Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]
Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?
Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Tangguh
...☕🍜Terkadang kita lupa, bahwa kehilangan adalah bagian dari kehidupan. Sedangkan duka, kecewa, marah, kesal, sedih, dan bahagia adalah perasaan yang manusiawi. Namun, banyak dari kita memilih terlihat baik-baik saja, seolah ada yang menuntut bahwa kita harus selalu bahagia. Sekuat itulah kita🍜☕...
Malam berselimut sunyi. Seorang gadis menyepikan diri dari bisingnya hiruk pikuk kota Metropolitan. Ia mengunci segala perasaan yang mengendap di dada. Menggenggam erat kuncinya agar tak seorang pun dapat membukanya. Bahkan termasuk dirinya juga.
Ketika ia baru tiba di kontrakan, ia disambut riang oleh gadis dengan rambut sebahu. Namun, ia sekadar membalas sapaannya, kemudian menolak bercengkerama seperti pada malam-malam biasanya. Bahkan, ia menolak sebelum gadis berambut pendek itu menawarkan.
"Maaf, Sal. Hari ini aku ingin tidur lebih cepat," ungkap Maira.
Salwa bersungut-sungut di depan pintu. Memasang raut wajah kesal dan kecewa. Sebab ia sudah menunggu kepulangan Maira sejak satu jam yang lalu.
Seorang pria berambut gondrong masih bergeming di dalam mobil. Tak beranjak pergi hingga memastikan punggung gadis yang berbalut gamis merah muda itu benar-benar menghilang di balik pintu. Seketika, ia memafhumi bahwa kondisi perasaan yg sedang dialami oleh gadis itu benar-benar tidak tepat untuk diajak bersenda gurau.
Sebelum punggung gadis itu menghilang di balik pintu, ia sempat melihat lagi wajahnya yang sendu. Membuat si gondrong itu menelan ludah kuat-kuat. Kemudian ia melajukan mobilnya keluar dari halaman kontrakan menuju mulut gang, dan akhirnya memilih pulang.
***
Kumandang adzan subuh menyentuh telinga Maira yang tengah melantunkan ayat suci Al-Quran.
"Shodaqallaahul 'adziim." Maira mengakhiri bacaannya.
Pagi ini ia bangun lebih dini. Untuk mencurahkan segala nestapa yang bertamu di dadanya, pada Sang Mahakuasa. Luka yang sebelumnya belum benar-benar sembuh. Namun, kini ia harus menanggung beban lagi.
Maira adalah gadis yang tangguh. Bibirnya sedikit sekali mengeluh. Bahkan untuk sekadar bercerita pada sahabatnya ia selalu merasa enggan. Ia selalu merasa disimpan sendiri adalah lebih baik. Cukup Allah baginya. Sebab dalam hidup pasti selalu ada saja hal yang tak bisa diceritakan pada orang lain, bahkan pada orang terdekat sekali pun. Adakalanya seseorang merasa nyaman menyimpan semuanya sendirian.
Usai menunaikan sholat subuh terdengar pintu utama diketuk. Sepagi ini siapa yang bertamu? Maira bergegas keluar dari kamarnya.
"Mbak Mairaaa!"
Ini suara Mamanya Rahmat. Maira meraih kunci dan segera membukanya saat mendengar suara yang ia kenal. Harap cemas dapat kabar tak baik sehingga sepagi ini sudah mengetuk pintu.
Ibu-ibu berkulit sawo matang itu menyeringai. Tangannya menunjukkan kantong plastik yang entah apa isinya.
"Ini, Mbak, tadi ada yang nyuruh saya kasih ini ke Mbak Maira."
Maira terperangah. Tangannya mengambil alih kantong plastik yang disodorkan oleh Mamanya Rahmat.
Dengan masih kebingungan Maira membuka bungkusan plastik itu. Sebuah paper cup, dan hangat. Terdapat juga sebuah kertas di dalamnya.
"Ah iya, terima kasih ya Mamanya Rahmat. Sudah mau direpotkan." Maira buru-buru mengucapkan terima kasih, otaknya bekerja dengan cepat agar tidak dicurigai.
"Iya-iya nggak papa, he-he-he."
Mamanya Rahmat berlalu dengan raut wajah khas ibu-ibu yang senang mendapat bahan gosip baru.
Maira meringis menahan sumpah serapah. Alamat dia bakal menjadi trending topik ibu-ibu di basecampnya.
Daripada itu, ia memilih kembali fokus ke kantong plastik di tangannya. Maira mengambil sebuah kertas kecil dari dalam plastik.
Sebuah pesan singkat yang ditulis dengan pena:
Ini untukmu. Tapi, maaf kalau kecewa dengan kopinya. Di mini market tidak ada espresso. Tapi, kurasa kopi susu sangat cocok untuk dinikmati ketika entah kenapa hidup mendadak terasa pahit. Ehe. Selamat menikmati. Jangan dibuang, dosa!
Si gondrong yang gantengnya sudah turunan
Maira mengernyit membaca tulisan yang menunjukkan siapa pengirim pesan itu. Sejurus kemudian, sebuah senyum tampak tertahan di sudut bibirnya.
Maira meraih paper cup itu. Menimangnya sesaat. Dagunya mengerut. Kemudian menghela napas panjang. Pagi ini, ia tak perlu menyeduh kopi. Kini satu cup kopi telah siap di tangannya untuk dinikmati.
Bukan disebabkan embel-embel dosa yang dibubuhkan dalam kertas kecil itu, melainkan Maira memang sungguh-sungguh ingin menikmatinya. Ia menyimpulkan bahwa itu adalah bentuk maaf dari Juan sebab kemarin telah menggodanya saat ia sedang tidak bisa diajak bergurau. Maira pun sedikit merasa tidak enak karena sikapnya kemarin membuat Juan merasa bersalah.
Kiriman kopi pagi ini sedikit membuat Maira terhibur, apalagi ada sebuah pesan lewat surat. Seperti zaman baheula saja menyampaikan pesan melalui kertas.
Sembari menikmati kopi, Maira mengambil sebuah buku kecil. Buku itu adalah buku tabungan miliknya. Ia melihat dengan seksama, tampak berpikir, kemudian tersenyum. Senyumnya kali ini tampak ragu. Mengandung bahagia sekaligus kecewa.
Ia meraih ponselnya. Mengetik pesan yang ditujukan pada kontak atas nama Zidan. Ia adalah adiknya di kampung halaman. Kemarin adiknya menelpon, menyampaikan kabar yang membuat hati Maira terhimpit. Ia merasa segala sesuatu yang menimpa keluarganya adalah tanggung jawabnya.
Beberapa saat setelah Maira mengirim pesan pada Zidan. Ponselnya berdering. Nama Zidan muncul di layar.
"Assalamualaikum, Mbak." Suara serak basah pria yang menginjak pubertas itu menyapa dari seberang telepon.
"Wa'alaaikumsalam, Dik." jawab Maira dengan suara lembut.
"Benar, ya, Mbak, jangan bilang kalau Zidan yang memberitahu. Zidan sudah janji sama bapak tidak akan bilang sama Mbak Mai, tapi ...."
Zidan terdengar seperti tak ingin melanjutkan kalimatnya. Maira mengerti, ia kembali meyakinkan adiknya yang sejak kemarin khawatir ketahuan oleh bapaknya mengenai informasi yang diberikan kepada Maira.
"Iyaaa, tenang saja. Mbak akan profesional."
Zidan sempat meyakinkan sekali lagi. Lalu, setelahnya telepon ditutup.
Maira tersenyum masygul menatap paper cup yang isinya sudah tandas. Memang hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membantu bapaknya. Senyum senang yang tadi adalah mengartikan bahwa ia lega masih memiliki tabungan. Namun, senyum yang tak senang itu mengartikan bahwa tabungannya masih belum cukup untuk membantu bapaknya.
"Semoga Bapak selalu tabah dan segera kembali pulih," lirihnya.
Ia menelan seluruh kepahitan yang menimpanya. Mengubahnya menjadi obat yang mujarab, membakar semangat untuk segera menyelesaikan lebih cepat pesanan baju milik Ibu Arini dan Ibu Ria. Keputusannya telah bulat. Setelah menyelesaikan dua pesanan yang sebentar lagi jatuh tempo, ia memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Tak bisa rasanya Maira berlama-lama membiarkan bapaknya terbaring sakit tanpa ada yang merawatnya.
Meskipun sakitnya bukan sakit yang parah, dan tak melebihi besarnya masalah yang menimpa bapaknya—Abdullah. Namun, barangkali dengan pulangnya Maira sedikit membuat Abdullah merasa bahagia dan mengurangi sedikit beban hidupnya.
Maira segera memulai menggeluti mesin jahit dan kawanannya. Melupakan sejenak rasa sakit. Menyingkirkan sebentar segala yang menjadi beban. Fokus dan fokus pada keputusan yang telah dipilih.
Matahari perlahan mendongak, suara Pak Tatang dan Pak Rw terdengar hangat sedang memperbincangkan burung peliharaannya. Kicau burung milik Pak Tatang saling bersahutan dengan burung milik Pak Rw.
Terdengar teriakan Mamanya Rahmat, menyeru bujangnya yg masih SMA supaya cepat menyelesaikan sarapan. Mamanya minta diantar ke pasar sebelum Rahmat pergi ke sekolah.
Suara knop pintu sebelah dibuka, Maira tahu itu adalah Salwa yang bersiap berangkat kerja. Seketika Maira teringat raut wajah Salwa semalam. Bersungut-sungut karena ajakannya ditolak sebelum ditawarkan. Apa gadis itu masih jengkel pada Maira? Ah, mereka tak sekanak-kanak itu untuk bermarah-marahan.
Deru mesin berhenti. Didorong oleh rasa bersalah, Maira memutuskan keluar untuk menyapa sahabatnya.
"Pagi, Sal."
Salwa yang sedang memakai kaos kaki terperanjat tiba-tiba terdengar suara menyapa.
"Ah, Mai. Pagi."
Tangannya tetap sibuk memasang kaos kaki dan memakai sepatu. Lalu lanjutnya,
"Gimana? Sudah baikkan?"
Tak diduga Salwa sangat peka jika Maira sedang tidak baik-baik saja. Hal itu membuat Maira sedikit gugup. Sejak kapan Salwa sepeka ini? Yang Maira kenal Salwa adalah orang yang super sekali tidak peka. Bahkan ada orang dekat yang menyukainya selama sekian tahun pun dia tak kunjung menyadarinya. Setan apa yang merasuki Salwa.
"Emmm ... nanti malam kita bicara, ya." kata Maira.
Salwa telah siap dan rapi dengan seragam lengkap beserta sepatu hitam yang mengilap. Ia mendongak melihat wajah Maira yang berdiri tak jauh darinya, sedang melipat tangan di dada. Sejenak Salwa menatap lamat-lamat wajah gadis berlesung pipit itu. Kemudian Salwa tersenyum.
"Ok! Tunggu aku, yaa. Aku berangkat dulu." Salwa melangkah menuju motor matic miliknya yang sedang dipanaskan. Sebuah ransel hitam sudah senantiasa berada di punggungnya. Gadis itu memasang helm, lalu duduk di jok, tangannya bersiap menarik gas. Sebelum benar-benar berlalu, ia menyempatkan diri untuk melambaikan tangan ke Maira. Salwa melajukan motornya pelan, kemduian menyapa Pak Tatang dan Pak Rw yang sedang asik bercengkrama. Setelah melalui dua bapak-bapak itu, Salwa menambah kecepatan sepeda motornya, kemudian menghilang dari halaman kontrakan. Salwa siap bertempur dengan hiruk pikuk kota Metropolitan. Menjalani tugasnya sebagai seorang polisi.
Maira tersenyum mengiringi keberangkatan Salwa. Ia kini merasa lega, sebab sebelumnya ia sempat khawatir jika Salwa masih jengkel padanya.
Seperti halnya Salwa, Maira tak mau kalah semangat dengan sahabatnya itu. Ia kembali melanjutkan pekerjaan. Semangat lebih menggebu-gebu, karena malam nanti ia tidak bisa lembur, dia sudah berjanji pada Salwa bahwa malam ini ia akan kembali bercengkerama seperti biasa. Ia tak ingin lagi melihat wajah Salwa yang bersungut-sungut.
Dengan riang Maira kembali memulai aktivitasnya. Segala duka dan luka yang semalam bertamu, kini telah menjelma sebuah semangat yang berkobar. Inilah Maira. Gadis yang tangguh, yang kata calon bapak mertua gagalnya ia hanyalah sosok yang lahir dari keluarga dengan bibit-bebet-bobot yang rendah. Lantaran status keluarganya yang sejak ia kelas 5 SD telah menyandang anak Broken Home.
Broken Home sama dengan bibit-bebet-bobot rendah? Apa calon mertua gagalnya itu sedang tidak bercanda?
***
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
malah curcol
calon author famous
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺
kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.
ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗