Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《Chapter 7》
Pertemuan keluarga Albert bisa di bilang cukup ramai, mereka akan berkumpul di rumah utama milik keluarga yang sudah berdiri selama beberapa generasi, pertemuan akan di adakan pada malam hari.
Sore harinya mereka sudah bersiap, setelah Emily memakai pakaian dan riasan, ia mulai melangkah turun dari tangga menghampiri Albert yang sudah siap lebih dahulu darinya.
"Ayo kita pergi," ajak Albert.
Sopir sudah mengemudikan mobil sementara mereka berdua duduk manis di kursi belakang, jarak mereka cukup dekat, Emily bisa melihat wajah Albert yang cukup tenang.
"Albert, apakah kita akan bertemu banyak orang malam ini?" Albert mengatakan seluruh keluarga, namun Emily tidak tau sebanyak apa keluarga yang Albert miliki.
"Temui saja orang tua saya," jawabnya, ia malas menghitung, dari pihak ayahnya saja ada beberapa generasi, belum lagi dari pihak ibunya.
Emily hanya mengangguk, sebenarnya ia sedikit gugup sekarang, dahulu keluarganya jarang melakukan pertemuan seperti ini.
"Jangan gugup, bersikap saja seperti biasanya," pinta Albert, ia menggenggam tangan Emily, memberikan sentuhan lembut.
Emily tersenyum dan berkata, "baiklah", ia berfikir bahwa menghadapi mereka pasti tidak begitu sulit karna ada Albert di sampingnya, lagian ini sudah termasuk isi perjanjian yang sudah mereka sepakati untuk menunjukkan bahwa mereka benarkah menikah.
Dia hanya punya waktu 2 tahun sebelum akhirnya meninggal, jadi ia berfikir untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Cahaya lampu dari tiang jalan masuk melalui jendela mobil, membuat Emily membayangkan kehidupan lampau, dimana ia tidak pernah naik mobil yang mewah seperti ini.
Ia menghela nafas, berfikir bahwa ia sangat bersyukur menikmati hal ini meski akan segera sekarat.
Tak lama kemudian, mobil itu sampai di sebuah rumah besar yang terlihat agak tua, mungkin karna beberapa bagian belum di renovasi, namun Emily bisa melihat halaman yang cukup luas di depan.
Beberapa mobil sudah terparkir rapih disana dan begitu mereka keluar dari mobil, Emily dapat melihat raut wajah Albert yang tidak ceria, terlihat bahwa hubungan dengan keluarganya kurang baik.
Ia tidak mengatakan apa-apa tentang ini dan hanya mendekati Albert lalu bertanya, "Bolehkah aku menggandeng tanganmu? Kita harus terlihat serasi"
Emily tersenyum saat melihat Albert memberikan lengannya untuk di gandeng.
Jika berdiri bersampingan seperti ini, Emily terlihat sangat kecil, karna Albert memiliki yang lebih tinggi jauh darinya.
"Mari kita masuk"
Albert memasang wajah datar dan masuk bersama Emily, mengesampingkan bagaimana tatapan keluarga yang memandang mereka.
Hal ini membuat beberapa keluarga yang jauh menjadi penasaran dengan mereka, terlebih karna mereka yang tidak datang dengan alasan kesibukkan, padahal mereka hanya tidak setuju dengan keputusan Albert menikahi orang dengan status sosial berbeda.
Emily sempat mencari berita mengenai keluarga Albert, mendapati bahwa rumah utama mereka memiliki lapangan golf, kolam renang, perkebunan kecil dan beberapa hal lain yang masih banyak lagi.
Dari halaman, Albert membawanya ke gedung lain yang berada di belakang gedung depan, saat masuk ke sana beberapa pelayan dan pengawal sudah berdiri, mereka membuat dua barisan seolah sedang menyambut kedatangan tamu.
"Selamat datang Tuan Muda Albert dan Nyonya Emily, silahkan masuk," ucap salah satu pelayan yang terlihat seperti kepala pelayan lain.
Albert tak menjawab dan berlalu dari sana, setelah beberapa saat melangkah, ada seorang pria yang menghampiri mereka.
"Sungguh romantis, kalian memang seperti sepasang suami istri yang bahagia," ucapnya, Albert melirik tajam.
Tangan pria itu mengambil sesuatu dari kantong celananya yang adalah sepuntung rokok dengan korek api, seperti berniat menyalakannya.
"Di dalam sini bukan tempat untuk merokok, pergilah ke luar," ucap Albert, ia sebenarnya hanya khawatir tentang asap rokok yang mungkin bisa membuat Emily sesak nafas.
Ia membawa Emily menjauh dari sana, mengabaikan tatapan pria yang masih melirik mereka berdua.
"Kau terlihat sombong Albert"
Emily berfikir, sepertinya Albert memiliki banyak keluarga yang kurang suka padanya, melihat bagaimana mereka menyambut Albert dengan kata-kata tajam begitu masuk ke sana.
"Jangan memprovokasi ku Daniel, aku sedang tidak ingin bertengkar"
Daniel merupakan anak tertua dari kakak ayahnya, beberapa rumor mengatakan bahwa ia tak di pilih menjadi penerus perusahaan karna ketidakmampuannya.
"Aku hanya ingin mengingatkan mu, tahun ini sudah cukup lama kau memimpin perusahaan, jangan sombong, bisa jadi ada orang lain yang mengambil posisi itu"
Albert tersenyum sinis, ia begitu mengetahui sifat Daniel, tak mungkin ia bisa bersaing dengannya.
"Hahaha"
Albert tertawa terbahak-bahak, lalu menutup mulutnya untuk kembali bersikap sopan, meski ia sudah diam namun karna ruangan itu besar sehingga beberapa orang di sana bisa mendengar suara tawanya tadi.
Sebuah hal yang jarang mereka lihat, yaitu Albert yang sedang tertawa.
Daniel begitu kesal melihat adegan di depannya, ia menahan diri agar tidak beradu tinju di dalam pertemuan itu.
"Kau kira semua orang bisa mengelola perusahaan dengan baik? Contohnya dirimu! Lebih baik kau banyak belajar dari pada berangan-angan"
Albert memiliki dukungan penuh dari kakeknya, ia selalu pintar dan berbakat, hal itulah yang membuat kakeknya menaruh perhatian lebih padanya.
Emily berfikir bahwa perdebatan ini akan lama, ia menghela nafas lalu mengedarkan pandangan mencari tempat duduk terdekat.
Entah mengapa badannya terasa agak lemas, lebih baik ia istirahat sebentar membiarkan suami pura-pura nya itu menyelesaikan masalahnya.
"Kamu pikir kamu siapa hah, bisa-bisanya mengomentari aku!" Teriak Daniel.
Baru saja Albert akan menjawab, seorang wanita datang dari sampingnya dan berkata, "Bukankah ini acara keluarga, lebih baik kalian tidak melanjutkan hal ini, sudah banyak orang yang melihat kalian"
Benar, semua orang sedang berbisik mengomentari kelakuan mereka.
Albert baru menyadari Emily yang sudah tidak berdiri di sampingnya, ia mencari-cari dimana gadis itu dan menemukannya sedang memakan dessert.
"Ayo ikut saya, kita akan bertemu orang tua saya," ucap Albert yang membuat Emily agak kaget, ia tadi sedang makan sambil mencuri dengar beberapa percakapan gadis disana yang mengatakan bahwa dirinya cantik.
Memang sejak Emily masuk dari pintu, para pelayan sudah kagum dengan kecantikkannya, begitu pula tamu yang datang ke pertemuan itu.
Ini sudah lewat jam 7 malam sehingga para tamu sudah banyak yang melangkah menuju ruang makan dimana hidangan sudah di atur oleh pihak katering.
Ayah dan Ibu Albert juga terlihat berada di sana, duduk di meja makan.
Emily duduk dan melihat dekorasi ruangan yang sangat indah, seperti sedang berada di dalam Istana, apa lagi lampu kristal besar yang berada di tengah-tengah, sangat mempesona.
Hidangan di depannya terlihat begitu menggiurkan, namun ia masih harus menunggu ajakan dari kepala keluarga di sana.
"Selamat malam, terimakasih karna sudah datang di pertemuan keluarga ini, silahkan makan dan menikmati acara dengan baik"
Itu adalah buyut dari pihak ayahnya yang masih hidup sampai sekarang di saat semua saudaranya sudah meninggal.
Begitu ia selesai mengatakan itu, seluruh tamu mulai menyentuh makanan dan menikmatinya.