"Menikahlah dengan wanita pilihan Kakek. Anggaplah ini sebagai permintaan terakhir Kakek kepada kamu, Askara."
Sebuah permintaan yang terlontar dari mulut pria paruh baya yang sudah tak berdaya, yaitu Genta Wiguna.
Ghattan Askara Wiguna adalah pria yang mencoba meninggalakan tanah air demi dua misi. Misi pertamanya sudah berhasil, yaitu menjadi pengusaha sukses. Namun, tidak dengan misi kedua. Bayang wajah wanita yang telah membuat hatinya porak poranda masih selalu melekat di hati dan kepalanya. Ternyata, mengikhlaskan itu tidak semudah yang dibayangkan.
Kali ini, Aska dihadapkan dengan sebuah permintaan sang kakek yang sudah lemah dan melekat berbagai alat medis di tubuh pria yang banyak membuatnya berubah.
Apa Askara akan mengabulkan permintaan terakhir sang kakek? Atau dia memilih untuk menunggu wanita yang dia cintai yang tak lain adalah istri dari mantan sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Jawaban
Di lain tempat, seorang wanita tengah duduk seorang diri di sebuah kafe kekinian yang bernama Jomblo's cafe. Tempat di mana dulu dia bekerja. Setelah hampir tiga tahun tak datang ke tempat itu, ternyata sudah banyak perubahan yang ada di kafe tersebut. Bibirnya tersenyum ketika ada bagian tembok yang dihias dengan grafiti yang sangat indah. Tiga pria yang tengah tersenyum bahagia dengan saling merangkul.
"Sahabat itu saling merangkul, bukan saling memukul. Saling menyayangi bukan saling menyakiti. Jadilah sahabat sejati bukan sahabat yang tak tahu diri."
Sebuah Quotes yang berada di atas gambar grafiti tersebut. Seperti sindiran keras untuknya dan juga pria yang pernah menjadi sahabat dari ketiga orang yang berada di grafiti tersebut.
"Aku yang tersakiti, aku juga yang harus pergi. Betapa tidak adilnya dunia ini." -Askara-
Bulir bening itupun menetes tatkala dia membaca sebuah Quotes yang ditulis oleh Askara, pria yang masih dia cinta. Dia memilih duduk di meja samping jendela. Memesan choco ice dengan roti bakar spesial. Namun, semuanya itu tidak dia sentuh. Dia malah menikmati alunan lagu dari penyanyi kafe.
🎶
Malam ini aku menanti
Kedatanganmu mengisi sepiku
Lama terasa waktu bergulir
Karena dirimu tak bersamaku
Oh, Tuhan, tolonglah
Bawa dia kembali
Bersamaku di sini, menjagaku selalu
Dengarlah doaku yang tak pernah meminta
Bawa dia kembali bersama
Walau hanya sesaat
Masih terasa hembus napasmu
Saat ku gundah kau lipur laraku
Kini terasa semakin dalam
Rasa rinduku pada dirimu
Oh, Tuhan, tolonglah
Bawa dia kembali
Bersamaku di sini, menjagaku selalu
Dengarlah doaku yang tak pernah meminta
Bawa dia kembali bersama
Walau hanya sesaat
🎶
Juno mengerutkan dahi ketika melihat sahabatnya tengah mematung di undakan anak tangga menuju lantai bawah. Ponselnya tengah dia arahkan kepada seorang pengunjung.
"Lagi apa lu?" Sergahan dari Juno membuat Ken menoleh sebentar. Namun, dia kembali fokus ke layar ponsel miliknya.
Juno yang penasaran memilih mendekat ke arah Ken dan melihat apa yang tengah Ken rekam. Mata Juno melebar melihatnya.
"Mata gua gak salah liat 'kan?" Juno benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Mata lu belum buta, No," sahut Ken.
Juno menggelengkan kepalanya melihat yang sudah lama tidak dia lihat.
"Dia sudah sangat berubah." Ken berbicara.
"Ya, gua udah ketemu sama dia."
Juno baru sadar ternyata Ken tengah melakukan sambungan video dengan sahabatnya yang tengah berada di Melbourne.
"Aska!"
Wajah sendu yang terlihat itu mencoba menyunggingkan senyum ke arah Juno. Ada kebahagiaan juga kesedihan di malam ini. Serta kebimbangan yang luar biasa.
"Dia sendiri ke sini, Ka." Ken mencoba memberikan info kepada Aska.
"Terus, gua harus liat datang ke kafe kalian dengan sahabat kalian itu?" sanggahnya.
"Ka." Kini Juno yang memegang ponsel Ken. Dia menatap lamat-lamat wajah Aska dari balik sambungan video. "Jujur sama perasaan lu. Rebut dia dan jadikan dia pendamping hidup lu." Petuah dari Juno untuk Aska. Namun, Aska hanya tersenyum perih.
"Apa yang dikatakan si Juno benar, Ka. Gua sangat melihat dia tidak bahagia," papar Ken.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Askara yang masih betah berada di landasan helikopter di lantai atas rumah sakit. Duduk seorang diri berteman angin yang berhembus.
"Gua udah dijodohin sama Kakek gua."
"Apa?" balas Ken dan Juno secara bersamaan dengan nada yang sangat terkejut.
.
Semua orang menunggu jawaban dari Askara. Suasana pun berubah menjadi hening.
"Adek-"
"Kalau kamu ragu kamu boleh menolak, tapi Kakek tidak janji akan bisa menyaksikan kamu mengucapkan ijab kabul di depan penghulu," potong kakek Genta.
"Terima aja, Om. Apa yang dipilihkan orang tua pasti yang terbaik untuk anaknya." Sebuah kalimat yang terlontar dari keponakannya yang sudah memasuki usia sembilan tahun.
Semua orang menoleh kepada Aleena, tetapi dia seakan acuh dan bersikap biasa. Echa menggelengkan kepala menandakan bahwa putrinya tidak boleh berbicara kembali.
Sebelum menjawab dengan serius, Aska menarik napas panjang terlebih dahulu.
"Adek mau menerima perjodohan yang Kakek lakukan. Adek ingin menikah disaksikan oleh Kakek, sama seperti Kakak dan Abang."
Alasan yang membuat semua orang terenyuh mendengarnya. Mereka menatap pilu ke arah Aska. Hanya demi itu, Aska mampu mengorbankan kebahagiaannya.
Sebenarnya setelah sambungan video antara Aska juga Ken berakhir. Aska mencoba menimbang-nimbang lagi jawaban yang harus dia berikan. Apalagi melihat wajah Jingga yang terlihat sendu mendengar lagu dari Mahalini yang berjudul Bawa Dia Kembali, itu membuat hati Aska ragu. Namun, dia tidak boleh menjadi pria yang terus tenggelam dalam duka.
Sudah hampir tiga tahun, dia masih belum bisa melupakan seseorang yang belum tentu mencintainya, sebesar cinta yang dia punya.
"Ketika hati dan tubuh ini sudah lelah, serta tidak ingin mencari wanita lagi. Aku serahkan semuanya kepada-Mu, Tuhan. Aku akan menyerahkan rezeki, jodoh dan mautku hanya kepada-Mu. Aku tahu, Engkau sudah menuliskan jalan takdirku sedari Engkau memberikan nyawa pada segumpal daging yang tumbuh di rahim ibuku."
Hembusan napas berat keluar dari mulutnya. Dia membuka ponselnya. Foto Aska dan Jingga yang menyambutnya, masih menjadi gambar pembuka di layar utama. Dia tersenyum kemudian membuka pengaturan ponsel.
"Bismillah."
Tangannya sudah mengganti foto untuk wallpaper ponselnya dengan wajah si keponakan yang sangat tampan sedang tertawa bersamanya.
"Kamu adalah pelipur lara, Uncle. Empin si bocah tampan."
Sebuah keputusan yang sudah sangat matang Aska ambil. Walaupun dia juga sadar diri, nantinya dia akan menemukan jalan yang sulit, yaitu mencintai wanita yang tidak dia cintai. Namun, dia berharap cinta itu akan datang dengan cepat dan dia bisa melupakan Jingga secepatnya juga.
"Adek, apa kamu serius?" Ayanda sudah memasang wajah tak percaya sekaligus tak rela.
"Iya, Mom." Jawaban Askara sungguh sangat serius.
Lengkungan senyum pun terukir di wajah senja kakek Genta Wiguna. Akhirnya, dia bisa bernapas dengan lega.
"Kapan keluarga kita akan bertemu dengannya juga keluarganya, Ayah?" Giondra sengaja menanyakan perihal itu karena dia sangat penasaran dengan wanita pilihan ayahnya.
"Iya, Kek. Setidaknya ada perkenalan antara Adek dan juga calon istri Adek."
Aksa yang mendengarnya merasa perih. Itu bukan ucapan tulus, melainkan ucapan yang sangat terpaksa yang keluar dari mulut Askara.
"Semuanya sudah Kakek urus dan atur. Kalian hanya tinggal duduk manis dan menunggu waktu saja."
Gio dan Aska saling tatap, mereka tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kakek Genta. Seharusnya sebelum terjadi pernikahan, ada acara lamaran, pertunangan barulah menuju pernikahan. Namun, prosesi itu seolah dihilangkan oleh kakek Genta.
"Persiapkan diri kamu, Askara." Perkataan kakek Genta sangat serius. "Satu bulan lagi kamu akan menikah."
Terkejut, sudah pasti. Ucapan dari kakek Genta sungguh tak terduga.
"Kalian akan dipertemukan ketika akad dilangsungkan."
...****************...
Komen dong ....
udah taksempur abDi lu sadar.,
atau ngemis y.. minta di akui.. 😁😁😁
pasti ada sinar setelah ny..
padahal udah banyak hati yg mereka sakiti..
orang sabar rezeki ny luas 😊😊😊
jangan y dek y.