NovelToon NovelToon
SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA

SISI LAIN SUAMIKU, DEAN GALANG WIJAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).

Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.

Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.

Sampai mereka tau sisi lainnya.

Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:

"Apa mau main?"

Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISI LAIN SUAMIKU.DEAN GALANG WIJAYA Bab 21 - Eksperimen Koordinat Baru

SISI LAIN SUAMIKU.DEAN GALANG WIJAYA

Bab 21 - Eksperimen Koordinat Baru

Pukul sembilan malam tepat.

Suasana di dalam penthouse Kuningan terasa sunyi seperti biasa, namun ada ketegangan tak kasat mata yang sangat pekat di dalam kamar kerja pribadi Dean Galang Wijaya. Sang CEO kini sedang menatap layar tabletnya dengan tingkat fokus yang jauh lebih tinggi daripada saat menganalisis laporan merger korporat global.

Mata hitamnya membaca baris demi baris artikel hasil pencarian algoritma mesin pencari dengan kata kunci spesifik: Cara Mengatasi Kejenuhan Aktivitas Biologis Suami Istri.

Di bawah selubung wajah manekinnya, sistem pemrosesan taktis Dean sedang menyusun strategi restorasi harga diri skala penuh.

[POV Dean]

Penarikan kesimpulan literatur independen: Berdasarkan data dari delapan belas artikel psikologi pernikahan yang saya unduh pukul 20.15 tadi, variabel utama yang memicu kesimpulan 'membosankan' pada diri Nona Sinta adalah faktor repetisi lingkungan. Melakukan aktivitas intensitas tinggi secara monoton pada koordinat ranjang king size terbukti menurunkan tingkat kejutan psikologis hingga empat puluh persen. Jurnal menyarankan pengalihan ke area spasial alternatif yang belum pernah dieksplorasi. Saya telah memetakan seluruh denah penthouse ini secara geometris. Ruang kerja pribadi (meja jati besar), meja konter marmer dapur, hingga sofa ruang tamu adalah opsi lokasi dengan tingkat ergonomi dan elemen kejutan tertinggi. Malam ini, saya akan melakukan eksekusi prosedur baru demi merevisi penilaian efisiensi saya yang diberi label 'tidak buruk' itu.

Dean menutup tabletnya dengan bunyi klik yang mantap. Rahang kokohnya mengeras lempeng. Ego maskulinitasnya menuntut pemulihan data malam ini juga.

Sementara itu, di kamar utama.

Sinta baru saja selesai mengeringkan rambutnya pasca mandi. Dia mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna hijau zamrud, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur sembari membolak-balik buku teks pedoman ilmu penyakit anak. Performanya hari ini di rumah sakit cukup menguras energi, dan pikirannya masih sedikit terganggu dengan ucapan asal rekan-rekan co-ass-nya tadi sore.

Cklek.

Pintu kamar terbuka. Dean melangkah masuk, namun penampilannya malam ini langsung membuat Sinta menurunkan buku teksnya dengan alis bertaut heran. Pria kaku itu tidak mengenakan piyama hitam satin andalannya. Dean justru memakai kemeja kasual flanel bergaris gelap yang kancing atasnya sengaja dibuka, dipadukan dengan celana jins rumahan yang santai. Rambutnya tidak disisir klimis ke belakang, melainkan dibiarkan sedikit berantakan secara sengaja.

Bapak robot ini... salah minum obat atau bagaimana? Mengapa gayanya santai sekali? batin Sinta heran, menatap perubahan drastis pada gaya visual suaminya.

Dean berjalan tegap mendekati sisi ranjang, namun dia tidak naik ke atas kasur. Pria itu hanya berdiri tegak dengan mata hitam pekat yang menatap Sinta lurus-lurus

"Nona Sinta, mohon tutup buku teks medis kamu dan lakukan mobilisasi fisik keluar dari koordinat kamar ini sekarang," perintah Dean lempeng tanpa dosa, suaranya berat dan terdengar sangat formal.

Sinta mengedipkan matanya kaku. Dia melihat wajah Dean yang terlihat begitu serius dan dingin. Otak rasional Sinta langsung menyimpulkan bahwa ada agenda korporat atau masalah mendesak terkait administrasi rumah sakit keluarganya yang ingin dibahas oleh suaminya. Mengingat komitmen legal mereka, Sinta tidak menaruh curiga sedikit pun. Dia berpikir ini adalah urusan bisnis yang teramat penting.

"Baik, Pak Dean. Saya ganti baju formal dulu atau—"

"Tidak perlu," potong Dean cepat, pandangannya menyapu gaun tidur satin hijau zamrud yang melekat pas di tubuh istrinya. "Pakaian saat ini sudah memenuhi standar efisiensi untuk agenda malam ini. Ikut saya."

Sinta mengangguk patuh. Dia meletakkan buku teks medisnya di atas nakas, lalu turun dari kasur dengan gerakan anggunnya. Tanpa rasa curiga sama sekali, Sinta melangkah mengekor di belakang punggung tegap suaminya, berjalan menyusuri lorong penthouse yang temaram.

Namun, langkah kaki Sinta mendadak melambat saat Dean tidak membawanya ke arah ruang makan atau ruang tamu utama, melainkan melangkah lurus menuju pintu kayu ek tebal: Ruang Kerja Pribadi CEO.

Begitu mereka masuk, pintu langsung ditutup rapat dan dikunci dari dalam oleh Dean dengan bunyi klik yang menggema di ruangan sepi itu. Sinta menatap sekeliling ruangan yang hanya diterangi oleh lampu meja kerja kuning temaram. Di tengah ruangan, terdapat meja jati besar yang kokoh yang biasanya dipenuhi berkas saham global.

"Pak Dean, kenapa kita ke ruang kerja Bapak? Apa ada dokumen kontrak rumah sakit yang harus saya tanda tangani lagi?" tanya Sinta polos, membalikkan tubuhnya menghadap Dean dengan raut wajah yang siap menerima arahan bisnis serius.

Dean tidak langsung menjawab. Pria itu justru melangkah maju, mengurung tubuh mungil Sinta di antara dinding ruangan dan tubuh kekarnya. Aroma maskulin yang kuat dari tubuh Dean langsung menyerang indra penciuman Sinta dalam jarak beberapa sentimeter. Wajah tampan suaminya tetap lempeng bagai triplek proyek, namun kedua daun telinganya merona merah pekat yang sangat kentara.

"Tidak ada dokumen korporat malam ini," ucap Dean dengan nada berat andalannya yang datar namun sarat akan penekanan yang seksi. "Berdasarkan riset literatur yang saya selidiki sepanjang malam, aktivitas domestik intensitas tinggi tidak memiliki regulasi hukum yang mewajibkan pelaksanaannya hanya di atas tempat tidur. Ruang kerja pribadi ini memiliki tingkat privasi seratus persen dan meja jati ini mampu menahan beban mekanis hingga dua ratus kilogram secara konstan."

Deg!

Mata cokelat Sinta membelalak sempurna sampai ke batas maksimal. Kepolosan di wajahnya dalam sekejap lenyap, digantikan oleh rasa syok yang luar biasa. Secara refleks, Sinta langsung memajukan kedua tangannya, menahan dada bidang Dean yang terbalut kemeja flanel agar pria itu tidak mengikis jarak mereka lebih jauh lagi.

"Pak Dean... tapi malam ini bukan jadwalnya kita main," cicit Sinta terbata-bata, mencoba menggunakan aturan kesepakatan saklek suaminya sebagai benteng pertahanan terakhir. Pipi Sinta langsung merah padam, terasa sangat panas pekat hingga ke batas leher karena harus mengucapkan kata "main" secara langsung di depan sang bapak robot.

Dean menatap ke arah dua telapak tangan kecil Sinta yang menempel di dadanya, lalu kembali mengunci pandangan mata cokelat istrinya dengan lempeng tanpa dosa.

"Kalkulasi jadwal reguler memang menyatakan kita berada di fase retensi," sahut Dean datar, mematahkan pembelaan Sinta dalam satu kali argumen logika. "Namun, Pasal Penyelamatan Reputasi Maskulin memberikan otoritas penuh kepada saya untuk melakukan amandemen darurat jika terjadi distorsi informasi eksternal. Malam ini, kita akan melakukan uji coba performa pada koordinat baru. Saya akan memastikan bahwa sistem operasional saya tidak lagi diklasifikasikan ke dalam kategori pria yang kaku dan... membosankan."

Mampus! Dia benar-benar mendengar obrolan saya di rumah sakit tadi sore! jerit Sinta histeris di dalam hatinya. Penyesalan mendalam langsung menghujam isi kepalanya karena sudah sembarangan memberikan ulasan buruk tentang suaminya kepada rekan-rekan co-ass.

Sinta ingin rasanya menghilang dari muka bumi saat itu juga, menyadari bahwa benteng jadwal yang biasanya dia agungkan sama sekali tidak berguna di hadapan ego seorang Dean Galang Wijaya yang sedang menuntut pemulihan harga diri secara legal.

1
falea sezi
🤣🤣malu yeee q kirim hadiah biar up makin banyak🤣
falea sezi: lah kenapa libur thor🤭
total 2 replies
mamah fitri
🤣🤣🤣🤣🤣
Park ha
🤭🤭🤭
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
🤣🤣 lempeng amat pakk dean🤭
falea sezi
nyimak bagus q kirim hadiah nih
Lea
Lanjut 🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳
mamah fitri
🤣🤣🤣🤣🤣
Park ha: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
mamah fitri
wkwkwkw... asli ngakak dengan karakter pak Dean.. lucu banget sih ya🤣🤣🤣🤣
Park ha: 🤭🤭🤭🤭🤭 jangan lupa like ya kak oh ya boleh kasih ulasan hehehe ... tar aku update sehari 1 bab dulu.. soalnya masih nulis yang Toxic and control juga...hehehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!