sekian tahun Tasya mencintai suaminya, selalu menerima apa adanya, tanpa ada seorang anak. bertahun-tahun hidup dengan suaminya menerima kekurangan Tasya tapi apa yang dia lihat penghianatan dari suami yang di percaya selama ini..
apakah Tasya sanggup untuk menjalankan rumah tangga ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_yanrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Seiring Radit mendekat pada Tasya, Devan pun beranjak mendekati istrinya. Ia ambil tangan Tasya, sementara nampan berisi makanan di ambil oleh Radit.
Di hadapan orang-orang uang berkumpul di rumah ini, Devan membuka sebuah kotak dan memberikan pada sang istri. Sebuah kalung berlian berlambang huruf C spesial untuk kado istrinya.
"Untuk mu, selamat ulang tahun Sayang, maaf terlalu cepat, aku tidak bisa menunggu sampai tengah malam, tidak sabar untuk memberikannya padamu, sayang. HAPPY BIRTHDAY.."
Tasya bahkan sama sekali tidak ingat tentang ulang tahunnya. Masalah ini sangat membebani waktu-waktu yang sudah ia lalui beberapa saat ini.
Dengan lembut, Devan membawa tubuh Tasya lebih dekat, kemudian mengecup keningnya dan memasang kalung itu, Tasya terdiam tanpa banyak berkutik, harusnya ini menjadi momen yang bahagia untuknya, tapi entah kenapa hatinya begitu dingin dan tidak merasakan apa pun, terasa hambar.
Ia menghirup napas dan membuang pelan-pelan, hembusan napas Devan yang terasa di pundaknya kini terasa sangat berbeda. Rasanya ingin menumpahkan segala tangis saat ini, memeluk Devan dan bertanya kenapa ia Setega ini. Padahal, tiada yang ia lewatkan tanpa mencintai suaminya.
Seharusnya ini adalah momen yang romantis, tapi suasana indah tidak lagi tercipta. Devan mengembalikan tubuh Tasya membawa istrinya ke dalam pelukan. Seketika ada perasaan rindu ingin kembali, ia rindu bercermin di mata Devan yang meneduhkan, tapi semua sudah berubah, Devan begitu menakutkan sekarang.
Dulu, ia pernah merasa begitu berharga, begitu di terima, Devan sangat mampu menunjukan cintanya, tapi kali ini Tasya sadar, ia hanya seorang manusia, bisa saja berubah. Sempat terlena sesaat merasakan nyaman dalam dekapan, Tasya langsung melepaskan pelukan dan menyeka satu tetes air mata yang jatuh di pipinya.
"Kamu suka?" Devan menatapnya dalam. Satu yang ia sadari, berlayar sampai jauh pun Tasya tidak pernah tergeser dari posisinya.
Sementara Sintia terlihat tidak nyaman, di tengah ramainya yang ada, ia lebih memilih membuang muka dan menghindari pandangan manis di hadapannya. Hatinya terbakar, dengan rasa cemburu yang di lakukan Devan untuk istrinya.
Tasya mengangguk. "Terima kasih." jawabnya pelan.
Radit memperhatikan dari jarak yang tidak jauh, ia tidak menyangka sampai saat ini bila sahabatnya mampu berdiri setegar ini di tengah segala masalah yang sangat berat.
******
.
.
.
.
Waktu mendekati tengah malam saat suasana semakin ramai, beberapa teman Devan dan Tasya turut datang. Katanya, ini adalah pesta kecil yang khusus di buatkan untuk istrinya.
Tasya sempet bertanya apakah Devan tidak takut tentang keberadaan Sintia, tai ia berkilah, Sintia tidak kelihatan sedang hamil.
Ya...
Ia memang tidak terlalu kelihatan buncit, meski usia kandungannya memasuki usia 6 bulan. Di satu sisi Tasya tidak terlalu peduli, biar saja semesta menjadi saksi segala perbuatan mereka.
Sementara Sintia masih enggan beranjak ke kamarnya dan duduk menikmati makanan yang terhidang, Tasya sendiri tidak ikut berbaur dengan lainnya. Ia duduk di sisi kolam renang sembari menatap cahaya bulan yang memantul di air yang tenang. Devan sibuk dengan lainnya menikmati berbeque.
Radit menghampiri, membawakan sepiring beef steak dengan saus berbeque kesukaan Tasya.
"Ini melelahkan untuk kamu 'kan?" ucap Radit seraya mendaratkan tubuhnya di kursi kayu. kini mereka berdampingan, hanya terhalang meja.
"Aku sudah mencarikan pengacara terbaik, Shinta namanya, memang perempuan, tapi ia banyak memenangkan kasus, tapi..." Radit menghentikan ucapannya.
"Tapi apa?"
"Katanya, untuk aset berharga yang sudah berpindah tangankan ke suami kamu itu akan sedikit sulit," balas Radit dengan pelan sambil mengamati sekitar, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan ini.
Tasya menghirup napas dan membuangnya dengan pelan.
"Kita bahas ini nanti."
Tidak berapa lama dengan menghampiri, ia menatap sekilas ke arah Radit dengan mata sedikit sinis, ia membawa segelas es jeruk.
"Belum sempet menyapa kita, lama tidak bertemu. Sudah menikah lagi?" Devan berucap basa-basi.
"Mendiang istriku belum lama pergi." balas Radit santai sambil menyeruput minumannya.
"Sudah setahun. Gak kesepian memangnya? orang yang sudah meninggal gak akan mikirin urusan dunia." Devan merapatkan duduknya pada istrinya, lalu merangkul bahu istrinya dengan mesra, seolah menunjukan kemenangan karena sudah mendapatkan wanita yang juga Radit idamkan.
Sekilas mata Radit melihat ke arah tangan Devan yang sedang mengelus-elus lengan istrinya.
Sementara Tasya hanya terdiam. Terlihat sekali ia tidak nyaman dan sesekali melihat ke arah Radit.
"Mas, aku tidur duluan, ya?" ucap Tasya tidak ingin berlama-lama di sini.
"Kamu ngantuk, Yllllllang?" tanya Devan.
Tasya mengangguk pelan, lalu beranjak meninggalkan tempat ini. Tinggal lah Radit dan Devan, sejak dulu. Devan selalu menunjukan sikap sinis pada Radit. Ia memang sering di Landa cemburu dengan kedekatan mereka, terlebih lagi Tasya sering kali menceritakan Radit di tengah kebersamaan mereka di kala berdua. Sejak hari-hari itu, Devan sangat posesif terhadap istrinya. Untuk sekedar menghubungi sahabatnya Radit.
"Lama gak ketemu, sudah bisa melupakan Tasya?"
Radit melihat sesaat ke arah Devan dan tersenyum kecil.
"Lu masih gak percaya diri hingga ketakutan dengan adanya gue?" bukanya menjawab pertanyaan Devan, Radit malah balik bertanya.
Devan tersenyum bengis. "Ngapain takut, Tasya sangat mencintai gue dan berlekuk lutut di hadapan gue." dengan sombongnya Devan mengatakan itu.
Radit mengangguk pelan, seolah membenarkan ucapan Devan.
"Dia memang mencintaimu, tapi ingat. Dia tidak bodoh."
Devan terdiam..
Beberapa detik setelahnya, Radit beranjak dan berjalan menuju ke parkiran, ia akan menginap di sebuah hotel malam ini, dan pulang esok hari.
*****
.
.
.
.
Tasya menyandarkan diri pada dipan, ia ambil ponselnya dan menatap aktivitas yang terjadi melalui CCTV yang sudah terkoneksi dengan ponselnya.
Ia tahu, butuh tenaga yang lebih untuk melihat ini. Bahkan pada suatu waktu, ia selalu merasa tidak sanggup lagi berpura-pura dan ingin pergi begitu saja tanpa peduli apa pun. Namun, ia tidak ingin menyerah, segala hal yang sudah ayahnya bangun tidak akan semudah itu di ambil orang lain.
Tasya merutuki dirinya sendiri, kenapa ia begitu bodohi oleh cinta dan melerakan banyak hal penting. Pada akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus berdamai dengan segala perasaan luka yang di rasakan nya. Ia tidak ingin menjadi bodoh untuk kedua kalinya.
Tangan sedikit bergetar ketika mengusap layar aplikasi, ia masuk dan melihat rekaman beberapa hari yang lalu. Ia memulai dari kamar Sintia, tidak ada yang membuat jantungnya berdebar di hari pertama melihat rekaman CCTV.
Lalu, ia mengusap layar ponsel berpindah ke arah lainnya. juga tidak ada aktivitas yang menyesakan dada. Cukup lama, ia berselancar, tidak ada aneh dari rekaman itu.
Tasya terlihat ke arah jam, sudah hampir satu jam ia masuk ke dalam kamar, Devan masih belum menyusulnya. Sebelum menutup segala rekaman itu, ia melihat sekali lagi Vidio malam ini.
Dan benar saja, ada yang menyentak hati, setengah jam yang lalu Devan memangut mesra bibir Sintia di hadapan adik ipar dan teman-teman yang di bawa Bella.
Sementara teman-teman kantor sepertinya sudah pulang karna tidak ada di sana. Terlihat rawut wajah mereka yang melihat santai saja liat adegan itu.
Tasya menghela napas panjang, ia menutup ponselnya dan turun dari ranjang untuk menemui mereka.
.
.
.
.
.
Berani sekali dua manusia iblis itu menonton kan kemesraan pada semua orang, yang tidak tahu malu...