NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Dilamar Ceo Dingin

Tiba-tiba Dilamar Ceo Dingin

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Airlangit

Follow IG-Airlangit9

Nekat pergi ke kota, bermodalkan Ijazah SMA untuk mengadu nasib. Siapa sangka, sebuah insiden membuatku terperangkap dalam hubungan tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Airlangit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tersanjung

Dilara berdiri canggung depan meja bar, memperhatikan punggung bidang itu bergerak-gerak, pertanda pemiliknya sedang mengerjakan sesuatu.

Harum masakan perlahan menguar, memenuhi ruangan dapur itu.

"Kamu sudah bangun?" Pria yang mengenakan celemek itu bertanya sembari tersenyum tipis. Di tangan kanannya ada cukil yang berlumuran bumbu.

"Ah iya, nih." Dilara menggaruk tangan kanannya yang tak gatal. Ia merasa malu sekali, habis shalat subuh bukannya beraktifitas malah tidur lagi. Bangun-bangun mendapati si pemilik rumah sedang memasak.

Dengan cekatan, Said menata hidangan pagi yang telah selesai dimasak itu ke atas meja, kemudian menyiduk nasi dari rice cooker ke wajan lantas membawa ke meja makan.

Pria itu melepaskan celemeknya, dan menggantungkannya di dinding, kemudian mencuci wajahnya sebentar di wastafel dan mengeringkannya dengan handuk.

"Ayo, makan," ajaknya pada Dilara.

Dilara melangkah menuju meja makan, dan melihat di mangkuk besar itu, sayur sop yang penuh oleh taburan bawang goreng dan daging menggugah seleranya. Selain sayur tersebut, ada juga sambal merah dan irisan telor campur sawi putih.

"Kamu pintar masak, ya." Dilara berkata bosa-basi saat sedang makan hanya untuk mencairkan suasana.

"Alhamdulillah, agar tak merepotkan istri suatu saat nanti." Said menyahut.

"Kalau saya … boro-boro bisa masak model begini." Lagi-lagi ia teringat akan keluarganya di kampung. Bukan karena tak bisa masak seperti Said, bahan-bahan untuk masaknya yang tak ada dulu itu. Makanan termewah Dilara di kampung hanya tempe dan tahu goreng, makan daging pun setahun sekali pas hari raya, itu pun pemberian tetangga. Jarang sekali ibunya memasak daging sendiri.

"Nanti saya ajarkan masak kalau begitu. Di pagi hari bagusnya makan dengan yang berkuah. Untuk siang hari boleh yang berlemak. Dan untuk malam hari yang ringan-ringan saja seperti makan dengan tumis daun-daunan." Said menjelaskan.

Saat itu datang Rumina langsung tersenyum melihat Dilara ada di rumah sang majikan untuk kesekian kalinya.

"Wah-wah, lagi ada acara apa, ini? Suami-istri lagi sarapan, ya?" Rumina ikutan duduk di kursi kemudian melihat-lihat hidangan pagi itu.

Said berdeham lantas meraih gelasnya kemudian pergi dari tempat tersebut. "Saya pakai seragam dulu, ya. Lekas selesaikan makan dan mandi, nanti kamu telat."

Dilara mengangguk tanpa melihat lelaki itu.

"Menginap lagi, Teh?" Setelah Said pergi. Rumina bertanya.

Dilara mengangguk. "Majikanmu rajin sekali masak sendiri, ya." Gadis itu terkagum.

Rumina terkekeh. "Karena ada kamu saja, Teh. Biasanya Tuan itu hanya sarapan pakai roti, ala-ala orang bule gitu, lah."

"Masa, sih? Terus ini?" Dilara menunjuk hidangan di atas meja.

"Mungkin Tuan keseringan dimasakin menu khas Indonesia begini oleh saya kalau sore hari, jadi dia bisa buat sendiri."

Dilara manggut-manggut. Khawatir terlambat kerja, ia mengakhiri perbincangan tersebut kemudian bergegas masuk kamarnya.

Selang beberapa menit, gadis itu telah berganti pakaian pemberian Said dan berjalan di teras hendak berangkat kerja.

"Berangkat bareng saya, yuk," ajak Said dari balik kemudi. Pria itu baru mengeluarkan mobil dari garasi.

Mengingat perkataan Rumina tentang Said memasak karenanya, reflek Dilara menggelengkan kepala. "Saya naik angkot saja, kamu pergilah."

"Ayo … bareng saya saja, akan cepat sampai."

Bukannya menyahut, Dilara malah melangkah cepat melewati mobil pria itu. Ia berjalan terburu-buru menuju jalan utama di ujung sana, hanya demi menghindari tersusul oleh mobil Said.

***

Dilara berdiri di tepi jalan menenteng paper bag menunggu angkutan kota lewat. Kaki kanannya mengetuk-ngetuk aspal, dan pandangan matanya menatap ke arah kanan, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. Terkadang juga ia memeriksa isi paper bag di tangan kanannya, dan memegang sebentar ponsel pintar yang dibelikan Said.

Gadis berkerudung maroon itu terhenyak kaget, ketika bunyi klakson angkutan kota tepat berada di hadapannya.

"Melamun, Bu?" Lelaki sopir itu nyengir kuda memperlihatkan geligi kuningnya, kemudian melanjutkan menyesap rokok.

Merasa malu ditatap oleh para penumpang di dalam angkot itu, bergegas Dilara naik ke dalam, tanpa menyahut pertanyaan si sopir barusan.

Angkutan kota melaju membelah keramaian kota Jakarta. Berulang kali Dilara melirik jam tangannya khawatir terlambat. Jika bukan karena malu dan gengsi, mungkin ia telah menerima ajakan Said berangkat bersama menggunakan mobil.

Dilara menghela napas berusaha menenangkan diri. Di komplek perumahan Said tak ada jasa angkutan umum yang lewat, setiap orang memiliki kendaraan pribadi. Kakinya lelah berjalan cukup jauh dari tempat Said ke jalan raya.

"Berhenti, Mang." Dilara menyetop angkot lantas memberikan ongkos perjalanan pada sang sopir kemudian turun.

Ia berdiri di halte bis menunggu keberangkatan bis selanjutnya.

"Jika tak dijual, darimana saya dapat uang banyak. Adik-adik butuh biaya sekolah di kampung." Masih saja gadis itu mempertimbangkan untuk menjual ponsel yang diberikan Sa'id. "Tapi ... ponsel ini langka. Kapan lagi saya punya barang bagus. Tapi … alangkah lebih baik dijual dan beli ponsel biasa saja."

Bis berhenti di hadapannya, Dilara pun bersegera masuk dan duduk paling depan.

Ketika bis mulai melaju, pandangannya beralih pada tepian jalan di mana seorang perempuan tua tampak berusaha mempertahankan tasnya dari lelaki bertubuh kekar. Sontak saja Dilara berdiri. "Berhenti, Mang!" pekiknya.

"Kenapa harus berhenti?" Sang sopir balik bertanya.

"Itu-itu … ada perempuan dirampok!" Dilara berkata lantang agar didengar oleh orang-orang dalam bis itu dan mereka bersimpati.

Respon para penumpang itu diluar dugaan Dilara, mereka tampak cuek dengan aktivitas di masing-masing kursi.

"Cepat, Pak. Nanti kita terlambat jika bis berhenti," ujar salah seorang perempuan berwajah dingin.

Dilara terkekeh melihat sikap mereka, ia memegang keningnya dan berjalan ke arah pintu keluar, memaksa sopir itu untuk berhenti.

Berhasil keluar dari bis, Dilara langsung berlari kencang, setibanya di lokasi tempat penjambretan, gadis itu langsung melompat kemudian menerjang punggung si jambret.

Lelaki berbadan besar itu terjatuh ke depan. Tak menyia-nyiakan kesempatan, gadis itu langsung merampas tas di tangan si jambret dan menggamit tangan si perempuan tua berlari bersama dari tempat tersebut.

Setelah memasuki keramaian dan memastikan jambret itu tak lagi mengejar, barulah Dilara berhenti dan melepaskan tangan si perempuan tua sambil menyodorkan tas miliknya.

"Terima kasih, Nak." Perempuan tua itu mengulas senyuman tipis.

"Apa yang ibu lakukan di tempat kumuh tadi dengan pakaian yang sangaaaat sangat-sangat mencolok seperti ini?" Dilara menatap penampilan perempuan tua itu dari ujung kepala sampai kaki.

Perempuan tua itu menahan senyum. "Tadi, saya keluar Mal, iseng ingin melihat-lihat keadaan masyarakat. Dan malah tersesat ke sana."

"Oh begitu, ya. Maaf kalau begitu, saya kira ibu-ibu menor yang biasa pakai pakaian mencolok untuk pamer." Nada suara Dilara merendah. Faktanya banyak perempuan paruh baya yang berpakaian mencolok hanya untuk pamer dan mengundang perhatian jambret padahal mereka tak terlalu kaya. Namun, wanita yang ditolongnya tersebut, tak terlihat menor dan pamer, terkesan elegan penampilannya.

"Tak papa, Nak. Kamu pintar bela diri, ya?"

Dilara garuk-garuk kepala. "Ya, bela diri karena nekat bukan terlatih. Makanya langsung Kabur barusan." Gadis itu terkekeh.

"Wah … kamu pemberani ternyata." Lagi si perempuan tua itu tersenyum.

"Ibu pulang ke mana? Saya antar, ya."

"Tak usah, saya akan balik lagi ke Mall dan menelpon sopir. Itu Malnya." Ia menunjuk ke arah seberang jalan. "Ngomong-ngomong, Nona ini mau ke mana, ya? Kalau ada waktu luang mari saya traktir di restoran."

Dilara langsung membelalakkan mata dan melihat jam di tangannya. "Astaghfirullah, Bu. Maaf saya pergi dulu!" Ia langsung berlari kencang meninggalkan tempat tersebut. Jam ditangannya menunjukkan pukul 7:46 pagi, hanya beberapa menit lagi waktu masuk kantor.

1
Nur RaudLoh NauRa
menakjubkan/Drool/
Nur RaudLoh NauRa
bagus sila, dasar pemalas tu mbk2 m mas seenak e udelle
Nur RaudLoh NauRa
lucunya/Drool/
Apreel Leeya
typo trus..ayahnya dipanggil Murad..Murad...
Teresia Atik tinus
Kecewa
Cechen Mei li
lelaki dancuk
Cechen Mei li
kok murad sih
Cechen Mei li
said kk
Cechen Mei li
saik kk bukan Danil🤦‍♀️
Nayla Azizah
kasihan ms dilara menderita mulu Thor??kpan bahagia menghampiri'n??
Shen shandian luo
gak mau uangnya tapi tetep ikutan bohong...kan percuma bicara soal dosa....😂😂😂😂😂😂😂😂
Irma Yanti
dilara lugu.. kadang bikin emosi ya..maaf Thor
Irma Yanti
cerita bagus Thor...semangaaad
Yuniarti Rossyidie
ceritanya lumayan menghibur...lucu...
💟노르 아스마💟
sejauh ini bayik suka ...gk bertele²
Marchel
halo kakak author yang baik hati aku ijin share novel aku ya yang berjudul " Bos and me " dan " gadis cantik itu milikku " terimakasih kakak author 🙏
Cusy Low Aty
lanjut
Suriani Anhy
biarlah said bersama Dilara, utk daniel mudah2hn selamat dn mnjdi mafia utk bisa bls dendam kpd murad.... 😀😀🤭, bisa dong kita menghayal juga thor🤭
Ziza Yazid
lanjut persi dilara
Ziza Yazid
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!