Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istana di Atas Bukit dan Derai Air Mata
Udara di puncak bukit itu selalu terasa jauh lebih dingin dibandingkan di kaki gunung.
Di balik pagar kawat berduri setinggi tiga meter dan gerbang besi otomatis yang dijaga oleh puluhan pria berbadan tegap bersenjata lengkap, berdiri sebuah bangunan megah bergaya neo-gothic eropa modern.
Istana pribadi milik Kenzie Al-Ghazali.
Bangunan dengan dominasi warna hitam arang dan kaca-kaca jendela raksasa itu tampak megah, namun memancarkan aura yang begitu kelam dan mematikan.
Tempat itu bukan sekadar rumah; itu adalah benteng pertahanan sindikat dunia bawah, tempat berputarnya roda penyelundupan senjata ilegal dan peredaran obat-obatan terlarang lintas negara.
Di salah satu kamar paling megah di lantai dua bangunan tersebut, seorang gadis duduk meringkuk di sudut ruangan.
Namanya Aisyah Humaira.
Hari-hari telah berganti sejak malam mengerikan di markas bawah tanah itu.
Kini, ia resmi berstatus sebagai istri sah dari sang penguasa dunia hitam sebuah status yang baginya terasa seperti tiket masuk ke dalam neraka jahanam.
Aisyah masih mengenakan abaya hitam panjang dan cadar yang menutupi separuh wajahnya.
Bahkan di dalam kamar pribadinya sendiri, di balik pintu tertutup yang dikunci dari luar oleh para pengawal, ia menolak untuk melepas kain penutup wajah itu.
Kain hitam tersebut kini menjadi satu-satunya benteng pertahanan harga dirinya di hadapan pria yang telah merenggut kebebasannya.
Ia mendongak, menatap sekeliling kamar yang sangat luas namun terasa sangat menyesakkan.
Dindingnya dicat dengan warna gelap, tirai-tirai beludru tebal menutup rapat cahaya matahari sore yang mencoba masuk.
Di atas meja rias berlapis marmer hitam, tergeletak Al-Qur'an kecil berukuran saku bersampul kulit cokelat tua satu-satunya barang berharga yang diizinkan ia bawa dari ndalem pesantren.
Aisyah meraih Al-Qur'an itu.
Jemarinya yang dibalut kaus kaki tangan rajutan meraba sampul kitab suci tersebut dengan lembut.
Di tengah kesunyian kamar yang dingin, ia membuka lembaran demi lembaran suci, melantunkan ayat-ayat Allah dengan suara pelan, bergetar, dan terisak.
Zikir adalah satu-satunya pelindung kewarasannya di tempat yang penuh dengan aroma dosa ini.
“Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'nan nasir...”
_(Cukuplah bagi kami Allah, sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong)._
Air mata bening kembali menetes, membasahi kain cadarnya.
Bayangan wajah sang Abah yang babak belur di kursi besi dan ratapan pilu Ummi di rumah terus berkelebat di dalam kepalanya.
Aisyah tahu, pengorbanannya tidak boleh sia-sia.
Ia datang ke sini bukan untuk menyerah pada keputusasaan, melainkan untuk menebus keselamatan ayahnya dengan seluruh sisa jiwa raga yang dimilikinya.
Namun, keteguhan hatinya kembali diuji ketika jarum jam dinding antik di sudut kamar merayap mendekati pukul dua belas malam.
Cklek.
Suara kunci pintu yang diputar dari luar membuat seluruh darah di tubuh Aisyah mendadak berdesir dingin.
Jantungnya berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya dengan rasa sakit yang tumpul.
Ia merapatkan tubuhnya ke sudut dinding, memeluk Al-Qur'an di dadanya erat-erat.
Pintu terbuka lebar.
Sosok tinggi tegap dengan postur sempurna melangkah masuk ke dalam kamar.
Kenzie Al-Ghazali.
Pria itu tampak sangat berantakan namun tetap memancarkan pesona gelap yang berbahaya.
Jas hitamnya tersampir di lengan, kemeja putihnya terbuka tiga kancing di bagian atas, memperlihatkan kulit dada bidang dan tato artistik yang tercetak samar.
Aroma alkohol mahal dan parfum maskulin yang pekat langsung menguar memenuhi ruangan, bercampur dengan bau parfum wanita asing yang sangat menyengat indra penciuman.
Kenzie berhenti di tengah kamar.
Ia menatap tajam ke arah sudut ruangan, tempat Aisyah meringkuk bagai seekor kelinci kecil di sarang serigala.
Bibir tipis Kenzie menyunggingkan senyum sinis yang amat dingin.
"Ah... ratu suci ku,"
suara Kenzie rendah, berat, dan bernada sarkas.
Ia melangkah mendekat, langkah sepatunya bergemotak di lantai marmer mengkilap.
"Masih betah bersembunyi di sudut kamar itu dengan kain hitam penutup wajahmu?
Perlu diingat, Aisyah... di rumah ini, tidak ada satupun aturan pesantren yang berlaku."
Aisyah mendongak, menatap sepasang mata tajam milik suaminya.
Meskipun lututnya gemetar hebat, ia berusaha menegakkan suaranya agar terdengar stabil.
"Apa mau Anda datang ke mari, Tuan?"
tanya Aisyah dingin dari balik cadarnya.
Kenzie berhenti tepat dua langkah di hadapan Aisyah.
Ia membungkukkan sedikit tubuhnya, menatap lekat-lekat sepasang mata biru jernih yang memancarkan ketegasan luar biasa.
Ada kilatan aneh di mata Kenzie sebuah rasa penasaran bercampur amarah yang sulit diartikan.
"Mauku?"
Kenzie tertawa rendah, sebuah tawa kering tanpa kehangatan.
"Aku hanya ingin melihat bagaimana keadaan istriku tersayang.
Istri yang dengan sukarela menyerahkan diri, memaksa seorang pria ateis sepertiku mengucapkan kalimat syahadat hanya demi menyelamatkan ayahnya yang tua renta."
Kenzie menegakkan kembali tubuhnya, lalu melangkah mundur sambil melonggarkan dasinya dengan kasar.
Ia menatap Aisyah dengan pandangan merendahkan.
"Kau pikir dengan aku mengucapkan syahadat malam itu, aku akan berubah menjadi pria alim yang akan mencium tanganmu dan membimbingmu salat berjamaah?"
Kenzie mendengus sinis.
"Jangan bermimpi, Aisyah!
Aku mengucapkan syahadat hanya sebagai syarat administrasi pernikahan agar orang tua mu tenang sebelum mati.
Tapi jiwaku... tetaplah milik kegelapan."
Aisyah tidak menjawab.
Ia hanya menutup matanya sejenak, merapalkan doa di dalam hati untuk menahan gelombang amarah dan rasa sakit yang menghujam dadanya.
Melihat reaksi Aisyah yang hanya diam berzikir, Kenzie justru merasa semakin terprovokasi.
Pria itu benci melihat ketenangan di mata biru gadis itu ketenangan yang seolah menelanjangi kekosongan di dalam jiwa gelapnya sendiri.
"Baguslah kalau kau paham,"
lanjut Kenzie dengan suara dingin.
"Dan sebagai peringatan pertamamu malam ini..."
Kenzie berbalik, melangkah menuju pintu kamar yang masih sedikit terbuka lebar.
Ia memberikan sebuah isyarat dengan tangannya ke arah lorong luar yang gelap.
Seketika, suara langkah kaki bergemerincing dan suara tawa genit yang memekakkan telinga terdengar mendekat ke arah kamar utama.
Aisyah tertegun.
Ia mendongak dengan mata melot ngeri ketika melihat dua sosok wanita berpakaian sangat minim, mengenakan gaun malam berpayet kilau dengan riasan tebal dan aroma parfum murahan yang menyengat, melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya tanpa rasa malu.
Mereka adalah pelacur-pelacur kelas atas yang sering dibayar oleh jaringan Kenzie untuk melayani pesta liar di dunia malam.
"Hai, tampan... kamar ini sangat luas.
Kenapa kita harus diam di sini?"
rintih salah seorang wanita berambut pirang panjang, melingkarkan tangannya yang berbaju ketat di lengan kekar Kenzie dengan gaya manja yang menjijikkan.
Kenzie merangkul pinggang wanita itu dengan santai, lalu melirik sekilas ke arah Aisyah yang kini mematung di sudut ruangan.
"Kenalkan, para tamu istimewa kita malam ini,"
ucap Kenzie dengan nada suara yang sengaja diledekkan.
Ia menatap tajam ke arah Aisyah, menguji seberapa jauh mental gadis Hafizah itu bisa dihancurkan.
"Nikmati pemandangan ini, Aisyah.
Ini adalah hiburan malamku di rumah ini.
Kau adalah istriku di atas kertas, tapi di ranjang... aku bebas membawa siapa saja."
Dunia seolah runtuh seketika di hadapan Aisyah.
Suara tawa genit, alunan musik bass rendah yang sengaja diputar dari ponsel salah satu wanita, dan kemaksiatan terang-terangan yang dipertontonkan di hadapan matanya membuat dada Aisyah sesak luar biasa.
Udara di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi racun yang membakar paru-parunya.
Wanita-wanita itu mulai bertingkah senonoh di hadapan Kenzie, duduk di sofa kamar, meneguk wiski langsung dari botol, dan tertawa cekikikan tanpa sedikitpun menghormati keberadaan seorang istri sah di dalam ruangan yang sama.
Kenzie sendiri duduk di sofa beludru hitam, menatap Aisyah dengan tatapan tajam penuh kemenangan, menunggu gadis itu menjerit histeris, menangis memohon ampun, atau melepaskan cadarnya karena putus asa.
Namun... Aisyah tidak melakukan satupun dari hal itu.
Di balik cadar hitamnya, Aisyah menelan mentah-mentah rasa jijik, rasa hina, dan rasa sakit yang meremukkan hatinya berkeping-keping.
Ia tidak berteriak.
Ia tidak menangis di hadapan mereka.
Perlahan, tangan Aisyah yang gemetar hebat meraih Al-Qur'an kecil di pangkuannya.
Ia merapatkan kedua lututnya ke dada, memejamkan mata birunya rapat-rapat, dan mulai melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan suara lirih yang nyaris tenggelam di antara bisingnya tawa para pelacur.
“Fainna ma’al ‘usri yusra, inna ma’al ‘usri yusra...”
(Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan...)_
Suara pelan itu begitu khusyuk, begitu tulus, meluncur lembut menembus riuhnya ruangan yang penuh dosa.
Di sofa seberang, Kenzie yang tadinya sedang menyesap wiski mendadak menghentikan gerakannya.
Gelas kaca di tangannya tertahan di udara.
Tatapan matanya yang tadinya penuh ejekan perlahan berubah menjadi kaku.
Suara merdu di balik cadar itu... meskipun pelan, entah mengapa terasa begitu nyaring menghujam tepat ke dalam gendang telinganya, menembus lapisan es paling tebal di dalam dada Kenzie.
Ada rasa nyeri yang tiba-tiba menusuk jantung sang mafia sebuah sensasi kosong dan asing yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya, seolah ada tangan tak kasat mata yang sedang meremas nuraninya dengan kuat.
Kenzie menoleh tajam ke arah sudut ruangan.
Dilihatnya punggung Aisyah yang bergetar hebat menahan tangis, namun tetap teguh mendekap kitab suci di dadanya.
Untuk sepersekian detik, Kenzie merasa muak.
Ia menepis rangkulan wanita pirang di sampingnya dengan kasar.
"Keluar!"
bentak Kenzie dengan suara rendah namun menggelegar, membuat kedua pelacur itu terlonjak kaget setengah mati.
"T-Tuan... ada apa?"
tanya wanita itu kebingungan.
"KUBILANG KELUAR DARI KAMARKU SEKARANG JUGA!"
teriak Kenzie murka, sorot matanya menyala bagai iblis kelaparan.
Tanpa berani membantah sedetik pun, kedua pelacur itu langsung menyambar tas mereka dan berlari tunggang langgang keluar kamar, membanting pintu hingga tertutup rapat.
Suasana kamar mendadak kembali sunyi senyap, menyisakan bau alkohol dan ketegangan yang begitu pekat di antara mereka berdua.
Kenzie berdiri dari sofa.
Ia melangkah mendekati sudut tempat Aisyah meringkuk.
Pria itu berdiri tegak di hadapan sang istri, menatap tajam dengan dada yang memburu naik turun karena emosi yang tidak jelas ujung pangkalnya.
"Kenapa kau tidak menangis?"
suara Kenzie mendesis tajam, menatap manik mata biru Aisyah yang kini terbuka perlahan.
"Kenapa kau tidak memohon-mohon agar aku mengusir mereka?!
Kau pikir dengan membaca kitab itu, kau bisa mengubah neraka ini menjadi surga?!"
Aisyah mengangkat wajahnya.
Di balik cadar hitam itu, meskipun air mata masih membasahi pipinya, sorot mata biru Aisyah memancarkan ketegaran yang jauh lebih kuat daripada baja.
Suaranya terdengar tenang, lembut, namun menusuk langsung ke relung jiwa Kenzie.
"Saya tidak menangis di hadapan manusia, Tuan Kenzie..."
ucap Aisyah pelan namun tegas.
"Karena saya tahu, tangisan saya hanya pantas diberikan kepada Allah.
Anda boleh membawa seribu pelacur ke kamar ini.
Anda boleh mengubah rumah ini menjadi neraka paling kejam di dunia...
tapi ketahuilah, Anda tidak akan pernah bisa merusak ketenangan jiwa seorang Hafizah yang bersandar pada Tuhannya."
Mendengar kalimat itu, Kenzie tertegun seolah disambar petir di siang bolong.
Napasnya terhenti.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang wanita berani menatap mata seorang pembunuh berdarah dingin tanpa rasa takut sedikit pun, membalikkan seluruh kekuasaan dan teror yang ia miliki menjadi tidak ada apa-apanya.
Kenzie mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Tanpa berkata sepatah kata pun lagi, ia berbalik dengan kasar, menyambar jasnya, dan membanting pintu kamar itu dari luar dengan suara dentuman yang mengguncang seluruh dinding istana.
Di dalam kamar yang kembali gelap dan sunyi, Aisyah merebahkan tubuhnya yang lemas di atas sajadah kecil yang ia gelar.
Ia menengadahkan tangan ke langit-langit kamar, membiarkan air matanya tumpah tanpa tertahankan lagi, sementara bibirnya terus berbisik, menyerahkan seluruh nasib dan perlindungan hidupnya kepada Sang Maha Pemilik Semesta.