Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Hati Yang Tak Tergugah.
Sera kembali bangun di pagi hari dengan penuh tanya. Entah jam berapa Ravin kembali ke kamar, hingga gadis itu tak menyadari sama sekali.
Tidur gadis itu seolah tak terusik. Atau mungkin Ravin yang naik ke atas ranjang dengan begitu pelan.
Yang Sera lihat, Ravin sudah tertidur di sampingnya dengan menggunakan kaos putih dan celana pendek.
Seperti malam pertama dan kedua mereka yang terlewati begitu saja. Malam ketiga pun harus berakhir dengan penuh penantian tanpa kepastian.
Sera hanya mampu menghela nafas kasar. Dan tetap berusaha untuk meyakinkan hatinya, jika ini baru dari awal pernikahan mereka.
Hari masih panjang untuk mereka beradaptasi. Sera yakin, suatu hari Ravin pasti akan mencintainya.
“Selamat pagi, kak.” Sapa Sera pada Ravin yang baru membuka matanya.
“Pagi, Sera. Sudah jam berapa?” Tanya Ravin sembari meregangkan tubuhnya.
“Jam 6. Kakak mau tidur lagi, atau bangun sekarang?” Tanya sang istri.
“Hmm.. sepuluh menit lagi.” Ucap Ravin yang kembali memeluk selimutnya.
Sera mengangguk pelan. Ia kemudian turun dari tempat tidur. Dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Saat Sera selesai mandi dan berganti pakaian kerja, ia sudah tidak mendapati sang suami di atas ranjang.
“Kemana kak Ravin?” Monolognya.
Saat hendak keluar untuk mencari keberadaan Ravin, pria itu justru muncul lebih dulu dari balik pintu. Dengan menggunakan jubah mandi.
“Kakak mandi dimana?” Tanya Sera penasaran.
“Di kamar sebelah. Aku tidak mungkin menunggu kamu selesai, Sera. Mama dan papa pasti sudah menunggu kita di bawah untuk sarapan.” Ucap Ravin sembari melangkah menuju ruang ganti.
Sera mengekori langkah pria itu. Ia kemudian membantu menyiapkan pakaian kerja untuk Ravin.
“Apa kita jadi pindah hari ini?” Tanya Sera sembari menyerahkan pakaian ganti pada sang suami.
“Hmm..”
“Lalu koper - koper aku?” Tanya gadis itu lagi.
“Nanti akan di antar oleh sopir.” Ucap Ravin.
Sera mengangguk paham. Ia kemudian membantu Ravin menggunakan dasinya.
Jarak mereka cukup dekat. Membuat jantung Sera berdetak cepat. Gadis itu pun berusaha untuk tetap tenang.
“Kamu kenapa?” Tanya sang suami, dan Sera menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai bersiap, mereka pun turun ke ruang makan. Dan benar apa yang Ravin katakan. Papa dan mama pria itu sudah menunggu disana.
“Kalian terlihat segar sekali.” Celetuk mama Irene.
Sera sontak menoleh ke arah sang suami. Pria itu terlihat tenang kemudian menipiskan bibirnya.
“Namanya juga pengantin baru, ma.” Ucap Ravin dengan tenang.
Jawaban itu membuat kening Sera berkerut halus. Suaminya kembali berdusta di hadapan orang tua pria itu. Sama seperti waktu sarapan di hotel.
“Yang rajin kalian. Biar kami cepat punya cucu.” Imbuh mama Irene.
“Doakan saja, ma. Kami hanya bisa berusaha.” Ucap Ravin masih dengan sikap tenangnya.
Berusaha kata Ravin.
Usaha apa?
Batin Sera berteriak.
Jangankan usaha. Pria itu kembali ke dalam kamar saja, Sera tidak pernah tau. Bagaimana bisa cepat jadi? Kalau membuatnya saja tidak pernah?
.
.
.
Ravin mengantar Sera hingga di depan gedung kantor Mahendra Corporation.
Sera sebenarnya bisa menyetir, namun setahun yang lalu ia mengalami kecelakaan tunggal saat perjalanan pulang dari luar kota, dan membuat gadis itu trauma mengemudi.
“Nanti sore aku jemput. Kita ke rumah baru bersama.” Ucap Ravin sebelum Sera keluar.
“Iya. Kakak hati - hati.” Tangan kanan Sera terulur ke arah pria itu.
“Kamu minta bekal? Nanti aku transfer seperti biasa.” Ucap Ravin yang hendak merogoh ponselnya.
Kepala Sera menggeleng pelan. Ia kemudian mengambil tangan kanan Ravin, lalu menciumnya.
Ravin pun tertegun sejenak.
“Aku kerja dulu, kak.” Pamit gadis itu.
“Hmm.” Ravin memaksakan senyumannya.
Serafina Olivia.
Bukannya Ravin tidak mengetahui jika gadis itu menyukainya sejak lama. Ia sangat tau, dari teman - teman sekolahnya dulu.
Namun, seperti apapun Sera menarik perhatian Ravin. Di dalam hati pria itu hanya ada satu nama. Dan bahkan, belum terganti hingga saat ini.
“Maafkan aku, Sera.” Gumam Ravin sembari menatap punggung sang istri yang menghilang di balik pintu gedung Mahendra Corporation.
Ravin pun melajukan mobilnya meninggalkan pelataran gedung Mahendra Corp. Ponsel pria itu berdering ketika kereta besinya telah berbaris dengan kendaraan lain di tengah jalan.
Nama Rania tertera pada layar ponsel. Ravin pun dengan cepat menjawab panggilan itu, lalu menyalakan pengeras suara.
“Selamat pagi, Ran.” Sapa Ravin dengan lembut.
“Kamu dimana, Vin? Kenapa tidak datang untuk sarapan?” Tanya Rania dari seberang panggilan.
Ravin menghela nafas pelan. “Aku sudah di jalan menuju kantor. Maaf, Ran. Aku tidak sempat mampir. Tadi sarapan bersama mama dan papa. Aku tidak bisa berbohong. Karena papa mengetahui jadwalku.”
“Jadi kamu tidak akan mampir ke apartemen?” Nada bicara gadis itu terdengar Sendu.
Ravin tau, saat ini Rania pasti kecewa padanya.
“Bagaimana kalau makan siang nanti. Aku akan datang ke apartemen.” Ucap pria itu agar Rania tidak merasa sedih.
“Janji, ya. Aku akan membuatkan makanan kesukaan kamu.” Suara Rania terdengar kembali ceria.
“Hmm. Sampai jumpa nanti siang, Ran.”
“Sampai jumpa, Vin. Kamu hati - hati di jalan.”
Panggilan telepon sepasang mantan kekasih itu pun berakhir.
Ravin tau apa yang ia lakukan saat ini adalah tindakan yang salah, karena dirinya telah berstatus sebagai suami orang.
Tak seharusnya ia masih berhubungan dengan mantan kekasihnya seperti ini. Namun, sampai saat ini Ravin masih mencintai gadis itu.
Pria itu belum bisa sepenuhnya melepas Rania. Dan mungkin karena hal itu pula, Ravin belum bisa menerima keberadaan Sera di dalam hidupnya.
Ravin menghela nafas kasar. Entah sampai kapan akan seperti ini? Ia sendiri pun tidak tau.
Mobil Ravin pun tiba di basemen gedung Artha Mandiri Group. Sebelum pria itu keluar dari dalam kereta besinya, ponselnya kembali berdenting.
Dan kali ini, sebuah pesan dari Sera.
“Kak. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku yang datang ke kantor kakak.”
Ravin mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa Sera baru mengirim pesan sekarang? Setelah pria itu berjanji akan datang menemui Rania.
“Kenapa dia tidak mengatakan saat di mobil tadi? Aku tidak mungkin membiarkan Rania menunggu lagi ‘kan? Dia pasti akan sangat kecewa.” Monolog Ravin.
Ia begitu memikirkan perasaan Rania, tanpa memperdulikan perasaan sang istri.
Ravin lupa telah beberapa kali mengecewakan Sera.
Pria itu kemudian mengetik balasan pesan.
“Maaf, Sera. Aku sudah memiliki janji makan siang dengan teman lama aku.”
Ravin menatap layar ponsel yang menampilkan papan obrolan bersama sang istri. Gadis itu terlihat sedang mengetik balasan.
“Baiklah. Kalau begitu, kita atur jadwal lain kali. Selamat bekerja, suami aku.”
Sera menyematkan emoticon berbentuk hati merah di akhir kalimatnya. Namun itu sama sekali tak membuat hati Ravin tergugah.
“Selamat bekerja, Sera.”