Oleh orang tuaku, aku di jadikan sebagai pelunas utang dan menikahkan ku dengan seorang pria kaya. Tidak ada cinta di antara kami. Suatu malam, tanpa sengaja, aku melakukan one night stand dengan bos ku hingga aku harus mengakhiri rumah tangga ku yang masih berumur jagung.
Ternyata, kejadian malam itu adalah jebakan. Jebakan balas dendam yang membuatku terluka dan trauma.
Lima tahun berlalu, aku bertemu lagi dengannya, bertemu dengan pria yang malam itu membuatku tak berdaya karena sentuhannya. Pria yang sangat aku benci dan ingin aku lupakan.
Tapi pertemuan itu kembali membuatku terseret oleh pesonanya.
Mampukah aku tetap membenci atau justru aku malah jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 : Alkohol atau afrodisiak?
Seminggu kemudian.
Emilia POV
Kesibukan terlihat sejak pagi. Perusahaan tempat ku bekerja sedang mengadakan acara launching kendaraan baru yang di hadiri banyak pejabat, pengusaha dan ahli dalam bidang otomotif.
Acara hari ini sukses besar, dan kesuksesan itu tak luput dari kerja keras dari semua bagian dan tim yang bekerja saling bahu membahu dalam merampungkan acara ini.
Aku berdiri di pojokan tentu dengan si cerewet Heidi. Posisi ku lumayan strategis, aku bisa melihat dari segala penjuru siapa saja yang datang menghadiri acara kami.
Aku sedang mengecek ponsel ketika Heidi menggamit tanganku dengan keras.
" Apa?"
" Itu." Tunjuk Heidi pada sebuah objek menggunakan isyarat kepalanya.
Aku pun mengikuti ke mana arah yang di maksud Heidi. Dan di sana seorang pria tinggi dan cukup tampan sedang tersenyum sumringah sembari berjabat tangan dengan finance manajer ku. Pria yang sangat aku kenal.
" Bagaimana mungkin pak Gerrard bisa mengenal suami mu?" Heidi terperangah.
Aku pun bingung, aku tidak bermaksud meremehkan Gerrard, tapi jika di telisik dari jabatannya sekarang, aku tidak yakin jika bos diktator ku itu mengenal seorang pengusaha sukses seperti Ludwig. Ya, siapa yang tidak mengenal W grup? Perusahaan otomotif yang sangat besar di Jerman dan salah satu penerusnya adalah suamiku, pria yang terlihat sangat akrab dengan Gerrard.
" Mungkinkah pak Gerrard punya jaringan pertemanan hingga ke CEO perusahaan?" Heidi menatapku, mencari jawaban dari pertanyaannya. Tapi aku tidak bisa memberikan apa apa terkecuali gelengan kepala dan kedua bahu yang terangkat bersamaan.
Dari kejauhan, Ludwig sempat menatapku untuk beberapa saat kemudian kembali ke set awal yaitu bercengkrama dengan rekan rekannya.
" Suamimu sangat tampan Emi." Heidi mulai lagi dengan kebiasaan buruknya.
" Dasar kau."
" Tapi.." Ucapan Heidi menggantung di udara.
" Tapi apa?" Tanyaku penasaran.
" Tapi pak Gerrard jauh lebih tampan. Aku sudah memperhatikan setiap pria yang datang, dan hanya pak Gerrard yang memiliki ketampanan di atas rata rata." Ucapnya menatap memuja pada Gerrard yang masih terlihat asik bercengkrama dengan Ludwig. " Ada satu lagi yang menurutku ketampanannya hampir setara dengan bos kita." Tambahnya terlihat antusias.
" Siapa?" Aku yang tidak biasanya mengikuti alur kerja otak dan mata Heidi, kini jadi ikut terjerumus.
" Coba kau liat pria berkacamata yang di ujung sana, pria yang dari tadi selalu diam diam melihat ke arahmu." Tunjuk Heidi pada seorang pria yang sedang duduk seorang diri di meja paling ujung dan cukup jauh dari tempat kami berada sekarang.
Aku menajamkan penglihatan ku, " Uncle Wyn?"
" Kau mengenalnya?" Netra Heidi membulat sempurna.
Aku mengangguk perlahan.
"Wah..wah..wah.." Heidi bertepuk tangan.
" Hebat juga kamu, sejak kapan kau mengenal pria perfeksionis seperti dia?" Kata Heidi sumringah.
" Sudah lama."
" Oh..ya? Aku jadi penasaran. Apa dia cinta pertamamu?"
Aku menggeleng.
" Lalu?"
" Aku mengenalnya semasa masih kuliah dulu. Sudahlah, jangan membahas masa lalu." Bukannya tidak ingin cerita, hanya saja, aku lagi tidak dalam mode yang siap untuk mengatakan semuanya.
" Tunggu, apa mungkin dia pria yang sama yang kau tolong waktu itu?" Tanya nya tidak mau mengalah.
" Kau ingat?" Justru aku yang merasa speechless dengan ingatan Heidi.
" Ternyata benar." Ucapnya. " Masihkah dia ingat padamu? Secara ini sudah lima tahun yang lalu." Lanjutnya terus menatapku. Rasa penasarannya sungguh tidak bisa ku tebak.
" Aku bertemu lagi dengannya sekitar seminggu yang lalu, dan dia memberiku tumpangan setelah pulang tengah malam dari kantor."
" Emi.....kau benar benar sesuatu."
" Maksudmu?"
"Aku rasa dia menyukaimu."
" Perbaiki ucapanmu, mana mungkin dia menyukai wanita udik sepertiku."
" Kau terlalu pesimis Emi, kau tidak lupa kan siapa ayahmu?"
" Iya, tapi itu dulu sebelum dia meruntuhkan pundi pundi uangnya dengan bermain judi dan membuat perusahaannya kolaps hingga mengharuskan ku menjadi pelunas utang untuk keluarga Weber." Aku tersulut emosi mengingat kejadian beberapa bulan lalu, masih ku rasakan pedihnya ketika ayah kandung yang harusnya menjaga dan menyayangi ku tampak tersenyum bangga menggandeng tanganku dan menyerahkan putri semata wayangnya ini untuk menjadi istri Ludwig Weber.
Tanpa ku sadari aku meminum wine yang terletak di depanku dan menghabiskannya sampai tetes penghabisan.
" Emilia! Itu wine !" Pekik Heidi. Dia tau jika aku tidak minum minuman memabukkan itu, bukan hanya wine, minuman jenis apapun yang mengandung alkohol tidak bisa ku tolerir. Toleransi ku sangat buruk, di manapun, aku bisa langsung terkapar tak sadarkan diri. Dan keesokan harinya, aku tidak akan bisa melakukan aktivitas apapun karena kepalaku terasa mau pecah.
Tapi aku tidak peduli, gelas ke dua masih aku minum dan tidak memberikan respon apa apa. Namun di gelas ke tiga, aku mulai merasakan dampaknya. Penglihatan ku berkunang kunang.
" Kau tidak apa apa Emi?"
" Mmm.."
" Tidak, kau pasti mabuk. Ayo aku antar pulang."
"Aku tidak apa apa. Lepaskan." Ucapku ketika Heidi sudah memegangi kedua lenganku.
" Jangan keras kepala! Apa kau ingat terakhir kali saat kau mabuk di club malam? Hampir saja kau membuat sepasang pengantin baru berpisah karena ulah liar mu. Ayo! "
Aku mengalah, entahlah di saat aku mabuk, ingatan ku saat melakukan hal hal aneh ketika alkohol mempengaruhi tubuhku selalu terbayang. Benar yang di katakan Heidi, mengetahui jika aku akan menikah dengan Ludwig, aku putus asa, kecewa dan marah. Aku melampiaskannya dengan mengunjungi club dan mencoba melupakan sesaat kegundahanku dengan alkohol. Alhasil, aku menggoda seorang pria beristri dan mengajaknya menikahi ku. Untung saat itu ada Heidi, andaikata sahabat ku itu tidak ada, mungkin sekarang aku baru keluar dari rumah sakit karena babak belur di pukuli istri sahnya.
Terpikirkan akan hal itu, aku tidak lagi berontak, mengikuti arahan Heidi dan meninggalkan acara yang masih berlangsung.
" Kalian mau kemana?"
Aku menoleh, meski dalam pengaruh kuat alkohol aku masih mampu mengenali pria tampan yang sedang memergoki kami ketika hendak melarikan diri.
" Emilia mabuk pak, saya akan mengantarnya pulang terlebih dahulu lalu kembali lagi ke sini."
" Tidak usah, kau masuk saja, biar aku yang mengantarnya pulang."
" Tapi pak.."
Aku terkejut, tubuhku seketika berpindah posisi, dari yang awalnya berada dalam dekapan Heidi, kini aku bersama pria arogan yang wangi tubuhnya bisa aku cium di sela sela bau alkohol yang sedikit lebih mendominasi.
Kendaraan di jalankan dengan kecepatan sedang.
Aku yang duduk tepat di sebelah pria itu mulai gelisah. Seluruh tubuhku seperti terbakar, panas.
" AC mobil anda rusak?" Tanya ku mulai mengalih fungsikan kedua tanganku menjadi kipas sementara.
" Tidak."
" Lalu kenapa panas sekali?"
Aku juga heran, malam ini pakaian ku lebih terbuka, mengenakan gaun hitam tanpa tali, tapi kenapa rasanya panas sekali. Bukan pertama kali aku meminum alkohol, dan rasanya tidak seperti sekarang ini. Biasanya, aku hanya akan tidur di mana saja, tidak merasakan hawa panas yang membuat ku ingin melepas pakaianku sendiri.
Di sisa kesadaran ku yang semakin tipis, aku masih memiliki sedikit rasa malu, andai yang duduk di sebelah ku ini adalah Heidi, aku tidak akan menunggu lama hingga melepas satu persatu pakaian yang ku kenakan hanya saja, ini berbeda. Pria yang sedang memegang kemudi itu adalah atasanku, Gerrard Chaddrick.
Aku mencoba menutup mata. Menahan gejolak aneh yang terus menerus berkembang biak di dalam tubuhku. Rasa apa ini?
Semakin ku tahan semakin ingin berontak, itulah yang sedang aku rasakan. Bayangkan, aku harus mencengkeram kedua pahaku agar tidak menerkam Gerrard yang terlihat sangat seksi di mataku. Itulah sebabnya aku menahan diri untuk tidak menatapnya.
Mobil berhenti, ku buka mataku perlahan.
" Sudah sampai?"
" Belum, ada yang ingin aku ambil, jadi tunggu sebentar, kau juga belum mengatakan di mana rumah mu."
Aku duduk diam di dalam mobil, Gerrard meninggalkan ku sendiri. Namun beberapa menit kemudian, aku mulai tidak tahan, aku butuh kamar mandi.
Akhirnya tanpa ijin, aku masuk ke dalam rumah bos ku, aku berpapasan di depan dapur.
" Kau mau kemana?"
" Kamar mandi." Jawabku singkat.
Meski terhuyung, aku tetap berusaha tiba di tempat tujuan. Aneh juga, pikirku, jika hal yang biasa terjadi padaku saat aku mabuk, aku yakin saat ini aku sudah tertidur lelap di kursi penumpang mobil mewah Gerrard, tapi ini tidak, aku sama sekali tidak mengantuk.
Lima menit, sepuluh menit, hingga tiga puluh menit, aku masih berada di dalam sana.
Ku dengar sayup sayup pintu di ketuk dari luar.
Ku buka perlahan.
" Ada apa dengan mu?" Pekiknya.
...****************...
ayo doong... tamatin..
semangat🔛🔥🔛🔥🔛🔥🔛🔥🔛🔥