NovelToon NovelToon
Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu

Status: tamat
Genre:Komedi / Petualangan / Peningkatan diri -peningkatan kemmapuan / Murid Genius / Chicklit / Tamat
Popularitas:769.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Alma Fatara memiliki kisah masa bayi nan kelam. Kelam karena ia dibuang ke laut luas dan kelam karena belum diketahui ia anak siapa. Anak manusia atau anak ikan.

Setelah menuntaskan masa bergurunya di bawah asuhan Pemancing Roh dan Pangeran Kumbang Genit, Alma Fatara memulai perjalanan keduanya, yaitu pergi mencari orangtua kandungnya dengan hanya bermodal sebuah gelang emas.

Pusaka legenda Bola Hitam yang menjadi miliknya, justru memancing kedatangan orang-orang sakti untuk merebutnya, menciptakan ancaman kematian berkali-kali di dalam perjalanannya.

Kali ini, Alma yang dijuluki Dewi Dua Gigi, didampingi oleh lima sahabatnya yang setia dan kocak. Meski perjalanan mereka penuh bahaya dan maut, tetapi tawa dan bahagia melimpah dalam hidup mereka.

Kejutan besar menanti Alma saat ia akan bertemu dengan kedua orangtuanya. Siapkan diri Anda untuk terkejut dan tertawa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pete Emas 2: Julukan Pendekar Iwaklelet

*Petaka Telaga Emas (Pete Emas)*

Dua tahun kembali berlalu, setelah Alma Fatara pulang dari misinya membantu Ratu Warna Mekararum.

Setelah dua tahun masa berguru lanjutan itulah, Alma dianggap telah lulus dalam berguru kepada Wiwi Kunai Pemancing Roh dan Garudi Pangeran Kumbang Genit.

Meski tidak semua ilmu kedua gurunya ia warisi, tetapi ia sudah dianggap sangat layak untuk menjelajah dunia persilatan sampai manapun.

Dua tahun lamanya membuat Alma Fatara menjelma menjadi seorang gadis yang semakin sempurna. Parasnya cantik jelita, seolah tanpa cela. Rambutnya yang hitam panjang sepinggang dibiarkan terurai lurus dengan belahan tengah yang rapi, sampai-sampai jalan tol kutunya terlihat jelas berwarna putih.

Alma pun memiliki bentuk tubuh yang ideal dengan lekukan pinggang dan pinggul yang aduhai. Perut rata tidak gendut atau berlemak. Untuk ukuran dada pun sangat menggoda kaum lelaki. Namun, Alma Fatara mengurangi kesan seronok tubuhnya dengan mengenakan pakaian warna serba hitam, dilapisi oleh jubah hitam berbahan tebal. Bahkan pada bagian dada baju di beri hiasan rumbai-rumbai kain. Leher baju pun mencekik di lehernya yang putih indah.

Alma Fatara memiliki tinggi tubuh yang sedang.

Ia melangkah meninggalkan kawasan Sungai Darah Roh, sungai yang mengalir tidak jauh dari kediaman Wiwi Kunai dan Garudi. Sebelum pergi untuk mencari ibunya atau kedua orangtuanya, Alma berniat lebih dulu pulang mudik ke Desa Iwaklelet. Ia harus izin dulu kepada kedua orangtua angkatnya.

“Almaaa!”

Tiba-tiba terdengar panggilan suara wanita dari arah belakang. Alma Fatara cepat menengok ke belakang.

“Hahahak …!” tawa Alma terbahak, memperlihatkan gigi depannya yang ompong dua biji, membuatnya terlihat sangat lucu jika tertawa.

Dilihatnya empat orang sedang berlari datang kepadanya.

Orang pertama adalah seorang wanita muda gemuk berlipat dan empuk. Semua anggota tubuhnya terlihat empuk, dari kedua pipi hingga kedua kakinya. Meski ia memiliki kulit yang agak hitam, tetapi tetap saja wajahnya terlihat menggemaskan untuk dicubit atau digigit. Wanita “seksi” berpakaian warna kuning itu usianya sedikit lebih tua dari Alma Fatara. Ia adalah Anjengan, putri kandung dari Slamet Lara dan Muniwengi, alias kakak angkat Alma Fatara. Ia juga merupakan musuh bebuyutannya dari masa kecil sampai kini karena selalu bertengkar.

Orang kedua adalah gadis cantik setengah rasa. Paras dan penampilannya cantik, tapi tidak begitu cantik. Namun, dia juga tidak bisa disebut jelek, karena di wajahnya masih ada aura kecantikan. Dibandingkan Alma dan Anjengan, ia lebih suka berbedak dandan dan bergincu merah. Rambutnya yang sebahu dihiasi dengan jepit rambut yang indah. Ia mengenakan pakaian merah terang. Gadis bertubuh indah itu bernama Gagap Ayu. Namanya ada “Gagap” karena dia memang gagap dalam berbicara.

Orang ketiga adalah yang paling tampan di antara mereka, tetapi sayang ketampanannya harus sedikit terkurangi oleh kejulingan matanya. Tubuhnya proporsional sebagai seorang pemuda gagah berotot. Rambutnya gondrong sebahu. Kepalanya diikat dengan kain warna putih, sewarna dengan warna bajunya. Ia bercelana warna biru gelap. Si tampan bermata juling itu bernama Juling Jitu.

Orang terakhir bernama Iwak Ngasin, seorang pemuda kurus tinggi, tapi berotot keras. Ia mengenakan baju warna cokelat dan celana warna putih. Rambutnya pendek seperti lelaki zaman moderen.

Mereka semua adalah putra Desa Iwaklelet. Mereka semua adalah sahabat Alma sejak kecil hingga dewasa.

Selain Alma, mereka semua baru berguru kepada Wiwik Kunai dan Garudi selama dua tahun lebih sedikit. Namun, keempat sahabat Alma itu lebih banyak dididik oleh Garudi karena Wiwi Kunai sibuk mengurus dua anaknya, buah hasil dari pernikahannya dengan Garudi.

“Hahaha …!” Keempat sahabat Alma itu datang berlari sambil tertawa-tawa.

Kedatangan mereka berempat mengejutkan Alma, pasalnya masa berguru mereka seharusnya masih panjang.

“Kalian kabur?” tanya Alma.

“Ka-ka-ka ….”

“Kawin?” terka Alma memotong perkataan Gagap Ayu.

“Ka-ka-kabur jidatmu!” maki Gagap Ayu.

“Hahaha!” tawa Alma, tetap tertawa meski dimaki.

“Kami dapat izin dari Guru untuk ikut serta bersamamu keluyuran,” jawab Anjengan.

“Kalian yakin?” tanya Alma terkejut.

“Kenapa tidak yakin? Kepala Desa Iwakculas yang hanya punya uang bisa pulang dengan selamat ikut bersamamu. Apalagi kami yang punya kesaktian,” kata Iwak Ngasin.

“Baik. Tapi kita pulang dulu ke desa sebelum berangkat,” kata Alma.

“Ayo be-be-berangkaaat!” teriak Gagap Ayu seperti tukang ojek pengkolan yang ada di dalam sinetron.

“Ayo berangkat, Cantik!” ajak Alma pula sambil merangkul bahu Gagap Ayu dengan tangan kirinya.

Tuk!

“Jangan mulai!” hardik Anjengan sambil menyepak bokong Alma dengan sepakan pelan.

“Hahaha!” Alma hanya tertawa sambil sedikit memajukan bawa perutnya saat sepakan datang.

“Kau pikir hanya kalian berdua yang cantik?” gerutu Anjengan.

“Tentu. Kalau Kak Anjengan itu imut,” jawab Alma sambil mencubit pipi kiri Anjengan.

“Aku itu cantik imut, bukan imut saja!” tandas Anjengan.

“Hahaha!” tawa Iwak Ngasin dan Juling Jitu mendengar klaim Anjengan.

“Kau memang cantik dan imut, pantas menjadi Dewi Laut. Hahaha!” kata Iwak Ngasin.

“Boah! Ide cemerlang, Ngasin. Aku tidak sangka kau memiliki otak selicin cumi-cumi!” puji Anjengan penuh antusias. “Aku akan menjuluki diriku, Dewi Laut.”

“Hahahak …!” Tertawalah mereka selain Anjengan.

“Hei hei hei! Apanya yang lucu?” tanya Anjengan heran.

“Anjeng! Kita berempat itu masih pendekar tingkat kelomang, tenaga dalam kita baru bisa memecah batu apung. Nanti kau bisa kurus kalau memakai julukan itu karena keberatan beban!” tandas Juling Jitu.

“Be-be-be ….”

“Beruk?” terka Iwak Ngasin memotong kata-kata Gagap Ayu.

“Hihihi …!” Gagap Ayu justru tertawa kencang. Lalu katanya kepada Iwak Ngasin, “Kau yang be-be-beruk!”

“Hahahak …!” tawa mereka bersama-sama, termasuk Iwak Ngasin sendiri.

Mereka terus berjalan sambil berkelakar dan salaing mengintimidasi secara verbal. Itu sudah biasa dan menjadi gaya gaul mereka.

“Jika Alma yang menyandang nama Dewi Laut, pantas. Kesaktian sudah pasti, ilmu renangnya bahkan melebihi ikan lompat-lompat (lumba-lumba),” kata Juling Jitu.

“Alma sudah punya julukan Dewi Dua Gigi Yang Hilang,” debat Anjengan.

“Hahahak …!” tawa Alma, memperlihatkan gusi gundulnya sebanyak dua kapling.

“Jadi dia sudah tidak boleh ganti judul. Pokoknya Dewi Laut adalah julukanku!” tegas Anjengan. “Akan aku buktikan bahwa aku tidak akan jadi kurus jika menyandang gelar itu.”

“Aku setuju jika Kak Anjengan menyandang julukan itu. Kalian bertiga juga boleh-boleh saja buat nama persilatan. Nanti, sepulang dari perjalanan, baru minta pengakuan dari Guru Wiwi dan Guru Garudi,” ujar Alma Fatara.

“Setuju. Tunggu, aku berpikir dulu untuk cari nama julukan yang terkesan akan menggetarkan telinga lawan jika mendengarnya,” kata Iwak Ngasin.

Wuut!

“Anjengan!” pekik Iwak Ngasin terkejut sambil melempar tubuhnya ke samping, ketika kaki berlemak Anjengan mengibas cepat di udara hendak menjangkau wajah “tampan” miliknya.

“Tadi kau menertawakanku, giliran Alma sepakat, justru kau yang paling bersemangat!” rutuk Anjengan.

“Hahaha!” Iwak Ngasin yang mendadak emosi jadi berubah emoji tertawa.

Alma hanya tertawa melihat perseteruan para sahabat dan saudara seperguruannya itu.

“Aku akan memakai julukan Pendekar Tampan Iwaklelet,” kata Juling Jitu. “Bagaimana?”

“Kau ya-ya-yakin, Ju-ju-juling?” tanya Gagap Ayu.

“Iya, aku yakin. Karena terlalu cintanya aku kepada desa kelahiranku, jadi aku sematkan namanya pada julukanku,” kilah Juling Jitu sambil matanya melirik Alma, padahal sebenarnya ia melirik Gagap Ayu.

“Aku akan memakai julukan Pendekar Ombak Hitam dengan jurus andalan Ombak Hitam,” kata Iwak Ngasin bangga. Dia memang memiliki ilmu bernama Ombak Hitam yang diturunkan oleh Garudi, meski tingkatnya masih terbilang menengah. “Ombak itu biasanya berwarna alami. Tapi kalau musuh membayangkan ombak besar warnanya hitam, telinganya akan ciut.”

“Hahaha! Ngasin, di mana-mana dalam pertarungan, yang ciut itu nyali, bukan telinga,” kata Alma yang didahului tawanya.

“Aku tetap memakai julukan Dewi Laut!” tandas Anjengan.

“Nama julukanmu apa, Ayu?” tanya Juling Jitu.

“Pu-pu-putri Ti-ti-tinju Karang,” jawab Gagap Ayu.

“Kau memilih julukan Putri Tinju Karang karena kau memiliki ilmu andalan Tinju Karang Baja?” terka Alma.

“Be-be-be ….”

“Beluuut!” teriak Anjengan, Iwak Ngasin dan Juling Jitu bersamaan, menerka calon kata yang akan disebut oleh Gagap Ayu.

“Bu-bu-bukaaan! Be-be-betuuul!” ralat Gagap Ayu kesal.

“Hahaha …!” tawa mereka bersama.

Selain Alma Fatara, keempat anak muda itu memang sengaja diberi ilmu kesaktian berbeda-beda oleh Garudi, agar tidak seragam dan segaram. Mereka memiliki ilmu andalan masing-masing yang berbeda. Seperti Anjengan memiliki ilmu andalan Ubur-Ubur Hijau, Iwak Ngasin berilmu andalan Ombak Hitam, Juling Jitu berilmu andalan Pasir Angin Senja, dan Gagap Ayu berilmu andalan Tinju Karang Baja.

Semua ilmu itu diajarkan oleh Garudi alias Pangeran Kumbang Genit. Sebenarnya, nama-nama ilmu itu tidak pernah Garudi miliki. Ia hanya berkreasi. Karena murid-murid lucu yang nakal-nakal itu berasal dari desa pantai dan akrab dengan laut, makai Garudi menciptakan ilmu-ilmu baru dengan nama-nama bernuansa laut.

Tingginya kesaktian Garudi sebagai seorang pendekar yang sulit dicari tandingannya, membuatnya pandai mengolah-olah dan memodifikasi ilmu kesaktian. Karenanya, ilmu yang dimiliki oleh murid-muridnya tidak akan pernah ada sebelumnya pada pendekar lain, karena semuanya ilmu baru. (RH)

**********

PENGUMUMAN

Alur novel "Perjalanan Alma Mencari Ibu" sebenarnya dimulai dari bab "Pete Emas 1". Adapun lima bab sebelumnya adalah alur awal novel "Dewi Dua Gigi" yang pindah tayang di aplikasi sebelah.

Author sudah menghapus draf 5 bab awal, tetapi ternyata tampilan kelima bab itu tidak bisa hilang karena sistem dari NT-nya. Maka terjadilah ketidaksambungan antara 5 bab awal dengan bab selanjutnya.

Athor rasa Readers adalah pembaca cerdas dan bisa memisahkannya sendiri. Karenanya, untuk menghindari kesalahpahaman, Author umumkan tentang ketidaksambungan dengan 5 bab awal. Semoga maklum. Terika kasih.

1
MARQUES
temennya gagap malah di ketawain dsr temen lucknut🤣
Umar Muhdhar
1
asta guna
sejauh ini. ini yg paling jauh dan seimbang jika berperang dg sanggana kecil. bahkan bisa mengalahkan pasukan sanggana meskipun ada 8 Dewi bunga, karena Alma selalu ngasih senjata2 level pro kepada abdi2nya yg nota benenya jg udah sakti
asta guna
ha-ha-ha bar bar sekali kau om rudi
asta guna
ha-ha-ha setan kau om author, pake menjelaskan lubang hidung segala. rusak dong imaginasiku
Om Rudi: jiahahahaha sabar Kang Mas
total 1 replies
asta guna
visualisasine koyok Hulk
Om Rudi: hulk nenek nenek
total 1 replies
asta guna
wuih sadis coek... lanjutkan kesadisanmu om rud
asta guna
ha-ha-ha lowbat, anjay
Om Rudi: jiahahahaha
total 1 replies
Dida Madu Pati
/Facepalm/
❀∂я 𝙆𝙄𝙉𝙂 𝘾𝙝𝙖𝙣
anjengan itu ya lucu udah tau kalah Mulu pke ngajak berantem
❀∂я 𝙆𝙄𝙉𝙂 𝘾𝙝𝙖𝙣
kedua saudara kalau bertengkar itu hal biasa tp kalau udah adu fisik ngeri juga
❤️⃟WᵃfB∆rokah99 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
wah, alma. klu mau main yg bener, jangan kayak orang ngajk berkelahi. kasihan juling jitu, namanya jd melekat gitu sbb matanya mmg juling
🍁𝐌𝐚𝐡𝐞𝐬𝐰𝐚𝐫𝐢💃❣️: kalo ngikutin ceritanya seru banget... kocak parah... 😅😅
total 1 replies
❤️⃟WᵃfB∆rokah99 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
selamet lara, merupakan nama berdasarkan kisah hidupnya. namanya ortu, pasti berharap anaknya selamat ketika hadir diduni, namun krn sering sakit jd loro, alias lara
🍒⃞⃟🦅🦁ᵃʳᵗʰᵃanvarouv🍉🔥
Alma seperti ketua geng deh, berkomando segala🤭🤣
🍁𝐌𝐚𝐡𝐞𝐬𝐰𝐚𝐫𝐢💃❣️: kelak jd seorang Ratu tanpa istana 😅😅😅
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅🦁ᵃʳᵗʰᵃanvarouv🍉🔥
Alma ada2 aja tingkahnya
🍒⃞⃟🦅🦁ᵃʳᵗʰᵃanvarouv🍉🔥
ah kok bisa ada bayi, ibunya tega sekali
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
alma buat nama nya wkwkwk, sungguh terlalu
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
repot denger orang gagap
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
wehh keren ini pendekat desa iwakleket
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
😂😂🤣😂🤣terimakasih om sudah menghibur kami
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!