Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Lagi
Sekitar pukul 8 malam Bunga baru pulang ke apartemennya. Dia akan berbesih diri dan istirahat sejenak sebelum pergi ke Mimi. Kesibukan Bunga di malam hari sudah mulai dia lakukan lagi.
Lorong-lorong apartemen terlihat sepi. Bunga berada di lift seorang diri, sampai tepat lift berhenti dan terbuka, seseorang masuk dan menatap Bunga. Karena terlalu lelah, Bunga tidak begitu memperhatikan orang tersebut. Berbeda dengan orang itu yang kini berada di sebelahnya, ia menatap Bunga dari atas sampai bawah.
Dia adalah Bian, seseorang yang sedari tadi memperhatikan penampilan Bunga, bagaimana bisa anak sekolah dijam segini baru saja pulang? Bunga itu cewek yang sangat tidak bisa ditebak oleh Bian.
Bian mencoba untuk bersikap tenang, tetapi sialnya, 2 kancing teratas seragam Bunga terlepas, membuat belahan d*danya sedikit terlihat. Sebisa mungkin Bian mengalihkan pandangan matanya. Tetapi matanya seakan berhianat, ekor matanya tidak bisa untuk berpaling dari Bunga, entah itu karena penampakan yang tanpa sengaja Bunga perlihatkan atau karena seorang Bunga yang begitu menarik perhatiannya.
Brak
Bian mengunci Bunga di dinding lift. Sontak saja Bunga yang tadinya cuek mendongak dan menatapnya heran. Antara heran apa yang dilakukan oleh Bian dan juga heran adanya Bian di sana.
"Lo bisa nggak sih pakai baju yang bener?" tanya Bian dengan tatapan tajamnya.
Bunga masih diam. Menatap Bia tanpa menjawab, membuat Bian bertambah kesal dengan gadis di depannya. Entah dia kesal dengan alasan apa, yang jelas dia tidak suka Bunga terus-terusan memperlihatkan bentuk sexy tubuhnya.
"Lo-siapa?" tanya balik Bunga membuat Bian menatap Bunga dengan tatapan yang susah diartikan. Lalu Bian melepaskan Bunga bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.
Bian pergi tanpa sepatah katapun setelah mengatakan hal itu. Dan Bunga dia jelas acuh dan ikut keluar menuju ke apartemennya.
"Aneh," komentar Bunga mengingat apa yang dilakukan oleh Bian tadi.
Di dalam apartemen Bian terus menggeram kesal. Dia merasa kesal dengan dirinya yang mendadak aneh setiap kali bertemu atau dekat dengan Bunga. Gadis itu benar-benar punya daya tarik sendiri.
"Bangs*t! Kenapa sih gue!" umpatnya mencengkram pembatas balkon kamarnya.
Drrttt
Drrt
Drrt
Getaran ponsel di sakunya membuat Bian menoleh. Melihat nama Ayahnya yang tertera di layar ponselnya membuatnya enggan untuk menerima telepon tersebut. Dia tahu Ayahnya pasti akan menanyakan keberadaannya sekarang. Kepindahan Bian memang sengaja untuk menghindar dari Ayahnya. Tidak lama sambungan telepon terputus, pesan yang masuk membuat Bian menghela napasnya. Ayahnya kembali menghubunginya.
"Khawatir sama gue?" kekeh Bian.
Bastard
Ian pulang, ayah di rumah
Jangan seperti anak kecil ian
Bian malas membalas pesan dari Ayahnya. Dia memutuskan untuk pergi ke tempat tongkrongan teman-temannya. Berada di apartemennya seorang diri malah membuat pikiran Bian bertambah kacau. Bunga yang semakin mengusik pikirannya. Ditambah Ayahnya tadi. Bian harus mencari ketenangan di luar.
________
Sementara Bunga tengah mengambil jubah untuk menutup tubuhnya yang sudah memakai gaun sexy nya malam ini. Dia sudah siap untuk pergi ke Mimi, dia hanya sempat beristirahat sejenak tadi, tetapi itu sudah cukup bagi Bunga, dirasa pas penampilannya Bunga menyambar tas kecil miliknya dan segera keluar dari apartemen.
Lagi-lagi kedua remaja itu harus bertemu di sebuah lift. Tetapi kali ini mereka tidak berdua saja. Ada beberapa orang yang juga berada di dalam lift tersebut. Bahkan ada seorang bule dan perempuan yang sedang saling bercumbu di dalam lift tersebut.
Tangan bule tersebut bermain nakal pada cewek tersebut. Bunga tampak cuek saja, toh...hal semacam itu sering dia saksikan di apartemennya itu. Lain hal dengan Bian yang merasa risih dengan tingkah kedua sejoli yang sedang dimabuk cinta tanpa tahu tempat.
Bian menggeram kesal menyaksikan adegan-adegan yang bule itu lakukan. Sampai akhirnya pintu lift terbuka beberapa orang yang tadinya suda berada di dalam lift keluar.
"You're beautiful," ucap bule tersebut kepada Bunga sebelum keluar.
Rupanya si bule cukup peka ada gadis cantik dan sexy yang berada di dalam lift bersamanya.
Bunga tidak membalas, dia hanya tersenyum sekilas sampai membuat bule itu reflek merubah mimik wajahnya.
"Omg," gumamnya sebelum akhirnya pergi karena sudah ditarik oleh si wanita.
Dan kini di dalam lift menyisakan Bunga dan Bian saja. Keduanya sama-sama terdiam.
"Muka lo merah," beritahu Bunga bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.
Sebelum keluar, Bunga menoleh ke arah Bian sekilas, lalu pergi meninggalkan Bian seorang diri di dalam sana.
Bunga sudah mengganti waktunya bersama dengan Om Praja tadi setelah pulang sekolah. Dan untuk malam ini waktunya dia bekerja dengan Mimi.
Sementara Bian terdiam di dalam mobilnya. Pantulan wajahnya terlihat, membuat dia kembali menggeram kesal melihat pantulan wajahnya yang memang terlihat merah. "****," umpatnya kesal.
Dia tidak habis pikir pindah apartemen malah membuatnya sering bertemu dengan Bunga. Gadis yang kini berhasil mengusik ketenangannya. Antara Bian harus mendekat atau menjauh dari Bunga. Bian diambang kebingungan, Bunga ini terlihat seperti bukan gadis biasa, punya daya tarik sendiri yang sangat kuat.
"Beby," sapa Mimi melihat kedatangan Bunga.
Bunga tersenyum. "Sudah ada yang datang Mi?" tanya Bunga dan diangguki oleh Mimi.
"Yang ini sepesial sayang, dia mau semalam sama kamu," jelas Mimi dengan senyum cerahnya.
Bunga hanya mengangguk. Merasa aneh saja dengan Mimi yang memperbolehkannya menemani satu laki-laki saja. Bunga yakin laki-laki tersebut pasti sudah membayar dengan sangat mahal.
"Dia sudah menunggu di hotel xxx sayang, biar Ado yang antar kamu," jelas Mimi membuat Bunga mengangguk.
Tumben sekali ada Om nakal yang berani keluar dari istana Mimi untuk memesannya. Biasanya para pejabat tinggi pun tidak berani membawa Bunga ke luar dari kandang Mimi. Mereka takut ada yang mengenali.
Hotel yang bawahnya dijadikan sebagai cafe itu milik wanita yang sering disebut dengan Mimi, bangunannya sangat luas dan megah. Para wanita yang bekerja seperti Bunga bahkan tinggal di dalam sana. Hanya Bunga yang memang mendapat perlakuan khusus, jelas Mimi tidak mau sampai Bunga merasa tidak nyaman dan pergi darinya. Pundi-pundi uangnya yang sangat fantastis itu akan hilang.
Ceklek
Bunga membuka pintu ruangan hotel yang sudah Mimi beritahu. Di sana sudah berdiri seorang lelaki dengan tubuh tegap yang membelakanginya.
Deg
Seketika tubuh Bunga menegang, dia tahu siapa laki-laki tersebut.
"Om?" lirih Bunga membuat siempu menoleh.
Terlihat senyum dari wajah laki-laki tersebut. Tidak ada raut marah yang beliau tunjukan.
"Om sengaja b*king kamu beby, om benar-benar butuh kamu saat ini," jawabnya membuat Bunga langsung mendekat dan memberikan ciuman singkat pada laki-laki setengah baya tersebut.
"Malam ini Bunga untuk Om," ucap Bunga lirih dengan tangannya mengusap lembut bagian dada bidang itu.
Sebenarnya Om Praja sudah tahu apa pekerjaan Bunga. Mereka juga bertemu ketika pertama kali Om Praja singgah di istana malam Mimi. Karena cocok, Om Praja langsung menjadikan Bunga sebagai suggar baby untuknya. Meski Bunga masih sekolah, tegapi gadis itu sangat dewasa dan mengerti akan dirinya. Bunga bisa membuat Om Praja merasa nyaman di dekatnya.