Yang mau ngobrol shantuy dengan saya, bisa langsung follow instagram saya ya (@kangrebahan_03). Kebetulan saya baru aktif lagi di instagram, insya allah nanti saya infokan jadwal up di sana.
*******
"mari bermain"
Bagi siapa pun yang mendengar kalimat itu dari mulut seorang gadis cantik yang bernama Elza, lebih baik memilih untuk segera mengakhiri hidupnya dari pada mati di tangan gadis berhati iblis namun berwajah malaikat itu. Kecantikannya bisa menjadi daya pikat untuk memancing targetnya agar memasuki perangkap dalam jebakan maut yang sudah ia buat.
Ya itulah Elza, gadis mungil yang memiliki wajah super cantik membuat siapa pun akan tertipu dengan mudah. Di balik itu semua, ada iblis di dalam diri Elza yang siap bangkit kapan pun ketika ia lepas kendali.
***
Melvin Andrea Micheal.
Nama itu sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, Melvin itu bisa di bilang suami idaman bagi kaum hawa. Dia tampan, kaya, seorang pengusaha sukses juga. Paket konplit bukan? Maka tidak heran jika Melvin menjadi rebutan cewek cewek.
****
Misi nya di New York membawa petaka bagi seorang Elza. Ciuman pertama nya di ambil paksa oleh bajingan tampan, bernama Melvin. Elza tidak terima dengan kelakuan Melvin yang secara tidak langsung sudah menodai bibirnya yang suci, maka dari itu Elza langsung memberikan pelajaran kepada Melvin berupa tendangan super kencangnya di area sensitif Melvin.
Harusnya Melvin marah dengan perlakuan gadis itu kepadanya, tapi melihat wajah kesal gadis itu membuat seringai muncul di wajahnya yang tampan.
"mine"ucapnya.
+++++
Hanya penulis pemula yang ingin menuangkan kehaluan nya😴. Berhubung ini karya pertama saya, mohon bantuannya untuk para senior yang sudah banyak pengalaman nya. 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vifinefianti_033, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Melza
"Kenalin nama aku Elzabel Gilberth Nicholas, kamu bisa panggil aku Elza. Kebetulan aku tinggal di dekat sini"Jelas gadis kecil itu sambil mengulurkan tangannya kearah Melvin.
"Oh" Melvin mangut mangut, ia menerima uluran dari gadis cantik itu sambil tersenyum lebar "Nama aku Melvin Andrea Micheal, aku juga tinggal di dekat sini"
Kedua anak kecil itu memutuskan untuk duduk di bawah pohon mangga.
"Kamu lagi sedih? "Tanya Elza menatap wajah teman barunya itu lekat "Kamu bisa cerita sama aku, nggak baik punya masalah di pendam sendirian. Siapa tau aku bisa bantu kamu"
Melvin menghembuskan napasnya kasar, walau mereka baru berkenalan tapi ia percaya jika Elza bisa jadi teman yang baik untuknya.
"Orang tua ku bercerai karena ayah ku selingkuh"Ucapnya singkat.
Mendengar itu Elza bisa langsung menyimpulkan permasalahan yang tengah di hadapai oleh teman barunya.
"Kamu sedih? "
Melvin menganggukan kepalanya.
"Kemarilah" Elza merentangkan kedua tangannya lebar lebar "Mamah pernah bilang, kalau seseorang yang sedang sedih kita harus memeluk orang itu"
Melvin tersenyum lebar, ia langsung memeluk gadis kecil dan imut itu dengan erat.
"Semuanya akan baik baik saja"Bisik Elza sambil mengelus punggung Melvin dengan lembut "Jangan khawatir, aku akan bersama kamu. Jangan merasa sendirian lagi"
Melvin menganggukan kepalanya pelan.
"Mau kah kamu jadi teman ku? "
"Tentu saja"
Melvin melepaskan pelukannya lalu menatap Elza dengan pandangan lekatnya.
"Berjanjilah, kamu tidak akan pergi" Melvin menujukan jari kelingking nya kepada Elza.
Elza menganggukan kepalanya yakin, ia langsung mengaitkan jari kelingking Melvin dengan miliknya.
"aku tidak akan meninggalkan mu"
****
Yang di lakukan oleh Melvin hanya bisa diam menatap foto dirinya bersama seorang gadis kecil, mereka berdua tersenyum begitu lebar bahkan kedua tangan mereka saling menggenggam erat satu sama lain.
Melvin tersenyum tipis ketika mengingat kembali kenangan dirinya bersama Elza, teman masa kecilnya dulu. Seseorang yang selalu memberikan semangat kepadanya ketika ia berada di tengah kesulitan menghadapi orang tuanya yang akan bercerai, bahkan orang tuanya seolah olah tidak menginginkan dirinya agar tinggal di salah satu dari mereka. Hanya Elza lah yang menjadi tempat dimana Melvin mencurahkan semua isi hati dan perasaannya, walau umur mereka berjarak 7 tahun tapi Elza memiliki pemikiran yang cukup dewasa sehingga Melvin sangat nyaman ketika Elza memberikan dukungan dan solusi dari setiap masalahnya.
"Aku kangen banget sama kamu, Elza"Lirihnya dengan nada begitu pelan, tangannya mengusap wajah cantik Elza yang sedang tersenyum lebar itu "Kamu pasti udah bahagia diatas sana kan, Za"
Sebelum Melvin memasukan foto tersebut, Melvin mengecup pelan wajah Elza di sana lalu memasukkan fotonya itu kedalam dompetnya.
Setelah menghabiskan makan siang nya di sebuah restoran mewah yang berada di dekat area kantornya ia beranjak dari sana untuk kembali ke kantornya, sebenarnya Melvin sering meminta sekretaris nya untuk membawakan makan siang. Tapi siang ini Melvin membeli makanan sendiri, karena ia butuh waktu untuk menyendiri.
Kondisi Melvin memang sudah lebih baik dari sebelumnya, maka dari itu Melvin memutuskan untuk pulang dari rumah sakit. Selain bosan berada di sana, Melvin juga tidak suka dengan bau obat yang selalu membuat kepalanya jadi pusing.
Drtttttt...
Melvin menghentikan langkahnya di depan pintu masuk restoran ketika ada telepon, Melvin menghembuskan napasnya ketika melihat nama Alex di sana. Alex memang sering menelepon dirinya setiap jam, untuk memastikan keberadaan dirinya sekarang. Padahal Melvin sudah mengatakan jika Aled tidak perlu melakukan hal berlebihan kepadanya, lagi pula Melvin merasa sangat terganggu jika Alex terlalu sering menelepon nya.
"Ada apa? "tanya Melvin tidak suka.
"Lo ada dimana? "
"Gue abis makan siang di restoran deket kantor gue"
Sebelum Alex menanyakan pertanyaan yang membuat kepala pusing, Melvin memilih untuk memutuskan panggilannya itu dengan Alex. Melvin memasukan HP nya kedalam kantung celana bahan berwarna hitam.
Melvin hendak melanjutkan langkahnya menuju kantor yang berada tidak jauh dari sini, namun saat tangannya hendak membuka pintu mobilnya Melvin tidak sengaja melihat seorang gadis yang sangat familiar tengah duduk sendirian di kursi kayu yang menghadap kearah taman. Melvin langsung mengurungkan nitanya untuk membuka pintu mobilnya, ia memasukkan kedua tangannya di kantung celana bahannya lalu menatap gadis itu dengan lekat.
Dengan berani Melvin melangkah mendekat kearah gadis itu, setiap langkahnya membuat jantungnya berdebar semakin cepat. Melvin berusaha memasang raut biasanya, ia tidak mungkin gugup ketika ia hendak menghampiri gadis yang begitu mirip dengan Elza nya.
Melvin berdiri disamping gadis itu, mulutnya seakan terkunci untuk sekadar menyapa. Jantung nya bahkan berdebar begitu cepat ketika ia bisa melihat gadis ini dari jarak yang cukup dekat, Melvin hanya diam mematung di sana menikmati wajah gadis yang sangat ia rindukan. Ya, Melvin tampaknya sudah gila. Gadisnya sudah berada di tempat yang tenang, gadis yang ada di depannya hanyalah orang yang kebetulan mirip dengan gadisnya.
"Nggak usah liatin gue kaya gitu, gue tahu gue cantik"
Mendengar sindiran itu membuat Melvin gelagapan, Melvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu melangkah mendekat kearah gadis itu.
"Liatin lo"Melvin terkekeh sinis "Nggak ada kerjaan"
"Gue Elza" Gadis itu mengulurkan tangannya kepada Melvin, ia bahkan tidak mempedulikan dengan ucapan Melvin yang cukup sinis itu.
Melvin terdiam menatap tangan itu dengan tatapan kerinduannya, ia merasa deja vu.
"Gue Melvin" Melvin menerima uluran tangan gadis yang bernama Elza "Lo ngapain di sini? "Tanya Melvin lalu duduk di samping Elza.
"Duduk"Jawab Elza singkat.
Melvin berdecak kesal "Anak TK juga tau kalau lo lagi duduk"Kesalnya.
"Terus kenapa lo tanya gue lagi ngapain"
Melvin menghembuskan napasnya kasar, lalu memilih untuk diam dari pada meladeni ucapan Elza.
"loq mirip banget sama seseorang yang ada di masa lalu gue"
Mendengar itu membuat Elza langsung menoleh kearah Melvin, kedua matanya menatap lekat kearah Melvin.
"Sayangnya dia udah meninggal"
Elza diam.
Kedua mata Melvin menatap lurus kedepan, menatap lekat kearah anggota keluarga yang tampak bahagia itu.
"Gue turut berduka cita"
Melvin tersenyum tipis.
"Padahal gue udah janji sama diri gue sendiri, kalau suatu saat nanti kalau gue udah menghasilkan uang sendiri maka gue akan nikahi dia"
Elza terdiam cukup lama menatap raut wajah Melvin yang berubah jadi sedih, anehnya Elza juga bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Melvin juga. Entahlah, Elza benar benar tidak mengerti.
"Kok gue jadi curhat gini ya"Kekeh Melvin pelan, ia melirik jam tangan yang melingkar di tangannya "Gue harus balik ke kantor" Melvin hendak beranjak dari sana namun langkahnya terhenti ketika Elza mencekal tangannya, Melvin menoleh lalu menatap wajah Elza dengan bingung.
"lqo nggak takut sama gue? "
Melvin menaikan sebelah halisnya lalu tersenyum lebar ketika ia paham dengan pertanyaan Elza.
"Nggak! "Jawab Melvin tenang.
Setelah itu Melvin melangkah pergi meninggalkan gadis bernama Elza itu, ia harus cepat ke kantor karena ia harus menemui klien nya.
****
Saat ini mereka berada di sebuah ruang rahasia yang berada di dalam rumah Leo, rumah Leo terkadang bisa menjadi tempat persembunyian mereka. Rumahnya berada di area pegunungan, sehingga orang orang akan sulit menemukan keberadaan mereka.
Di sinilah sekarang, diruangan yang minim cahaya. Satu meja besar, menjadi penengah empat kursi yang sudah berjejer rapih. Vian dan Calvin berada si sisi kiri sementara Elza dan Rio berada si sisi kanan, dan Leo berada di tengah tengah mereka.
Semua orang sibuk membaca tiap kata yang tercetak di lebar kertas putih itu, kertas itu berisikan tentang informasi target mereka.
"Klien kita siapa?" tanya Vian menatap Leo yang tengah sibuk menatap kertas yang ada di tangannya.
"orawng pemerintah "jawab Leo tanpa membalas tatapan Vian, kedua matanya masih sibuk menatap tiap kata di kertas itu.
Kerap kali orang dari pemerintah menggunakan jasa mereka untuk menghancurkan atau membunuh sang pimpinan, target yang di ajukan oleh orang dari pemerintahan sering kali orang yang tidak bisa di sentuh oleh hukum. Sehingga mereka tidak memiliki cara apa pun selain mengajukan kontrak kerjasama dengan para hantu.
Selama mereka sudah menyetujui kontrak kerja, maka pemerintah tidak boleh protes mengenai cara yang akan mereka lakukan untuk keberhasilan misi.
Sejauh ini klien mereka tidak pernah protes, mungkin cara kerja mereka yang memuaskan.
"Baiklah, kita akan melakukan pemantauan dari jarak jauh dulu"ungkap Leo "Rio, cari tempat tempat yang sering di kunjungi Alberth "
"Baik"
Rio mulai mengotak atik laptop nya dengan cepat.
Hingga suara mesin printer terdengar, sebuah kertas muncul di sana. Rio langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu mendekat kearah mesin printer itu. Ia langsung mengambil beberapa lembar kertas itu, kedua matanya menatap lekat catatan yang tercetak di kertas HVS itu.
"Jangan remehkan misi kali ini"ungkap Leo dengan wajah seriusnya "Orang yang akan berhadapan dengan kita adalah hantu gila"
Calvin dan Vian terkekeh mendengar istilah yang di berikan oleh Leo tentang sosok Alberth.
Elza hanya menanggapi ucapan Leo dengan senyuman tipisnya.
****
Semua karyawan yang kebetulan berpapasan dengan Melvin langsung menundukkan kepalanya hormat seraya memberikan sapaan kepada sang pemilik perusahan tempat dimana mereka menggantungkan hidup mereka di sini.
Melvin hanya tersenyum tipis untuk membalas sapaan mereka, ia masuk kedalam lift pribadinya lalu menekan lantai teratas dimana ruang kerjanya berada. Ia langsung memundurkan langkahnya ketika pintu lift tertutup.
Ting...
Pintu lift langsung terbuka, Melvin keluar dari sana lalu berjalan menuju ruang kerjanya.
"Selamat pagi pak Melvin" Sapa Bella dengan senyuman manisnya.
"Hmm" Melvin hanya membalas dengan deheman singkat.
"Ah pak Melvin"
Melvin membalikan badannya lalu menatap wajah Bella bingung.
"Ada apa? "Tanyanya.
Bella langsung mengambil sebuah kotak diatas meja kerjanya, lalu menghampiri Melvin yang tengah berdiri di depan ruang kerjanya.
"Ada paket buat bapak" Bella menyodorkan kotak itu kepada Melvin.
"Paket? "Melvin menaikan sebelah halisnya bingung "Dari siapa? "
"Saya tidak tahu pak"
Melvin melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu melirik kearah Bella lewat ekor matanya.
"Cari tahu pengirim nya! "perintah Melvin, lalu ia meraih kotak berukuran kecil itu di tangan Bella.
"Baik pak"
Melvin menganggukkan kepalanya singkat, ia langsung masuk kedalam ruangannya sambil membawa kotak kecil yang ada di tangannya. Rasa penasaran Melvin tentang isi kotak itu membuat ia tidak memikirkan risiko yang akan ia dapatkan, Melvin langsung bersandar di sofa empuknya yang berada di dalam ruang kerjanya.
Melvin menghembuskan napasnya kasar sebelum akhirnya ia membuka kotak kecil itu dengan perlahan.
Deg...
Tubuh Melvin mendadak kaku ketika melihat isi kotak itu, ia mengambil salah satu lembaran foto. Melvin meremas foto itu kuat, lalu menyeringai menyeramkan. Ternyata masih ada yang mau bermain main dengannya, menjadi seorang pengusaha yang sukses memang sering kali mendapatkan teror atau orang orang yang iri dengan apa yang di perolehnya. Ya, Melvin sudah biasa mendapatkan itu. Maka dari itu Melvin terlihat biasa saja ketika isi kotak itu berisikan foto dirinya dengan gadis bernama Elza.
Gadis yang cantik, tuan Micheal.
Pesan singkat yang tertulis di salah satu balik foto itu sudah menujukan jika sang pengirim kotak sudah mengibarkan bendera perang dengannya.
Melvin tersenyum tipis, ia tidak perlu turun tangan dengan ancaman ini. Lagi pula gadis ini bukan gadis biasa, tentunya mereka akan di buat kaget jika sampai melakukan tindakan yang bodoh. Contohnya menculik gadis itu.
"Siapa yang akan mati duluan dalam permainan ini?" Melvin tersenyum tipis "Kita ikut saja alurnya"kekehnya pelan.