah operasi semalam, kami memantau tekanan intracranial dan fungsi neurologisnya. Namun hingga pagi ini, tidak ada respons yang menunjukkan kesadaran.”

Raina menelan ludah. “M-maksud dokter…”

“Pasien mengalami koma.”

Kalimat itu jatuh perlahan, tapi terasa menghantam dada.

Raina menatap lantai, matanya memanas. Ia mencoba menyerap semuanya—benturan keras di kepala, operasi panjang, kondisi yang tidak menunjukkan perkembangan. Koma. Kata yang membuat tubuhnya seakan menjadi ringan sekaligus tenggelam.

“Kami belum bisa memprediksi berapa lama,” lanjut sang dokter. “Tetapi kami akan terus memantau dan memberikan penanganan intensif.”

“Apakah… dia akan bangun, Dok?”

Dokter menghela napas pelan. “Kemungkinannya ada. Namun saat ini, kita harus menunggu.”

Raina mengangguk, meski tenggorokannya terasa tersumbat.

Menunggu—itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.

Berlin, Jerman — 01.17 dini hari

Di sisi dunia lain, jam dinding di apartemen Daniel menunjukkan lewat pukul satu dini hari. Ia baru saja menutup laptop ketika perasaan ganjil kembali menghampiri.

Tidak ada pesan dari Julian sejak dua hari lalu.

Tidak ada update lokasi.

Bahkan tidak ada balasan singkat seperti biasanya.

"Ini tidak seperti Julian, dia biasanya selalu bertanya ini, itu tentang pekerjaan "Batin Daniel mulai gelisah.

Daniel mencoba menelepon lagi, tapi malah suara operator yang menjawab.

"Cek... besok akan ku coba hubungi lagi" Batin Daniel mulai bersiap untuk tidur.

Besok jadwal dia cukup padat karena menggantikan Julian untuk beberapa meeting penting

〰️〰️〰️

Setelah keluar dari ruang dokter, Raina berdiri sejenak di lorong, mencoba menenangkan detaknya yang masih kacau. Tubuhnya ingin goyah, tapi langkah kakinya justru membawa dirinya kembali ke ruang ICU.

"Bagaimana aku membayar tagihan rumah sakit nanti? Tabunganku memang sudah ada tiga digit, tapi bagaimana kalau biayanya besar? ICU itu tidak murah, terlebih keadaan orang itu malah koma" Pikiran Raina berkecamuk.

Raina memang memiliki usaha sampingan dari affiliate dengan penghasilan cukup bagus, setiap bulan minimal Raina bisa dapat 10jt,belum pemasukan dari usaha warung makannya.

Tapi kenapa Raina tidak memberdayakan keluarganya? karena Raina tidak mau mereka jadi manja dan tak mau bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka.Raina sudah membayar kontrakan orang tuanya tiap tahun, menyekolahkan adik adiknya dan sesekali membelikan kebutuhan rumah tangga saat dia berkunjung,itu sudah cukup menurutnya.

Toh slama ini Raina juga tidak hidup bergelimang harta walaupun sebenarnya dia mampu.

Dari balik kaca jendela, ia melihat orang itu terbaring dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya. Setiap bunyi beep monitor terasa seperti detik yang menahan napas.

Raina menatapnya cukup lama.

Laki-laki asing yang semalam ia temukan dalam kegelapan… kini berjuang sendirian di sini.

Ia masuk ke dalam memakai gown pelindung lalu duduk dekat orang itu,

Terlihat jelas tatapan Raina yang sedih dan kasian, laki laki tampan dan gagah itu harus berada di ruang ICU sendirian.

Dengan ragu Raina menggenggam telapak tangan laki-laki itu yang bebas dari selang infus dan juga alat medis"Pasti badan kamu sakit semua ya mas?"

"Maaf sampai saat ini aku belum juga tau identitasmu,aku harus panggil kamu siapa?"Raina terus menatap wajah tampan itu seakan laki laki itu sedang sadar.

Lama hening

" Aku tau kita tidak saling kenal sebelumnya, Jadi aku perkenalkan diriku dulu ya,nanti kalo kamu sudah sadar kamu bisa kasih tau aku siapa nama kamu.Aku Raina "

" Kamu nggak sendirian kok di sini,ada aku...aku akan temani kamu sampai sadar,kalo perlu sampai kamu sembuh "Raina terkekeh di akhir kalimat.

Dia mengerutkan keningnya" tidak biasanya aku ngomong panjang lebar kayak gini "batin Raina bingung namun lama lama dia abaikan.

"Jangan terlalu lama tidurnya ya mas,nanti tabunganku abis buat bayar pengobatanmu" Ucap Raina bercanda sambil menepuk pelan punggung tangan laki-laki itu lalu keluar dari ruang ICU.

Suara monitor ICU menjadi satu-satunya balasan dari semua kata yang di ucapkan Raina,namun tanpa dia sadari jari telunjuk laki laki yang tangannya ia tepuk pelan tadi bergerak.

Raina menarik napas, menahan rasa sakit yang bahkan bukan miliknya.

Namun ia tetap tinggal—karena seseorang harus ada di sisi laki-laki itu.

Dia akan menunggu di depan ruangan ICU itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!