Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.
Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Nisha's pregnant
~Masih di kediaman keluarga Raharsya~
Siang ini, Elang tetap stay di rumah besar keluarga Raharsya. Walaupun hari ini Andra tak ada pekerjaan, namun Elang harus tetap standby kalau-kalau ada sesuatu yang mendesak. Sebagai seorang sekretaris pribadi, sekaligus orang kepercayaan Andra, Elang harus tetap berada di samping Andra, sang Bos.
"Tuan Andra, No-Nona Nisha ... itu,' ucap Bik Minah sedikit khawatir.
Andra kaget, " Ha, kenapa Bi? Istriku kenapa?"
"I-itu, Nona Nisha mual terus, dia juga memuntahkan sarapannya, katanya kepalanya juga sakit, sepertinya Nona sakit." Ucap Bik Minah.
"Lang, gawat. Ayo, ke kamar gue." Andra pun berlari.
"Oke, Tuan Bos!"
Andra begitu kaget mendengar kabar itu dari Bik Minah. Andra dan Elang segera berlari menuju kamar Nisha, untuk memastikan kondisi istrinya. Andra memang curiga, sejak pagi Nisha terlihat begitu tak bersemangat, dan Nisha hanya ingin berdiam diri di kamar.
"Sayang, apa kamu masih mual? Kamu tadi sarapan, makan apa sih? Gak makan aneh-aneh kan? Kenapa bisa sakit seperti ini? Apa makanan di rumah ini tidak sehat? Apakah makanan tadi pagi mengandung racun? Elang, segera cek makanan di dapur pagi ini. Panggil ahli gizi agar mereka mengecek kondisi pencernaan Nisha!" Tegas Andra.
"Baik, Bos. Aku akan segera memanggil ahli gizi terlebih dahulu sekarang." Jawab Elang, sambil membuka ponselnya.
Nisha menatap lemas pada Andra, "Tak perlu sayang, Nisha cuma gak enak badan aja kayaknya, Nisha tadi pagi gak apa-apa, kok."
"Sayang, kamu sakit. Kata bibi kamu mual terus. Itu berarti, makanan di rumah kita ada yang tak sehat! Sudahlah, menurut padaku," ujar Andra.
"Lang, tolong panggil mommy-ku dulu sekarang. Dia ada di rumah kan? Biarkan Mommy yang memeriksa istriku!" Perintah Andra.
"Baik, Bos. Aku akan segera memanggil Nyonya," Elang pun berlalu untuk menuju kamar Arini.
Beberapa menit kemudian, Arini dan Elang pun tiba. Arini masuk kedalam kamar Andra dan memeriksa Nisha.
"Kenapa ini, Ndra? Bukannya tadi pagi Nisha gak kenapa-kenapa?" Arini amat heran.
"Aku gak tahu, Mom. Tadi Bik Minah lari-lari manggil aku katanya Nisha sakit. Aku kan jadi khawatir. Kenapa tiba-tiba istriku sakit," jelas Andra.
"Mommy, maafkan Nisha ... Nisha gak kenapa-napa, kok." Ucap Nisha dengan nada yang lemah.
"Gak apa-apa kok, sayang. Mommy juga sedang santai. Ayo sini, kita periksa." Arini mulai menggunakan stetoskopnya.
Arini meraba-raba perut rata Nisha. Arini merasa, bahwa Nisha ini sedang hamil. Ia pun meraba perut menantunya lagi, memastikan apakah perkiraannya benar. Untuk memastikannya, Arini pun akan kembali ke kamarnya, mengambil stok testpack yang ia punya untuk memeriksa pasien.
"Andra, Nisha ... tunggu sebentar ya, Mommy mengambil dulu yang tertinggal." Ujar Arini.
"Baik, Mom."
Arini pun berlalu, Arini harus segera memastikan apakah benar Nisha hamil. Arini sudah begitu kegirangan karena ia memprediksi bahwa Nisha tengah mengandung. Kini giliran Elang yang bertanya, karena ahli gizi yang ia kirimi pesan tadi, sudah membalasnya.
"Bosque, Ahli gizi nya sudah membalas. Apa kita suruh dia kesini sekarang?" tanya Elang.
"Tentu saja! Aku ingin mereka memberikan solusi, agar mengatasi pencernaan istriku yang sedang tidak sehat." Jawab Andra.
Tiba-tiba, Arini kembali masuk ke kamar Andra,
"Apaan Ndra? Pencernaan apa?" tanya Arini.
"Itu, Andra takutnya Nisha keracunan makanan, Mom. Makanya Andra mau ahli gizi kesini, agar mereka bisa mengatasi permasalahan Nisha." Jelas Andra.
"Eh, eh, gak perlu! Nisha gak kenapa-napa, kok. Aneh-aneh aja kamu. Ngapain ahli gizi harus datang kesini. Udah, batalin aja. Biar Mommy yang periksa Nisha. Sepertinya, dugaan Mommy memang benar." ucap Arini.
"Maksud Mommy gimana?"
"Nisha sayang, ayo bangun. Mommy bantu! Kita ke kamar kecil sekarang, ada hal yang harus Mommy periksa." pinta Arini.
"Mmhh, ba-baiklah, Mom." Nisha pun beranjak dengan lemas.
Arini membantu Nisha pergi ke toilet. Ia sudah menyiapkan testpack dan alat tampung urine untuk mengecek kebenarannya. Andra menunggu dengan harap-harap cemas. Andra khawatir Nisha kenapa-napa. Elang pun sama hal nya dengan Andra, ia tak paham penyakit apa yang menimpa Nisha, sehingga Arini membawanya ke toilet.
Setelah tak sabar menunggu, akhirnya Nisha dan Arini keluar. Namun, kali ini Nisha keluar dengan sedikit tersenyum. Apalagi Arini, yang terlihat begitu senang dan bahagia. Andra semakin heran dengan kelakuan dua wanita yang begitu berarti dalam hidupnya.
"Kenapa Mom? Nisha keracunan makanan, iya?" tanya Andra khawatir.
Arini hanya tersenyum,
"Kok Mommy senyum doang sih? Jangan main-main kenapa!" Andra kesal.
Nisha ikut tersenyum, "Sayang, jangan gitu sama Mommy,"
"Ya habisnya Mommy gak jawab. Kamu gak kenapa-napa kan, sayang? Apa yang Mommy lakukan padamu saat di toilet tadi?" Andra begitu penasaran.
Arini berdecak, "Ndra, kenapa kamu gak tanya sama istrimu, apa dia terlambat haid, apa dia ngidam apa gimana? Kenapa kamu gak kepikiran ke sana sih, Ndra?'
"Ha? Ma-maksud Mommy apa?" Andra mencoba berpikir.
"Hah? A-apa, mungkin? Nish, kamu ...." mata Andra berkaca-kaca.
Nisha memberikan hasil testpacknya, "Lihat ini, sayang ...."
Dengan tangan gemetar, Andra pun mengambil testpack yang diberikan oleh Nisha. Jantung Andra memacu lebih cepat. Matanya membulat, ia benar-benar kaget melihat testpack garis dua itu. Ia baru sadar, kalau istrinya ternyata hamil. Andra masih tak menyangka kebahagiaan ini akan diberikan Tuhan begitu cepatnya.
"Sa-sayang, benarkah? Sungguh, kamu tak bohong? Ya Tuhan, istriku ... aku benar-benar terharu. Alhamdulillah, alhamdulillah. Ini nikmat dan kebahagiaan terbesarku." Andra mengucap syukur berkali-kali.
Nisha mengangguk, "Iya, sayang. Alhamdulillah, kebahagiaan terbesar kita." Nisha pun berkaca-kaca.
"Selamat ya sayang, Mommy seneng banget lihat kamu dan Nisha, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Mommy bahagia sekali, Ndra. Pokoknya, Mommy akan lakukan yang terbaik untuk cucu Mommy. Kamu harus jadi suami siaga kayak Daddy dulu. Kamu gak boleh ngeluh, kamu gak boleh marah, kamu harus sabar, dan jangan sekali-kali ngecewain istri kamu yang lagi hamil. Ngerti?" ancam Arini.
"Ah, i-iya Mom. Tentu saja, mendengarnya saja aku sudah sangat bahagia. Aku berjanji, akan menjaga Nisha-ku sebaik mungkin. Aaaaah istriku, ayo sini peluk aku! Bahagia sekali. Aku kira kamu kenapa, aku khawatir. Ternyata, calon baby kita memberi sinyal itu padamu!" Andra memeluk Nisha dengan bahagia.
Semuanya larut dalam kebahagiaan itu. Andra, Nisha begitu juga Arini yang sebentar lagi akan menjadi Omah. Elang turut bahagia mendengar Bos nya akan mempunyai anak sebentar lagi. Hanya, ia jadi memikirkan nasib dirinya. Akankah ia sebahagia itu jika nanti sudah menikah dengan Hila? Akankah ia bahagia jika Hila hamil anaknya?
Aku tak yakin dengan pernikahanku ini. Aku merasa, semua ini hanya sia-sia dan percuma. Kenapa Ayah begitu tega menjodohkan aku? Kenapa Ayah tak kasihan padaku? Bagaimana aku bisa mencintai calon istriku, kalau sifatnya malah membuat aku muak?
Lamunan Elang tersadar ketika Andra memanggilnya. Elang diminta untuk menjemput Callista di kampusnya, karena supir Callista sedang cuti selama seminggu.
"Lu mau kan jemput Callista?" tanya Andra.
"Iya, Bos. Kasihan Nona Callista kalau dia pulang sendiri." Jawab Elang.
"Iya, gue kan mau berduaan sama istri gue, sama calon bayi gue juga. Jadi, elu jangan ganggu ya, Lang!" Andra terkekeh.
"Iya, Tuan muda tampan. Gue baru tahu, kalau Nona Nisha keracunan." Ucap Elang.
"Maksud lu apa?" Andra tak mengerti.
"Iya, Nona Nisha keracunan benih-benih elu, Tuan Bos! Hahahah, kabur ..."
"Eh, kurang asem lu, ya!" Andra kesal.
Elang pun berlalu. Ia akan segera berangkat menuju kampus Callista. Elang dan Callist memang akrab, karena beberapa kali mereka juga sering bertemu, bahkan saat Nisha dan Andra bulan madu pun, Elang dan Callista ikut bersama.
...🌸🌸🌸...
Elang sudah berada di kampus Callista. Tak lama, Callista pun datang dan segera masuk kedalam mobil. Lista sudah tahu, kalau Elang yang akan menjemputnya. Didalam mobil pun, Lista dan Elang tak sungkan untuk saling berbicara. Tiba-tiba, Elang teringat akan undangan khusus yang akan ia berikan pada Lista.
"Lista?" tanya Elang.
"Iya, Kak. Kenapa?" jawab Lista.
Elang mengeluarkan kartu undangan dari balik jas nya,
"Ini, undangan khusus untuk kamu." Elang memberikannya pada Lista.
Lista tak menjawab. Ia menatap kartu undangan itu. Ia membaca nama yang tertera didalam kartu undangan tersebut.
Elang dan Hila ... Elang Mahesa Prasetya dan Sahila Tanzania. Elang dan Hila, Elang dan Hila ... ah, aku tak salah melihatnya. Memang benar, ia akan menikah. Kenapa aku sedih melihat kartu undangan ini? Aku merasa bahwa Kak Elang adalah Kakakku. Aku merasa kesepian jika ia tak di sampingku. Apalagi, melihat kenyataan ia akan menikah, hatiku rasanya sakit sekali. Aku pasti akan kehilangan sosok Kak Elang yang begitu baik dan peduli padaku. Batin Callista.
Elang menatap Callista yang tak berkedip menatap kartu undangannya. Elang jadi tak fokus mengemudi. Entah mengapa, ia merasa tak enak pada Lista karena telah memberikan kartu undangan itu padanya.
"Cal, Callista!" Ujar Elang, namun Lista masih tak menjawab.
"Lista, hey!" Sapanya sekali lagi.
"Ah, i-iya, iya apa Kak? Maaf, aku terlalu fokus membaca kartu undangan mu. Selamat menikah ya, Kak." Ucap Lista lesu.
"Iya, terima kasih, Lista. Semoga saja aku bisa ikhlas menjalaninya." ucap Elang.
"Kalian berdua pasti akan saling mencintai ...." ucap Callista lagi.
"Ah, sudah. Tak perlu dibahas, Lis. Aku tak ingin membahasnya."
"Baiklah, Kak. maafkan aku."
Maafkan aku, Callista. Batin Elang.
...🌸🌸🌸...
Zürich, Switzerland ...
Rangga dan Tira sedang bercengkrama bersama. Rangga menatap layar ponselnya, karena Dika telah mengiriminya kartu undangan pernikahan anaknya. Rangga pun memperlihatkannya pada Tira. Mereka pun terlihat senang, karena akhirnya Dika akan segera mempunyai menantu.
"Bunda, lihatlah ... ini undangan pernikahan anak sekretaris Dika!" Seru Rangga.
"Ah, benarkah? Dia mengiriminya pada kita? Sini aku lihat, Yah." Ucap Tira.
Tira dan Rangga pun melihat ponselnya bersamaan,
"Kita harus pulang, untuk menghadiri pernikahan Elang!" Seru Rangga.
"Tentu saja. Tapi, Gara bagaimana?" tanya Tira.
"Biarkan dia disini bersama asisten Yugo, aku tak ingin dia kemana-mana." Jawab Rangga.
Tira menghela nafas, "Baiklah. Kalau Ayah tak izinkan dia."
"Iya, ini yang terbaik untuk Gara. Ayah tak ingin dia terluka untuk yang kedua kalinya."
"Eh, siapa tadi calon pengantinnya? Bunda lupa, Bunda akan beri hadiah pernikahan atas nama pengantinnya. Agar terlihat lebih berkesan, karena ada nama mereka berdua." ucap Tira.
"Namanya, Elang dan Hila, Bun." Rangga memberi tahu.
Gara yang sedang berjalan menuju dapur, sontak saja kaget mendengar nama Hila diucapkan oleh Ayahnya. Gara tak mendengar jelas Ayahnya sedang membicarakan apa. Namun, Gara takut jika Ayahnya tahu, dan menyebut nama Hila itu tentang kelakuannya waktu itu.
"Ayah! Kenapa kau menyebut nama Hila? Ada apa?" tanya Gara penasaran.
"Gara! Kenapa kamu keluar kamar? Kamu kan bisa menyuruh asisten Yu!" Ujar Tira.
"Aku ingin belajar jalan, agar aku bisa kembali meneruskan hidupku! Ayah, apa yang kau tahu tentang Hila? Kenapa kau menyebut namanya?" Gara sudah khawatir, ia benar-benar takut, kalau Ayahnya tahu hubungannya dengan Hila saat itu.
"Kamu kenapa sih, Gar? Hila apa maksudmu? Hila ini, ini Hila calon menantu sekretaris Dika! Rekan kerja Om Davian. Kenapa kamu jadi kaget seperti itu?" tanya Rangga.
Astaga, selamat ... kukira Ayah itu tahu Hila dan aku, aku takut orang-orang Ayah mengetahui penyebab aku tertembak. Syukurlah, jika itu bukan tentang Hila dan aku. Eh, tapi, kenapa Ayah berkata Hila? Bukankah Elang itu calon istrinya bernama Hira? Ah, mungkin karena Ayah sudah tua, jadi ia membacanya salah. Batin Gara.
"Oh, Ayah sedang melihat undangan Elang?" tanya Gara.
"Iya, barusan sekretaris Dika mengirimkannya pada Ayah." jawab Rangga.
"Ayah salah! Nama calon istri Elang itu Hira, bukan Hila. Ah, sudahlah, aku mau mengambil minuman dingin," Gara pun berlalu.
"Hira?" Rangga mengernyitkan dahinya.
Rangga pun melihat lagi pesan di ponselnya. Ia membaca dengan jelas, dan ia benar-benar yakin, bahwa itu adalah Hila, bukan Hira.
"Hey, kau salah! Jelas-jelas yang benar itu Hila, bukan Hira. Dasar anak sok tahu!" Umpat Rangga, namun Gara tak memperhatikannya, karena Gara sudah berlalu.
*Bersambung*
SANTAI YA SHAAAAAY ...
Jangan rusuh ingin buru-buru ketahuan, nikahnya aja masih semingguan lagi. Di episode berikutnya, aku akan buat kejutan🤭
Di episode ini, nyambung sama bonus chapter terjerat cinta sang pembantu, tentang kehamilan Nisha ya. Bagi kalian yang masih rindu Nisha juga Andra, aku akan selipkan mereka beberapa bagian kok💕❤😘
Ingat, ingat ... jangan lupa LIKE LIKE LIKE 🤭🤭🤭