Sequel dari cerita Menikahi Om Sendiri.
.
.
Aurelia mengalami kebutaan saat usianya baru menginjak 6 tahun. Setelah mengalami kebutaan, Aurel menjadi sosok yang pendiam dan tidak seriang dulu.
Beberapa orang yang menyatakan cinta padanya, ternyata hanya memanfaatkannya dan menjadikannya bahan taruhan. Membuat ia tidak mempercayai siapapun selain keluarganya sendiri.
Setelah menginjak usia yang ke 18 tahun, perasaannya tiba-tiba muncul pada Kakaknya sendiri yang bernama Revan.
Akankah cinta mereka akan bersatu? Silahkan simak cerita selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firchim04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian di Kampus
Mohon maaf author baru bisa up lagi ya, karena beberapa hari ini sibuk banget 😭
Selamat Membaca ❤
...****************...
Sudah 2 hari Aurel sama sekali tidak berbicara dengan Revan. Setiap kali Revan mengajaknya berbicara lebih dulu, Aurel hanya menjawab sesingkat mungkin membuat Revan menjadi merasa bersalah.
Di kampus, Aurel baru saja menyelesaikan perkuliahannya. Riska satu-satunya sahabat yang ia punya, menghampirinya kemudian mengajaknya mengobrol dengan duduk di bangku taman yang berada di kampus.
"Rel, kamu kenal Kak Alvin kan?" tanya Riska.
"Kak Alvin? Kak Alvin yang mana?"
"Ih masa kamu nggak tau sih. Itu loh Kak Alvin yang ngajak kamu kenalan di kantin dulu. Yang ganteng pake banget" ucap Riska, sangat bersemangat.
"Oh yang itu. Iya tau. Tapi kan aku nggak bisa liat jadi nggak tau ganteng apa nggak. Memangnya seganteng itu ya?"
"Oh iya kamu kan nggak bisa lihat. Hehehe maaf ya Rel. Iya ganteng banget, aku suka dia. Kamu kenalin aku ke dia ya. Plis" mohon Riska.
"Aku kan nggak dekat dengan dia, Ka. Aku aja baru ngobrol sekali doang waktu di kantin"
"Kamu kan bisa ajak ngobrol sekali lagi terus kenalin aku. Plis ya Rel. Cuma kamu yang bisa bantuin aku sekarang. Aku beneran suka banget sama dia. Karismatik banget. Tambah suka akunya"
"Aku kira kamu suka Kakak aku. Udah pindah kelain hati nih ceritanya?" tanya Aurel.
"Ih aku mah suka dua-duanya. Habisnya Kak Revan nggak pernah melihat perjuangan aku yang udah lama suka dia, jadinya pindah ke lain hati deh untuk sementara waktu hehe. Bantuin ya plis banget Rel"
Riska terus memohon, membuat Aurel mau tidak mau mengiyakan permintaan sahabatnya itu.
"Iya deh aku bantuin. Tapi kalau nggak berhasil jangan salahin aku ya" kata Aurel.
"Siap bos. Makasih Rel. Kamu memang sahabat aku yang paling baik"
Riska memeluk tubuh Aurel saking senangnya. Aurel pun tersenyum dan membalas pelukannya. Menurutnya, tidak ada salahnya membantu Riska karena selama ini Riska lah yang selalu membantunya saat sedang kesusahan.
"Ayo ikut aku Rel, kita ke lapangan basket. Tadi aku liat Kak Alvin lagi main basket bareng teman-temannya"
"Jangan dong. Aku kan nggak bisa liat. Nanti apa kata orang-orang yang lain"
"Nggak apa-apa. Kalau mereka macam-macam aku yang hadapin. Tadi kan kamu juga udah janji mau temenin aku untuk kenalin ke Kak Alvin" ucap Riska.
"Iya. Ayo kita pergi" kata Aurel.
Riska tersenyum senang, kemudian menggandeng lengan Aurel dan mengajaknya pergi ke lapangan basket.
Sesampainya di lapangan basket, terdengar teriakan para penggemar tim basket senior. Ya, pada saat itu akan ada pertandingan antara tim basket senior dan junior. Sangat banyak yang mendukung tim basket senior khususnya mendukung Alvin sebagai kaptennya.
Tidak ketinggalan, Riska juga ikut berteriak untuk mendukung pujaan hatinya. Sedangkan Aurel terlihat tenang dan hanya diam mendengar seluruh teriakan di lapangan itu.
Alvin tersenyum singkat melihat seluruh orang yang berada di lapangan, banyak yang mendukung timnya. Namun, matanya tiba-tiba terpaku pada seorang wanita yang sangat cantik dan terlihat hanya duduk diam di kursi penonton. Ya, siapa lagi kalau bukan Aurel.
Gadis yang baru saja masuk sebagai mahasiswi baru di kampus itu, berhasil membuat Alvin yang sangat populer menjadi tertarik kepada wanita yang memiliki kekurangan dalam penglihatan itu.
Alvin terus menatap ke arah Aurel, kemudian mulai tersenyum lagi.
Riska yang mengira dirinya yang ditatap serta diberi senyuman oleh Alvin, mulai merasa salah tingkah dan wajah yang memerah.
"Rel, Kak Alvin liat ke sini dong. Pasti dia lagi liatin aku sekarang. Aku harus gimana nih?"
"Udah santai aja jangan gugup. Kan bagus kalau ada kemajuan. Jadi bisa lebih dekat lagi deh kamu sama Kak Alvin"
"Iya ya. Ya ampun aku nggak sabar pengen kasih minuman ini untuk dia nantinya" ucap Riska, sambil memeluk erat air mineral yang ingin diberikannya pada Alvin.
Pertandingan berlangsung sengit. Semua penonton bersorak setiap kali para tim favorit mereka mencetak angka. Hingga akhirnya pertandingan usai dan saat itu dimenangkan oleh tim basket senior.
Alvin melambaikan tangannya pada para penggemar dan tersenyum ke arah mereka semua, membuat semua penggemarnya hampir pingsan dibuat olehnya.
Riska melihat Alvin mulai dikerumuni oleh para fansnya saat pertandingan usai. Dia tidak ingin ketinggalan dan akhirnya menarik Aurel untuk ikut bersamanya masuk ke dalam kerumunan itu.
"Rel, ayo cepetan jalan. Nanti keburu Kak Alvin pergi" ucap Riska.
"Sabar dong Riska. Aku kan nggak bisa liat. Jadi harus pelan-pelan" balas Aurel.
"Duh lama banget sih. Aku duluan ya"
Riska meninggalkan Aurel sendirian di dekat kerumunan, membuat Aurel menjadi panik dan tidak tahu harus kemana.
Alhasil, ia terjatuh di tanah akibat desakan para fans Alvin yang sudah berkerumun.
"Awww"
Aurel meringis kesakitan. Ia memegang lututnya yang terluka dan merasa seperti mengeluarkan darah.
Alvin yang sangat terkejut melihat Aurel terjatuh, langsung berlari ke arah Aurel dan tanpa banyak bicara, dia langsung menggendongnya dan membawanya ke uks.
Semua orang yang melihat hal itu merasa iri pada Aurel, termasuk Riska.
Sesampainya di uks, Alvin segera mengobati lutut Aurel yang berdarah.
"Maaf, tapi Anda siapa? Terima kasih sudah menolong saya" kata Aurel.
"Sama-sama. Aku Alvin. Kamu kenapa bisa terjatuh seperti tadi? Kalau ngefans aku bilang aja, jangan sungkan" ucap Alvin, bercanda.
"Bukan aku kok. Aku cuma temenin teman aku doang"
"Ah paling kamu alasan doang"
"Ih beneran" kesal Aurel, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya maaf. Aku cuma bercanda kok. Ngomong-ngomong kenapa tadi kamu cuma sendiri? Katanya sama teman"
"Iya soalnya tadi aku nggak bisa jalan cepat, jadi dia pergi duluan. Katanya dia takut Kak Alvin sudah pergi"
"Terus kamu nggak marah ditinggalin?" tanya Alvin.
"Nggak. Ngapain marah? Aku sadar aku punya kekurangan. Sudah resiko aku kan. Lagipula Riska baik kok sama aku" jawab Aurel.
"Kamu kok baik juga ya. Jadi suka deh"
"Jangan mulai ya Kak. Aku lagi nggak mau bercanda loh"
"Tapi aku se..."
Belum selesai Alvin berbicara, tiba-tiba pintu uks terbuka. Orang yang baru saja datang ternyata adalah Riska. Tampak wajahnya sangat khawatir melihat kondisi Aurel.
"Ya ampun Rel kamu kenapa? Kok bisa jatuh sih? Aku khawatir tau. Kak Alvin makasih ya sudah mau nolongin sahabat aku" ucap Riska.
"Iya sama-sama. Lain kali kalau sahabat kamu jatuh langsung ditolongin, bukan cuma diliatin doang"
Alvin menoleh ke arah Aurel dan mengusap lembut kepala Aurel.
"Aku pergi dulu ya. Ada kelas soalnya. Kalau butuh bantuan apa-apa bilang aja"
"Iya makasih Kak" kata Aurel.
Setelah itu Alvin berjalan keluar dari ruangan uks. Namun, sebelum keluar dia menatap sinis ke arah Riska lebih dulu.
Riska yang melihat hal itu merasa bingung dengan sikap Alvin yang tidak terduga.
lanjuttt🥰🥰🥰
org tua egois... cepat kabur LG Aurel
mereka kan bukan saudara kandung apa salah nya....
harusnya cari tahu dulu dong kebenaran nya, man benci aja...kasian Raffa kan
revan ayo gercep tlng aurel klau gk km akan kehilangan aurel
lanjutt kk
up up up trs y....