Dear Viona,
Terima kasih, karena telah memberikan warna-warni kehidupan disisa waktuku.
Terima kasih, karena telah mencintaiku dengan tulus.
Mencintaimu adalah hal terindah yang pernah kurasakan.
Bersamamu, kurasakan seperti seorang yang paling sempurna. Memiliki segalanya, dirimu dan cintamu.
Berjanjilah, untuk tidak menangisi kepergianku!
Karena aku selalu ada didekatmu, menjagamu, memelukmu, lewat penglihatan yang kutitipkan padamu.
I Love You, Sasha....
Salam,
Galang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Dreamers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VhieDjar 06
Seminggu berlalu setelah Arka mengungkapkan perasaannya dan mendapat penolakan dari Viona untuk kesekian kalinya, Arka tidak muncul lagi di sekolahnya. Intan, Fajar, dan Viona sudah berkali-kali mencoba menghubunginya tapi tak satu pun dari mereka mendapat balasan dari Arka.
Drtttt
Drtttt,
Arka meraih ponselnya yang terus bergetar sedari tadi. Ia melihat banyak chat masuk dari sahabat-sahabatnya.
"Ka, kamu marah sama aku? ~Viona
"kamu kok gak masuk sekolah?"~ Viona
"Arka... Kamu di mana?"~Intan
"Arka, kamu baik-baik saja kan?"~Viona
"Chat aku kok gak di balas?“~Viona
Begitu banyak notifikasi pesan masuk memenuhi ponsel Arka. Ia memilih mengabaikan semua pesan dan telepon dari mereka. Arka menonaktifkan ponselnya lalu melemparnya kesembarang arah diatas ranjang.
"maafkan aku sudah membuat kalian semua khawatir padaku, aku hanya butuh waktu sendiri untuk menetralkan perasaanku," gumam Arka.
Arka beranjak dari duduknya, kemudian berjalan menuju lemari yang ada dikamarnya. Ia membuka lemari itu, mengambil satu persatu pakaiannya, lalu memasukkannya kedalam sebuah koper berukuran sedang.
Arka menatap setiap sudut ruang kamarnya hingga pandangannya berhenti tepat pada kumpulan fotonya bersama kedua sahabatnya Viona dan Intan. Foto itu diambil jauh sebelum Fajar datang bergabung menjadi bagian dari mereka.
Arka menghela napas berat lalu menghembuskannya. Perlahan Ia berjalan menghampiri foto-foto tersebut. Ia meraih sebuah foto yang menarik perhatiannya. Ditatapnya foto tersebut beberapa saat, kemudian jemarinya reflek mengusap foto itu.
Sebuah foto seorang gadis cantik, tinggi, putih, dan rambutnya yang panjang di biarkan tergerai menutupi punggungnya, ditambah lesung pipit yang semakin menyempurnakan kecantikannya saat gadis itu tersenyum.
Arka menyukai gadis itu sejak Ia mengenalnya di sekolah dan kelas yang sama. Arka memutuskan untuk mendekati gadis itu dengan menjadi sahabatnya. Arka semakin tertarik dan jatuh cinta pada Viona. Hubungan merekapun berjalan sangat baik dan semakin dekat walau statusnya hanyalah sebagai sahabat.
Setahun berlalu, setelah kenaikan kelas, Arka memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Viona. Bukan hanya sekali saja Arka mengungkapkan perasaannya, tapi tetap mendapat penolakan dari gadis itu. Selama ini Viona tidak memberikan alasan yang pasti akan penolakannya.
Hingga saat kemarin jawabannya masih sama, gadis itu hanya menganggap Arka sebagai sahabatnya saja. Bahkan kali ini Viona berkata bahwa ada seseorang yang sedang dia tunggu kehadirannya. Jawaban itu membuat Arka sakit dan kecewa karena perasaannya tak pernah terbalaskan.
"Apakah tak ada tempat sedikit pun untuk ku di hati mu Vi?"
"Maafkan aku, tapi aku hanya menganggap kamu sebagai sahabat sama seperti aku dan Intan." jawaban Viona minggu lalu terngiang ditelinga Arka. Ia memejamkan kedua bola matanya sesaat kemudian mengacak rambutnya frustrasi.
Arka mengemasi barang-barangnya, dia memutuskan untuk ikut pindah bersama kedua orang tuanya. Sebenarnya kedua orang tua Arka tidak memaksa Arka untuk ikut dengan mereka, tapi Arka sendiri yang meminta untuk ikut, dengan alasan tak ingin jauh dari kedua orang tuanya. Tentu saja orang tuanya bahagia anak semata wayangnya akan ikut bersama mereka, mengingat sebulan yang lalu Arka bersikukuh tak ingin ikut dengan mereka.
Sementara di lain tempat nampak Intan sedang berusaha membujuk seorang pria untuk menemaninya jalan-jalan. Tapi pria itu terus saja menolak ajakan Intan.
"Ayolah Jar, temani aku ke toko buku yah... Please!!!" Intan terus membujuk Fajar agar mau ikut bersamanya.
"Aku gak bisa, Tan... Harus berapa kali aku bilang ke kamu... Hari ini aku ada sesuatu yang harus aku selesaikan..." Fajar merasa risih dengan sikap Intan yang terus memaksanya mengikuti keinginannya.
"Urusan apa?" Intan mengernyitkan alisnya kesal karena selalu mendapat penolakan dari pemuda disampingnya.
"Hari ini aku ada janji dengan seseorang," ucap Fajar jujur.
"Sama siapa?" Intan menatap Fajar tajam.
"Teman..." ucap Fajar singkat,
"Ya sudah aku pergi dulu ya..." tanpa menunggu persetujuan dari Intan, Fajar berlalu pergi meninggalkan Intan sendiri. Gadis itu terus menatap sendu punggung Fajar yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya.
"kenapa kamu selalu menghindar dari ku? Aku ini kurang apa? Aku bahkan sangat mencintaimu Fajar." gumam Intan lirih setelah kepergian Fajar.
***
#Fajar Pov
Hari ini aku akan bertemu dengannya, dengan seseorang yang membuatku sering tersenyum kala mengingatnya, bahkan terkadang akupun cemburu kala dia menyebutkan pria lain dalam curhatnya.
Ini memang aneh, tapi mau bagaimana lagi karena inilah yang aku rasakan saat ini.
Aku berulang kali melihat cermin, aku menata rambutku agar terlihat lebih rapi, kulihat penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Udah rapi ko, rambut udah oke, udah wangi pula. Oh dan satu lagi ini dia. Untung gak lupa."
Sebuah kalung dengan liontin bertulisan "VhieDjar" yang sengaja aku pesan khusus. Hari ini aku akan memberikan kalung ini padanya, gadis impianku.
Aku menatap kembali wajahku dari pantulan cermin, entah mengapa aku selalu ingin tersenyum saat ini. Tak bisa di pungkiri aku memang bahagia, aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengannya.
Aku bergegas pergi menuju sebuah Cafe tempat yang sudah aku dan dia sepakati sebelumnya.
Aku memarkirkan motorku, kemudian bergegas masuk ke dalam Cafe.
Aku memilih tempat duduk di meja pojok dekat jendela, suasana Cafe cukup ramai karena ini malam minggu banyak yang datang bersama pasangan, juga keluarganya.
"Selamat sore mas, mau pesan apa?" Tanya seorang pelayan Cafe saat Ia tiba di mejaku.
"Saya pesan Cokelat panas ya, Mbak!"
Pelayan itu pun pergi. Ku angkat tanganku untuk melihat sebuah jam yang melilit dipergelangan tanganku, waktu sudah menunjukan pukul 5:20 sore. Tapi seseorang yang aku tunggu belum datang juga.
Aku melihat ponselku, berharap ada notifikasi masuk. Namun tak ada satu pun pesan masuk.
"kemana dia? Kenapa belum datang juga?" aku mulai khawatir menunggu kedatangannya. Aku mencoba mengirim pesan tapi tidak ada balasan darinya.
"Vhie, kamu di mana?" ~Djar
"Aku sudah ada di Cafe, kamu masih lama kah?"~Djar
Pelayan pun datang dengan membawa secangkir cokelat panas kesukaanku.
Hingga minuman yang ku pesan habis, tapi orang yang ku tunggu masih belum tiba menemuiku.
Perasaanku mulai tidak tenang, pikiranku mulai berpikir yang tidak-tidak, namun aku segera menepis pikiran-pikiran buruk itu.
"Ah, mungkin dia akan terlambat, aku akan menunggunya sebentar lagi,"
Aku meraih ponsel yang ada didalam saku celanaku. Ada notifikasi pesan masuk.
"Fajar, kamu di mana sekarang?" ~Intan
Ternyata pesan itu dari Intan, aku simpan kembali ponselku tanpa membalas pesan dari Intan.
Aku mengeluarkan sebuah kalung yang akan ku berikan kepada seseorang, aku tak sabar ingin segera memberikan kalung ini kepadanya. Tapi hingga 2 jam lamanya aku menunggu, dia masih belum datang juga.
"Apa dia tidak akan datang? Tapi kenapa?" aku begitu kecewa karena hari yang aku tunggu-tunggu, yang ku kira akan jadi hari paling bahagia, tapi malah kecewa yang ku dapat. Gadis yang ku tunggu, gadis yang sudah sepakat akan bertemu dengan ku sore ini, bahkan dia sama sekali tidak mengabarinya.
Drettt,
Drettt,
Drettt,
"Hallo..."
"..."
"Baik lah aku kesana sekarang, kamu tunggu di sana..."
Fajar beranjak dari tempat duduknya, dengan tergesa Ia melangkahkan kakinya keluar dari Cafe tersebut.
tapi galang sedikit obsesi sama viona alias shasha..bukan karna galang cinta..karna klo dia cinta pasti akan bertanya gimana perasaan wanitanya..bukan dengan egoisnya bilang nggak mau di tinggalin dan nggak membiarkan wanitanya memilih siapa yang sebenarnya ada di hati wanitanya..