Asyifa yang lugu dan polos, menjadi korban permainan kotor dari sepasang suami istri.
Pernikahan Asyifa dengan Randa, ternyata hanyalah bagian dari rencana busuk Randa dan Nikita untuk segera mendapatkan keturunan.
Setelah Asyifa melahirkan anaknya, Asyifa shock ketika Nikita datang tiba-tiba membuka jati dirinya sebagai istri pertama Randa dan berniat untuk merebut Safina anaknya.
Asyifa berjuang keras mempertahankan anaknya Safina. Segala cara yang dilakukan Nikita, selalu bisa ia gagalkan.
Namun suatu hari, Randa yang sudah dilanda cemburu buta karena melihat Asyifa bersama pria lain, berhasil kabur membawa Safina anaknya dari tangan Asyifa.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah Asyifa dan Safina bisa bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Sunyi, tenang, menakutkan. Asyifa meringkuk di balik pintu kamarnya sembari memeluk Safina erat. Suara lengking Nikita sudah menghilang. Asyifa terisak pelan menahan tangis menyadari Randa yang telah pergi lagi bersama Nikita, tanpa memikirkan keselamatan istri dan anaknya sendiri.
Dalam kamarnya, Asyifa membungkam mulutnya kuat. Dia tak mampu mengeluarkan suara. Asyifa tahu, dia tak sendiri dirumah itu. Wahyu, seorang pria yang tidak ia kenal sama sekali, belum juga pergi dari rumah itu meskipun suaminya sudah pergi bersama Nikita. Walaupun Wahyu adalah sahabat suaminya, Asyifa tak bisa mempercayai pria itu dengan mudah.
Tok tok tok ...
"Asyifa, keluarlah sebentar. Aku mau bicara denganmu." Suara ketukan di pintu kamarnya disertai suara Wahyu yang memanggil dari luar, membuat jantung Asyifa nyaris berhenti.
Asyifa menutup mulutnya rapat. Rasa takut mulai menjalar diseluruh tubuhnya.
"Asyifa, ini masalah penting. Keluarlah! Kita harus bicara malam ini." Panggil Wahyu lagi dengan nada setengah pelan membujuk Asyifa agar mau keluar.
Tiada sahutan yang terdengar dari dalam kamar. Wahyu jadi sedikit gusar, karena merasa di abaikan.
"Asyifa, Aku masih berbaik hati padamu loh. Jangan pancing aku untuk berbuat kasar. Buka pintu ini, cepatlah! Atau ku dobrak paksa?!" ancam Wahyu yang mulai hilang kesabaran.
Perempuan malang itu tetap berdiam diri meskipun Wahyu berulang kali memaksanya untuk membuka pintu kamar yang telah ia kunci dengan rapat.
"Ya Allah, selamatkan hambamu ini ya Allah." Berulangkali Asyifa berdoa dalam hatinya memohon pada sang pencipta agar terselamatkan dari bahaya yang mengancamnya.
"Oke..., baiklah. Kau tidak mau keluar, maka pintu ini akan ku dobrak!" Wahyu yang bertubuh lumayan tinggi besar itu jadi tak sabaran.
Brak...!
Dia pun menendang pintu kamar itu dengan kuat, Hingga pintu yang terbuat dari kayu itu setengah roboh nyaris copot engselnya.
"Akh...!" Asyifa menjerit sakit saat pintu kayu yang berat itu menghantam punggungnya yang tengah duduk membelakangi pintu sedari tadi.
Wahyu kaget, menyadari Asyifa berada di balik pintu itu. Sorot matanya terlihat garang melihat Asyifa yang duduk memeluk anaknya sambil mengerang kesakitan dibalik pintu yang nyaris roboh.
"Dasar wanita bodoh! Harusnya kau bukakan pintu sedari tadi, jadi kau tak perlu sakit seperti ini!" hardik Wahyu tampak kesal melihat Asyifa terluka.
"Kumpulkan pakaianmu! Kau harus ikut denganku malam ini." Perintah Wahyu mengejutkan Asyifa.
"Mau apa kau? Apa tujuanmu? Apa yang kau inginkan dariku hah?!" bentak Asyifa tiba-tiba berubah sangar.
Suara bentakan Asyifa yang keras seketika membangunkan Safina yang ada dalam gendongan Asyifa sedari tadi. Bayi mungil itu langsung menangis, karena merasa terusik.
Asyifa meringis sejenak merasakan perih dibagian punggungnya yang terkena pintu. Dia mendekap Safina yang menangis erat-erat. Matanya memandang Wahyu dengan garang. Asyifa sudah bertekad, apapun yang terjadi, dia harus melawan Wahyu dan segera kabur dari rumah itu.
"Asyifa, Asyifa. Kau jangan terlalu berpikiran buruk. Aku bermaksud baik Asyifa." sebuah senyuman sinis tersungging dibibir Wahyu.
Senyuman Wahyu yang tampak menyebalkan membuat Asyifa makin membenci pria yang ada dihadapannya. Sorot mata Wahyu dan tindak tanduknya yang mencurigakan membuat Asyifa tak percaya jika pria itu mempunyai niat yang baik padanya.
"Jangan bohong! Aku tahu kau tidak berniat baik padaku!" bentak Asyifa lagi dengan tubuh yang mulai gemetar.
Selain menahan rasa sakit ditubuhnya, Asyifa juga menahan rasa takut yang sangat luar biasa. Ingin rasanya ia menjerit minta tolong. Namun Asyifa cemas, amarah Wahyu akan terpancing dan sesuatu yang ia takutkan bisa saja terjadi tanpa dia bisa melawan apalagi melarikan diri.
"Kau harus ikut aku! Kau tak ada pilihan selain pergi denganku." Wahyu memaksa Asyifa untuk pergi dengannya.
"Kenapa, kenapa aku harus pergi denganmu? Aku tak mengenalmu, apa yang ingin kau perbuat padaku?" Asyifa jadi panik dan cemas, apalagi Safina terus menangis dalam gendongannya.
Tingkah laku Wahyu sangat mencurigakan. Tanpa mempedulikan Asyifa, Wahyu mengacak isi lemari pakaian milik Asyifa dan mengeluarkan sebuah koper yang ada dalam lemari itu.
"Masukkan semua pakaianmu kedalam koper ini. Kita harus pergi malam ini juga." Ujarnya menyuruh Asyifa mengemas barangnya ke dalam koper yang ia taruh diatas ranjang.
Asyifa tercengang. Dia tak mengerti apa mau pria itu padanya.
"Aku akan membawamu dan anakmu pergi dari neraka ini. Apa kau tidak mau...,? Kau belum mengenal Randa dan Nikita sepenuhnya. Hidupmu akan selalu tersiksa bersama mereka. Lebih baik kau pergi denganku. Kau tak perlu cemas, aku akan membiayai semua kebutuhan hidupmu dan juga anakmu." Ujar Wahyu tanpa bertanya mau atau tidak, langsung saja main paksa seenak perutnya.
"Ayo Asyifa, kita tidak punya banyak waktu!" pria itu masih terus memaksa, mendesak Asyifa.
"Aku takkan pergi! Kau sudah gila! Aku takkan pergi dengan orang yang tak kukenal! untuk apa aku pergi denganmu? Kau bukan suamiku! Tidak punya hubungan apapun denganku!" jerit Asyifa membentak Wahyu marah melawan rasa takut yang menghantui perasaannya.
Wahyu menggeram marah. Dia tak menyangka, Asyifa yang tadinya lembut bisa berubah sangar dan beringas.
"Kita harus lari Asyifa! Sebentar lagi ada beberapa preman suruhan Nikita yang datang kesini. Mereka ingin menculikmu dan juga anakmu. Randa yang menyuruhku untuk membawamu pergi dari rumah ini. Mengerti!" Wahyu balas membentak Asyifa dengan nada tak kalah kerasnya.
Asyifa kaget, rasa takut, cemas dan panik disertai desakan Wahyu dan jeritan tangis Safina membuat Asyifa linglung dan sulit untuk berpikir panjang. Dia benar-benar takut jika preman mendatangi rumah itu dan menculik dirinya dan juga Safina.
"Tunggu apalagi? Cepatlah Asyifa...,!" hardik Wahyu yang sudah kelimpungan memaksa Asyifa untuk mengikuti keinginannya.
Walau hatinya diliputi kebimbangan dan keraguan, Asyifa akhirnya terpaksa menuruti kemauan Wahyu. Asyifa pasrah dan berharap, bahwa itu memang perintah suaminya sebagaimana perkataan Wahyu.
Wahyu memandangi Asyifa yang berjalan sedikit membungkuk dengan sorot mata tajam. Ada rasa kesal, benci dan marah pada dirinya sendiri. Dia cukup menyesal telah melukai perempuan malang yang merupakan istri sahabatnya itu. Harusnya dia tidak mendobrak pintu.
Tak lama, Asyifa sudah selesai menaruh beberapa lembar pakaian beserta perlengkapan bayi milik Safina dalam koper dan sebuah tas kecil. Senyum tipis terukir dibibir Wahyu saat Asyifa menyelesaikan apa yang tadi ia suruh.
Tanpa menunggu reaksi Asyifa selanjutnya, Wahyu bergegas menenteng tas dan koper itu keluar rumah dan menaruhnya kedalam bagasi mobil miliknya.
Kemudian dia berbalik memandangi Asyifa yang tampak keluar dan mengunci pintu rumah sambil menggendong Safina yang tak lagi menangis dalam dekapannya. Ada perasaan sedikit iba yang menjalar dihatinya.
dret...dret...
Sebuah pesan masuk menggetarkan ponsel yang tersimpan disaku celananya.
"Apa kau sudah membawanya pergi?" sebuah pesan singkat dari Nikita membuat Wahyu tersenyum tipis.
"Kami akan segera pergi. Tenanglah, mulai hari ini kau bebas bahagia bersama Randa. Aku akan melakukan apa yang kau inginkan. Beri aku waktu, Safina akan ku antarkan padamu. Jangan lupa transfer biaya hidupku dan hidup mereka." Wahyu membalas pesan dari Nikita dengan cepat sebelum Asyifa datang menghampirinya.
"Naiklah cepat! Barusan Randa mengirimkan pesan padaku. Para preman itu sedang dalam perjalanan kesini. Aku takkan sanggup menghadapi banyak orang hanya untuk menyelamatkanmu." Ujar Wahyu bergegas membukakan pintu mobil untuk Asyifa.
Asyifa yang sudah tak tentu arah dan tujuan hidup. Kini terperangkap lagi dalam permainan sandiwara yang dirancang Wahyu dan Nikita. Dia tak tahu, Wahyu akan membawa dirinya kemana. Dalam benak Asyifa saat ini hanya satu, dia dan anaknya harus selamat!
Kemanakah Wahyu pergi membawa Asyifa?
.
.
.
BERSAMBUNG