Yang dikejar tak akan pernah lari. Walaupun tidak di cari namun ia akan hadir sendiri. itulah Jodoh!!
Siapakah yang akan menjadi jodoh Mila?
Dengan siapakah dia berdiri di pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENIKAH
Saat ini Mila kembali bersedih, pasalnya baru beberapa jam neneknya itu siuman kembali tak sadarkan diri, setelah mengatakan hal yang aneh menurut Mila.
Sang nenek menurut pandangannya tak pernah memaksakan apapun pada Mila, dia selalu menghargai apapun keputusan cucunya itu. Mangkanya Mila berpikir aneh kalo tiba-tiba sang nenek menyuruhnya untuk menikah.
"Apa sebenarnya itu keinginan terbesar nenek yaaaah?" mila bergumam dalam hati.
"Udah Mil, jangan dipikirin terus" Kila membuyarkan lamunan Mila.
Saat ini dia hanya ditemani Kila dan Hans. Joko meminta izin untuk pulang sebentar, sedangkan Gilang mengantarkan kedua orangtua dan adiknya pulang, berniat untuk kembali ke rumah sakit setelah membersihkan diri.
Dokter mengatakan bahwa sang nenek berada dikondisi antara hidup dan mati. Sebenarnya dari awal peluang untuk sadar itu tipis, sebuah kejaiban mungkin tadi pagi sang nenek bangun dari tidur panjangnya, walaupun tak berlangsung lama.
Dokter mengatakan mungkin keinginan yang besar dari sang pasienlah yang membuatnya tersadar.
Waktu terasa berlalu begitu cepat, sudah 2 minggu nenek belum juga menunjukkan tanda-tanda kesadarannya.
Saat ini dokter meminta keluarga pasien dari Nya Marinah berkumpul. Dengan sangat menyesal Dokter mengatakan bahwa tidak ada lagi harapan untuk kesembuhan sang nenek, entah apa yang membuatnya bertahan dokter tidak mengerti.
Mila yang sejak tadi berada dipelukan Bu riris, menangis keras mendengar penjelasan dari sang dokter.
"Jadi maksud dokter, dokter mau mencabut alat-alat yang membantu Nenek?" tanya Hans pada sang dokter.
"Kami menyerahkan sepenuhnya pada keluarga, kami tidak bisa memutuskan sepihak"
"Saya tidak bisa dok, itu sama saja membunuh" kata Mila dalam isaknya, masih berada dipelukan Bu Riris.
"Itu terserah kalian, kami hanya menjelaskan bahwa otaknya sudah tak berfungsi, saat ini dia bertahan karna bantuan alat. Saya juga tidak mengerti kenapa pasien seperti bersikeras untuk....."
Suara dokter berhenti karna Kila mengangkat tangan, menyela omongan sang dokter "maaf dokter, apa itu bisa karna ada keinginan nenek yang belum terpenuhi?"
Mila terperanjat, dia tahu apa maksud dari pertanyaan Kila, dia mengingat sesuatu. Begitupun dengan yang lain.
Dokter tampak berpikir sejenak, "Bisa saja iya, ada banyak kasus seperti itu yang saya tangani" jawab dokter meyakinkan.
"Coba saja kalian laksanakan keinginan terakhir dari Ny Marinah, siapa tau bisa membantunya pergi dengan tenang!" kata dokter kemudian meminta izin untuk undur diri.
Hari terus berganti, saat ini sudah berlalu 3 hari setelah terakhir dokter mengatakan bahwa tidak ada harapan lagi untuk kesembuhan neneknya.
"Kenapa tidak coba kau fikirkan keinginan nenekmu itu, yang menginginkan kamu menikah?" Seketika kata-kata Bunda Joko kembali terngiang. Kemarin Bunda Joko sempat datang untuk melihat kondisi sang nenek.
"Lo dah coba hubungin Rehan?" pertanyaan Gilang mengagetkannya.
Mila melihat sekilas pada Gilang yang duduk disebelahnya. "Hpnya gak aktif" hanya itu yang dikatakannya.
"***" geram Gilang. Dia sangat kesal bahwa saat-saat seperti ini kekasihnya justru tidak bisa dihubungi.
"Mungkin dia sibuk" Mila kesal memikirkan jawabannya sendiri, Klise sekali, gumamnya.
"Coba sini gue yang telpon" Gilang merebut Hp Mila untuk mencatat nomor Rehan di Hp miliknya. Namun belum selesai mencatat Hp sudah direbut kembali.
"Apaan sih enggak usah" tegas Mila, mengembalikan Hpnya kelayar awal kemudian menekan tombol kunci.
"Emang kenapa sih? Sini!" Gilang mencoba merebutnya kembali, terjadi tarik menarik antara Gilang dan Mila. Sebelum keduanya kepergok oleh Hans dan juga Joko, mereka baru saja datang.
"Kenapa lagi sih kalian? sampe otot-ototan gitu?" Joko menghampiri mereka, mencoba melerai. Sebenarnya sudah biasa melihat mereka seperti itu. Tapi dalam keadaan seperti sekarang rasanya tak pantas saja, pikir Joko.
"Iya kalian kenapa?" Hans ikut bertanya.
"Gue mo nelpon cowoknya tapi dilarang" jawab Gilang, dia terlihat kesal.
Mila juga tak kalah kesal, pasalnya dia sebenarnya tidak dalam fase ingin menikah. Sampe harus menelepon sang pacar, meminta untuk menikahinya. Lagipula usianya baru 24 tahun, masih muda menurutnya. Selain itu diapun masih belum yakin apakah ia harus memenuhi permintaan neneknya itu. Tapi dia kepikiran juga dengan kondisi sang nenek. Dia sedikit frustasi, apa iya sang nenek hanya sedang menunggunya menikah.
Mila beranjak dari duduknya, meninggalkan para pemuda lajang itu. Dia mengatakan ingin pergi ke kamar neneknya.
Sementara Hans, Joko dan juga Gilang tampak berdiskusi.
"Memangnya telpon Mila tidak diangkat?" tanya Hans pada Gilang.
"Enggak aktif malah" jawab Gilang dengan singkat sambil melihat smartphonenya.
"Laaaah gimana?" Joko ikut bertanya. "Trus yang bakalan nikahin si Mila siapa?" tanya Joko lagi.
Dalam beberapa saat semuanya terdiam.
"Gimana kalo diantara kalian berdua aja?" ucap Hans memberi usul.
"Lo pikir nikah itu main-main?" Joko yang menjawab.
Sedangkan Gilang sibuk melihat layar smartphonenya yang sejak tadi berdering namun dia mengabaikannya.
"Yang nyuruh Lu main-main siapa?" suara Hans meninggi.
"Kok sewot?" Joko heran melihat sikap Hans, tidak biasanya dia terpancing emosi.
"Apa sih Lu berdua?" Gilang berkomentar.
"Lo tuh yang apa, dari tadi sibuk sama Hp" Hans menjawab masih dengan nada tinggi.
Gilang yang pikirannya sedang semrawut, terpancing juga "Lo mojokin gue" tangan Gilang mendorong bahu Hans.
Hans yang entah kenapa ikut membalas perlakuan Gilang. Keduanya seperti hilang kendali.
Hans menarik kerah Gilang, begitupun sebaliknya. Joko berusaha menengahi namun gagal. Mereka saling bersitatap seperti sedang melihat mangsa yang siap diterkam.
Mila yang baru keluar kamar melihat kejadian itu, sontak memisahkan mereka.
"Kalian apa-apaan sih?" Mila setengah berteriak, mencoba melepaskan tangan yang saling tarik menarik. "Apa sih gak lucu ?"
"Siapa yang lagi ngelawak non? lagi berantem ini,, yaelaaaah?" Ucapan Joko mendapat lirikan tajam dari kedua temannya. "Ampun bang ampun" ucap Joko kemudian.
Setelah menjadi tontonan, mereka sepakat mengakhiri ketegangan diantara mereka.
Akhirnya mereka disini, duduk berempat di sebuah tempat kongkow dekat dengan rumah sakit.
"Udah doooong marahannya, sorry ya gara-gara gue kalian jadi berantem" Mila memang sudah mendengar cerita dari Joko, awal mula Hans dan Gilang bersitegang
Mendengar Mila meminta maaf membuat kedua pemuda yang sedang diam-diaman itu luluh juga.
"Enggak gitu Mila, bukan karna Lo juga" Hans menoleh pada Mila yang sedang menunduk.
"Gua gak minta kalian buat nikahin gue"
Gilang yang semula diam angkat bicara "Ini bukan masalah kita gak mau nikah sama lu, ini masalah kesiapan kita"
"Pernikahan bagi gue tu sakral dan gue gak akan main-main dalam hal itu" lanjut Gilang.
"Mending sekarang kita cari solusi sama-sama" ucap Hans.
"Emang Lo mau kalo nikah ama gue Mil?" tanya Joko iseng.
"Cewek Lo gmn?"
"Gampang itu mah, pacaran juga baru sebulan" jawab Joko asal.
"Aaaaaaaaah gak bisa bayangin gue nikah sama Lo.." Mila mengacak-ngacak rambutnya, disambut tawa oleh yang lain.
" Trus lo maunya gimana?" Kini giliran Hans yang bertanya.
"Enggak tau, apa gue terima aja usulan Papahnya Gilang, nikah ama anak temen bisnisnya?"
"Jangan" jawab mereka serempak.
Setelah melalui perbincangan yang panjang diantara mereka, mereka mendapatkan sebuah kesepakatan. Namun sebelum itu Mila ingin meyakinkan dirinya bahwa keputusannya tepat.
Mila kemudian konsultasi dengan Kiyai, Ulama, bahkan ayahnya Kila yang seorang Ustadzpun menjadi incaran atas pertanyaan yang ada dibenaknya. Mila menanyakan pendapat tentang permintaan sang nenek, apakah merupakan wasiat yang harus dilaksanakan. Dan jawaban mereka iya.
*****
Atas banyak pertimbangan Mila akhirnya melaksanakan keinginan terakhir neneknya, yaitu menikah.
"Saya terima nikah dan kawinnya Karmila Sanjaya Binti Chandra Sanjaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tuuuunai..." pemuda itu berhasil mengucapkan izab dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana sah" Tanya pak Ustadz yang menikahkan...
Lalu mereka serempak berkata "Sah"...
"Alhamdulillah....."
Kedua mempelai itu saling menatap, dalam hati mereka tak percaya bahwa kini mereka adalah pasangan suami istri.
Mila mencium tangan suaminya itu dengan canggungnya....
#SIAPAKAH YANG MENJADI SUAMI MILA APAKAH DIA BERHASIL MENGHUBUNGI KEKASIHNYA, APA DIA MENIKAH DENGAN SALAH SATU SAHABATNYA, ATAU DIA MENIKAH DENGAN KENALAN AYAHNYA GILANG ?????? TUNGGU KELANJUTANNYA