Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?
Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.
Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?
Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.
‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Tujuh tahun yang lalu....
Seorang gadis berusia sekitar 15 tahun, terbaring lemah di brankar rumah sakit. Sebuah selang terpasang di tangan kanannya. Selang yang mengalirkan cairan berwarna merah dari kantung yang tergantung di tiang dekat brankar tempat gadis itu berbaring. Aneesha terpaksa harus mendapat transfusi darah karena sakit demam berdarah yang dideritanya.
“Maaf, Pak, Bu. Putri Anda masih membutuhkan beberapa kantung darah lagi. Sedangkan ini stock terakhir di bank darah. Apa ada kerabat atau saudara yang bisa mendonorkan darahnya?” ucap seorang dokter yang baru saja memeriksa kondisi Aneesha.
“Gimana, Mas?” tanya Riani panik, beberapa saat yang lalu Riani melakukan pemeriksaan dan ternyata golongan darahnya dengan Aneesha tidak sama.
“Aku akan minta bantuan teman-temanku, Ri. Insyaalloh kita segera dapat pendonor.” sebenarnya Fares juga panik, tapi Dia mencoba tidak menunjukkan di depan istri dan anaknya.
“Aneesha butuh darah? Aku bisa mendonorkan darahku untuknya. Golongan darah kami pasti sama.” tiba-tiba seorang pria masuk ke ruang rawat Aneesha tanpa permisi. Semua orang di ruangan menatap pria itu dengan terkejut.
“Tidak! Aku tidak mengijinkannya.” protes Riani ketika tahu siapa yang masuk tanpa permisi itu.
“Kenapa kalian harus mencari pendonor lain, sedangkan sudah jelas aku bisa menberikannya untuk Aneesha.” pria tadi berjalan mendekat ke ujung brankar tempat Aneesha terbaring. Masih ada seorang dokter dan perawat disana.
“Tidak, kita cari orang lain saja!” Riani berkata ketus.
“Kau benar mau mendonorkan darahmu untuk Aneesha, Mas?.” tanya Fares yang mendapat anggukan dari pria berkaca mata yang datang tanpa permisi.
ucapan Fares ini mendapat tatapan tajam dari Riani, “tapi, Mas-”
“Kurasa ini bukan waktunya untuk berdebat, Ri.” Fares segera memotong kalimat yang akan diucapkan Riani.
“dokter, Dia akan mendonorkan darahnya untuk Aneesha.” ucap Fares kepada dokter yang merawat Aneesha.
“Mari, pak. Ikut saya untuk melakukan beberapa pemeriksaan” Dokter tersebut segera keluar ruangan bersama perawat dan pria yang akan mendonorkan darahnya untuk Aneesha.
Walau dalam keadaan lemah, Aneesha masih bisa mendengar dan melihat kejadian itu dengan jelas. Perasaannya menyimpan sebuah pertanyaan yang membuat otaknya berpikir sedikit keras
Beberapa hari setelah kejadian itu, kondisi Aneesha sudah membaik. Riani sedang membereskan baju Aneesha kedalam tas, karena hari ini Aneesha diperbolehkan pulang. Selang infus sudah dilepas, Aneesha juga telah mengganti bajunya. Tidak lagi menggunakan piyama rumah sakit.
“Ayah ... Neesha ingin tanya sesuatu.” Fares yang tadinya duduk di sofa yang ada di ruang rawat Aneesha, kini mendekat ke brankar tempat Aneesha duduk.
“Apa, Nak?” tanya Fares sambil membelai rambut lurus milik Aneesha.
“Waktu itu kenapa Papa Reza bisa sangat yakin kalau golongan darah kami sama? Bahkan sebelum melakukan pemeriksaan.”
Deg
Riani menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasukkan baju ke dalam tas. Sedangkan Fares tiba-tiba ingin menggaruk alisnya yang tidak gatal.
Hening ....
Fares dan Riani tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Ingin berbohong, tapi gadis seumuran Aneesha sekarang bukan lagi anak kecil yang mudah dibohongi. Ingin berkata jujur, tapi masih belum yakin apakah Aneesha siap menerima kejujurannya.
“Ayah? Bunda? Kenapa kalian diam?” tanya Aneesha ketika tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi.
“Ehm ... Neesha, mungkin Pak Reza hanya kebetulan tahu golongan darahmu, Nak.” Riani tersenyum menatap anaknya, senyum yang dipaksakan.
“Ri!” panggil Fares kepada istrinya yang kini menatap Fares dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
“Sepertinya sekarang saatnya, Ri. Aneesha sudah baligh.”
“Tapi Mas-” kalimat Riani harus terpotong karena Fares merangkul bahunya lalu menatap Riani dan Aneesha bergantian.
“Apa yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Aneesha penuh curiga.
“Aneesha, ayah ingin bercerita. Kamu dengarkan baik-baik, ya.” Fares duduk ditepi brankar, bersebelahan dengan Aneesha. Sedangkan Riani berdiri di depan kedua anak dan suaminya itu.
“Kamu sudah tahu kan, kalau Ayah menikah dengan Bundamu saat kamu sudah berusia empat tahun?” Fares mengawali ceritanya.
“Iya, Aku tahu. Aku bukan anak kandung Ayah.” jawab Aneesha lirih.
“Sebelum Bunda membawamu ke Surabaya, Bunda pernah kerja di jakarta. Kamu juga masih ingat cerita itu, kan?” Aneesha mengangguk mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Fares. Kini Riani ikut duduk di tepi brankar, menjadikan Aneesha berada di tengah kedua orang tuanya.
“Pak Reza itulah atasan Bundamu, Nak.” Mendengar kalimat yang diucapkan Fares, Aneesha terkejut sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Sedangkan Riani hanya bisa menunduk, menunggu reaksi apa yang akan ditunjukkan Aneesha setelah tahu semua cerita masa lalunya.
“Jadi Papa-” Aneesha menatap Fares, menatap wajah pria yang sudah menjadi ayah sambungnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
Fares mengangguk pelan, “Ya, Nak. Itulah kenapa Dia sangat yakin golongan darah kalian sama. Karena Dia memang Papamu, Ayah kandungmu.”
“Benarkah semua itu, yah? Bunda, apa yang Ayah katakan semuanya benar?”pertanyaan Aneesha mendapat anggukan Riani.
Mata Aneesha mulai panas, butiran air bening menggenang di sudut matanya yang indah.
“Maafkan Bunda, Nak.” Riani menggenggam kedua tangan Aneesha, airmata sudah tak bisa dibendung lagi.
Aneesha terdiam, hatinya masih belum bisa menerima apa yang diceritakan oleh Fares. Bukan karena tidak ingin menerima kenyataan, tapi Aneesha bingung harus bersikap seperti apa?
“Kenapa kalian melakukan ini padaku? Kenapa Ayah lakukan ini padaku, Yah? Kenapa Ayah sengaja membuatku dekat dengannya?” Aneesha berkata lirih, nada suaranya bergetar menahan isak. Airmata sudah membasahi pipinya.
“Neesha ... maafkan Ayah. Ayah tidak mungkin melarangnya menyayangimu.” Fares membelai punggung Aneesha dengan lembut.
“Tapi Dia yang telah membuatku seperti ini, Yah. Membuatku selamanya disebut sebagai anak haram!” tangis Aneesha pecah, kedua tangannya dipakai untuk menutup wajah.
“Maafkan Bunda, Nak! Maafkan Bunda!” Riani memeluk Aneesha, tangis mereka berdua pecah. Rasa bersalah menyelimuti Riani, anaknya harus ikut menanggung akibat dari kesalahannya.
“Kau tidak menanggung dosa yang telah kulakukan, Nak.” Riani mengeratkan pelukannya, membuat Aneesha terisak semakin keras. Menumpahkan tangis dalam pelukan Bundanya.
“Kalian jahat padaku.” lirih Aneesha disela isaknya.
“Neesha ....“ Fares memeluk Riani dan Aneesha. Dua perempuan yang telah mengisi hatinya dengan cinta.
Setelah kejadian itu, Aneesha tidak ingin menemui Reza. Walau apapun yang dilakukan Reza untuk meminta maaf, tapi Aneesha belum mau membuka lagi hatinya yang terlanjur patah.
Bagaimana gadis itu bisa begitu saja menerima keadaannya? Dulu Ia adalah anak yang lahir tanpa ayah. Kemudian Aneesha menjadi anak seorang fotografer, kini Ia tiba-tiba menjadi anak seorang pengusaha kaya asal Jakarta. Jalan hidupnya begitu rumit bukan? Jelas saja Ia butuh waktu untuk menerima keadaan ini. Entah sampai kapan ....
.
.
.
Bersambung ....
syuuukaaaa bgt sm novel yg pertama kali sy baca, ttg aneesha. nyandu bgt...
cerita'y ga pasaran, trs kalimat² nya ngena dan enak d baca'y.
terimakasih bnyk kak, udh bikin karya yg good abisss poko'y 😊