Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Bisikan Hati dan Bayang-Bayang Pahlawan
Pagi yang cerah menaungi selasar taman di depan gedung perpustakaan utama. Suasana kampus masih agak lengang, menyisakan gesekan halus dedaunan yang ditiup angin sepoi-sepoi. Bayu Anggara duduk bersama Dimas di bangku kayu favorit mereka. Bayu mengenakan kemeja korduroi cokelat muda yang rapi dengan kacamata berbingkai titanium tipis, membalik halaman buku cetak arsitektur perangkat lunak dengan tenang.
Melisa berjalan mendekati gazebo. Langkah kakinya perlahan, tampak sedikit melamun seraya memegang cangkir kopi hangat di tangannya. Wajahnya yang cantik menyisakan pendar keraguan dan rasa penasaran yang mendalam.
"Selamat pagi, Melisa," sapa Bayu lembut, mendongak dan menatapnya dengan senyum tenang.
"Eh, Bayu... Dimas," Melisa tersentak kecil dari lamunannya, mengulas senyum tipis seraya duduk di sebelah meja mereka. "Selamat pagi."
Dimas memperhatikan raut wajah Melisa, mencondongkan badannya penasaran. "Mel, lu kelihatan melamun terus dari tadi. Masih kebayang insiden kecelakaan taksi kemarin sore?"
Melisa menghembuskan napas panjang, menatap uap tipis yang membubung dari cangkir kopinya. "Bukan cuma soal kecelakaannya, Dimas... tapi soal sosok yang menarikku dari dalam taksi itu."
Bayu merapikan letak bukunya di meja, memandang Melisa penuh perhatian. "Apa yang membuatmu terus memikirkannya, Melisa?"
"Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak, Bayu," aku Melisa polos, matanya menatap Bayu lurus-lurus dengan kejujuran yang begitu bening. "Setiap kali aku memejamkan mata, aku selalu teringat dekapan zirah baja itu. Caranya menahan truk berbobot puluhan ton, caranya memegangku dengan begitu lembut, dan terutama... tatapan matanya dari balik visor."
Dimas menyilangkan tangan di dada, melirik Bayu sekilas sebelum kembali menatap Melisa. "Bukannya lu dari dulu memang mengagumi Ksatria Baja, Mel?"
"Dulu aku mengaguminya sebagai keajaiban teknologi dan sosok pahlawan penolong, Dim," tutur Melisa mendetail, nada suaranya berubah menjadi jauh lebih emosional dan mendalam. "Tapi setelah kemarin sore... perasaan itu bukan lagi sekadar kekaguman akademis. Ada getaran yang sangat kuat di dadaku. Perasaan mendalam yang belum pernah aku rasakan pada siapa pun sebelumnya."
Ponsel di saku kemeja Bayu bergetar sangat halus. Suara jernih Jarvis menyusup melalui earphone mikro di telinga kiri Bayu.
"Pemindaian respons akustik Melisa," lapor Jarvis mendetail. "Modulasi nada suara dan pemetaan emosional menunjukkan tingkat keterikatan afektif murni terhadap persona Ksatria Baja Anda, Bayu. Indeks kebenaran pernyataan: sembilan puluh sembilan koma dua persen."
Bayu membetulkan letak kacamata titaniumnya, mengendalikan detak jantungnya sendiri agar tetap terlihat tenang di depan sahabat dan wanita yang dikaguminya itu.
"Apakah ada hal spesifik dari sosoknya yang membuat perasaanmu bertumbuh sejauh itu, Melisa?" tanya Bayu dengan nada suara yang hangat, teratur, dan penuh empati.
Melisa menatap jemarinya yang menggenggam cangkir kopi, lalu mendongak menatap Bayu kembali. "Cara dia bicara padaku, Bayu. Suaranya memang berat dan terdengar terdistorsi oleh pengubah frekuensi zirah, tapi nada bicaranya... empati di dalam kata-katanya... terasa sangat tulus. Dia tidak memperlakukan aku seperti objek yang cuma perlu diselamatkan, tapi seperti seseorang yang sangat berharga."
Dimas tersenyum geli, mencoba memancing situasi. "Wah... berarti lu beneran jatuh cinta sama pahlawan berzirah itu, Mel?"
Wajah Melisa merona merah, namun ia tidak membantahnya. "Aku... aku rasa iya, Dimas. Tapi di saat yang sama, rasa penasaran ini benar-benar menyiksaku. Siapa sebenarnya pria di balik topeng besi itu? Apakah dia seorang peneliti senior? Apakah dia pria paruh baya, atau... seseorang yang seumuran dengan kita?"
Bayu mendengarkan dengan seksama, merasakan kehangatan yang luar biasa sekaligus tantangan besar untuk menjaga identitas rahasianya. "Mungkin dia sengaja menyembunyikan identitasnya agar orang-orang yang dia sayangi tidak terancam bahaya, Melisa."
"Aku mengerti alasan itu, Bayu," sahut Melisa penuh penekanan, matanya berbinar-binar memancar rasa penasaran yang intens. "Tapi rasanya sungguh aneh. Kemarin sore saat dia memelukku di tengah kepulan debu kecelakaan itu... ada satu hal yang membuat pikiranku semakin kacau."
Dimas mencondongkan badan lebih dekat. "Hal aneh apa, Mel?"
"Saat aku menatap mata bergaris biru di balik visornya dari jarak dekat," urai Melisa dengan nada berbisik yang begitu intim, "...rasa aman dan kehangatan yang aku rasakan... terasa sangat identik dengan apa yang aku rasakan setiap kali aku duduk berdua dan berbincang denganmu, Bayu."
Dimas hampir saja menyemburkan air mineral yang baru diminumnya, buru-buru menutupi mulutnya seraya melirik Bayu dengan mata terbelalak lebar.
Bayu tetap tenang, menatap Melisa tanpa ada keraguan di matanya. "Identik bagaimana, Melisa?"
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya secara ilmiah, Bayu," kata Melisa dengan raut wajah bingung namun jujur. "Pembawaan Ksatria Baja yang begitu tenang, suaranya yang teratur, dan ketegasannya yang rendah hati... itu semua adalah kualitas cermin yang selalu aku lihat dalam dirimu setiap hari. Kadang-kadang, pikiranku yang liar bahkan sempat membayangkan... bagaimana jika orang di balik zirah baja raksasa itu sebenarnya adalah kamu?"
Atmosfer di gazebo kayu itu mendadak sunyi selama beberapa detik. Dimas menahan napasnya rapat-rapat, menatap Bayu dengan tegang.
Bayu mengulas senyum tipis yang hangat dan memikat, membetulkan letak kacamatanya dengan santai.
"Melisa," panggil Bayu dengan suara lembut yang menenangkan jiwa. "Jika aku memang sosok di balik zirah baja canggih itu, tentu aku akan sangat bangga karena bisa memeluk wanita secerdas dan seanggun dirimu kemarin sore."
Melisa tertegun, pipinya makin memerah mendengar godaan halus namun elegan dari Bayu.
"Tapi," lanjut Bayu dengan nada jujur yang matang, "...aku hanyalah Bayu Anggara. Mahasiswa yang kebetulan menyukai arsitektur sistem dan selalu siap mendengarkan cerita serta membantumu kapan pun kamu butuhkan. Sosok Ksatria Baja itu mungkin berada di luar sana, memikirkan keselamatanmu dari kejauhan."
Dimas memotong cepat untuk mencairkan ketegangan, menghembuskan napas lega. "Hahaha! Benar banget kata Bayu, Mel! Lagipula kalau Bayu itu Ksatria Baja, mana sempat dia tiap hari ngoding bareng kita di lab?"
Melisa tertawa kecil, ketegangannya melunak seraya mengusap helaian rambutnya ke belakang telinga. "Maaf ya, Bayu... aku malah berpikiran yang tidak-tidak. Mungkin aku cuma terlalu banyak berspekulasi karena rasa penasaran yang begitu besar."
"Tidak ada yang perlu dimintai maaf, Melisa," jawab Bayu tulus, menatap mata Melisa dengan binar kasih sayang yang terselubung. "Perasaanmu pada Ksatria Baja adalah hal yang sangat alami. Dan siapa pun pria di balik topeng besi itu nanti, aku yakin dia pasti merasa sangat beruntung karena dicintai oleh wanita istimewa seperti kamu."
Melisa menatap Bayu, merasakan desir kehangatan yang tak kalah kuat mengaliri dadanya. Ada konflik manis dalam hatinya, kekaguman mendalam pada sosok pahlawan misterius berzirah baja, dan kenyamanan emosional yang tak tergantikan saat bersama Bayu Anggara.
"Terima kasih banyak ya, Bayu," bisik Melisa tulus dengan senyuman terindah yang pernah ia perlihatkan. "Obrolan denganmu selalu berhasil menenangkan pikiranku yang kacau."
"Sama-sama, Melisa. Mari kita selesaikan peninjauan berkas riset kita," sahut Bayu penuh ketenangan.
"Tingkat keselarasan emosional subjek Melisa berada pada titik optimal," Jarvis mengonfirmasi melalui earphone. "Penyimpanan rahasia identitas aman seratus persen."
Di bawah naungan pepohonan kampus yang sejuk, rasa penasaran dan cinta yang tersimpan mendalam di hati Melisa menjadi benang merah yang mengikat takdir mereka. Tanpa disadarinya, sosok pahlawan yang dipuja jiwanya dan pria tenang yang dikaguminya setiap hari adalah satu jiwa yang sama, Bayu Anggara, sang pelindung rahasia yang selalu siap menjaga hatinya dari balik kegelapan.