Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Bayangan di Pelabuhan
Pukul 01:45 Dini Hari: Gudang Tua di Dermaga
Satu jam setelah meninggalkan kantor Ares, Natalie sudah berada di lokasi. Ia tidak lagi mengenakan gaun formal hitam; ia memakai pakaian serba hitam yang praktis—sepatu boots anti-slip, celana kargo, dan jaket kulit ringan. Rambutnya dikepang ketat, dan di pinggangnya tergantung sarung pistol kosong, sebuah pengingat bahwa Ares memercayakan keselamatannya pada skill dan kecerdasannya, bukan pada senjata.
Rook mengantar Natalie hingga dua blok dari lokasi, sebuah gudang tua di pelabuhan yang tampak sepi dan ditinggalkan. Rook, yang besar dan diam, hanya memberikan satu instruksi: "Aku akan memantau. Jangan sampai terlihat oleh mereka. Ambil target dan keluar. Hanya itu."
Natalie mengangguk. Ia tahu ini adalah tes. Bukan hanya tes kemampuan, tetapi tes loyalitas.
Menyusup
Gudang itu gelap dan lembap, berbau garam dan minyak. Natalie bergerak dalam mode yang sudah lama ia lupakan. Insting jalanan yang ia kembangkan saat remaja di lingkungan berbahaya kota kini menyatu dengan disiplin profesional yang ia pelajari dari Ares: tenang, cepat, dan senyap.
Ares sudah memberikan denah gudang itu. Ia tahu di mana titik buta kamera keamanan tua dan di mana gerendel pintu termudah untuk dibuka.
Natalie menggunakan kunci khusus yang diberikan Rook untuk membuka gerendel pintu belakang gudang. Ia menyelinap masuk. Cahaya bulan yang masuk melalui jendela tinggi yang kotor memantulkan debu di udara.
Di dalam, udara dingin dan berat. Gudang itu ternyata tidak kosong. Ada tumpukan peti kemas yang disusun menjadi labirin, dan di tengah-tengah labirin itu, Natalie mendengar suara-suara.
Itu adalah suara Kaleb Sanjaya, terdengar tegang dan panik, dan suara dua pria lain yang lebih berat dan mengancam.
Natalie bergerak di balik tumpukan peti. Ia hanya perlu mencari sebuah meja atau lemari tempat Sanjaya menyimpan informasi itu.
Ia menyusup semakin dekat. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena ketakutan, tetapi karena fokus. Ia harus tetap menjadi bayangan.
Akhirnya, ia mencapai celah peti yang memberinya pandangan jelas. Di tengah area terbuka, Kaleb Sanjaya duduk di kursi lipat, wajahnya pucat pasi, diikat di pergelangan tangan ke pipa logam. Dua pria bersetelan jas longgar berdiri di dekatnya—mereka adalah anggota keamanan dari pesaing Ares.
Di samping Sanjaya, di atas meja kerja portabel, ada sebuah koper kecil terbuka yang berisi beberapa hard drive dan setumpuk dokumen. Itu targetnya.
"Kau bilang kau punya segalanya, Kaleb," desis salah satu pria keamanan, menjentikkan pisau lipat. "Kau jual rahasia logistik Ares. Di mana dia menyembunyikan 'Buku Merah'-nya? Bagian yang paling menguntungkan!"
Sanjaya menggigil. "Aku... aku tidak tahu! Itu adalah operasi terpisah. Ares tidak pernah memasukkannya ke dalam jaringan logistik utama! Dia menyimpannya di tempat terpisah! Aku hanya tahu yang ini!"
Natalie mengerti. Ares tidak hanya ingin mengambil kembali rahasianya. Dia ingin menunjukkan kepada pesaingnya bahwa informasi yang mereka dapatkan dari Sanjaya tidak lengkap, dan bahwa Ares akan selalu unggul.
Momen Risiko Tertinggi
Natalie harus bergerak cepat. Kedua pria keamanan itu fokus mengintimidasi Sanjaya.
Ia melihat celah: di belakang meja tempat koper itu berada, terdapat jalur gelap di antara dua tumpukan peti kemas.
Natalie mengeluarkan sarung tangan kulit tipis dari sakunya, menarik napas dalam-dalam, dan mulai bergerak.
Langkah pertamanya sangat lambat, kakinya mencengkeram lantai semen yang berdebu untuk meminimalkan suara. Ia berhasil mencapai peti pertama.
Langkah kedua, ia harus melewati celah sempit di samping tumpukan peti yang bergoyang. Ia menahan napas, menempel di dinding.
Saat ia mencapai meja, ia menyadari bahayanya. Meja itu kecil, dan koper Sanjaya berada tepat di bawah sorotan lampu kecil. Ia harus mengambil koper itu dalam satu gerakan cepat dan menghilang.
Salah satu pria keamanan berbalik, tampaknya mendengar gerakan kecil.
"Ada apa di sana?" tanyanya, suaranya tebal dan curiga.
"Mungkin tikus," jawab temannya, acuh tak acuh.
Pria yang curiga itu mengambil senter dan mengarahkannya ke tumpukan peti. Natalie membeku. Cahaya senter itu menyapu tepat di atas kepalanya.
Aku tidak boleh panik. Ares tidak akan merekrutku jika aku panik.
Natalie menunggu. Pria itu menggerutu, menganggapnya hanya tikus, dan kembali mengintimidasi Sanjaya.
Ini dia. Momennya.
Natalie melompat keluar dari persembunyiannya, mendarat dengan lututnya di balik meja. Koper itu hanya sejauh lengan.
Ia membuka koper lebih lebar, dengan cepat meraih semua hard drive dan dokumen yang ia lihat, dan memindahkannya ke tas pinggang kecilnya. Ia melakukannya dalam tiga detik. Gerakannya begitu senyap dan cepat, seperti ular yang mencuri telur.
Sanjaya, yang ketakutan, melihat pergerakannya dan matanya melebar, tetapi dia tidak mengeluarkan suara.
Tepat saat Natalie menutup tas pinggangnya, pria keamanan yang tadi curiga berbalik lagi. Kali ini, ia melihat kilasan gaun hitam Natalie di bawah cahaya redup.
"Hei! Siapa di sana?!" teriak pria itu, menarik senjata dari pinggangnya.
Pelarian
Natalie tidak menunggu. Ia tidak perlu menghadapi mereka; tugasnya selesai. Ia melompat kembali ke kegelapan di antara peti kemas.
"Sial! Dia mengambilnya! Kejar dia!"
Tembakan pertama dilepaskan, peluru memantul di dinding logam di belakang Natalie. Suara tembakan itu memekakkan telinga dalam kesunyian gudang, memicu seluruh area.
Natalie berlari, menggunakan peti kemas sebagai penutup. Ia tidak bisa berlari keluar melalui pintu belakang; mereka sudah tahu jalurnya. Ia harus mengambil jalan yang lebih berbahaya.
Ia berlari menuju bagian tengah gudang, di mana sebuah forklift tua ditinggalkan. Di sana, ia melihat pintu logam tinggi yang digunakan untuk bongkar muat. Terkunci, tetapi mungkin bisa dilumpuhkan.
Saat ia berlari, pria kedua mulai menembak. Peluru itu menyerempet bahu kirinya. Rasa sakit tajam membakar, tetapi Natalie mengabaikannya. Ini hanya goresan. Jaga fokus.
Ia mencapai pintu logam. Ia meraih tuas kunci darurat, menggunakan semua kekuatannya. Kunci itu berderak, enggan membuka.
Langkah kaki cepat mendekat.
"Berhenti di sana, jalang!" teriak pria keamanan itu.
Saat pria itu mendekat, Natalie menarik tuas kunci dengan seluruh tenaganya, dan kunci itu akhirnya patah dengan bunyi CRAK yang memekakkan. Ia menarik pintu itu terbuka sejenak dan menyelipkan dirinya ke luar.
Pengejaran di Dermaga
Ia berada di dermaga terbuka. Air hitam berombak di bawah kakinya. Gudang itu kini menyala, dan dua pria keamanan itu muncul dari pintu.
"Panggil bos! Dia mengambil informasinya!" teriak salah satunya.
Natalie tidak melihat Rook di mana pun. Ia sendirian. Ia berlari.
Ia berlari melintasi dermaga kayu tua, menuju kegelapan yang lebih pekat. Saat ia berlari, ia merasakan kehangatan darah di bahunya.
Tiba-tiba, dari kegelapan di antara tumpukan barang yang tertutup terpal, sebuah mobil sedan hitam muncul tanpa suara—Maybach yang sama yang ia naiki tadi siang.
Jendela mobil itu terbuka. Di kursi pengemudi, Rook menatapnya dengan wajah tanpa emosi.
"Masuk, Natalie," suara Rook, dalam dan berat.
Natalie berlari dan melompat ke kursi penumpang, tepat saat mobil itu bergerak cepat.
"Dia terluka!" teriak salah satu pria keamanan, menembak ke arah mobil. Peluru itu hanya memantul dari kaca anti-peluru tebal.
Saat Rook melaju, meninggalkan gudang itu, Natalie menyandarkan kepalanya ke jok kursi, merasakan rasa lega yang luar biasa, bercampur dengan nyeri di bahunya.
Kembali ke Bos
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di tempat yang aman. Rook menghentikan mobil dan berbalik ke Natalie.
"Berikan aku hard drive-nya," perintah Rook.
Natalie membuka tas pinggangnya yang basah oleh keringat, mengambil hard drive dan dokumen Sanjaya, dan menyerahkannya kepada Rook.
"Kau berhasil," kata Rook, sebuah pujian yang luar biasa langka darinya. "Lenganmu?"
"Hanya goresan," Natalie mendesis, mencoba menahan rasa sakit.
"Ares akan menunggumu di penthouse di lantai 50. Aku akan mengurus perbanmu di sana. Sekarang, ayo."
Saat mereka menuju lift, Natalie memikirkan Ares. Ia baru saja mempertaruhkan nyawanya, melanggar hukum, dan menantang kartel saingannya—semua karena janji kekuasaan dari pria yang tidak mencintai tunangannya.
Ia telah melewati batas.
Ketika lift mencapai lantai 50, pintunya terbuka, dan Natalie berjalan keluar, bahunya yang terluka berdenyut.
Ares berdiri di penthouse-nya. Ia tidak lagi memakai kemeja, hanya kaos hitam. Tangannya memegang segelas scotch lagi. Ia melihat Natalie. Pertama, ia melihat luka di bahu Natalie, kemudian tatapannya beralih ke mata Natalie, melihat kobaran api dan kelelahan.
Ares berjalan ke Natalie, mengambil koper kecil yang dipegang Rook berisi hard drive itu, dan melemparkannya ke sofa.
"Luka di bahumu adalah kelemahan, Natalie," kata Ares, suaranya kembali keras. "Tapi keberanianmu adalah hal yang akan menyelamatkanmu."
Ia menatapnya. "Kau melewati batas. Kau milikku sekarang. Mulai sekarang, kau akan melihat bayangan di mataku, dan aku akan memastikan bayangan itu tidak pernah menembus hatimu. Tidak ada Claudia, tidak ada Adrian, tidak ada yang bisa menyentuhmu."
Ares menunjuk Rook. "Obati lukanya. Natalie," katanya, matanya kembali dingin dan memerintah, "Shiftmu baru saja dimulai."