Safa Zaina adalah seorang gadis yang tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Namun karena kecerdasannya dia berhasil mendapatkan beasiswa di Universita Negeri terbaik di kotanya. Pertemuannya dengan Azka Imam Haqiqi, seorang pria kaya membawa perubahan pada dirinya. Imam adalah cinta pertama Safa. Namun berbeda dengan Azka. Safa adalah wanitanya yang entah yang ke berapa. Tak dapat lagi di hitung saking banyaknya. Namun satu yang pasti, Safa adalah pelabuhan cinta terakhirnya. Hubungan jarak jauh tak menjadi halangan bagi kisah cinta mereka. Dan di usia hubungan mereka yang ke 8 tahun, mereka akan melangsungkan pernikahan. Bertepatan dengan selesainya masa program dokter internship Imam.
Namun manusia hanya mahir berencana, dan Tuhanlah yang menentukan takdirnya. Malapetaka itu datang. Malapetaka yang membuat hidup Safa hancur. Malapetaka yang membuatnya tak lagi mempunyai alasan untuk hidup.
Mampukah safa bertahan? Atau dia akan mengalah pada takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristiyana Nopiyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner With Azka 2
Uang yang berada di dompetnya hanya tinggal 4 lembar uang 100 ribuan juga 7 lembar uang 10 ribuan. Jumlah yang terlalu sedikit untuk bekal hidupnya hingga 20 hari ke depan. Sementara harga dari 1 gelas lemon tea akan mengurangi 4 lembar uang puluhan miliknya. Belum lagi tax and service yang dia sangat yakin jika jumlahnya takan kurang dari 25%.
Safa memang sudah terbiasa hidup sangat sederhana, namun kendati begitu kedua orang tuanya selalu mengajarinya agar tak merepotkan orang lain.
"Ada lagi nona?" Kata pelayan itu setelah selesai menulis pesanan Safa.
"Tidak. Itu saja. Terimakasih" jawab Safa sambil tersenyum. Tangannya lantas menutup buku menu yang masih di pegangnya.
"Gak mau makan?" Azka yang dari tadi memperhatikan Safa bertanya ke arah Safa yang kini sedang menatap ke luar jendela.
"Kebetulan tadi aku udah makan" jawab Safa berbohong. Namun terang saja Azka mengetahui kebohongan Safa, karena sejak tadi pukul 5 sore dia tiba di perpustakaan, Azka tak pernah sekalipun melihat Safa keluar dari gedung tersebut. Tak mungkin juga Safa makan di dalam perpustakaan, meski dia seorang petugas perpus. Toh peraturan dilarang makan di perpustakaan ini berlaku untuk semua pengunjung tanpa pengecualian.
"Disini main course andalannya salmon Filetto sama sirloin Bistecca. Untuk appetizernya angus carpaccio atau prosciutto san daniele juga enak. Kalau dissertnya bisa pilih classic tiramisu" kata Azka mempromosikan beberapa menu yang memang biasa di pesannya setiap berkunjung kesini.
"Ehhh, gak makasih. Lemon tea hot aja" jawab Safa sambil memalingkan wajahnya ke arah Azka. Untuk beberapa detik selanjutnya tatapan mereka saling beradu, membuatnya menjadi salah tingkah.
"Aku aja ya yang pesen. Awas lho kalau gak dimakan" kata Azka lagi. Belum sempat Safa menolak permintaan Azka, Azka sudah memalingkan wajahnya pada pelayan cafe yang masih setia menunggu mereka memesan makanan yang akan di hidangkannya. "Angus carpaccio 2, Sirloin bistecca 2, sama classic tiramisu 2. Tambah crispy portobello. Minumnya lemon tea hot 2. Sama shiraz glass 2 ya" kata Azka seraya menyodorkan buku menu pada pelayan itu.
"Tapi aku ud..." Belum sempat Safa melanjutkan kalimatnya, Azka menjawab kalimatnya.
"Udah makan aja, lagian aku juga tau kalau kamu belum makan sejak siang tadi" kata Azka yang kemudian membuat Safa terbelalak.
"Darimana kamu tau?" Jawab Safa yang terang saja kalimatnya membuat Azka terkekeh karena pertanyaan Safa jelas mengungkap kebohongan Safa tadi. "Ehh.." ralat Safa seraya menggigit bibir bawahnya.
"Jadi kamu sekarang ngaku, kalau lagi bohong?" Tanya Azka sambil senyum tertahan.
"Hmm..." Safa hanya berguman bingung entah harus menjawab apa. Sementara dirinya sibuk menghitung berapa banyak uang yang harus di siapkannya untuk membayar pesanan Azka untuk dirinya. Setidaknya dia ingin membayar makanannya sendiri.
"Gelisah banget kamu. Gak nyaman duduk sama aku?" Tanya Azka yang mulai menangkap kegelisahan pada wajah Safa.
"Ehh... Hm.. gak koq. Aku cuma bingung aja" jawab Safa sedikit jujur.
Yah, Safa memang sedang bingung harus melakukan apa atau harus bicara apa. Karena ini adalah kali pertama Safa duduk berdua dengan seorang pria, selain tentunya Ayah dan kakak laki-lakinya. Namun selain itu Safa bingung memikirkan sejumlah uang yang harus di keluarkannya saat nanti pergi dari genesis.
"Ya ampun hampir 1 juta" katanya dalam hati. Dengan segera Safa mengambil ponsel di dalam sling bagnya, berniat akan menghubungi Jenny melalui pesan WhatsApp.
"Bingung kenapa?" Tanya Azka menatap wajah Safa.
"Aku baru pertama kali ini jalan berdua sama cowok" kata Safa jujur. Membuat Azka terkekeh.
"Hmm.. Jadi ceritanya aku orang pertama yang ngajak kamu jalan berdua?" Tanya Azka yang hanya di timpali dengan senyuman malu campur bingung. "Aku permisi ke toilet dulu ya" kata Azka sambil berdiri dan berjalan menuju toilet.
Kepergian Azka ke toilet di manfaatkannya untuk menghubungi Jenny yang tadi sempat tertunda.
Safa : Jen, gawat
Jenny : Gawat kenapa?
Safa : Aku butuh uang 1 juta sekarang. Ada?
Jenny : Buat?
Safa : Nanti aku cerita. Bisa kirim ke rekeningku, sekarang?
Jenny : Oh oke
Hingga tak berapa lama notif di m-banking nya muncul jika saldonya sudah bertambah 1 juta. Membuatnya sedikit bernafas lega. Dia kembali menyimpan ponselnya di atas meja. Bersamaan dengan datangnya Azka yang baru dari toilet.
"Aku ke bawah sebentar boleh?" Tanya Safa pada Azka yang baru saja mendudukan tubuhnya di atas kursi dihadapannya.
"Harus sekarang?" Azka balik bertanya. Safa hanya menjawab pertanyaan Azka dengan sebuah anggukan. Namun belum sempat dia beranjak dari tempat duduknya, seorang pelayan tengah menghampirinya dengan nampan berisi Appetizer yang tadi di pesan Azka. Membuat safa mengurungkan niatnya.
2 buah piring dengan hidangan tersaji di hadapannya kini, juga dengan 2 gelas wine.
"Makan dulu aja" kata Azka setelah pramusaji itu pergi. Safa masih diam sambil memandangi makanan di dalam piringnya. Makanan yang belum pernah di lihat sebelumnya. Beberapa potong danging sapi yang di slice tipis tanpa di masak terlebih dahulu yang di taburi sesuatu berwarna hijau yang Safa sendiri tak tahu apa itu. Juga ada sejenis saos berwarna merah yang tampaknya seperti di tuang dengan hati-hati membentuk garis ulir serta daun berwarna hijau di atasnya. Tampilannya sangat indah membuatnya enggan untuk menyentuh makanan yang tersaji di hadapannya. Terlalu sayang jika harus memakan makanan yang tampak sangat bagus di pandang. "Kok malah di pelototin makanannya? Kamu gak suka?" Tanya Azka yang sudah mulai menyantap makanannya.
"Bukan gak suka" jawab safa segera.
"Terus kenapa?" Tanya Azka lagi.
"Gak apa-apa" kata Safa seraya mengambil garpu yang terbungkus tissue di samping piringnya. Dan kemudian mengambil potongan pertama makanannya.
"Katanya tadi di telepon kamu mau ngomong. Ngomong apa?" Tanya Safa sambil terus mengunyah makanannya.
"Oh itu. Aku ma..."
"Maaf mengganggu" seorang pramusaji tiba di samping mejanya yang langsung menghidangkan makanan lain yang telah di pesannya. Membuat Azka tak lagi melanjutkan kalimatnya.
"Jadi mau ngomong apa?" Tanya Safa lagi.
"Aku pengen kenal lebih deket aja sama kamu" jawab Azka tanpa menoleh ke arah Safa.
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.." Safa tersedak dengan makanannya sendiri ketika mendengar jawaban Azka. Dengan gerakan tercepat Safa mengambil lemon tea di hadapannya. Yang meminumnya untuk meredakan batuk akibat tersesak.
"Makanya, makannya pelan-pelan. Grogi banget deh kayaknya. Biasa aja kali" kata Azka tanpa menatap wajah Safa. "Kamu gak keberatan kan?" Tanya Azka lagi. Safa yang hampir menyimpan lemon tea, kembali meminumnya setelah mendengar pertanyaan Azka.
#gadis imut diantara dua raja
mksh ya ka
lanjut