NovelToon NovelToon
Pernikahan Bisnis

Pernikahan Bisnis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

Lampu-lampu gobo light bernuansa champagne gold memancarkan pendar megah di seluruh penjuru Grand Ballroom yang telah ditata ulang hanya dalam waktu beberapa jam. Tema tradisional Jawa Solo Putri yang anggun di pagi hari kini berganti sepenuhnya menjadi resepsi malam bergaya European Imperial Gala. Rangkaian bunga peoni impor dan mawar putih menjuntai dari langit-langit setinggi delapan meter, bersanding dengan instalasi kristal Swarovski yang membiaskan cahaya bagai ribuan bintang jatuh.

Malam itu, resepsi pernikahan Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat dihadiri lebih dari dua ribu tamu undangan. Deretan pejabat tinggi negara, duta besar negara sahabat, konglomerat old money lintas benua, hingga deretan selebriti papan atas tanah air memadati ruangan.

Di balik panggung utama, Lilianne berdiri di depan cermin rias berbingkai perak. Tatanan sanggul Jawa dan paes hitamnya telah dibersihkan secara profesional, berganti dengan gaya rambut blonde alaminya yang disanggul modern ala bangsawan Eropa, menyisakan beberapa helai keriting halus yang membingkai wajah cantiknya.

Lilianne mengenakan gaun malam haute couture karya desainer kenamaan Prancis—gaun model ballgown berwarna kurasi ivory gold yang disulam murni menggunakan benang emas 24 karat, dipenuhi taburan pecahan berlian yang memantulkan kilau spektakuler setiap kali ia bergerak. Namun, yang paling menyedot perhatian adalah mahkota tiara berlian asli peninggalan klan Soerjoatmodjo yang bertengger di atas kepalanya, berpadu dengan kalung berlian emerald-cut seberat puluhan karat yang melingkari leher jenjangnya.

"Nyonya Soerjoatmodjo, penampilan Anda betul-betul mendefinisikan kemewahan tertinggi," puji penata busana asal Prancis itu seraya membetulkan ekor gaun Lilianne yang menjuntai sepanjang tiga meter.

Lilianne hanya menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Terima kasih," bisiknya datar.

Pintu ruang rias terbuka. Arya Sena melangkah masuk dengan ketampanan yang sanggup menghentikan napas siapa saja. Pria itu mengenakan setelan tuxedo hitam buatan rumah mode Italia, dipadu dengan dasi kupu-kupu dan boutonniere bunga mawar putih di kerah jasnya. Posturnya yang jangkung, tegak, dan proporsional memancarkan aura dominasi mutlak seorang raja.

Arya berhenti tepat di belakang Lilianne, menatap pantulan mereka berdua di cermin besar.

"Perhiasan yang sangat cocok untuk istri saya," ujar Arya, suaranya yang berat dan dalam bergema halus di ruangan itu.

Lilianne melirik Arya lewat cermin, menatap mata kelam pria itu dengan nada sinis. "Terima kasih atas mahkota berat ini, Mas Arya. Tapi perlu aku ingatkan, berlian seharga ratusan miliar ini tidak akan bisa membeli kepatuhanku."

Arya terkekeh rendah. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, mendaratkan kedua tangannya di bahu terbuka Lilianne yang dingin. Sentuhan jemari Arya yang hangat langsung mengirimkan desiran aneh ke sekujur tubuh Lilianne.

"Saya tidak perlu membeli kepatuhanmu dengan uang, Lilianne," bisik Arya tepat di samping telinga sang istri. "Saya hanya perlu memastikan seluruh dunia tahu bahwa wanita paling memukau malam ini adalah milik Arya Sena Soerjoatmodjo. Sekarang, pasang senyum terindahmu. Sandiwara kita baru saja dimulai."

Sebelum Lilianne sempat membalas sindiran itu, pembawa acara internasional di luar panggung utama telah memanggil nama mereka.

Pintu ganda berukir perak terbuka lebar. Sorot lampu spotlight langsung terkunci pada pasangan pengantin yang melangkah keluar. Gemuruh tepuk tangan dari ribuan tamu undangan membahana, berpadu dengan gesekan biola dari orkestra simfoni ternama yang membawakan lagu klasik romantis.

Lilianne melangkah anggun, melingkarkan tangannya di lengan kekar Arya. Di depan ribuan pasang mata dan lampu kilat kamera, keduanya menampilkan akting sempurna sebagai Pasangan Emas yang saling mencintai. Lilianne mengulas senyum paling memikat yang pernah ada, sementara Arya merangkul pinggang Lilianne dengan posesif, sesekali membisikkan kata-kata yang tampak sangat mesra di mata publik—meski sejatinya berisi sindiran tajam.

Sementara di luar ballroom, benteng keheningan dunia maya telah runtuh sepenuhnya. Siaran langsung resepsi pernikahan tersebut memecahkan rekor jumlah penonton serentak di berbagai platform media sosial. Jagat maya dihebohkan oleh kemewahan pesta yang tak masuk akal tersebut.

Awalnya, warganet awam saling bertanya-tanya mengenai sosok pengantin wanita yang parasnya begitu asing namun kecantikannya seperti dewi dari negeri dongeng.

“Spill pengantin cewenya dong! Cantik banget gila, rambut blondenya asli apa cat ya? Mukanya blasteran banget!” tulis seorang pengguna X (Twitter).

“Itu Lilianne Prameswari Djojodiningrat, woy! Putri tunggal klan Djojodiningrat! Dia lulusan luar negeri dan emang ibunya bangsawan Eropa. Real princess old money ketemu prince old money!” balas warganet lain meluruskan.

Namun, di tengah jutaan pujian dan kepukau publik, api kecemburuan dan rasa iri mulai membakar sebagian kalangan socialite dan warganet yang tidak menyukai Lilianne. Kolom komentar di akun-akun gosip dan siaran langsung mulai dipenuhi narasi sinis.

“Halah, palingan cuma pernikahan bisnis. Lihat tuh mukanya ceweknya kelihatan kaku banget, akting doang mesra di depan kamera!” komentar salah satu akun centang biru.

“Lagian cuma modal cantik sama anak orang kaya doang. Denger-denger di London dia kerjaannya cuma party sama foya-foya menghamburkan uang. Nggak cocok banget bersanding sama Pak Arya Sena yang jenius dan berwibawa!” timpal akun lainnya penuh nada iri.

“Paling nanti berapa tahun lagi cerai. Arya Sena pantas dapat wanita yang lebih intelek dan bisa bantu bisnisnya, bukan sekadar boneka pajangan berbaju emas!”

Komentar-komentar pedas itu terus bermunculan, diunggah kembali oleh sahabat-sahabat Lilianne ke grup percakapan pribadi mereka.

Di area lounge VIP resepsi, saat sesi rehat sejenak sebelum berdansa, Valerie berjalan mendekati Lilianne yang sedang menyegarkan diri di dekat meja hidangan champagne. Valerie menyodorkan layar ponselnya pada Lilianne.

"Li, kamu harus lihat ini," bisik Valerie jengkel. "Warganet sama anak-anak socialite yang iri pada ketar-ketir di media sosial. Mereka mengkritik kamu habis-habisan, bilang kamu cuma 'boneka pajangan' yang nggak pantas buat Arya Sena!"

Lilianne mengambil ponsel Valerie, memindai barisan komentar iri tersebut dengan mata hijau jernihnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang sarat akan keangkuhan dingin. Bukannya sakit hati, rasa percaya diri dan gengsi tinggi khas keluarga Djojodiningrat justru membakar dadanya.

"Boneka pajangan?" gumam Lilianne sinis. "Mereka cuma iri karena jangankan menyentuh Arya Sena, berada di satu ruangan yang sama dengan keluarga Soerjoatmodjo saja mereka tidak akan pernah sanggup."

Lilianne menyerahkan kembali ponsel itu pada Valerie, lalu mengambil segelas champagne dari nampan pelayan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki teratur terdengar mendekat. Arya melangkah menghampiri Lilianne, mengamati raut wajah istrinya yang berkilat penuh perlawanan.

"Ada yang mengganggu pikiranmu, Nyonya Soerjoatmodjo?" tanya Arya tenang, menyisipkan satu tangannya di saku tuxedo-nya.

Lilianne menoleh, menatap Arya dari atas ke bawah. "Orang-orang di luar sana bilang aku tidak pantas bersanding denganmu, Mas Arya. Mereka bilang aku cuma wanita manja yang menghamburkan uang dan tidak punya kegunaan di dunia bisnismu."

Arya menyipitkan matanya tipis. Pria itu mengambil langkah lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum mewahnya kembali menguasai Lilianne. Arya mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Lilianne dan mengangkatnya perlahan agar mata hijau itu menatap lurus ke dalam netra kelamnya.

"Lalu?" suara Arya terdengar teramat rendah dan dominan. "Sejak kapan seorang Soerjoatmodjo peduli pada rengekkan orang-orang di luar sana?"

Lilianne menepis jemari Arya dari dagunya dengan gerakan halus namun tegas. "Aku tidak peduli pada mereka. Tapi aku peduli pada egoku sendiri. Jika mereka pikir aku akan duduk manis menjadi pajangan kaku di sampingmu, mereka salah besar."

Arya justru terkekeh rendah, ada kilatan ketertarikan yang kian pekat di matanya saat melihat keberanian Lilianne. "Bagus. Karena setelah ini adalah sesi First Dance). Seluruh kamera media akan menayangkan setiap pergerakan kita secara close-up. Buktikan pada mereka seberapa tinggi kelasmu, Lilianne."

Arya mengulurkan telapak tangannya yang lebar di hadapan Lilianne, sebuah undangan formal yang tak terbantahkan.

Lilianne menatap telapak tangan itu sejenak. Menyebalkan sekali melihat betapa tenangnya Arya di tengah situasi seperti ini. Namun Lilianne menolak untuk terlihat kalah. Ia mendaratkan jemari lentiknya yang berkilau oleh perhiasan berlian ke atas telapak tangan Arya.

"Jangan berasumsi aku melakukan ini untukmu, Mas Arya," bisik Lilianne tajam saat Arya menggenggam jemarinya dengan erat. "Aku melakukan ini untuk menunjukkan pada dunia siapa ratu sesungguhnya di pesta ini."

"Tunjukkan pada mereka, Ajeng," balas Arya dengan senyum miringnya yang memikat sekaligus berbahaya.

Arya menuntun Lilianne kembali ke tengah lantai dansa yang melingkar. Lampu utama meredup, menyisakan sorotan lampu spotlight putih yang menembus kegelapan ruangan, menyinari pasangan pengantin bernilai triliunan rupiah itu.

Musik orkestra mulai memainkan alunan lagu waltz yang sangat megah dan dramatis.

Arya meletakkan tangan kanannya di pinggang Lilianne, menarik tubuh indah bergaun emas itu hingga menempel rapat di dadanya. Tangan satunya menggenggam jemari Lilianne di udara. Lilianne meletakkan tangan kirinya di bahu tegap Arya, menatap lurus mata kelam sang suami dengan pandangan penuh tantangan.

Mereka mulai berputar membelah lantai dansa dengan gerakan yang teramat presisi, elegan, dan sempurna. Ayunan langkah kaki Lilianne yang mengikuti tempo waltz berpadu harmonis dengan bimbingan dominan dari Arya. Gaun emas Lilianne mengembang indah bagai ombak berkilauan di bawah sorotan lampu, menciptakan pemandangan yang begitu memukau hingga membuat seluruh ribuan tamu undangan terpesona tanpa suara.

Di depan kilatan kamera televisi yang menyiarkan momen tersebut ke seluruh penjuru negeri, Arya menundukkan kepalanya, berbisik tepat di sela gerakan dansa mereka.

"Kamu berdansa dengan sangat indah untuk seorang wanita yang membenciku, Lilianne."

Lilianne memiringkan kepalanya, menyunggingkan senyum paling memikat di hadapan kamera, meski matanya memancarkan kilat dingin. "Aku bertindak demi nama baik Djojodiningrat, Mas Arya. Dan ingat, begitu kita melangkah keluar dari tempat ini dan masuk ke dalam penthouse-mu, topeng manis ini akan terlepas sepenuhnya."

"Saya menantikan malam itu, Nyonya Soerjoatmodjo," balas Arya tanpa keraguan sedikit pun, merapatkan rangkulannya di pinggang Lilianne saat musik waltz mencapai puncaknya.

Dansa megah itu ditutup dengan tepuk tangan riuh yang membahana dari seluruh hadirin. Siaran langsung pernikahan mereka meledak di media sosial, membungkam semua komentar miring warga net yang iri. Namun di balik keindahan dan pujian yang membanjiri seluruh tanah air, baik Arya maupun Lilianne tahu pasti: pintu penthouse malam nanti adalah awal dari perang dingin di mana tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah.

Bersambung....

1
Mita Paramita
😍😍😍
Mita Paramita
Arya jadi suami siaga 😍😍😍
Helen@Ellen@Len'z
up byk ya 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪thor 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Anonim
crazy up thor
falea sezi
sesuai janji q kirim bunga tuh🤭 lanjut banyakkk Thor
Heresnanaa_: wahhh, terimakasih Kaka, stay tune ya 🥹😚
total 1 replies
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
Heresnanaa_: wahhh, maaciw kakak, stay tune ya beb🙏😚
total 1 replies
falea sezi
cantik tp otak kosong🤣 lu nyingkirin widya g mau kesaing🤣 tp lu g mau gantiin tugas dia layani laki lo🤣🤣 aneh gt ini cwek manja bisa nya apa shoping doank😒
falea sezi
nah gini🤣 aduin ke bumertua🤣 emank babu g tau diri si widya
falea sezi
harusnya di belikan buat anak yatim🤣 biar suami mu kagum 🤭
falea sezi
g suka cwek sombongnya kayak lily ini 🤣🤣 berharap dia itu lemah lembut cegil tp bukan sok jd cowok penasaran🤣
falea sezi
nyimak dlu klo bagus q krim bunga🤭
Mita Paramita
so sweet 😍😍😍
Mita Paramita
Liliane masih syok udah di unboxing paksa 😭 tinggal Arya nih yang mesti ngejar cinta Liliane
Arix Zhufa
up
Mita Paramita
akhirnya Arya unboxing Liliane 😍😍😍
Mita Paramita
Widya backstabbing 🤣🤣🤣
i got you 🔥🔥🔥
Mita Paramita
nice statement Liliane 😍
Mita Paramita
berkelas banget balasan Liliane ke ulat bulu Widya 🤣🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor 😍😍😍
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!