ALVINA ....
Itu namaku. Gadis berumur 17tahun baru lulus SMA. Aku yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita berhati mulia bernama Ardhina Devi. Wanita yang rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk membesarkanku, mengorbankan kebahagiaannya demi merawatku dan merelakan cintanya untuk menyayangiku.
Hidupku berubah setelah kepergiannya, ditinggal untuk selamanya oleh satu-satunya orang yang aku sayangi, membuatku seperti kehilangan sebagian diriku.
Ini bukan kisah tentang anak angkat yang mencari siapa dan darimana dia sebenarnya. Tapi ini tentang diriku dan cintaku.
Maaf, jika ada kesamaan nama, karakter dan penggambaran tokoh yang aku ambil. Semua hanya buat pelengkap saja. Semoga suka dan menarik kalian baca sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•Rumah Sakit I •
"Alvi tunggu di luar ya Kak. Yang kuat ya, buat Alvi." Kak Dhina hanya tersenyum pahit. Aku kecup kening, kedua pipi, lalu bibir kak Dhina untuk menyemangatinya. Aku keluar dari ruang dialisis (cuci darah). Langkahku menuju kantin rumah sakit.
"Al ...." Suara cowok memanggilku, langkahku terhenti. Seperti suara Fathir, tapi saat aku menoleh, nggak ada siapa-siapa.
"Al ...." Lagi. Aku celingukan, nggak ada siapa-siapa.
Aku kenapa? Apa yang terjadi padaku?
"Hei Al ...." Kali ini lebih keras, suaranya terdengar jelas. Aku tutup telinga dan mataku. Ya Allah, dia mulai mengganggu hidupku. Saat aku rasa ada yang memegang pergelangan tanganku, aku buka mata.
"Apa ini? Aku benar-benar nggak waras?" Fathir di depanku. Aku mulai nggak bisa bedakan antara mimpi dan nyata.
"Apa?" Suaranya membuatku tersentak. Apa dia nyata? Aku gigit tangannya yang menggenggam tanganku.
"Aduh! Apa yang kamu lakukan?" Pekiknya. Dia nyata. Mendadak dadaku berdetak kencang. Aku salah tingkah.
"Kenapa menggigit ku?" Tanyanya heran.
"Nggak." Aku berusaha terlihat biasa, padahal aku sendiri sampai nggak bisa bayangin gimana perasaanku.
"Kamu sakit?" Fathir tempelkan telapak tangannya di keningku.
"Nggak." Aku berusaha mengendalikan diriku sendiri agar tak keliatan aneh.
"Aku nganter Kak Dhina cuci darah, kamu ngapain disini?" Lanjutku.
"Nganterin Mami sama Ummi besuk sodara Mami."
"Kenapa kamu nggak bilang, aku kan bisa mengantarmu?" Dia raih tanganku dan menggenggam keduanya.
"Terima kasih. Aku sudah biasa kok." Aku berusaha menarik tanganku dari genggamannya. Dia justru meremas tanganku, nggak mau melepaskan tanganku.
"Jangan kayak gini. Ini Rumah Sakit, kita jadi pusat perhatian," ucapku.
"Biarin saja, kita juga nggak berhak ngelarang." Fathir santai.
"Fathir ...." Suara teriak wanita memanggil Fathir. Spontan aku tarik kedua tanganku. Terlalu kuat aku tarik tanganku, terhempas dari tangan Fathir dan terbentur tembok. Rasanya sakit banget.
"Aduh," seruku karena sakit. Fathir meraih tanganku lagi. Wajahnya terlihat khawatir.
"Kamu nggak apa-apa? Sakit banget ya?" Dia terlihat cemas. Aku menggeleng dan menarik tanganku lagi.
"Siapa dia Fathir?" Sekali lagi suara wanita itu mengagetkanku. Dia melihatku dari atas ke bawah lalu ke atas lagi.
"Mami membuatnya kaget. Dia Alvi Mi ...." Aku tersenyum semanis mungkin. Wanita cantik berhijab ini Maminya Fathir. Aku julurkan tanganku, meskipun tangannya menyambut tanganku, Mami Fathir melempar tatapan tidak suka. Tapi tetap aku cium tangannya.
"Dia teman?" Tanya Mami Fathir. Dan Fathir menjawab dengan gelengan kepala. Mami Fathir mengangkat kedua alis tebalnya. Aku juga heran kenapa Fathir gelengkan kepalanya? Jawaban apa yang dia siapkan?
"Lalu?" Tanya Mami Fathir menebus keheranannya
"Tante saya pamit dulu. Saya ninggalin kakak saya ...."
"Buat ketemu Fathir?" Belum selesai aku ngomong, Mami Fathir udah memotong kalimatku. Aku jadi ngerasa bodoh. Fathir menahan tawanya melihat ekspresi wajahku.
"Kakaknya sakit Mi. Dan dia sedang mengantar kakaknya Mi. Kebetulan kami ketemu." Fathir menjelaskan.
"Ya sudah, Mami sama Ummi nyariin kamu, ayo pulang!"
"Iya, Mami ma Ummi tunggu di mobil aja dulu. Urusanku belum selesai dengannya." Maminya Fathir melirik ke arahku.
Urusan? Urusan apa? Nggak ada yang penting sampai jadi urusan.
"Jangan lama-lama ya ...." Fathir ngangguk.
Sebelum pergi Maminya Fathir melirik ke arahku, aku tersenyum sambil sedikit membungkukkan badanku.
Aku lanjutkan niatku ke kantin. Fathir membuntutiku.
"Sarapan bareng ya Al ...." Dia menjajari langkah ku.
"Lain kali saja." Aku ambil dua botol air mineral sama beberapa jajanan.
"Berapa buk?" Aku sodorkan belanjaanku ke Ibu penjaga kantin.
"Sepuluh ribu mbak ...."
"Ini buk." Fathir menjulurkan uang dua puluh ribuan.
"Makasih." Aku nggak mau mempeributkan ini.
"Mas, kembaliannya." teriak Ibu kantin.
"Ambil saja buk ...." balas Fathir.
"Al, please! Sebentar saja . pm..." Ucapnya memelas. Aku berhenti.
"Aku mohon jangan seperti ini! Ini rumah sakit, lihatlah semua orang memperhatikan kita."
"Makanya, dengerin aku, jangan berusaha menghindar dariku!" Nada bicaranya mulai meninggi. Dia remas lengan atasku, dia memaksaku melihat ke arahnya.
"Dengar, jika kamu nggak suka aku perhatian ke kamu, aku nunjukin cinta aku ke kamu, aku nggak papa. Tapi jangan cuekin aku seperti ini! Selama ini belum pernah ada yang nyuekin aku seperti yang kamu lakukan ke aku!"
Dia benar-benar marah. Aku bisa merasakan dari remasan tangannya yang seakan membuat darahku berhenti mengalir.
"Lepas Fath ...." Dia mendengus, melepasku begitu saja lalu pergi.
Kenapa dia begitu marah? Apa aku berlebihan?
#######
HBD 😘😘🎉🎉🎂🎂🎁🎁🦀♋🦀♋🌷🌷💜💜😂😂
Welcome Cancer ♋🦀♋HBD Author 🎉🎉🎉🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎂🎂🎂🎉🎉🎁🎁🎁
HBD 🎂🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎁♋♋♋♋♥️♥️♥️♥️🦀🦀🦀🦀💜💜💜💜🌷🌷🌷🌷🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎉🎉🎉🎉
HBD
🎂🎂🎂💜💜💜♋♋♋🦀🦀🦀
🎂🎂🎂♥️♥️♥️🎁🎁🎁🌷🌷🌷
HBD ♋♋♋💜💜💜🎁🎁🎁♥️♥️♥️