Aku bukan pelakor! Aku hanya lah orang ketiga dalam hubungan kakaku dan calon suaminya.... lah bagaimana mana bisa?
Bagaimana jika suami mu dan suami kakak mu adalah orang yang sama?
Ini adalah kisah ku. Aku-Kania, Adam dan Najira, yang bukan lain adalah kakak tiri ku, terikat dalam satu hubungan yang bernama tali pernikahan.
Jika kalian tanya siapa istri pertamanya mas Adam. Aku, aku istri pertamanya. Tapi siapa wanita yang di cintanya, iya, Najira.
Aku tau betul kalau hati mu hanya milik Najira seorang. Tapi, aku juga istri mu. Tidak kah kau memikirkan perasaanku walau sedikit?
Jangan lupakan Chandra, Pria adi kuasa yang memegang tali merah di kehidupan Kania.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asih sunkar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Pernikahan 1
Begitulah ceritanya — hingga akhirnya Kania dan Adam bersanding menjadi pasangan pengantin, di bawah gemerlap cahaya lampu kristal dan wangi bunga buatan yang memenuhi setiap sudut gedung megah itu.
Senua tampak sempurna. Terlalu sempurna. Seolah-olah Tuhan sendiri sedang menutupi luka mereka dengan kilau palsu.
Padahal Kania memohon untuk tidak ada pesta, tidak ada tamu undangan. Tapi tak seorang pun mengindahkannya. Sepanjang acara, Kania merasa tidak nyaman dengan tatapan menyelidik tamu undangan. Bagi yang mengenalnya, mungkin terlintas tanya di benak mereka: kenapa Kania? kenapa bukan Najira?
Adam berdiri tegap di hadapan altar, menatap tajam ke arah pengantin wanitanya.
Di bibirnya terucap janji suci — kata-kata indah tentang cinta, setia dalam suka dan duka.
Namun di balik mata hitamnya yang dingin, ada kebencian yang nyaris menembus kulit Kania.
Tatapan itu… bukan tatapan seorang suami, karena di mata Adam, hanya Najira seorang.
Pernikahan itu berjalan sebagaimana mestinya. Di hadapan semua tamu, kerabat, dan Najira.
Musik lembut mengalun, doa bergema, tamu-tamu tersenyum.
Namun di balik senyum dan kilau permata, ada dua jiwa yang tak pernah bersatu.
Kania berdiri di samping pria yang kini sah menjadi suaminya, tapi tak sedetik pun ia merasa menjadi istrinya. Bagi yang melihat, pasti sangat iri dengan Kania saat ini, perempuan perempuan merasa iri, kenapa bukan aku saja yang menjadi mempelai, atau para ibu memanas dalam hati, kenapa tidak anakku saja..
Saat acara pernikahan, yang paling menghebohkan adalah pewarisan perusahaan Sharon Grup, dari Raja-Kakek Adam. Walaupun beliau sudah pensiun dari usaha keluarga kaya itu, tapi sampai sekarang perannya cukup kuat untuk menopang perusahaan kelurga. Rahardian-Ayah Adam juga menyaksikannya, tepat di depan semua orang. Rahasia yang bahkan di sembunyikan Adam kepada Najira. Membuat seluruh tubuh Najira getir dan terasa dingin seketika, kenyataan bahwa Adam sang pewaris, bukan sekedar guru honor itu membuat Najira seperti di sambar petir di siang bolong.
Sial
Najira meremas jemarinya, giginya menggerutu. Pergi entah kemana dengan rahang yang mengeras. Seperti mengutuki kebodohannya karena telah menjebak Adam dan Kania.
"Tega sekali kamu Adam, berani-beraninya kamu bohongi aku"
"Sial sial sial"
"Liat saja, aku akan buat kamu kembali padaku!"
Sementara itu, disisi lain, Kania yang juga sama syoknya dengan Najira ketika mendengar berita bahwa Adam adalah pewaris kaya, malah semakin takut dan menciut di dalam hatinya. Bagaimana aku di rumah orang kaya itu nanti, hati Kania seperti berdenyut. Sama sekali tak mengharapkan posisi ini. Berfikir fikir membuat rencana gimana caranya menceraikan Adam!
...
Ketika acara salam-salaman dimulai, mereka menerima ucapan selamat dari teman, keluarga, dan para rekan kerja Adam.
Semua memberi doa dan kata manis — seolah tak ada badai yang sedang berputar di antara kedua mempelai itu.
Senyum-senyum manis berseliweran, tapi hati-hati berbisik ribut
Kenapa pengantin wanitanya berubah?
Di mana pengantin yang asli?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Namun tak ada yang cukup berani bertanya.
Adam menyalami setiap tamu dengan wajah datar, bibirnya hanya mengucap,
“Iya… terima kasih,” sementara matanya tak pernah benar-benar menatap siapa pun — bahkan tidak pada wanita yang kini berdiri di sisinya. Seolah melirik pun ia tak sudi.
Kania hanya tersenyum kecil, mengangguk pelan, menahan sesuatu yang berat di dadanya.
Senyum itu palsu, tapi indah — apapun yang terjadi pokoknya terus tersenyum, tersenyum seperti orang bodoh sambil melompat kedalam kematian.
Dari antara kerumunan tamu, seorang wanita bergaun kuning glamor berjalan mendekat.
Tinggi, ramping, dengan wajah cantik dan kulit seputih pualam. Ia tampak ramah, dengan senyum manis yang bisa menipu siapa saja.
Wanita itu — Yorita
“Selamat, sudah menjadi istri laki-laki hebat seperti kak Adam,” ucapnya dengan nada lembut tapi mengandung sesuatu.
Kania berusaha tetap tersenyum. “Terima kasih, Nona…”
“Jangan sungkan, panggil saja Yorita,” balasnya cepat. Ia kemudian berdiri lebih dekat, tangannya tiba-tiba melingkar di lengan Adam dengan senyum menggoda. Adam diam saat Yorita menggandeng lengannya manja, Yorita melirik mengejek pada Kania, seolah tidak peduli kalau perempuan itu sudah menjadi istri sah Adam.
Aku tidak peduli, kalau mau silahkan bawa lari lakilaki jahat itu sekarang, silahkannn nona....karunginnnn untuk mu sajaaa
"Aku ada urusan, Yor" Kata Adam setelah membaca sebaris pesan di hpnya. Melepas tangan Yorita, lalu pergi, perempuan itu cemberut dan lansung menatap Kania dengan tatapan berbahaya.
Hei hei jangan menatapku begitu dong, matamu seperti mau membakarku hidup hidup, aku bahkan tidak tau lakilaki itu mau kemana.
Ehhh kau juga Adam jangan tinggalin aku sama perempuan berbahaya ini hei sialan sekalian bawa dia pergi...
Sungguh Kania merasa canggung sekarang, dengan tega Adam meninggalkannya bersama orang asing yang seolah siap membunuhnya kapan saja.
“Apa kamu pikir Adam menikahimu karena mencintaimu?” Yorita bersuara, mimik lembutnya berubah dingin ketika Adam pergi. Nada suaranya seperti duri yang menembus dada.
Kania menatapnya tanpa kehilangan senyum. “Nona bisa menanyakannya langsung pada suami saya.” Jawab Kania enteng. Ia tahu ia tidak punya harga diri di depan keluarganya dan keluarga Adam. Tapi minimal, didepan perempuan ini ia tidak ingin terlihat lemah.
Yorita menyipitkan mata. “Kamu itu cuma wanita rendahan. Jangan mimpi bisa mendapatkan cinta Adam.”
Kania menarik napas, menahan diri agar tidak terpancing. “Tapi sekarang ini saya sudah menikah dan menjadi istrinya, kan?”
Yorita semakin emosi mendengar kata kata enteng Kania, kenapa kak Adam bisa nikah sama perempuan kurang ajar ini!
Yorita mendengus, wajahnya memerah. “Kamu tahu siapa wanita yang dicintai Adam? Wanita yang sudah tidur dengannya?” Ucap Yorita yang tidak kenal kalau Kania adalah adik Najira, dan sialnya juga sudah pernah tidur dengan Adam.
Kania menatap lurus, senyum tidak hilang dari garis bibirnya. Tetap tersenyum cerah secerah mentari pagi.
“Saya tidak peduli,” jawabnya pelan, “tapi mungkin mulai hari ini saya yang akan lebih sering tidur dengannya, setiap malam”
Yorita tercekat, Nafasnya memburu.
Matanya menyalak,
"Jangan bermimpi! Aku berani bertaruh melihatmu telanjang pun kak Adam tidak sudi!"
Melirik penampilan Kania dari atas ke bawah "Apa kau kira kau itu tipe dia, hah?". Ia berbalik, lalu pergi dengan langkah cepat.
Kania meremas jemarinya Cih siapa juga yang mau di tiduri lagi sama lakilaki setan itu!
Kania mengatur nafasnya, dadanya bergetar. Minimal dia bisa melindungi harga diri yang tersisa di hadapan orang lain. Walaupun sebenarnya harga diri itu tidak ada lagi.
Acara perlahan berakhir.
Lampu gedung mulai redup, tamu-tamu satu per satu pergi.
Kania masih duduk di kursi pengantin, sendirian.
Adam belum kembali sejak pergi tadi, sampai acara berakhir, pergi entah ke mana — meninggalkannya tanpa satu kata pun. Seolah menunjukkan ke semua orang bahwa Kania adalah wanita yang tidak di inginkan.
Di depan semua orang, seharusnya mereka duduk berdampingan, tapi kini hanya kursi kosong di sisinya yang menemani.
Kania menatap kursi itu lama-lama, dan di sudut matanya memanas. Kania tetap tegar, seolah tidak perduli. Kepalanya masih memikir mikir-mikirkan cara menceraikan Adam.
Bersambung...
karena saat bersama jere atau bahkan baca surat dari jere, kania bisa tertawa bahagia... othornim kejam...😌