Andika seorang bayi berumur satu bulan yang ditinggal oleh ibunya untuk selama-lamanya. Besar bersama ayahnya yang benama Adam membuatnya berubah menjadi nakal dan banyak tingkah.
Banyak wanita yang dijodohkan dengan ayahnya berakhir gagal karena ulahnya. Akankah Andika berhasil menemukan ibu sambung yang sesuai dengan pilihannya?
Simak kisah mereka di karya kedua aku ini!!!
sebelumnya, mampir juga dikarya pertamaku
ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Happy Reading...😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Viral...
Kontrakan Yuni...
Rara terbaring sambil sesekali meringis pedih saat Yuni mengompresnya dengan es batu. Banyak pertanyaan dikepalanya saat ini, tapi dia urungkan, melihat kondisi Rara yang kesakitan.
"Apa kita ke dokter saja?" Tanya Yuni.
"Gak usah Ma, udah biasa kok, cuma tadi durasinya terlalu lama, Rara belajar karate dari kelas 2 Ma, saat itu Rara gak sengaja lihat satu keluarga yang menginap dihotel tersebut sedang latihan. Anak-anak mereka sangat cepat gerakannya, diam-diam Rara mengintip mereka, saat tengah asiknya, seseorang dibelakang Rara bersuara, akhirnya Rara ketahuan."
"Terus mereka ngapain kamu?" Tanya Yuni serius.
"Ternyata orang dibelakang Rara, anak tertua mereka, mungkin masih SMA kalo Rara lihat badannya. Adik-adiknya sebaya Rara, akhirnya Rara dibawa bertemu orang tua kak Gibran, rupanya mereka pelatih yang dipanggil untuk mengajar sementara disebuah perguruan tidak jauh dari hotel. Dari situlah akhirnya, Rara jadi sering latihan, hampir tiap hari Rara ikut mereka diam-diam ke perguruan dan yang paling penting gratis.
"Mereka orang mana?" Tanya Yuni.
"Gak tau, Rara gak tanya." Jawab Rara polos.
"Ya ampun kamu ini, udah diajarin bukannya tanya siapa yang udah ngasih ilmunya buat kamu sebagai bentuk terima kasih dan rasa hormat." Ucap Yuni menghela nafasnya.
"Rara udah kok ngucapin terima kasih pada mereka waktu mereka pulang."
Saat mereka tengah beradu mulut, suara dering ponsel membuat Yuni menghentikan perdebatannya dengan sang putri.
"Papa kamu telpon." Ucap Yuni.
"Hallo." Ucap Yuni.
"Yun, sejak kapan Rara bisa karate?"
"Hahhh??? Maksud kamu?"
"Aku lihat diberita, semua akun medsos viral dengan rekaman dia berkelahi, Rara berkelahi sama siapa? gimana keadaannya sekarang? Ibu sampai menelponku berkali-kali menanyakan kondisi Rara."
"Dia baik, cuma memar dikit, udah dikompres barusan udah tidur juga. Oh ya, anak laki-laki itu Andika anaknya Adam, teman kita dulu."
"Hahhh...kok bisa kebetulan? Kamu ketemu Adam dimana?"
"Aku kerja di restoran dia."
"Ouh, salam buat dia."
Tuttttt....
Yuni menghela nafasnya kasar, melihat putrinya yang sudah tertidur dia juga ikut merebahkan badannya sampai terlelap.
2 minggu berlalu...
Hari ini setiap murid sekolah disibukkan dengan ujian akhir semester. Begitu juga dengan Rara dan Dika yang yang selama dua minggu ini fokus belajar mempersiapkan diri menghadapi ujian.
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, satu minggu lamanya mereka sibuk dengan ujian akhir semester. Sementara orang tua masing-masing juga ikut sibuk dengan pekerjaan mereka di restoran.
"Yun, bisa bicara sebentar?" Tanya Adam disela-sela kesibukannya.
"Ya, ada apa Pak?"
"Mmm...Abah ingin bertemu kamu dan Rara, aku berencana membawa Dika liburan ke Padang, gimana apa kalian mau ikut? Tidak lama, cuma 2 minggu."
"Mmmm...kerjaan gimana, kalo bapak sih enak, nah kalo saya bisa kena pecat."
"Saya udah minta izin sama pak Anwar, setelah kita balik dari sana, pak Anwar yang akan libur, jadi ganti-gantianlah, gimana?"
"Mmm...tanya Rara dulu ya? Tau sendiri anaknya gimana."
"Iya, kalo gitu aku permisi dulu." Ucap Adam mengakhiri perbincangannya.
Hari ini, para wali murid telah berkumpul disekolah, tepatnya dikelas masing-masing untuk menerima rapor anak-anak mereka. Yuni dan Adam juga sudah berada disekolah anak-anak mereka.
Setelah pembagian rapor, Yuni langsung kembali ke restoran. Disana ternyata ada Dika yang tengah duduk sambil meminum jusnya.
"Hai Dik, udah lama?" Sapa Yuni.
"Baru tante."
"Gimana hasil rapor kamu?"
"Belum tau, rapornya masih sama papa."
"Ouh...."
"Rara gimana?"
"Seperti biasa, nilainya pas tidak bagus banget, tidak juga jelek, ditengah-tengahlah. Ya udah tante tinggal ya, masih banyak kerjaan." Ucap Yuni seraya bangun dari duduknya.
Sesaat kemudian Adam datang langsung menghampiri putranya.
"Gimana pa?"
"Seperti biasa."
"Maunya ada warna merah gitu, biar rame."
"Hust...enak aja kamu."
"Ibu teman-teman kamu cantik-cantik juga ya?"
"Hah??? Sejak kapan papa perhatiin mereka?"
"Sejak tadi, banyak yang tersenyum ke papa, apa karena papa masih ganteng ya?" Ucap Adam narsis.
"Papa masuk sana, malu Dika dengarnya."
"Ini rapor kamu bawa pulang ya." Ucap Adam menyerahkan rapor kepada putranya.
Adam kembali masuk kedalam, Dika akhirnya pergi meninggalkan restoran.
"Kemana Den?" Tanya pak supir?"
"Ke kontrakan tante Yuni, bapak tau?"
"Ouh, iya Den."
Mobil kembali melesat ketempat tujuan. Entah apa yang ada dipikiran Dika, tiba-tiba dia ingin bertemu dengan Rara. Mobil berhenti di depan sebuah bengkel, tampak Rara tengah bergelut dengan oli disana.
Rara masih fokus dengan pekerjaannya. Tidak menyadari Dika sudah duduk dibangku sambil memperhatikan Rara bekerja.
"Hey anak muda, nyari siapa?" Tanya bang Beni.
Dika menunjuk kearah Rara yang membelakanginya.
"Ra, ada yang cariin noh." Tunjuk bang Beni dengan wajahnya.
"Kak Dika? Ngapain kemari?" Tanya Rara terkejut mendapati Dika duduk dibelakangnya.
"Bosan, tadi lewat sini lihat kamu, ya udah mampir." Ucap Dika sedikit berbohong, padahal memang tujuan utamanya menemui Rara.
Andika dengan kenakalan dan sifatnya yang sulit ditebak, membuat dia tidak mempunyai teman dekat yang bisa diajak keluar. Dirinya juga bukan orang yang mudah akrab dengan orang. Berbeda dengan Rara, Dika seperti menemukan teman yang menurutnya sesuai dengan karakternya.
"Masih lama Ra? Lapar nih." Ucap Dika.
"Kakak lapar, makan gih! Tuh ada mie ayam didepan." Ucap Rara masih bergelut dengan oli.
"Kita keluar yok, makan dimana gitu sambil ngobrol."
"Mmmm...bentar ya, Rara tanya dulu?"
Rara berlalu masuk kedalam bengkel.
"Bang, Rara keluar bentar boleh?" Tanya Rara sama Beni.
"Kemana Ra?" Selidik bang Beni.
"Itu, kak Dika ngajak makan."
"Mmmm...ya udah cuci tangan sana!"
"Makasih bang." Ucap Rara tersenyum berlari keluar.
Setelah ijin ke Beni, Rara pulang mengganti pakaian. Rara dan Dika kini berada disebuah restoran cepat saji setelah diantar oleh supir.
"Kakak gak sarapan pagi?" Tanya Rara yang sudah duduk disebuah meja dekat jendela.
"Udah, tapi lapar lagi."
"Gimana hasil rapor kakak?"
"Seperti biasa."
"Seperti biasa itu gimana? Rara kan gak tau sebelumnya rapor kakak gimana?" Ucap Rara kesal.
"Hahahaha...sorry. Aku peringkat 1 lagi."
"Lagi??? Berarti sebelumnya juga rangking 1?"
"Hmmm..."
"Terus kakak bilang biasa?" Geram Rara.
"Iya, memang biasa seperti itu."
"Ishhhh kakak nih, kalo aku dapat rangking satu, uh...udah loncat-loncat diatas meja sekarang."
"Memang kamu mau banget dapat rangking satu?" Selidik Dika.
"Mau sih, aku penasaran gimana rasanya."
"Makanya kamu belajar yang rajin, jangan mainnya di bengkel aja."
"Aku bosan lihat buku kak, aku lebih suka pake otot dari pada otak."
"Ya kalo gitu kamu harus terima juga kalo gak bisa dapat peringkat satu, atau kamu mau aku kasih peringkat satuku buat kamu?"
"Memang bisa ngasih-ngasih gitu?"
"Hahahaha...Ra, kapan-kapan kita latihan bareng mau gak?"
"Boleh, sekalian olahraga."
"Aku minta nomer ponselmu biar bisa hubungi kamu langsung."
"Aku gak punya ponsel kak, aku gak suka diganggu."
"Terus kalo aku mau ketemu kamu gimana? Mama kamu kan kerja."
"Kakak ke bengkel tadi aja, aku gak kemana-mana."
"Hmmm...oke."
Dika kembali ke rumah setelah mengantar Rara kembali ke bengkelnya. Sementara di restoran, Adam tengah diruangannya bersama Yuni serta pak Anwar untuk membahas libur mereka selama 2 minggu.
salam kenal dari pengisi suara novel ini 😊😊