Setelah sekian lama Nathan berusaha menghindari Nadira—gadis yang melukai hatinya. Namun, pada akhirnya mereka dipertemukan kembali dalam sebuah hubungan kerjasama yang terjalin antara Nathan dan Rendra yang merupakan atasan Nadira di Alfa Group.
Sebuah kecelakaan yang dialami Davin dan Aluna dan menyebabkan mereka koma, membuat Nathan akhirnya menikahi Nadira demi untuk melindungi gadis itu dari bahaya yang mengancam keluarga Alexander.
Siapakah sebenarnya yang mengintai nyawa seluruh keluarga Alexander? Mampukah Nona Muda Alexander meluluhkan hati Nathan? Atau justru ada cinta lain yang hadir di antara mereka?
Simak kisahnya di sini.
Jangan lupa follow akun sosmed Othor
Fb : Rita Anggraeni (Tatha)
IG : @tathabeo
Terima kasih dan selamat membaca gaes
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Tatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
Mendengar suara dehaman, Rendra segera menjauhkan tubuhnya dari Nadira. Dia berbalik dan melihat Mario yang sedang berdiri bersama Nathan dan Jasmin. Sementara Nadira menatap Nathan yang memalingkan wajahnya dengan raut wajah yang sangat datar.
"Maaf saya mengganggu Anda, Tuan." Mario sedikit menunduk.
"Tidak apa, Mar. Selamat datang di kantor saya, Tuan Jonathan Saputra dan Nona Jasmin." Rendra berjalan mendekat lalu menjabat tangan Nathan dan Jasmin bergantian. "El, kamu tidak menyambut tamu kita?" tanya Rendra menyadarkan Nadira.
Gadis itu bangkit berdiri lalu berjalan mendekat. Nadira menjabat Jasmin, tapi saat mengulurkan tangan ke arah Nathan. Lelaki itu justru menangkupkan kedua tangan di dada.
"Maaf, saya tidak bersentuhan dengan sembarang wanita," ucap Nathan dibuat sesopan mungkin. Nadira menarik kembali tangannya yang menggantung di udara. Hatinya terasa begitu sakit, bahkan sangat sakit.
"Tidak apa. Kalau begitu silakan duduk," suruh Nadira. Dia berusaha keras menahan perasaan yang begitu bergejolak di dada.
Rendra menyuruh Nathan dan Jasmin duduk di sofa agar lebih nyaman membahas kerjasama mereka. Selama pembahasan berlangsung, Nathan tidak menatap Nadira sama sekali, sedangkan gadis itu hanya terdiam dengan hati yang bergemuruh saat melihat kedekatan Nathan dan Jasmin. Bahkan Nathan seolah sengaja memanasi hati Nadira dengan memberi perhatian kepada Jasmin.
***
Cacha baru saja pulang bekerja dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah. Namun, ketika masuk ke apartemen, ia terkejut melihat Nathan sedang terbaring di sofa dengan botol minuman ber-alkohol yang telah kosong. Bahkan bau minuman itu menguar memenuhi ruangan.
"Kak! Kak Nathan!" panggil Cacha. Dia menepuk pipi Nathan berkali-kali untuk menyadarkannya.
"Kenapa kamu harus kembali hadir bahkan sangat dekat denganku? Padahal aku sudah berusaha keras menjauh darimu," celoteh Nathan di tengah ketidaksadarannya.
Kedua mata Cacha berkaca-kaca melihat Nathan yang seperti itu karena dia tahu bagaimana perjuangan kakaknya menghapus perasaannya untuk Nadira. Dengan sekuat tenaga, Cacha memapah tubuh Nathan masuk ke kamar dan merebahkannya di atas kasur.
"Kasihan sekali kamu, Kak. Semoga ada jalan terbaik untuk kalian berdua." Cacha mengusap airmata yang mengalir tanpa sengaja. Kemudian, dia berjalan keluar dari unit apartemennya. Namun, baru saja keluar dari pintu, Cacha heran melihat Nadira yang tergesa keluar apartemen dengan membawa koper.
"Nad, kamu kenapa?" Cacha semakin penasaran saat melihat bekas airmata di wajah Nadira.
"Cha, aku harus kembali ke Jakarta sekarang. Daddy dan Mommy kecelakaan," sahut Nadira. Suaranya terdengar serak, khas orang menangis.
"Apa?" pekik Cacha tidak percaya. "Terus kamu pulang dengan siapa?" tanya Cacha.
"Aku akan pulang dengan Bi. Dia sudah menunggu di bawah." Nadira mengusap airmata yang kembali menetes dari sudut matanya.
"Ayo ku antar kamu sampai bawah. Aku akan menyusulmu nanti." Cacha menggandeng tangan Nadira dan dia merasakan tubuh sahabatnya yang gemetar.
Sesampainya di luar apartemen, mereka segera mendekati mobil Febian. Wajah Febian pun terlihat tak kalah khawatirnya. Nadira segera masuk ke mobil dan duduk di samping Febian.
"Bi, hati-hatilah. Aku akan menyusul nanti," ucap Cacha. Febian mengangguk lalu melajukan mobilnya meninggalkan area apartemen.
Setelah mobil Febian tidak terlihat lagi, Cacha melangkah lebar untuk kembali ke apartemennya. Baru saja dirinya masuk, ponsel Nathan terdengar berdering memenuhi ruangan. Cacha segera mengambil ponsel itu dan melihat nama ayahnya tertera di layar.
"Hallo, Yah," sapa Cacha begitu panggilan sudah terhubung.
"Cha, di mana Nathan? Kenapa kamu yang menerima panggilan Ayah?" Cacha bisa mendengar suara Johan yang terdengar begitu berat.
"Kak Nathan sedang tidur, sepertinya kakak kelelahan karena seharian ini sibuk mengurusi kerjasama dengan Alfa Group," sahut Cacha beralasan.
"Bangunkan kakakmu dan harus pulang hari ini juga. Katakan kalau Tuan Davin dan Nyonya Aluna kecelakaan."
"Nanti Cacha bangunin. Yah, apa Tuan Davin dan aunty Aluna baik-baik saja?" tanya Cacha dengan suara lirih.
"Semoga saja. Pokoknya kamu dan Nathan harus pulang saat ini juga. Ada hal penting yang harus Ayah bicarakan dengan kakakmu," kata Johan.
"Baiklah." Panggilan itu pun terputus begitu saja. Cacha kembali meletakkan ponsel Nathan di atas meja. Kemudian berjalan menuju ke kamar Nathan untuk menyadarkan kakaknya.
______________________________________
Bagaimana jempol kalian? Aman?
Hayukk, jangan lupa tekan like, kasih komentar dan hadiah. Sekutum mawar juga boleh. Mau kasih vote juga boleh banget. Masukan ke favorit juga ya 😂
Ish, Othor kemaruk ya 😅😅
Selamat pagi gaes
Salam sayang dari Othor Kalem versi Sendiri**