Jingga seorang gadis cantik yang hidupnya berubah drastis ketika keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi orang pertama yang melemparkannya keluar dari hidup mereoka. Dibuang oleh ayah kandungnya sendiri karena fitnah ibu tiri dan adik tirinya, Jingga harus belajar bertahan di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin.
Awalnya, hidup Jingga penuh warna. Ia tumbuh di rumah yang hangat bersama ibu dan ayah yang penuh kasih. Namun setelah sang ibu meninggal, Ayah menikahi Ratna, wanita yang perlahan menghapus keberadaan Jingga dari kehidupan keluarga. Davin, adik tirinya, turut memperkeruh keadaan dengan sikap kasar dan iri.
Bagaimanakan kehidupan Jingga kedepannya?
Akankan badai dan hujannya reda ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arjuna-Ku terluka..
Perjalanan hidup memang tak pernah berjalan lurus. Ada hari yang manis, ada esok yang pahit, dan keduanya datang silih berganti tanpa permisi.
Begitulah yang dilalui Jingga dan Arjuna,dua hati yang harus belajar kuat meski terpisah oleh jarak.
Jarak mengajarkan mereka arti rindu, waktu menguji kesabaran, dan keadaan membentuk kedewasaan. Tidak semua hari dipenuhi tawa, tapi setiap luka membuat mereka lebih mengerti arti bertahan.
Hingga akhirnya mereka paham, bahwa cinta bukan tentang selalu berdampingan, melainkan tentang tetap saling memilih, meski dunia memisahkan.
Dan selama harapan dijaga, perjalanan sejauh apa pun selalu punya arah untuk pulang.
...
Hari itu awalnya berjalan seperti biasa.Arjuna berangkat lebih pagi dari biasanya. Agenda di tabletnya penuh, hampir tak ada jeda. Sejak pagi ia sudah berpindah dari satu rapat ke rapat lain, membahas restrukturisasi internal perusahaan dan isu sensitif yang melibatkan banyak kepentingan lama.
Beberapa orang tidak senang.
Arjuna tahu itu.
Tapi ia juga tahu, mundur bukan pilihan.
“Data ini harus dibuka,” katanya tegas di ruang rapat. “Kalau kita tutup-tutupi, masalahnya akan makin besar.”
Beberapa wajah terlihat tidak nyaman. Ada yang saling pandang. Ada yang menunduk.
Arjuna menutup map. “Saya bertanggung jawab penuh.”
Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu yang selama ini tersembunyi.
Sore hari, hujan turun deras di kota.
Arjuna keluar dari gedung kantor lebih lambat dari rencana. Kepalanya berat. Bukan karena lelah fisik, tapi tekanan yang menumpuk sejak berminggu-minggu.
Ia baru saja hendak masuk mobil ketika ponselnya bergetar.
Nama Jingga muncul di layar.Arjuna tersenyum kecil, mengangkat panggilan.
“Ka Juna, lagi sibuk?” suara Jingga terdengar ceria.
“Baru mau pulang,” jawabnya. “Ada apa?”
“Aku cuma mau cerita, hari ini panen lancar. Nggak ada kendala.”
“Hebat,” kata Arjuna tulus. “Aku bangga.”
Jingga tertawa kecil. “Kamu udah makan?”
“Belum,” jawab Arjuna jujur. “Nanti sekalian.”
"Kaka jangan lupa makan ya,selalu jaga kesehatan." Pesan Jingga membuat Arjuna tersenyum bahagia.
"Iya sayang,kamu juga."
“Hati-hati di jalan ya.”
“Iya,sayang.”
Panggilan berakhir. Arjuna memasukkan ponsel ke saku jas, lalu masuk ke mobil.
Ia tidak tahu, itu akan jadi percakapan normal terakhir mereka untuk sementara waktu.
Arjuna menghidupkan mobilnya.Perlahan roda mobil berputar meninggalkan area basement kantor.Jalanan kota di sore itu memang terlihat padat merayap,apalagi waktu menunjukan jam pulang untuk para pegawai.
Saat di sebuah persimpangan, mobil Arjuna melambat. Hujan membuat jarak pandang berkurang. Lampu lalu lintas berubah.
Dan dalam hitungan detik sesuatu terjadi.Sebuah benturan keras terjadi, tubuh Arjuna terhentak, dan matanya tiba-tiba gelap.
Jingga baru saja selesai membersihkan kamera ketika ponselnya bergetar.
Nomor asing.
Entah kenapa, dadanya langsung terasa tidak enak.
“Halo?” suaranya terdengar waspada.
“Apakah ini dengan keluarga Bapak Arjuna?” suara di seberang terdengar formal.
Jingga terdiam. “Saya… saya orang dekatnya. Ada apa?”
Ada jeda sebentar sebelum suara itu kembali terdengar.
“Pak Arjuna mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dirawat intensif.”
Dunia Jingga seperti berhenti berputar.
“Apa…?” suaranya nyaris tak keluar.
“Mohon tenang. Kondisinya stabil, tapi membutuhkan perawatan intensif.”
Ponsel hampir terlepas dari genggamannya.
“Di mana?” tanya Jingga akhirnya,
dengan suara bergetar.
Bahkan Jingga tidak terlalu mendengar suara di seberang sana,otaknya mendadak kosong.Hanya kata 'Ibu Nadira ibunya Ka Juna' yang bisa ia ucapkan pada orang di seberang sana.
Beberapa saat kemudian Kakek Arga menghampiri Jingga yang duduk di teras, wajahnya pucat, tangannya gemetar memegang ponsel.
“Kamu kenapa, Nak?” tanya Kakek cemas.
Jingga menoleh. Matanya basah.
“Ka Juna…kecelakaan, Kek.”
Kakek Arga langsung duduk di sampingnya. Tidak banyak bertanya. Hanya menggenggam tangan Jingga erat.
“Kamu nggak sendirian,” katanya pelan.
Tangis Jingga akhirnya pecah.
Sedangkan di rumah sakit, Arjuna terbaring dengan banyak alat medis terpasang. Wajahnya pucat, tapi napasnya teratur. Dokter keluar masuk ruangan, memantau kondisinya dengan serius.
Ibu Nadira berdiri di luar ruang perawatan, matanya merah, tapi wajahnya berusaha tegar. Nayya memeluk ibunya erat, tak berkata apa-apa.
“Kenapa harus terjadi sama kamu nak…” gumam Ibu Nadira lirih namun tidak ada jawaban.
Keesokannya,Arjuna belum sadarkan diri sepenuhnya. Dokter menyebutkan bahwa tubuhnya mengalami trauma berat dan butuh waktu.
“Perawatan intensif sangat diperlukan,” kata dokter. “Kami perlu memantau respon tubuhnya.”
Jingga menerima kabar itu dari pesan singkat Ibu Nadira.
Tangannya gemetar membaca setiap kata.
Ia ingin ke kota.
Ingin melihat Arjuna.
Ingin memastikan sendiri.
Tapi jarak, keadaan, dan tanggung jawab di kebun menahannya.
Jingga duduk di kamar, menatap kamera kecil di tangannya.
“Kamu bilang aku nggak sendirian,” bisiknya. “Tapi Sekarang_" Suaranya bergetar "Jangan ninggalin aku,ka.”
Jingga kembali mengirim pesan.Tidak peduli dibaca atau tidak.
✉️Ka, hari ini hujan di kebun. Aku ingat kamu.Aku belajar banyak hari ini. Kamu pasti bangga.
Cepat sembuh ya. Aku selalu nunggu Kaka.
Pesan-pesan itu terkirim tanpa balasan.
Tapi Jingga tidak berhenti.Karena itu satu-satunya cara ia merasa dekat.
Dua hari berlalu, Arjuna perlahan membuka mata.Pandangan masih buram. Suara terdengar jauh.Ia merasakan nyeri, tapi yang paling jelas justru Nama Jingga yang muncul di pikirannya.
Bibirnya bergerak pelan. Hampir tak terdengar.
“Jingga…”
Monitor berdetak stabil.Seorang perawat mendekat. “Pak Arjuna mulai sadar."
Ibu Nadira langsung menghampiri, air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
“Arjuna… Nak…”
Mata Arjuna bergerak pelan. Ia belum sepenuhnya sadar,
Para dokter dan perawat langsung memeriksa Arjuna dan meminta Ibu Nadira menunggu di luar.
Setelah di luar,Ibu Nadira langsung mengirim pesan singkat pada Jingga.
✉️Arjuna mulai sadar. Tapi masih harus dirawat intensif.
Jingga membaca pesan itu berulang kali.
Air matanya jatuh, tapi kali ini dengan senyum kecil.
“Terima kasih…” bisiknya pada siapa pun yang mendengarnya.
Ia menatap langit malam dari jendela kamarnya.
“Cepat sembuh,” katanya pelan. “Aku masih nunggu kamu pulang.”
Di kejauhan, di antara gedung-gedung kota yang dingin dan kebun sawit yang sunyi, dua hati tetap saling terikat meski kini diuji dengan cara yang paling berat.
Jingga bukanlah Jingga yang dulu yang begitu lemah dan selalu kalah.Tapi Jingga sekarang,adalah sosok Jingga yang begitu dewasa.
Kesabaran mengajarkannya untuk tetap tenang saat keadaan tak sesuai harapan.Dan dari situlah hati Jingga menjadi lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih siap menerima keindahan yang datang setelah ujian berlalu.
..."Hidup akan terasa lebih indah ketika ujian dihadapi dengan kesabaran....
...Karena di balik sabar, selalu ada pelajaran, kekuatan, dan kebahagiaan yang sedang Allah siapkan."...
...🍀🍀🍀...
...🍃Langit Jingga Setelah Hujan🍃...
seiring dgn kebenaran yg coba dihapuskan.
semangat
Arjuna.. Jingga