Delima Anastasia : Hidup dengan sederhana, dipertemukan dengan CEO di temat ia bekerja. Semenjak bertemu dengan CEO itu, ia sudah mempunyai perasaan kepada bos muda di kantornya, dengan hobinya menulis maka ia salurkan menjadi sebuah cerita didalam novelnya.
Sampai suatu hari ia merasa bahwa CEOnya itu mengawasinya dari jauh dan mulai bersikap tidak wajar, membuat Delima merasa selalu di awasi.
"Aku tidak tau takdir membawaku kemana, yang jelas jangan buat aku menderita Tuhan."
Derel Sean Miller :
"Setelah kau jadikan aku fantasimu membuat sebuah cerita, apakah aku akan membiarkanmu pergi dengan mudahnya?"
Tidak akan Delima, kau akan tetap di sini, di tempat yang seharusnya yaitu di sisi ku, kau adalah milikku dan siapapun tak akan ku biarkan milikku di ganggu ataupun disentuh orang.
Kau akan menjadi milikku, karna dari awal kau memanglah tercipta untukku. Apapun caranya itu pasti akan aku buktikan tidak akan lama lagi Del.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KarismaAd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 07
Delima dan teman-temannya telah berkumpul di cafe Marchine. Ya di cafe ini tempat biasannya mereka berempat nongkrong, di cafe ini mereka berbagi suka maupun duka, apalagi tempat ini indah dan menenangkan.
"Delima lo tau gak sih.."
"Ya enggak lah, lo aja belum gomong."
"Iihh... Delima gue belum selesai gomong ya!" sambung Dista.
"Makanya kalau orang gomong itu di dengerin dulu, jangan langsung dipotong aja." Dista berucap dengan kesal.
"Yaudah.. Jadi apa yang mau di katakan sama sahabat terbaik gue ini?" tanya Delima.
"Ok, lo harus dengerin gue gomong sampai selesai." Sambil menatap Delima dengan serius.
"Yokap sama bokap gue udah kangentu sama lo, mereka itu pengen ketemu sama lo. Malahan gue di cuekin sama mereka, bahkan mereka gak henti-hentinya nanyain lo, dimana tinggal Delima, bagaimana kabar Delima, dimana Delima kerja, delima.. delima... dan delima masih banyak lagi. Huff gue serasa di anak tirikan sama mereka." Menghela sedikit nafasnya.
Delima hanya senyum saja dan tidak menanggapi perkataan dari Dista. Yupss yang gomong tadi itu dista, ya bengitulah dia kalau bersama teman terdekat dan keluarganya.
"Ya ampun lo tau kan Dista, Momy Sinta dan Dedy Riko itu udah anggap Delima itu seperti anak kandung mereka mereka sendiri." Ucap Klara.
"Lagian ya, wajarlah orang tua lo kayak gitu, lihat aja kelakuan lo yang bar-bar." Sambung Dea dengan wajah tengilnya.
"Kalian udah besar masih saja berantem." Lerai Klara, padahal dia yang mulai duluan, dan sekarang malah jadi penengah. Waduh ada-ada saja tingkah para sahabat Delima.
"Gue titip salam sama yokap sama bokap lo ya Dista, oh iya sama orang tua lo junga Klara." Delima berucap dengan agak kurang enak.
"Nanti mereka merajuk lagi, karena gak gue salamin hehe.." Delima berkata dengan cegegesan.
Orang tua sahabatnya itu, sangatlah menyayangi Delima bahkan mereka sudah meganggapnya anak sendiri. Jika Delima and friend's berkumpul beserta orang tua mereka,
maka dipastikan mereka merebutkan Delima.
"Oh iya gue baru ingat, gimana novel yang lo buat, udah sampai di mana, kalau lo cetak kasih tahu gue ya." Ucap Klara.
"Eehh... benar tuh Delima gue juga ya, kalau di kasih.
"Gue juga ya Delima, tapi kalo gue yang gratisnya. Biarin mereka yang beli, merekakan beruang dan uangya berlimpah ruah." Sambung Dea.
"Gareb banget yang gratisan." Klara dan Dista berkata dengan barengan. Sambil menggoda Dea, membuatnya kesal. Membuat dea kesal merupakan hal yang mengasikka, expresinya yang lucu, dan mengemaskan.
"Gomong-gomong tentang novel yang lo buat itu, terispirasi dari siapa sih Delima, gue penasaran tau." Ucap Klara dengan penuh pertanyaan.
"Atau jangan-jangan lo terispirasi sama seorang cowok yang lo taksir, beri tahu kita dong Delima siapa orangnya. Kalau benar wah beruntung tu cowok dapat lo. secara ya lo itu imut, cantik, pinter, multitalenlah dan yang pastinya lo itu jujur, penyanyang dan tulus. Kalau gue jadi cowok, mungkin gue dah gejar lo dan melakukan cara untuk bisa dapati lo. sanyangnya gue cewek bukan cowok." Waduh gue gomong panjang amatnya, sampai mengalahkan para direktur pidato.
yaampun hampir sesak nafas gue ucap Dista
" Ya.. Elah lo yang gomong, lo junga yang protes. Haduhh.. pusing gue sumpah."Kata Klara dengan wajah frustasinya.
"Iya tuh Delima beritahu kita dong orangnya, mungkin kita kenal orangnya, kalau enggak setidaknya kita tau bagai mana orangnya." ucap Dea.
"Uumm gimana ya, sebenarnya itu cuma khayalan gue aja, gue buat seolah-olah nyata. Saat gue nulis eh ternyata ceritanya galir gitu aja, lagian banyak yang suka, responnya banyak yang bagis dan meganggap itu kejadian yang nyata, ya udah gue terusin aja nulisnya." ucap Delima panjang lebar.
"Sebenarnya memang betul apa yang kalian katakan, masalahnya gue gak mungkin cerita sama kalian, karna ia yang tak bisa gue gapai, dan gak bisa gue raih. Ma'af gue gak bisa cerita sama kalian." Monolog Delima.
"Ok deh Delima, lo terus semangatnya nulisnya dengan khayalan lo itu dan jangan lupa janga kesehatan lo, karna itu lebih penting buat gu.." Sebelum Klara melanjutkan ucapannya langsung di potong oleh Dista.
"Betul bangat, kesehatan lo lebih penting dari segalanya. Gue gak mau lihat teman gue sakit, nanti kita-kita yang repot, et canda kok gak seriusan kok Delima suer." Klara berucap sambil cegegesan.
"Tapi ya kalau gue baca dan bayangin ciri-cirinya sih kayak familiar gitu, seperti p..." Sebelum Dea berucap di potong langsung oleh Delima.
"Mungkin lo halu kali sambil menghayal kayak gitu. Lagian lo itu jangan terlalu baperan sama Alvaro." Sanggah Delima.
Dengan sedikit kesal Dea berucap
"Ya elah gie kan cuma berucap kalau gue, serasa familiar dengan karakter Alvaro. Lo aja fikirinnya kemana-mana."
Klarapun berucap dengan tampang lelahnya.
"Udah jangan debat mulu deh, lagian kita kesini itu untuk happy merilekskan fikiran."
"Dan nostalgia di kafe tercinta kita." Mereka berempat serempak berucap dan saling lirik langsung tertawa bersama. Bahkan mereka tak menghiraukan penggunjung kafe di sana terganggu akan ulah mereka.
Disisi lain, di tempat yang sama tapi diruangan yang berbeda yaitu ruangan khusus untuk pengunjung VIP, Derel dan teman-teman lainnya juga nogkrong. Tapi kali ini tanpa kehadiran Bram. Mereka asyik dengan perbincangan mengenai perkembangan tentang pencarian penulis yang mereka incar. Uuppss salah bukan mereka tapi Reyhan, ya hanya Reyhan gak tau kalau nantinya Derel juga ikut,mungkin juga sih hehe..
"Derel lo udah bilang sama Bram tentang masalah yang gue ceritain sama lo kemaren?"
"Humm"
"Ya ampun Derel, gue gak habis fikirnya sama lo, gak ada berubah-berubahnya sama sekali. Masih aja dingin, lo tau gak kalau sikap lo itunya mirip banget sama Alvaro."Reygan berucap panjang lebar.
Seketika Derel mengangkat satu alisnya, pertanda dia minta penjelasan sama Reyhan.
"Gini derel Alvaro it.."
Sebelum Reyhan menjelaskan, Denis memotong lebih dulu.
"Alvaro itu tokoh protagonis dalam novel yang dibuat sigadis gabut."
"Gadis gabut." beo Derel.
"Ya itu nama pena penulis novel yang ingin fi cari sana Reyhan, judulnya Mengejar Cinta Alvaro.
"Kalau gue fikir-fikir karakternya miri sama lo Derel." Denis berucap lagi. " Kalau lo gak percaya coba deh lo baca ceritanya."
"Bener banget tuh Denis."
"Huumm" cuma deheman yang dijawab Derel, tapi ada sedikit penasaran juga. Apa benar dia hampir mirip sama tokoh fiksi di novel tersebut, nanti dia akan buktikan.Derelpun heran fengan dahabatnya, kok sampai segitunya sama novel, semenarik apa ceritanya kok gue jadi penasan juga ya." Monolog Derel.
"Yaudah nanti gue kasih tau sama Bram, supanya cepat nemu orangnya, dan gak direpotin muluvsama kalian berdua."
"Ih Derel kok gitu sih."ucap Reyhan dengan kesel.
"Gue cuma bantu doang gak ikutan." Kata Denis.
" Yaudah gue pergi dulu."
"Emang lo mau pergi kemana sih Derel." Ucap Reyhan.
"Gue mau balik selesaikan semua pekerjaan gue dulu."
"Ya Udah deh." Kata Denis dan Reyha berbarengan, seolah bagaikan anak kembar, sehati dan sepemikiran.
Derelpun pergi dari sana tanpa ia sadari, ia berjalan berlawanan arah dengan Delima. Mereka berhenti saling membelakangi, entah desiran aneh apa yang mereka rasaka. Mereka pergi dari tempat mereka berdiri, tidak menghiraukan peresaan aneh yang mereka rasakan.