Mahawira adalah penjelmaan dari pecahan jiwa penguasa semesta, kelahirannya bertujuan untuk menegakan keadilan dan kebenaran menolong yang tertindas dan membantu yang lemah.
Dengan sifatnya yang santun dan rendah hati, penampilan yang tampan, tubuhnya yang tinggi serta aroma wangi tubuhnya. Wira selalu menjadi incaran para gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deharung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 7. Pernikahan
Lima tahun telah berlalu, semua murid-murid Rsi Bergunatha sudah kembali, Panji, Kadosot dan Jerude sudah kembali dengan membawa pasangannya masing, sementara Panjalu dengan Warsiki sudah menjadi pasangan kekasih demikian juga dengan Permadi dan Mahesa, mereka dinikahkan secara bersamaan dengan pasangannya masing-masing.
Pernikahan berlangsung dengan sangat sederhana namun berlangsung dengan hidmat.
Ritual Pernikahan sudah selesai. Panjalu dengan Warsiki sudah resmi menjadi suami istri, mereka mendekat pada Rsi Bergunatha dan Dewi Nila Candra untuk sujud memberi hormat, pasangan yang lainnya juga mengikuti Panjalu untuk melakukan sujud pada sang Rsi dan istrinya,
Permadi dengan Cempaka, Mahesa dengan Wulan, Panji dengan Seruni, Kadosot dengan Denden Wangi, Jerude dengan Nawang Suci.
Setelah semua selesai memberi hormat pada sang Rsi, mereka bercengkrama menceritakan pengalaman mereka masing-masing selama lima tahun dalam pengembaraannya.
Banyak hal yang mereka ceritakan sambil sesekali diselingi dengan tawa riang diantara mereka. Keesokan harinya mereka mulai melakukan kegiatan seperti biasa, hanya saja sejak semalam mereka mulai pisah kamar mengikuti pasangan mereka masing-masing.
Rsi Bergunatha berencana untuk membuat pemukimannya menjadi Padepokan silat, kemudian sang Rsi memanggil murid-muridnya untuk berkumpul.
"Jika kalian setuju aku berencana membuat pemukiman kita menjadi sebuah Padepokan Silat, agar bisa membimbing anak-anak muda berlatih bela diri serta mengajarkan berbagai hal yang nantinya bermanfaat untuk melindungi diri sendiri, melindungi orang lain bahkan kalau perlu melindungi kerajaan tempat dimana mereka bernaung, dan yang paling penting membangun mental yang baik, teguh memegang kebenaran serta bersifat welas asih dan adil dalam bersikap."
Demikian sang Rsi mengawali pembicaraan diantara mereka,
"Kami setuju saja, sesuai kehendak Guru, agar semakin banyak para pemuda yang bisa menjaga dirinya dan memiliki pengetahuan lebih luas untuk menjalani kehidupan kelak," Panjalu menjawab mewakili rekan-rekannya.
"Baiklah mulai sekarang aku angkat Panjalu menjadi Pemimpin padepokan, kalian semua membantu Panjalu bahu-membahu untuk memajukan padepokan," demikian perintah sang Rsi pada murid-muridnya.
Selanjutnya sang Rsi menyatakan,
"Padepokan Gunung Kembar," itulah nama yang kuberikan pada padepokan ini.
"Ajarkanlah apa yang sudah guru ajarkan pada kalian," kata Sang Rsi.
"Beberapa hari lagi guru akan pergi, selanjutnya setelah kedatanganku guru akan melakukan pertapaan dipuncak gunung kembar bersama istriku, segalanya aku serahkan pada kalian," demikian Rsi Bergunatha memutuskan, murid-murid sang Rsi mengangguk Hidmat tidak ada yang berani membantah.
Disebelah selatan dari Pemukiman Rsi Bergunatha, ada dua gunung yang letaknya berdekatan dengan tinggi yang hampir sama, jaraknya dari pemukiman sekitar empat puluh kilometer.
Oleh Rsi Bergunatha gunung itu diberi nama Gunung Kembar, Rsi Bergunatha sering kepuncak gunung itu untuk mencari tanaman obat, dipuncak gunung sebelah timur beliau membuat pondok untuk istirahat, suasana disana sangat baik untuk latihan Samadi.
"Udara disini sangat bersih serta beraura mistis," gumam Rsi Bergunatha.
Rsi Bergunatha berencana untuk bertapa disini setelah mengantar Wirabuana dan Wiraloka ke Kerajaan Mahayong menemui kakeknya Raja Wideha, "biarlah mereka mengabdi di Kerajaan Mahayong agar bermanfaat pengetahuannya untuk masyarakat luas," itulah yang difikirkan Sang Rsi untuk kedua putranya.
"Dinda besok kita berangkat ke Kerajaan Mahayong, beritahu anak-anak agar berkemas," Kata Rsi Bergunatha pada istrinya, Dewi Nila Candra dengan perasaan yang sangat bahagia bergegas ke kamar anak-anaknya untuk memberi tau rencana keberangkatannya besok ke negeri seberang tempat kerajaan kakeknya berada.
"Dinda sudah lama ingin mengatakan pada Kanda agar kita berkunjung ke Mahayong, mengingat putra-putra kita sudah tumbuh dewasa, sudah mampu untuk menjaga dirinya sendiri,"
"Kanda berencana untuk menyuruh Wirabuana dan Wiraloka untuk mengabdi di kerajaan kakeknya agar bermanfaat pengetahuan yang mereka miliki,"
"Dinda setuju saja pada niat Kanda asal mereka setuju,"
Keesokan harinya Rsi Bergunatha dengan istri dan ketiga putranya berangkat menuju kerajaan Mahayong setelah berpamitan dengan murid-murid nya setelah memberi sedikit wejangan pada mereka semua.
Dengan ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki dalam sekejap mereka sudah sampai di pesisir pantai Desa Pengastulan.
Disebuah tempat yang agak sepi, "Kalian semua masuk dalam dimensi jiwa," kata Sang Rsi, Dewi Nila Candra diikuti putra-putranya masuk kedalam Dimensi jiwanya sang Rsi, kemudian Sang Rsi terbang dengan kecepatan tinggi menuju kerajaan Mahayong.
Dua hari kemudian ditempat yang sepi didekat ibukota kerajaan Mahayong, seorang Pria yang tinggi tegap terlihat berusia 30 tahun bersama wanita muda yang sangat cantik dengan kisaran usia 20 tahun diikuti oleh tiga remaja yang tampan dengan postur tubuh yang juga tinggi tegap bahkan lebih tinggi dari pria didepannya.
Wirabuana tingginya sekitar 186 centimeter, Wiraloka sekitar 186 centimeter, postur tubuh Mahawira yang paling tinggi diantara mereka walau usianya masih sangat remaja namun pertumbuhan badannya sangat bongsor, tinggi Mahawira tidak kurang dari 190 centimeter.
"Salam Rsi, salam Putri," seorang prajurit penjaga gerbang kota memberi salam dengan membungkuk hormat pada rombongan sang Rsi begitu mereka mengenali Rsi Bergunatha dan Dewi Nila Candra memasuki gerbang kota.
Sang Rsi menakupkan kedua tangannya disertai istri dan putra-putranya membalas salam prajurit.
"Sungguh aneh putri dan Penasehat terlihat semakin muda padahal usianya makin bertambah," Kata salah satu prajurit pada temannya saat sang Rsi dan keluarganya sudah melangkah jauh memasuki kota kerajaan,
"Beliau itu orang-orang yang berilmu tinggi diluar kemampuan kita untuk memahaminya," Jawab rekannya.
"Tiga pria gagah yang mengiringinya mungkin putra-putra beliau ," Timpal prajurit lainnya,
"Sangat mungkin ," Sahut prajurit lainnya,
"Berhenti bergunjing ," damprat komandan prajurit jaga pada keempat bawahannya, mereka kembali berjaga di pintu gerbang berdiri tegap.
Di istana kerajaan seorang prajurit istana bergegas melaporkan kedatangan Rsi Bergunatha dan Dewi Nila Candra beserta keluarganya kepada Raja Wideha, demikian juga halnya dengan seorang dayang berlari kecil pergi kekediaman Permaisuri menyampaikan kedatangan sang Putri.
aku mampir nih.
mampir juga di karyaku ya😊😊
aku kirim mawar yahhh
padahal kesemsem tuh pemimpinnya..
ternyata oh ternyata 😂