Karena alasan cinta, Aisha mengubur cita-citanya dan menikah muda dengan Aarick. Namun sayang, ternyata cinta saja tidak mampu menjaga keutuhan rumah tangganya.
"Di mana dia menyentuhmu! Apa selama ini kau selingkuh di belakangku?" teriakan Aarick menggema di dalam kamar.
"Apa kau akan melepaskan aku jika aku menjawab iya?"
"Aisha!!"
Sejak pertengkaran itu Aarick semakin bersikap dingin, bahkan rasa cemburunya sudah menyakiti Aisha dan janin yang dikandung istrinya.
Bagiamana akhir rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MT2. Bab 6
Aisha Bella, dalam kamusnya tidak ada yang namanya menikah muda, meskipun kedua orangtuanya belum secara terang-terangan membahas perjodohan antara dirinya dengan MR. Jutek yang selalu membuat jantungnya berdebar tetapi, ia cukup pandai membaca situasi. Aisha bukan tidak tau niat terselubung dibalik perkataan mama dan papanya. Tapi ia tetap diam dan memikirkan jalan keluar.
"Selama di rumah tante Anggun, kamu harus jadi anak yang baik. Jangan keluar rumah tanpa ijin mereka, terutama Aarick."
Dengan mata yang setengah memicing Aisha melihat wajah Aarick yang begitu dekat dengannya, kedua alis yang tebal, mata bulat yang terpejam, hidung mancung, bibir yang bervolume, rahang yang tampak tegas dan sempurna benar-benar membuatnya betah memandang wajah laki-laki yang sudah dikenalnya sejak kecil.
Aisha bergidik membayangkan jika ia harus mengorbankan cita-citanya seperti mamanya. Mamanya rela meninggalkan dunia modeling demi fokus mengurus suami dan anak-anaknya.
"Perjodohan dan pernikahan ini nggak boleh terjadi, aku nggak mau menikah diusia muda. Tapi tidak mungkin aku menentang papa dan om Ariel, aku harus melakukan sesuatu."
'Kak Aarick pasti menganggap aku musuh kalau aku bilang suka sama dia. Tapi ... aku malulah kalau harus mulai dulu.'
Aisha tersenyum saat sudah menemukan jalan keluarnya. Satu-satu cara adalah membuat Aarick lebih dulu menyukainya jika perlu Aarick harus menyatakan cinta untuknya. Dengan begitu, ia bisa lebih muda menolak dan menganggap Aarick sebagai musuh seperti perajanjian yang sudah mereka sepakati.
Ya ... segampang itu. Aisha tersenyum lega tanpa memikirkan perasaannya yang merasa nyaman berada dekat Aarick. Cepat-cepat ia kembali pada posisinya semula saat Aarick menggerakkan badannya.
"Buka matamu, aku tau kau cuma pura-pura tidur," ucap Aarick tanpa membuka mata.
Gawat! Aisah lupa kalau Aarick bukan orang yang gampang ditipu, namun Aisah tetap bergeming dan memejamkan mata.
"Akkhhhh"
Aisha teriak saat Aarick menyingkap selimut yang tadi menutupi tubuhnya, bahkan saat ini ia sudah berada di bawah kungkuhan Aarick. Tangan kokoh Aarick berada di kedua sisi kepalanya, mata tajam Aarick menangkap pandangannya.
Aisha bahkan belum menjalankan rencananya, tetapi Aarick sudah lebih dulu mengetahui gelagatnya, Aisha mengutuk diri sendiri karena sudah merasa percaya diri.
"Kakak mau apa?" Aisha memukul dada Aarick, namun Aarick tetap diam menatapnya.
"Bukannya ini maumu? Mau menjebakku supaya aku menikahimu, begitu?"
Tuduhan Aarick membuat telinganya panas.
"Siapa yang menjebak? Kakak sendiri yang bawa aku ke kamar ini." Aisha menoleh kesembarang arah ia terlalu takut melihat wajah Aarick.
Arick mengangkat sudut bibirnya hampir membentuk senyuman, wanita ini memang terbiasa bersilat lidah, pikirnya.
"Kau sudah menyukaiku?" tanya Aarick lagi.
Aisha tertawa demi menutupi keterkejutannya dan berkata, "aku ... mana mungkin? Udahlah minggir aku mau keluar!" jawab Aisha.
Tapi Aarick tidak mau mengalah, ia bahkan mencium kening Aisha.
Kecupan singkat itu sudah berhasil membuat Aisha panas dingin, karena semua ini terjadi di luar dugaannya.
"Sudah suka?" tanya Aarick lagi.
Aisha menggelengkan kepala.
'Kau memang keras kepala, tapi aku juga tidak akan kalah, baiklah Aisha sebentar lagi kita tau sampai di mana kau berani menantangku.' batin Aarick. Ia menakuti Aisha dengan mendekatkan wajah mereka. Aisha spontan memejamkan mata dan
BRAKKKK
"Aarick!!"
Aarick dan Aisha dibuat terkejut saat pintu kamar terbuka, Mama Anggun dan Papa Ariel sudah berdiri diambang pintu. Aarick dan Aisha sama-sama sudah duduk di atas ranjang yang sama.
"Pa---
"Papa nggak mau dengar alasan apapun, kamu sudah mengecewakan Papa." Papa Ariel memotong ucapan Aarick, ia menatap anaknya dengan rasa kecewa.
"Seharusnya kalian nggak kelakuin ini!" Mama Anggun juga tampak syok membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka terlambat datang.
"Tante, ini nggak seperti yang Tante lihat, kami nggak ngelakuin itu," Aisha bingung harus menjelaskan dari mana, yang jelas semua ini cuma salah paham.
"Arta mengunci kamarnya, Ma! Jadi--
"Cukup Aarick! Jangan cari alasan apapun. Papa akan menghubungi orangtua Aisha dan kamu harus tanggung jawab sama perbuatanmu. Bisanya kamu merusak kepercayaan kami dengan menyentuh Aisha!" hardik Papa Ariel tanpa memberikan kesempatan Aarick untuk bicara.
"Pa ... Ma! Dengarkan penjeasan kami!" Aarick memohon tetapi Papa dan Mamanya berlalu keluar dari kamar. "Ahh sial!" umpat Arick.
"Gimana nih kak." Aisha sudah menangis.
"Mama sama papa pasti kecewa samaku, ini semua salah kakak, aku nggak mau mereka menikahkan kita." Aisha yang kecewa memukul lengan dan punggung Aarick.
Aarick hanya diam tanpa berusaha menghindar ntah mengapa ia merasa kecewa saat mendengar kalau Aisha tidak mau menikah dengannya. Aarick menjadi semakin pusing.
"Kamu pikir aku mau nikah sama kamu? Kamu bukan typeku. Aku nggak suka sama anak kecil. Nggak ada yang menarik dari dirimu!" Aarick membentak Aisha.
Aisha semakin menangis keras, ia tersinggung dengan jawaban Aarick lalu ia berlari dan keluar dari kamar Aarick.
"Sial! Aku salah bicara!" Aarick memaki diri sendiri.
***
Tidak ada seorangpun yang tau kalau Aisha keluar dari rumah Aarick. Dalam gelapnya malam ia berjalan meninggalkan perumahan ini. Aisha tidak membawa uang sepersenpun,
ia bahkan lupa memakai alas kaki.
Apa yang akan dipikirkan orangtuanya nanti?
Lalu bagaimana Aisha akan menghadapi kakaknya Gemliang?
Aisha berjongkok dan membenamkan wajahnya di antara lengannya,ucapan Aarick sudah menyayat hatinya.
"Hai cantik, sendirian aja nih!"
Aisha mendongak dan terkejut melihat tiga laki-laki asing sudah mengelilinginya.
"Kenapa nangis? Sudah ada kami bertiga yang siap menemani," ucap salah satu dari mereka.
Aisha berdiri dan memeluk dirinya sendiri, ia merasa mual mencium aroma alkohol dari laki-laki yang semakin mendekatinya.
"Pergi! Jangan ganggu aku!" Aisha berteriak saat tangannya sudah dicekal kuat, ia histeris dan minta tolong berharap ada seseorang yang datang menolongnya, namun suaranya bagaikan hilang dibawa angin lalu.
"Layani kita, Neng!"
Ketiga laki-laki ini tergelak melihat Aisha yang semakin ketakutan.
"Tolong lepaskan aku, aku bukan perempuan seperti yang kalian pikirkan!" teriak Aisha sembari berusaha menarik tangannya.
"Ayolah, kita bisa bayar kamu. Sebutkan berapa yang kamu mau!"
"Cuihhhhh!!!"
Aisha meludahi wajah laki-laki songong yang sudah berani menghina dan menjatuhkan harga dirinya.
Laki-laki berbadan kekar ini mengusap ludah Aisha yang ada di pipinya, matanya memerah saat melihat Aisha.
"Perempuan nggak tau diri!" Ia mengangkat satu tangannya untuk menam par wajah Aisha.
Aisha memejamkan mata ia cuma bisa pasrah saat kedua tangannya masih dicekal. Mungkin ini adalah tamparan pertama yang akan dirasakan untuk seumur hidupnya, Aisha menangis saat teringat pesan mamanya yang memintanya untuk tidak keluar rumah tanpa ijin tante Anggun dan om Ariel terutama Aarick.
"Kak Aarick!!" tanpa sadar Aisha memanggil nama Aarick.