Arc 1. Rune Art Online - Alice, The Solo Player ( Gendre: Game, Fantasy, Petualang dan Sci fi). Bab 00 - Bab 110.
Arc 2. Guild Clover. Bab 110 - Bab 135.
( Gendre: Fantasy, Wu Xia, petualang, Sci Fi).
Arc 3. Sword For Love. Bab 136 - Bab 172
( Gendre: Fantasy Timur, Romance, Harem )
Season 2. The New Generation.
Arc 1. Alice, Trap in Another World.
** Arc 1 & Arc 2 **
Tahun 2100, mimpi dari para gamers akhirnya terwujud yaitu sebuah sistem dive yang dimana para pemainnya masuk kedalam game dengan kehendak yang bebas didalam game yang bernama Nano Gear.
Penemu dari alat itu adalah seorang jenius keturunan Jepang dan Itali, Kira Hernandes. Kira sendiri tidak hanya menciptakan alat Nano Gear tapi dia juga menciptakan game pertama yang mengunakan konsol Nano Gear yaitu MMORPG Rune Art Online alias RAO.
Dihari pertama game RAO terjual habis dengan batasan 100 ribu kopi yang tersebar diseluruh dunia dalam satu hari saja dan saat seseorang bisa membeli maka, dia aka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05. Melatih Reiz.
Bab 5. Melatih Reiz.
Menu pertemanan adalah menu yang selalu ada di dunia maya dan game. Melalui fitur menu ini kita bisa menambah teman, saling mengirim pesan, membuat grup pesan bahkan di RAO, menu pertemanan kita bisa membuat tanda lokasi teman dimap dan bisa berkomunikasi.
Di padang rumput barat, kota awal. Alice bertemu dengan seorang pemain yang mengunakan karakter pria berambut putih, tinggi dan dia bernama Reiz. Setelah melakukan penawaran, Alice pun melatih dasar-dasar bertarung.
“Yoshhh … aku telah memasang Rune,” ucap Reiz yang menutup layar menu rune.
Beberapa saat kemudian, simbol rune kecil terbentuk dibahu kanan Reiz.
“Apa ini?” kaget Reiz yang terkejut saat rasa nyeri dan sebuah gambar terbentuk sendiri di bahunya.
Alice yang melihat kelakukan Reiz itu, dia pun hanya mengelengkan kepalanya.
“Itu Rune Rush. Jadi, jika kamu ingin melawan monster setidaknya harus mengunakan Rune Rush!” seru Alice.
“Aku mengerti!” jawab semangat Reiz yang menganggukan kepalanya.
“Sekarang mari kita coba!” ucap Alice dengan senyum senang.
“Eh, apa maksud dari senyum mu, Kak?” tanya heran Reiz.
Alice pun tidak mempedulikan pertanyaan itu dan dia pun mengambil batu lalu, Alice mengeluarkan rune Rush di bahunya dengan rapalan rune.
“Rush.”
Cingg!
Simbol di bahunya Alice pun bersinar dan batu yang dipegangnya menyala berwarna orange.
Lalu, Alice melesatkan batu kearah Wild boar hingga monster itu terluka.
Ngookk!
Karena serangan Alice itu membuat wild boar menatap Alice dan Reiz.
“Eh, kak Alice. Apa yang kamu lakukan?” kaget Reiz.
Alice pun tersenyum dan dia mundur beberapa langkah dibelakang Reiz.
“Sekarang kamu lawan Wild Boar itu dengan mengunakan Rune Rush!” ucap Alice.
“Ehh, yang benar saja!” ucap Reiz serius Alice.
Alice tidak menjawab dan hanya tersenyum.
Ngokkkk! Duk! Duk!
Wild boar itu pun geram dan dia berlari kencang menyerang Reiz.
“Ahh, Sial!” ucap Reiz yang menghadap Wild Boar.
Saat Reiz menghadapi Wild Boar, dia mengingat tentang pelajaran dari Alice bahwa untuk mengeluarkan Rune yang sudah terpasang kita harus membayangkan dan merapalkan rune yang ingin dikeluarkan. Lalu, Reiz pun menutup matanya dan mengingat gambar simbol Rune Rush.
“Rush!” seru Reiz yang membuka mata dan dia langsung berlari dengan cepat.
Lalu, Reiz berhenti tepat dihadapan wild boar dan langsung mengayunkan pedang yang sudah bercahaya kearah wild boar.
“Hiyaaa!” teriak Reiz.
Serangan Reiz itu pun berhasil membunuh wild boar yang menyerangnya. Reiz yang melihat itu, dia pun sangat senang.
“Hooooreeeee!!! Aku berhasil!” seru senang Reiz dengan kedua tangan dibetangkan keatas.
Alice yang melihat itu, dia hanya mengelengkan kepala dan tertawa kecil. Seusai Reiz berteriak kegirangan, dia pun menghampiri Alice dan memegang kedua bahunya.
“Terima kasih, Kak Alice! Jasa mu pasti tidak akan aku lupakan,” ucap Reiz.
“Itu tidak penting yang jelas! Kamu berhutang 5.000 Richie kepadaku,” ucap Alice.
“Itu aku mengerti dan aku akan berusaha untuk mengumpulkan uang dari hasil buruanku!” jawab Reiz.
“Tapi, sekarang lepaskan tanganmu dari bahuku!” seru Alice.
Reiz pun terkejut dan dia segera melepaskan pegangannya tersebut.
“Hehehe … Maaf!” ucap Reiz dengant tertawa kecil.
Alice melipatkan tangannya dan melihat Reiz.
“Apa kamu mau melanjutkan pemburuan?” tanya Alice.
“Hm, tentu saja!” jawab Reiz dengan menganggukan kepalanya.
Alice dan Reiz melanjutkan memburu Wild Boar secara bersama-sama.
Waktu pun berlalu, Reiz dan Alice pun duduk beristirahat untuk mengisi bar stamina dan mananya. Reiz duduk dengan bersantai sedangkan Alice berdiri dengan memasukan kedua tangannya di saku jaketnya.
“Beberapa kali aku lihat dan berpikir, tetap saja aku masih susah percaya. Kalo kita berada di dalam game dan aku merasa beruntung bisa hidup di jaman sekarang,” ucap Reiz yang menatap danau dihadapannya.
“Kau terlalu berlebihan,” ucap Alice ketus.
“Ehh, tetap saja. Aku masih terkagum-kagum karena ini pertama kali aku mengunakan Nano gear,” ucap Reiz.
“Ohh,” jawab datar Alice.
“Ya, begitulah. Demi ingin bermain RAO, aku bergegas mengantri membeli Nano Gear dan RAO. Yaaa, aku merasa beruntung mendapatkan salah satu dari 100 ribu kopy,” ucap Reiz.
Setelah mengatakan itu, Reiz pun menatap Alice dengan senyuman lebar.
“Apa itu? Menjijikan!” ucap Alice.
“Hahaha … kak Alice, kamu memang orang yang jujur,” ucap Reiz dengan tertawa.
“Berisik! Dan jangan panggil aku kakak, Alice saja,” ucap Alice.
“Siap, ketua. Hihihi …” ucap Reiz yang memberikan tanda hormat di dahinya.
“Dasar! Kalau begitu kamu ingin melanjutkan berburu lagi?” tanya Alice.
“Hah? Iya. Sebenarnya aku ingin tapi waktu sudah pagi. Aku harus bekerja,” jawab Reiz.
“Bekerja di hari minggu?!” tanya Alice.
“Hahaha … iya. Aku bekerja di restaurant cepat saji,” jawab Reiz.
“Begitu, baiklah,” ucap datar Alice.
“Oiya, sebelum aku keluar. Bagaimana jika kita berteman dahulu?” ucap Reiz.
Setelah mengatakan itu, Reiz pun membuka menu pertemanan dengan huruf F di udara.
Tidak lama, muncul layar udara dihadapan Alice.
Ding!
[Anda mendapatkan undangan pertemanan dari Reiz. Apakah anda terima? Iya \ Tidak.]
Alice pun menekan [Iya].
“Oke, terima kasih, Alice!” ucap Reiz yang berdiri lalu menghadap Alice.
“Iya, jangan lupa membayar hutang!” jawab Alice yang tersenyum.
“Iyaa. Pasti!” ucap semangat Reiz.
Reiz pun membalikan badannya dan membuka menu pengaturan. Lalu, saat dia menekan tombol log out. Pilihan itu tidak bisa berfungsi.
“Ehh, kenapa ini tidak bisa berfungsi?!” ucap kaget Reiz.
Alice yang mendengar itu, dia pun menggelengkan kepalanya.
“Ya, tentu saja tidak bisa. Karena untuk keluar game harus pergi menginap di hotel atau memiliki rumah sendiri baru kamu bisa keluar game,” jawab Alice.
“Jadi, begitu … Eeeeeeeehhh, yang benar saja,” ucap santai Reiz yang tiba-tiba berubah kaget.