Bagaimana jika takdir justru membuat kita kembali bertemu dengan orang yang pernah singgah dalam masa lalu kita?
Renata tidak menyangka, setelah sekian lama berpisah dengan Bima, takdir ternyata mempertemukan mereka dalam situasi yang sama-sama sulit.
"Setelah bertahun-tahun mencoba melupakan, kenapa takdir justru mempertemukan kita kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUJUH BULANAN
Seiring berjalannya waktu Bima dan Renata mulai menerima pasangannya. Mereka mencoba meraih kebahagiaan mereka masing-masing.
Bima mencoba mencintai Karina dan memperlakukan wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya itu sebaik mungkin. Begitupun dengan Renata yang sudah mulai merasakan benih-benih cinta terhadap Devan.
Cinta Devan yang begitu besar membuat Renata perlahan jatuh cinta pada pria itu. Meskipun kenyataannya, nama Bima masih terselip di ujung hatinya yang paling dalam.
Usia kandungan Karina sudah menginjak tujuh bulan. Bima dan Karina saat ini sedang mengadakan acara selamatan tujuh bulanan.
Mereka mengundang beberapa kerabat dekat dan beberapa kolega bisnis Bima, termasuk Aldrian dan Vanya.
Semua orang menatap Bima dan Karina dengan senyum mengembang pada wajah mereka. Orang yang paling bahagia adalah Aldrian dan Vanya. Mereka berdua bahagia saat melihat kebahagiaan Bima dan Karina.
Setelah badai datang, akhirnya sepupunya itu mendapatkan kebahagiaannya.
Prosesi tujuh bulanan alias mitoni dalam bahasa Jawa, berjalan lancar. Semua tamu yang datang merasa kagum saat melihat Bima dan Karina melakukan tahap-tahap prosesi mulai dari sungkeman, siraman, pecah telur, memutus janur, brojolan, pecah kelapa, ganti busana, dan yang terakhir adalah jualan cendol juga rujak.
Mereka semua turut bahagia dan mendoakan Karina semoga persalinannya lancar. Semua orang menyalami satu persatu pasangan suami istri yang sedang berbahagia itu.
Aldrian dan Vanya tersenyum mendekati Bima dan Karina. Mereka berdua sungguh bahagia melihat Bima dan Karina terlihat sangat bahagia.
"Semoga segalanya dimudahkan sampai persalinan nanti," ucap Aldrian.
"Amiin." Bima dan Karina menjawab bersamaan.
Bima berpelukan dengan Aldrian. Begitupun Karina dan Vanya.
"Terima kasih sudah datang ke sini," ucap Karina.
"Vanya sangat penasaran dengan acara ini. Dia belum pernah liat katanya." Aldrian mengusap lembut rambut sang kekasih.
"Aku ke sini sekalian bawa ini." Vanya mengambil undangan pernikahannya di dalam tas kemudian memberikannya pada Karina.
"Undangan pernikahan?" Senyum Karina terkembang.
"Kalian benar-benar akan menikah?" Bima menatap Aldrian dan Vanya bergantian.
"Tentu saja." Aldrian tidak terima dengan ucapan Bima yang terkesan mengejeknya.
"Baguslah! Jadi Vanya ada kejelasan, tidak digantung terus sama kamu!" ejek Bima.
"Kalau kecebongku nggak nyasar masuk ke rahimnya, belum tentu dia mau menikah denganku," ucap Aldrian dengan santai.
"Jadi, akhirnya kamu menghamilinya juga?" Suara terdengar keras saking terkejut membuat Aldrian menutup mulut Bima.
"Sialan! Apa kau ingin mempermalukan kita berdua?" Aldrian menatap Bima dengan geram.
Bima terkekeh setelah Aldrian melepaskan tangannya dari mulut pria itu.
"Kau benar-benar menyebalkan!" Aldrian menatap wajah Vanya yang bersemu merah karena malu. Wanita itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan calon suaminya.
"Kamu marah saat orang lain menyebut kehamilanku tapi kamu sendiri yang membocorkannya. Benar-benar luar biasa." Vanya mencibir ke arah Aldrian.
"Maaf, Sayang, aku keceplosan."
Vanya hanya mencibir mendengar permintaan maaf Aldrian, sementara itu, Bima dan Karina tertawa.
"Kemarin waktu pernikahan Devan dan Renata juga mulutmu ember ngomong sama mereka. Giliran sekarang, di depan Bima sama Karina juga kamu pura-pura keceplosan." Vanya berbisik di telinga Aldrian dengan perasaan kesal.
Sementara Aldrian meringis saat tangan wanitanya itu menjewer telinganya di depan kedua sahabatnya itu.
Bima dan Karina tertawa melihat keduanya. Bima sungguh sangat bersyukur karena saudara sepupunya itu akhirnya menikah dengan Vanya. Perempuan yang pernah bersamanya di masa lalu.
Bima berdoa, semoga Aldrian bahagia bersama dengan wanita yang selama ini hanya dijadikan sebagai partner ranjangnya.
Tak jauh berbeda dengan Bima, keluarga Devan pun kini sedang berbahagia. Senyum dokter itu tidak berhenti mengembang pada wajah tampannya.
Bukan hanya Devan, Iren, Dika dan Renata, mereka bertiga juga terlihat sangat bahagia. Keluarga itu baru dapat kabar gembira dari Renata.
Wanita yang baru dua bulan lebih menikah dengan Devan itu kini statusnya sudah berubah. Bukan hanya seorang istri, tetapi, juga berubah menjadi
seorang calon ibu.
"Sayang, mama sangat senang karena saat ini kamu sedang mengandung calon cucu mama."
BERSAMBUNG ..