IG: ana_miauw
Bisa menikah dengan Yudha adalah bukan dari rencana Vita saat itu. Karena Yudha sudah memiliki hati yang lain sebelumnya. Dan atas nama pernikahan yang suci, dia mencoba untuk menerima takdirnya menjadi nomor dua meski dia adalah istri pertama.
Tetapi apa yang Vita rasakan semenjak pernikahan hingga saat ini?
Vita tidak sepakat dengan ketidakadilan yag dibebankan kepadanya karena tak pernah merasa dicintai sedikitpun oleh Yudha. Bahkan Yudha mengatakannya secara terus terang bahwa Vita hanyalah sebuah pelampiasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Untuk Yang Ke Sekian Kali
“Hai, Di, Dena,” sapa Yudha begitu dia keluar dari tengah bersama dengan Vita. “Sudah lama datang? Maaf agak lama, aku baru saja mengangkat telepon di belakang.”
“Ya tidak apa-apa Yud. Kami juga baru duduk,” jawab Jodi. Sepasang suami istri itu tersenyum. Laki-lakinya terlebih dahulu bangkit untuk mengulurkan tangan, disusul istrinya yang juga melakukan hal sama.
“Pengantin baru habis dari mana,” ucapan seperti itu lolos begitu saja dari bibir Yudha sehingga memancing Jodi untuk mengucapkan hal serupa.
“Kau juga sama, pengantin baru. Kita nikah di hari yang sama bukan?”
Yudha memaksakan diri untuk tersenyum lantaran tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia baru menyadari bahwa dirinya telah terjebak dengan perkataannya sendiri.
“Mas Yudha, aku ke belakang dulu, mau ambil minum,” ucap Vita memohon diri. Entah kenapa dia merasa tidak pantas untuk bergabung dengan mereka yang jelas-jelas berbeda kasta dengannya. Bahkan mungkin dari segi obrolan pun tidak akan menyambung. Terkadang memikirkan hal ini membuatnya mengecil dan rendah diri. Ini belum seberapa dibandingkan dengan keluarga Yudha yang lainnya, yang mungkin lebih elegan daripada mereka.
“Ya, terima kasih Vita,” jawab Yudha mengangguk sebelum akhirnya Jodi menyela.
“Jangan repot-repot Mbak. Seadanya saja.”
Vita hanya tersenyum, kemudian menuju ke belakang. Dia merebus air dan menyiapkan semua yang diperlukan untuk membuat teh. Lima menit kemudian, Vita kembali dengan membawa nampan dan beberapa camilan. Namun pada saat ia akan menuju ke ruang tamu, langkahnya terhenti saat ia telinganya mendengarkan sesuatu.
“Maaf sebelumnya aku datang tiba-tiba tanpa memberimu kabar terlebih dahulu. Tapi tujuanku ke sini tak lain adalah untuk menyampaikan ini padamu, yakni tentang ... Rahma.”
“Kita bisa bicarakan ini lain waktu,” jawab Yudha.
“Tidak. Kamu harus tahu sekarang Yudha. Rahma berulang kali menanyakanmu di telepon. Dia sangat khawatir denganmu, kenapa kamu tidak kunjung menghubunginya?”
Suara mereka memang terdengar lirih. Namun masih jelas terdengar di telinga Vita karena ruang tengah dan ruang tamu tak berdiri satu pun penghalang atau penyekat.
“Aku sering mendengar Rahma menangis, tega-teganya kamu seperti ini,” sambung Jodi lagi.
Yudha langsung menyela begitu ucapan Jodi berhenti. “Biar itu jadi urusanku, Di. Kamu tidak tahu apa-apa.”
“Atau kalian benar-benar akan melanjutkan pernikahan ini? Bagaimana dengan Rahma, Yud?”
“Tenang saja, aku pun memikirkannya.”
“Kamu jangan begini Yudha. Tidak ingatkah kamu dulu? Hampir setiap hari kamu selalu mengirim surat ke asrama putri dan menemuinya secara diam-diam hanya demi melepas rindu. Aku tahu betapa kerasnya perjuanganmu untuk mendapatkan wanita pujaanmu. Bahkan kamu rela bersaing sampai berkelahi dengan temanmu yang lain meski harus berakhir terkena hukuman. Semua itu demi siapa Yud? Demi siapa? Sekarang, saat semua harapan itu sudah hampir tiba, kamu malah mengabaikannya. Laki-laki macam apa kamu?”
“Dena, perintahkan suamimu untuk diam,” kata Yudha sudah merasa tidak nyaman membahas hal demikian.
Perdebatan yang terjadi itu menciptakan ketegangan. Mereka bahkan telah melupakan sesuatu; bagaimana perasaan Vita jika mendengarkan pembicaraan ini?
“Mas!” satu kata keluar dari bibir Dena sebagai sebuah peringatan untuk suaminya.
“Dia itu harus diingatkan. Kalau tidak, dia bisa salah jalan,” kata Jodi tidak mau dihentikan. “Atau jangan-jangan, kamu lebih suka sama daun yang lebih muda?”
“Bukan urusanmu, Di. Tolong diam. Bicaramu salah tempat. Bagaimana kalau dia mendengarnya? Kamu bisa menyakitinya.”
Tak butuh lama untuk Jodi mengerti siapa ‘dia’ yang Yudha maksud. Sehingga ia menjawab dengan agak kesal. “Alah, tahu apa kamu tentang menyakiti. Lalu bagaimana dengan Rahma yang sudah kamu sakiti, ha?”
“Mas Jodi cukup!” Dena kembali menyeru agar suaminya lekas terdiam. Namun pria itu rupanya masih belum puas terus mengungkit masa lalu Yudha dengan gamblang.
Merasa pilu, Vita mengurungkan niatnya untuk menghidangkan teh di sana. Gadis itu lebih memilih menyibukkan diri di belakang tanpa peduli teh itu lagi.
Beberapa puluh menit berlalu. Jodi dan istrinya mencukupkan pertemuan ini. Mereka berpamitan untuk pulang.
“Udah sore, Mas Yud. Masih ada tempat yang harus kita kunjungi,” kata Dena memberikan alasan.
“Baiklah kalau kalian mau pergi sekarang. Hati-hati dijalan,” ujar Yudha menanggapi. Namun pria itu baru menyadari bahwa di atas meja belum ada satu gelas pun yang terhidang. “Ya Tuhan, kalian belum dibuatkan minum rupanya. Sebentar, aku panggilkan Vita.”
“Tidak usah, tidak apa-apa,” kata Dena menjawab. “Kami juga belum terlalu haus kok.”
Jodi beranjak berdiri dan mendahului istrinya keluar. “Sudah, Yud. Tidak usah kamu panggil, mungkin dia sedang sibuk. Lagi pula aku buru-buru.”
“Ya sudah.”
Sesaat setelah mereka pergi, Yudha mencari-cari istrinya. Langkahnya terhenti di ruang tengah ketika ia mendapati tiga gelas teh yang sudah hampir dingin. Berarti Vita telah membuatkannya untuk mereka? Tetapi kenapa tidak dihidangkannya keluar?
Kalau malu, setidaknya dia bisa memanggil dirinya agar ia bisa yang mengantarkannya, pikir Yudha. Mendadak perasaan Yudha menjadi tidak enak. Atau dia mendengar semua pembicaraan mereka tadi yang menjurus ke ... “Vita!”
Gegas Yudha memanggil dan mencari ke seluruh ruangan. Dia sempat panik karena Vita tak berada di salah satu ruangan yang ia cari. Tetapi kini senyumnya mengukir manakala langkahnya menuju ke dapur. Yudha mendapati gadis itu sedang berada di sana, tengah memeras santan.
“Kalau dari tadi kamu di sini, kenapa dipanggil diam saja?” tanya Yudha.
“Aku sedang sibuk,” jawabnya singkat. Vita terlihat sengaja menunjukkan kesibukannya pada saat mengetahui suaminya mendekat.
Yudha tahu perempuan itu begitu marah atas ucapan temannya yang tidak berperasaan. Tetapi apalah yang bisa dilakukannya. Tidak mungkin dia membungkam mulut Jodi karena hal itu malah bisa menimbulkan perkelahian.
“Vita. Kamu marah?”
“Tidak, untuk apa aku marah padamu.”
Yudha paham sikap istrinya yang sengaja menghindari tatapannya, tidak seperti biasanya.
Wajah Yudha pucat mengamati setiap gerakan istrinya yang sibuk memeras santan. Dia tidak tahu seperti apa caranya bersikap atau menegur Vita dalam keadaan demikian. Dia merasa amat bersalah dan begitu tersiksa melihat Vita mengacuhkannya.
‘Sudah berapa banyak kesalahanku padamu?’
Tiba-tiba Yudha menghampiri Vita dan menangkap salah satu tangannya yang sedang berlumuran ampas santan itu. “Maaf Vita ... maaf. Kamu boleh memukulku atau menghukumku dengan cara apa saja, asal jangan mengacuhkanku seperti ini.” Pria itu berkata sambil menciumi tangan istrinya.
Vita diam saja. Dia membiarkan saja Yudha bertindak semaunya. Dia hanya menahan diri agar perasaannya tidak meledak. Rasanya lelah sekali menghadapi kenyataan hidup ini.
Setelah beberapa lama Vita membiarkan Yudha bersikap sesuka hati, Vita mencoba melepaskan tangannya dari genggaman suaminya.
“Pekerjaanku belum selesai,” kata Vita yang akhirnya membuat Yudha berhenti dari tindakan konyol yang sedang dilakukannya.
Tetapi melihat pipi Yudha yang berlepotan ampas santan kelapa membuat Vita ingin tertawa. Seketika amarah dan kedongkolannya lenyap begitu saja.
Yudha mengamati wajah istrinya yang terlihat sedang menahan tawa. “Kamu menertawakanku?” tanyanya keheranan.
Vita tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipit dan giginya yang putih bersih. “Tidak.”
“Jangan berbohong. Kamu mencurigakan.”
Vita menunjukkan tangannya. “Mas Yudha lihat sedang apa aku sekarang?”
“Memeras santan.”
“Ya, karena itulah wajahmu penuh ampas kelapa,” kata Vita memperjelas.
Yudha meraba-raba wajahnya sendiri yang tanpa ia sadari banyak sekali santan kelapa menempel di sana.
“Oh iya baru kuingat, tadi aku mencium tanganmu, ya.”
Di saat itulah keduanya tergelak bersamaan. Suasana yang tadinya sempat membeku kini kembali mencair.
Satu hari itu berlalu dengan penuh suka cita. Tak ingin melewatkan manisnya memadu kasih, mereka pun mengulang hal yang sama seperti malam kemarin. Masih diselubungi rasa penasaran, mereka juga mencoba hal-hal baru yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.
Vita, seorang perempuan yang sejatinya tidak ingin dimadu oleh suaminya—berusaha menjadi istri yang terbaik. Memberikan apa pun yang Yudha perlukan sebisa dan semampunya. Agar kelak, pria itu berubah pikiran dan hanya memiliki dirinya saja tanpa ada wanita lain yang masuk ke dalam pernikahan mereka. Demi Tuhan, Vita meyakini dia tidak akan sanggup hidup dalam kungkungan penderitaan yang satu itu!
***
To be continued.
Terima kasih untuk ketiga orang ini. Peyuk onlen.😘
bhkn km tak punya hati.... dlu sll membandingkn vita dgn rahma...
km sll memuji rahma... bhkn km bilang hnya rahma yg bisa mmberimu kdamaian.... dan km mngtakn hnya rahma istri terbaikmu....
mkanya yud.... jgn trtipu dgn anggunnya cover luaran.... tpi nyatanya busuk dalamnya...