Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Tangga Misterius
Sementara Xiao An sedang asyik dengan rencana masa depannya yang penuh semangat di puncak bukit, jauh di dalam belantara hutan lebat di kaki bukit, ada sosok lain yang juga sedang berpetualang.
Namanya Lin Cheng, seorang pemuda berusia 16 tahun, sebaya dengan Xiao An. Posturnya atletis dan tegap, setiap langkahnya menunjukkan kekuatan dan kelincahan yang lahir dari keakraban dengan alam.
Di punggungnya, sebuah keranjang anyaman besar tergantung kokoh, penuh terisi dengan berbagai harta karun hutan: tanaman jamu dengan akar-akar dan daun-daunnya yang unik, serta jamur kayu yang tumbuh di batang-batang pohon tumbang, beberapa di antaranya memancarkan warna-warni aneh.
Lin Cheng menelusuri hutan dengan langkah kaki yang mantap. Kakinya yang bersandal tipis bergerak tanpa suara di atas tanah berlumut dan daun-daun kering. Matanya awas mengamati sekeliling, sesekali berhenti untuk memeriksa jejak binatang atau meneliti tumbuhan langka.
Dia tampak seperti pemburu, namun bukan memburu daging, melainkan khasiat dari setiap sudut hutan. Udara lembap hutan, aroma tanah basah, dan bau lumut adalah dunianya.
Dia bersiul pelan, melodi sederhana yang berpadu dengan suara alam. Sepertinya, mencari jamu dan jamur adalah rutinitasnya, sebuah pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan, pengetahuan, dan tentu saja, kaki yang kuat.
Mata Lin Cheng yang tajam menyapu setiap detail di sekitarnya. Langkahnya terhenti di sebuah bongkahan bebatuan kasar yang sebagian tertutup bayangan. Di sana, menempel rapi seperti permadani hijau tua, ia menemukan sejenis tanaman mirip lumut yang langka. Lumut itu memancarkan kilau samar, seolah menyembunyikan rahasia di baliknya.
Dengan cekatan, Lin Cheng mengeluarkan alat khusus dari sarungnya – semacam pisau kecil berujung melengkung yang tampak tumpul namun sangat presisi.
Gerakannya tenang dan pasti. Ia membungkuk, lalu dengan perlahan dan hati-hati, mulai mengupas lumut itu dari permukaan batu. Setiap gerakannya menunjukkan keahlian dan pengetahuan mendalam tentang apa yang sedang ia lakukan, seolah lumut itu adalah harta karun yang rapuh.
Setelah berhasil mengumpulkannya, Lin Cheng memasukkan lumut itu ke dalam keranjang di punggungnya, menempatkannya di antara tanaman jamu dan jamur lain yang sudah lebih dulu terkumpul. Wajahnya menunjukkan kepuasan tipis. Lumut ini pasti akan berguna.
Namun, saat Lin Cheng hendak melanjutkan langkahnya, tatapannya menjadi serius. Fokusnya terpaku pada sesuatu yang sama sekali tidak dia harapkan. Tersembunyi sebagian di balik rimbunnya dedaunan, ada sebuah tangga batu yang menjulang, memanjat lereng bukit curam menuju puncak yang saat ini tertutup awan tipis.
INI
Dalam ingatannya, seharusnya di bukit ini tidak ada tangga. Ia sudah menjelajahi hutan ini berkali-kali, menghafal setiap lekuk dan jalurnya. Penemuan ini aneh. Sejak kapan tangga setua itu bisa muncul di sini tanpa dia ketahui?
Lin Cheng mendekat dengan hati-hati, menelitinya. Tangga itu memang tampak sangat tua, terbuat dari batu yang disusun secara kasar, namun kokoh. Permukaannya berlumut tebal, basah karena embun atau mungkin gerimis di pagi buta.
Berbagai tanaman liar tumbuh dari sela-sela batu, akarnya mencengkeram erat, seolah menyatu dengan struktur tangga itu sendiri. Semakin dia perhatikan, semakin jelas bahwa tangga ini bukanlah buatan alam, melainkan hasil tangan manusia yang sudah lama ditinggalkan.
Misteri ini membuat Lin Cheng mengerutkan kening. Siapa yang membangunnya? Dan apa yang ada di atas sana, di balik awan yang menyelimuti puncak?
Karena penasaran yang tak tertahankan, Lin Cheng akhirnya memutuskan untuk menaiki tangga itu. Ini bukan sekadar rasa ingin tahu biasa; ada semacam daya tarik misterius dari tangga yang seharusnya tidak ada di sini ini. Dengan langkah mantap yang biasanya ia gunakan untuk menelusuri hutan, kini kakinya mulai menapaki tangga batu satu per satu.
Lumut yang tebal dan basah membuat setiap pijakan terasa licin, dan Lin Cheng harus ekstra hati-hati agar tidak terpeleset. Bau tanah lembap dan lumut semakin kuat seiring ia mendaki. Di setiap anak tangga, ia bisa merasakan dinginnya batu yang sudah berabad-abad terpapar cuaca.
Semakin tinggi ia melangkah, pepohonan di sekelilingnya semakin rapat, seolah ingin menyembunyikan rahasia tangga ini. Suara hutan di bawahnya perlahan meredup, digantikan oleh keheningan yang tebal, hanya sesekali dipecahkan oleh embusan angin yang menggoyangkan dedaunan.
Lin Cheng terus menapaki tangga batu yang berlumut itu. Satu anak tangga, lalu anak tangga berikutnya, dan berikutnya lagi. Keringat mulai membasahi dahinya, dan napasnya mulai terengah. Ini seperti tangga yang tak ada habisnya. Dia sudah mendaki cukup lama, namun puncak bukit masih belum terlihat, tertutup kabut tipis yang semakin pekat.
Dia mulai heran. "Bagaimana bisa bukit ini menjadi sangat tinggi?" gumamnya pada diri sendiri. Dia merasa yakin dia pernah beberapa kali menaikinya di masa lalu, mencari jamu di lerengnya, dan tidak pernah setinggi ini. Rasanya seperti bukit itu tiba-tiba memanjang, menembus awan.
Perlahan, rasa lelah mulai menyergap. Otot-otot kakinya terasa berat, dan lututnya mulai sedikit bergetar. Dia mengeluh dalam hati, "Sial, kalau begini terus, bisa-bisa aku jadi jamu di sini."
Akhirnya, dia memutuskan untuk beristirahat. Lin Cheng mencari pijakan yang cukup datar di salah satu anak tangga, lalu duduk bersandar pada dinding bukit yang dingin. Dia membuka keranjangnya, dan dari antara tumpukan jamu, ia mengambil air dari batang bambu yang telah ia siapkan khusus sebagai botol minum alami.
Air dingin nan segar membasahi tenggorokannya, sedikit meredakan dahaga dan kelelahannya. Dia mendongak, menatap ke atas, ke arah tangga yang masih menghilang di balik kabut. Puncak itu terasa begitu jauh.
Lin Cheng menyesap lagi air dari bambunya, membiarkan dinginnya air membasahi tenggorokan dan sedikit menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Ia mengembara dalam pikirannya, melayang jauh dari tangga batu berlumut itu.
Usianya sekarang 16 tahun. Sebuah angka yang terasa berat di benaknya. Seharusnya, setahun yang lalu, saat usianya genap 15 tahun, ia sudah harus mendaftar di Akademi Kekaisaran untuk memulai pendidikan dan kultivasinya. Itu adalah impiannya, jalan yang telah digariskan keluarganya, gerbang menuju masa depan yang gemilang.
Namun saat ini, ia masih berada di sini. Di tengah hutan belantara ini, dengan keranjang penuh herbal di punggungnya. Ia menatap telapak tangannya, kemudian ke arah tangga yang seolah mengejeknya. Sebuah rasa marah dan penyesalan yang dalam menyelimuti hatinya.
Marah pada keadaan, menyesal atas waktu yang terbuang. Teman-temannya di usia yang sama mungkin kini sudah mahir menggunakan pedang atau menguasai mantra, sementara dia... masih di sini, berburu jamu.
Ia menghela napas panjang, mengusir semua pikiran pahit itu. Penyesalan tak akan mengubah apa pun. Masa lalu telah berlalu. Dengan tekad yang kembali menguat, Lin Cheng bangkit dari duduknya. Kakinya, meskipun lelah, terasa lebih ringan kini. Dia harus terus maju. Dia harus tahu apa yang ada di puncak bukit ini.
Dengan langkah kaki yang lebih mantap, Lin Cheng melanjutkan langkahnya menuju puncak bukit, menghilang di balik kabut tebal yang menyelimuti bagian atas tangga.