Setelah Umayra meninggal dunia, Kaysar menjadi sangat dingin. Waktunya habis untuk bekerja dan menemani putri kecilnya yang terpaksa jadi piatu saat dia dilahirkan.
Lima tahun dia habiskan tanpa pernah terusik oleh satu perempuan pun.
Hingga dia bertemu lagi dengan seorang gadis yabg dulu pernah berniat merayu sahabatnya, Gista Aulia.
Semoga suka ya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Kaysar yang dulu
"Aku janji ngga akan jadi roh gentayangan yang bakal gangguin kamu kalo aku nanti mati. Keluar sana. Jangan suka ikut campur urusan orang lain, seperti perempuan tua aja," cemooh gadis itu, masih dengan tangan yang terus saja memijat kepalanya.
Kaysar murka dikata-i mirip perempuan tua.
"Sialan! Jaga mulutmu itu! Laen kali jangan tubruk tubruk aku kalo mau mati. Besok besok aku ngga akan mencampuri urusanmu, perempuan sialan! Tapi dengar, malam ini aku terpaksa. Cepat katakan dimana kamu tinggal!"
Dasar pemabok.ngga tau diri. Untung perempuan. Kalo.laki udah aku lempar ke tengah jalan, mulut Kaysar komat kamit tanpa suara. Penuh makian.
Gadis itu tertawa saat Kaysar melepas kasar cekalannya.
"Di dunia ini ada juga orang aneh. Ngga kenal tapi sok peduli," racaunya lagi. Kepalanya tambah berdenyut.
Keinginannya agar cepat menemui mamanya di alam sana jadi tertunda.
"Heh, terpaksa peduli, bodoh! Cepat katakan dimana kamu tinggal!" seru Kaysar ngga sabar. Menyesal banget dia terpaksa harus bersikap ngga peduli.
Ngga ada sahutan.
Kaysar meliriknya.
Sabar, Kaysar. Sabar.
Gadis itu sudah terlelap dengan kepala menyandar di pintu mobil. Tangannya masih saja memegang keningnya.
"Hemmmh....! Dasar menyusahkan!"
Kaysar meraih tas kecil milik gadis itu. Dia membuka dan memeriksa isinya.
Dia cukup beruntung menemukan kartu kunci sebuah apartemen mewah yang lengkap dengan nomer kamarnya.
Kaysar menelpon asistennya agar mengambil mobilnya di parkiran club dan mengantarkan pulang ke rumahnya.
Dia ngga peduli.mendengar suara asistennya yang seperti orang baru bangun tidur.
"Sekarang!" tegasnya ngga mau dibantah
"Siap tuan muda."
Kemudian Kaysar melajukan mobil audi keluaran beberapa tahun yang lalu itu dengan kencang.
Ngga butuh waktu lama Kaysar sampai juga di parkiran apartemen .
Dia menatap kesal wajah yang tampak sedang tertidur pulas.
"Ternyata mabokmu ngga reseh juga," ejeknya setelah mematikan mesin mobil
"Heh, bangun!" Kaysar menggoyangkan bahu gadis itu cukup keras.
Tapi gadis itu ngga bereaksi.
Dia pingsan?
Kaysar menghembuskan nafas kesal.
Dasar merepotkan!
Sambil menggerutu, Kaysar keluar dari dalam mobil. Kemudian berjalan cepat membuka kap depan mobil dan membuka pintu mobil gadis itu.
Setelah melepaskan seatbeltnya, dengan terpaksa Kaysar memanggul gadis itu seperti karung, di atas pundaknya.
Untungnya gadis itu mengenakan celana panjang, jadi ngga masalah diperlakukan seperti karung begitu.
Untungnya lagi karena malam sudah sangat larut, keadaan lift apartemen juga sepi. Hanya dia dan gadis itu yang berada di sana.
Akhirmya sampai juga di unit gadis itu. Tidak sulit mencari nomer kamarnya
Kaysar pun segera membuka pintu kamar apartemen yang sangat luas dan mewah itu.
"Kamarnya rapi juga," decih Kaysar saat memperhatikan kondisi tiap ruangan yang dia lewati.
Akhirnya tiba juga dia di dalam kamarnya.
Kaysar pun menurunkan gadis itu yang sejak tadi nangkring di atas bahunya ke arah tempat tidurnya.
Kaysar pun membaringkan tubuhnya di samping gadis itu.
"Ternyata kamu berat juga gadis mabok," ejeknya sambil melirik gadis itu.
Kaysar masih juga belum bisa melihat wajah gadis ysng terpaksa dia tolong, karena masih ditutupi rambut yang semakin acak acakan.
"Kamu beruntung bertemu aku yang sekarang. Kalo ketemu aku yang dulu, sudah habis kamu tanpa sisa aku makan," ketus Kaysar setelah beberapa menit terdiam. Mengistirahatkan tubuhnya yang sudah bekerja cukup keras.
Kemudian dia bangkit, dan melihat ada notes kecil di atas meja di samping ranjang.
Kaysar pun membuat sedikit coretan. Setelahnya dia menatap wajah yang tertutup rambut itu.
"Mobilmu aku pinjam dulu. Besok aku kembalikan. Semoga kita ngga pernah bertemu lagi."
Kaysar pun melangkah keluar dari kamar dan meninggalkan tiap ruangan yang dia lewati sampai akhirnya dia melihat sebuah foto dengan ukuran sangat besar yang rasanya pernah dia lihat. Tapi sayangnya dia sudah lupa kapan dan dimana pernah melihat gadis itu.
Kaysar juga malas mengingatnya. Dia lebih baik segera pulang dari pada nanti urusannya jadi panjang, jika gadis mabok itu sadar dengan kelakuannya
*
*
*
"Mobil baru, Dad?" Ziza menatap heran pada mobil yang baru kini dia lihat.
"Punya teman daddy, princes." Kaysar tersenyum sambil menjalankan mobilnya.
Setelah mengantar putrinya ke sekolah dan lanjut je perusahaannya, Kaysar akan meminta asistennya lagi untuk mengantar mobil itu ke apartemen gadis mabok yang menyebalkan
"Ooo.... Pantasan baru lihat."
Kaysar tersenyum mendengarnya.
Nggak lama kemudian mobil.Kaysar sampai juga di parkiran luas sekolah TK islam internasional Ziza.
Kaysar tersenyum tipis membalas senyum ibu ibu muda yang masih berada di sana.
Sejak awal Kaysar mengantarkan Ziza.sekolah, para ibu muda yang masih cantik itu terlihat suka memperhatikannya dan selalu melemparkan senyum manis padanya.
Bahkan ada juga yang berani menyapanya.
Kaysar ngga mau ambil pusing. Dia bersikap bodoh amat, tapi tetap.menanggapi.dengan sopan.
"Dad, Yasmin katanya ngga punya daddy. Raihana juga," celotehnya setelah Daddynya membukan pintu mobil untuknya.
"Trus kenapa?"
"Mereka mau jadi anak daddy."
Kaysar menahan tawa sambil.memggelemgkan kepalanya.
"Jadi nanti kamu punya tambahan dua mami lagi, dong. Mau?" ledek Kaysar memhuat Ziza tertawa.
"Aku sudah punya banyak mami," ucapnya masih dalam tawa cerianya.
Kaysar mencium lembut pipi putrinya.
"Belajar yang rajin."
"Yaz daddy. Daddy hati hati, ya.... Daah....." Tangan Ziza melambai sambil.melangkah memasuki gerbang sekolahnya. Ada beberapa bu guru yang menyambut kedatangan anak anak yang memiliki orang tua kaya raya itu.
Kaysar baru beranjak masuk ke dalam mobilnya setelah putrinya ngga terlihat lagi.
Kali ini Kaysar sengaja ngga memperhatikan para ibu muda itu yang masih juga belum pulang dan mamandangnya.
Bisa gawat kalo suami suami mereka mengamuk padanya, keluh Kaysar membatin.
*
*
*
"Ziza," panggil Sean. Di sampingnya ada Theo. Kedua balita imut dan tampan itu berjalan mendekati Ziza yang sedang menggambar di saat jam istirahat.
"Jangan ganggu. Aku lagi serius," usir Ziza tanpa mau melihat wajah kedua bocah laki laki itu. Tangannya terus saja menggambar objek objek yang ada dalam pikirannya.
Kedua bocah itu saling pandang, kemudian menatap Quin yang menatap galak ngga jauh dari tempat mereka berada.
"Kami minta maaf," ucap Theo agak keras. Beberapa anak ynag masih betada di dalam kelas memperhatikan mereka .
Tapi Theo cuek aja. Lagian bukan kelasnya. Yang penting Quin mendengarnya, karena kembarannya akan menjadi saksi kalo dia sudah minta maaf pada Ziza.
Kemarin bukan hanya telinganya yang dijewer maminya. Ponsel dan segala mainannya juga disita oleh maminya.
Sebelum Quin menjadi saksi kalo dia sudah minta maaf pada Ziza, segala harta berharganya ngga akan dikembalikan.
'"Aku juga minta maaf," sambung Sean. Tangannya sudah pegal karena harus menulis seratus kalimat 'aku menyesal berbuat jahat'.
Sean juga butuh kesaksian Quin agar maminya membebaskannya dari hukuman itu malam ini.
Ziza menoleh, menatap keduanya sekilas.
"Sudah dimaafkan." Kemudian dia lanjut menggambar lagi.
Keduanya mulai tersenyum. Tau kalo Ziza selalu mudah memberikan maaf.
Quin pun mengirimkan pesan pada maminya kalo kembarannya Theo dan sahabat mereka Sean sudah minta maaf pada maminya.
Keduanya pun segera berlari.ke arah Quin yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Sudah kirim ke mami belum?" tanya Theo mgga sabar.
"Sudah.".
Senyum Theo pun melebar tanda hatinya sangat senang. Hartanya akan segera jadi miliknya lagi
"Jangan lupa kirim ke mamiku juga," imbuh Sean memgingatkan.
"Iya, barusan dikirim. Nyolot aja," ejek Quin sambil.berjalan meninggalkan keduanya yang kini mulai bisa tertawa.lepas.
'Makanya jangan nakal," decih Quin mencela.
Theo dan Sean kompak menjulurkan lidahnya sebelum berjalan menyusul langkah Quin. Yang lainnya sudah menunggu kedatangan mereka di lapangan.
kenapa harus beralasan ya laki2 setelahnya padahal cukup kata 'maaf'