"Oh My God!! Pasti aku bermimpi, siapa pria tampan itu? Kenapa mukanya mirip sekali dengan aktor idolaku, Luhan?"
"Sebaiknya jaga matamu, Cinta Su!!"
"Doakan saja semoga hatiku tidak goyah, lagipula siapa yang bisa menolak seorang Tuan Muda dari keluarga kaya raya, apalagi wajahnya sangat tampan dan mirip idolaku, Luhan. Bukankah kita sebanding, apalagi banyak yang mengatakan jika aku mirip dengan Jessica Jung!!"
Cinta adalah putri bungsu dari keluarga "Su" sejak kecil dia jatuh cinta pada seniornya yang bernama Steven, namun kedatangan pria tampan dari keluarga Qin menggoyahkan perasaan Cinta untuk sang senior.
Cinta terjerat pesona dan kelembutan si Tuan Muda yang terkenal dingin dan arogan. Mampukah Cinta mempertahankan perasaannya pada Steven, atau justru dia benar-benar berpaling pada Aiden?
Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Paling Tampan
Kedua pria itu berdiri saling berhadapan dengan tatapan sama-sama menusuk. Amarah, emosi, kebencian dan dendam berkobar di kedua mata mereka. Membuat suasana yang awalnya sudah tegang menjadi kian mencekam karena keadaan tersebut.
Pria dalam balutan kemeja putih dan Vest abu-abu itu menahan kepalan tangan yang mengarah padanya. Sedikit remasan membuat pemuda yang 5 tahun lebih muda darinya itu tampak kesakitan.
Tubuh itu terhuyung kebelakang setelah pria berwajah baby face itu melepaskan cengkraman tangannya dengan sedikit menyentak.
"Membuat masalah lagi?! Apa ini ajaran dari ibumu selama ini?!"
"Untuk apa Paman ke enam ikut campur? Lagipula apa yang aku lakukan tidak ada hubungannya denganmu?!"
"Ada, tentu saja!!" Pria itu menyela cepat. Sepasang manik coklatnya mengunci mata hitam milik pemuda itu. "Karena tindakanmu ini mempermalukan keluarga kita!!"
"Jika kau takut nama baik keluarga kita hancur karena ulahku. Gampang saja, kau tinggal menebusku dari penjara. Beres kan!! Lagipula bukan aku yang sepenuhnya bersalah, karena dialah yang memulainya lebih dulu!!" Steven menunjuk temannya yang sedang menatap tajam padanya.
"Untuk apa aku harus membuang-buang uang hanya untuk menebus pembuat onar sepertimu?! Kau bisa meminta bantuan pada Ibumu, karena tanpa aku bertindak pun, dia pasti akan mengeluarkanmu. Dan satu lagi, kembalikan semua uang yang telah kau curi dari kakek!!"
"Kau!!"
"Bawa dia, proses dia secara hukum yang berlaku!!"
"Baik Tuan!!"
Setibanya di pintu cafe, Steven berpapasan dengan Cinta yang hendak memasuki cafe tersebut.
Mereka saling bertukar pandang selama beberapa saat, ini bukan pertama kalinya dia melihat pemuda itu digiring oleh pihak yang berwajib karena membuat onar di tempat umum.
Cinta mendesah berat. Gadis itu menggelengkan kepala, tidak seharusnya dia buta dan jatuh cinta pada orang yang salah.
"Kak Ai.." Cinta melambaikan tangan dan menghampiri seorang pria yang duduk di meja dekat jendela sambil sesekali menoleh ke belakang. "Apa yang terjadi di sini? Kenapa seniorku di giring dan dua orang itu babak belur?" Tanya cinta penasaran.
Orang yang ditanya hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Entah, karena saat aku tiba keadaan di sini sudah kacau. Duduklah, aku sudah memesan makanan untukmu." Ucap Aiden.
"Memangnya makanan apa yang Kak Ai pesan untukku? Bagaimana jika aku~"
"Kau bisa melihatnya, jika tidak sesuai seleramu, kau bisa menukarnya dengan yang lain." Aiden menyela cepat, sebelum Cinta semakin bawel dan banyak bicara. Gadis itu mengangguk.
Setelah menunggu selama beberapa saat Akhirnya pesanan mereka telah datang. Cinta dan Aiden menikmati makan siangnya dengan tenang. Tak ada percakapan, hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang saling bersentuhan.
Sesekali Cinta mengangkat kepalanya dan menatap pria yang duduk berhadapan dengannya. Dia terlihat begitu tenang, wajah tampannya tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar.
Tak bisa Cinta pungkiri jika Aiden adalah pria paling tampan yang pernah dia temui dalam hidupnya, meskipun disisi lain dia terlihat cantik.
"Kenapa kau terus menatapku? Apa ada yang salah di wajahku?" Tanya Aiden saat memergoki Cinta yang sedang menatap padanya.
Gadis itu pun langsung gelagapan, Cinta bingung harus menjawab apa. Otak cerdasnya berpikir keras mencoba mencari jawaban yang tepat.
Dan Cinta semakin gugup karena Aiden yang terus menatapnya dengan penuh selidik. Melihat gadis itu tampak gugup membuat pria didepannya mendengus geli.
Aiden mengusap kepala Cinta dan meminta gadis itu melanjutkan makanya. Cinta pun mengangguk patuh.
-
"Steven!!"
Steven menoleh setelah mendengar suara sang ibu yang memanggil namanya. Wanita itu datang sambil membawa seorang pengacara.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa ditangkap dan ditahan di sini? Apa kau membuat onar lagi?" Tanya wanita itu.
"Bukan aku, tapi si bodoh itu yang memulainya lebih dulu. Dia menghinaku dan merendahkanku!! Aku hanya sedikit memberinya pelajaran, tapi pelayan datang dan menegurku. Aku menghajarnya, tidak tau siapa yang sudah melapor, tiba-tiba polisi datang." Tutur Steven.
"Lalu bagaimana dengan temanmu itu? Apa dia ditangkap juga?"
Steven menggeleng. "Tidak, dia malah mendapatkan perlindungan dari kepolisian karena dia dianggap sebagai korban. Dan apa Mama tau siapa yang aku temui di sana?"
Wanita itu memicingkan matanya lalu menggeleng. "Tentu saja tidak. Memangnya siapa?" Tanya wanita itu.
"Paman ke enam. Parahnya lagi dia menolak untuk membantuku dan malah meminta supaya Stev mengembalikan semua uang itu pada kakek tua itu. Aku benar-benar sangat marah, Ma!!" Steven memukul meja dengan kepalan tangannya.
"Dia benar-benar tidak menganggap kita rupanya. Mentang-mentang Papamu bukan darah murni keluarga mereka. Steven, kau tidak usah cemas, serahkan semuanya pada Mama. Biar Mama yang mengurus semuanya. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh orang lemah seperti Paman ke 6 mu itu?!"
"Memangnya apa rencana Mama?"
"Kau tidak perlu tau, cukup tau beres saja. Kau bersabarlah, Pengacara akan mengurus kepulanganmu. Mama harus pergi sekarang."
"Mama mau kemana?"
"### Ada urusan yang harus Mama selesaikan. Mama pergi dulu."
-
Ckittt...
Aiden mengerem mendadak saat sebuah Van hitam yang sedari tadi mengikuti mobilnya dari belakang, tiba-tiba mendahului kemudian menghadangnya dengan memblokir jalan.
Cinta terlihat sedikit panik, sementara Aiden tampak tenang-tenang saja melihat sedikitnya 7 pria bersenjata menghampiri mobilnya
"Kak Ai, bagaimana ini. Mereka kemari," ucap Cinta setengah panik.
"Aku akan membereskan mereka. Kau tetaplah di dalam mobil dan jangan coba-coba untuk keluar."
"Tapi, Kak Ai, bagaimana kalau mereka sampai melukaimu?"
"Kau tenang saja, aku akan baik-baik saja."
Aiden keluar dari mobilnya dan menghampiri 7 pria yang siap untuk menghajarnya. Dengan tenang pria bermarga Qin tersebut menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku.
Mimik wajahnya tetap terlihat tenang dan tidak menunjukkan kepanikan. Lagipula jika hanya cacing-cacing tanah seperti mereka bukanlah lawan yang sulit baginya. Dan dengan senang hati Aiden akan memberi pelajaran pada mereka semua.
"Maju kalian semua." Pinta Aiden menantang.
Dua orang menyerang Aiden secara bersamaan dari sisi kanan dan kirinya, di susul dua orang lagi yang menyerangnya dari arah depan dan belakang. Aiden di serang dari empat penjuru arah.
Aiden menghindari seringan tersebut dengan cara merunduk, dan dikesempatan itu dia manfaatkan untuk memberikan serangan pada dua dari keempat lawannya dengan memukul telak ulu hatinya.
Dua orang terhuyung sambil memegangi dadanya. Sedangkan dua lainnya melayangkan pukulannya pada Aiden. Dengan gerakan cepat, Aiden menangkis setiap pukulan yang mengarah padanya.
Sejauh ini Aiden hanya menghindar tanpa ada niat untuk membalas. Dia membiarkan lawan terus menyerangnya, tujuannya adalah untuk menguras tenaga mereka. Dan berhasil.
Melihat lawan yang mulai kwalahan menerima serangannya yang bertubi-tubi. Aiden memutuskan untuk mengakhiri perkelahian tak seimbang itu dengan menghabisi mereka semua. Tanpa ada satupun yang dia biarkan tetap hidup.
Dan tanpa mereka membuka suara pun, tentu Aiden mengetahui siapa dalang di balik penyerangan ini. Orang itu sudah terlalu meremehkan dirinya, dan dia sudah mencari masalah dengan orang yang salah.
-
Bersambung.