Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Hari Pertama di Kantor Baru
Papan gantung kecil berukir di pintu kaca ruko kini sudah menunjukkan tulisan OPEN. Sinar matahari pagi menerobos hangat melalui kaca depan yang bersih, memantulkan kilau mengilap dari lantai keramik yang baru saja selesai dipel.
Rhea duduk di balik meja kerjanya di lantai dasar, mengenakan kemeja putih yang dipadu blazer hitam rapi. Rambutnya diikat satu ke belakang, memancarkan kesan pengacara muda yang tegas dan profesional.
Di depannya, sebuah laptop terbuka menampilkan draf formulir konsultasi hukum serta template surat kuasa umum yang baru saja dia selesaikan.
Di seberang meja, Zora sibuk mengurus hal lain. Sahabatnya itu sibuk memposisikan kamera tripod, menata beberapa buku hukum tebal di atas rak agar tampak estetik di layar belakang, lalu sibuk mengambil foto dan video pendek dari berbagai sudut.
"Nah. Postur tubuh lu begini udah pas banget Rhe," puji Zora sambil memeriksa hasil potret di layar ponselnya.
"Kelihatan tegas, pintar, tapi tetap ramah. Hari ini fokus gue adalah bikin konten 'A day in my life as an independent lawyer' buat akun media sosial biro kita."
Rhea terkekeh pelan, menggeser cangkir kopi hangatnya. "Terserah lu deh Ra. Asal jangan suruh gue bikin konten joget-joget aja."
"Yaaaa.... kalau itu bisa mendatangkan sepuluh klien kaya dalam sehari, kenapa enggak?" goda Zora sambil menyeringai lebar, membuat tawa Rhea pecah di ruangan yang harum aroma kopi itu.
Jam dinding bulat di lantai dasar terus berputar pelan. Pukul sepuluh pagi, lalu berganti pukul dua belas siang. Beberapa pejalan kaki sesekali melintas di trotoar depan ruko.
Ada yang sekedar melirik plang kuningan, namun belum ada satu pun yang mengetuk pintu atau melangkah masuk.
Sore harinya sekitar pukul empat, suasana di depan ruko makin lengang. Ketenangan itu sama sekali tidak membuat Rhea berkecil hati. Dia memanfaatkan waktu luang itu untuk membaca ulang lembaran kitab undang-undang hukum perdata terbaru dan merapikan arsip-arsip hukumnya.
Sementara itu, Zora sibuk mengedit video di sofa tamu sambil sesekali mengunyah keripik kentang.
"Tenang, Bu Pengacara," ujar Zora seolah bisa membaca jalan pikiran Rhea. Zora menatap sahabatnya dengan senyum menyemangati. "Hari pertama emang biasanya gini. Namanya juga tempat baru. Yang penting sistem operasional kita udah mulai jalan. Nanti begitu algoritma yang nemu pasar yang pas, orang-orang bakal ngantri di depan ruko ini."
Rhea tersenyum tulus, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi jati di balik mejanya. "Gue nggak khawatir kok Ra. Justru gue bersyukur hari ini kita punya waktu penuh buat ngerapihin semua berkas dan memastikan kantor ini benar-benar siap operasional."
"Nah, gitu dong." seru Zora sambil mengacungkan jempolnya.
Matahari perlahan tenggelam menggantikan langit sore Jakarta dengan warna keunguan yang diselimuti hawa sejuk malam. Jalanan kota Tebet di luar ruko mulai dipadati kendaraan warga yang pulang kerja.
Pukul delapan malam, Rhea berdiri dari kursinya dan meregangkan kedua tangannya yang kaku setelah seharian menatap layar laptop. Dia melangkah ke pintu depan, membalikkan papan gantung menjadi CLOSED, lalu memutar kunci selot pintu ruko.
"Duh, perut gue udah berisik banget dari tadi nih," seru Zora sambil menepuk-nepuk perutnya dan mematikan laptop di meja tamu. "Seharian cuma ganjal pakai keripik sama kopi doang. Rhe, makan yuk. Hari pertama pembukaan kantor wajib kita tutup dengan makan-makanan enak."
"Boleh banget. Mau makan di mana?"
tanya Rhea sambil mematikan sebagian lampu penerima tamu di lantai bawah.
"Gue tahu tempat makan yang rasanya juara banget." Zora menyambar tas dan memakai jaketnya dengan antusias. "Masih di daerah sini juga kok, tinggal jalan kaki dikit ke arah jalan utama. Namanya restoran Restu Ibu. Dulu gue juga sering makan di sana. Masakan gulai sama rendangnya bikin merinding saking enaknya."
Rhea mengangguk setuju. "Yaudah, yuk. Gue juga udah lumayan lapar."
Mereka berdua mengunci pintu ruko rapat-rapat, lalu melangkah santai menyusuri trotoar malam Jakarta Selatan yang di payungi angin sejuk.
Restoran Restu Ibu berdiri di sebuah bangunan tua bergaya klasik yang cukup luas dan terawat. Lampu-lampu gantung bernuansa warm white memancarkan kesan hangat dari luar. Namun, begitu Rhea dan Zora melangkah masuk melintasi pintu kayu ukirannya, Rhea bisa merasakan ada suasana yang agak aneh dan janggal.
Restoran yang seharusnya legendaris dan luas itu tampak sangat sepi. Hanya ada satu meja di sudut jauh yang terisi oleh sepasang pelanggan. Beberapa pelayan berseragam serba hitam berdiri menggerombol di dekat meja kasir dengan raut wajah muram, lelah, dan lesu.
"Lho? Kok sepi banget ya sekarang?" gumam Zora bingung sambil memilih meja kayu di dekat jendela kaca besar. "Padahal dulu kalau jam makan begini, mau masuk aja mesti antri."
"Mungkin karena udah lumayan malam juga, Ra." jawab Rhea pelan sambil menarik kursi dan mendudukkan dirinya.
Seorang pelayan datang membawa dua lembar menu. Setelah Zora memesan dua porsi gulai kepala ikan dan es teh manis, pelayan itu berlalu pergi tanpa mengumbar senyum sedikit pun.
Rhea mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Makanan di restoran ini memang beraroma sangat harum, baunya gurih kaya akan rempah-rempah bumbu dapur tradisional.
Namun anehnya, makin lama Rhea duduk disana, aroma harum bumbu dapur itu perlahan bercampur dengan aroma lain yang amat tipis. Aroma minyak goreng yang terbakar gosong dan bau amis yang menyengat secara samar.
Rhea mengerutkan dahi, mengarahkan pandangannya ke arah lorong dapur di bagian belakang restoran.
Suhu udara di sekitar meja Rhea mendadak anjlok drastis. Hawa dingin yang amat membekukan. Hawa dingin yang menusuk tulang yang sangat Rhea kenali saat di rumah sakit dulu mendadak merayap halus mengelus tengkuknya. Bulu kuduk di sekujur lengan Rhea berdiri tegak seketika.
Jantung Rhea berdegup liar. Tangannya mencengkeram pinggiran meja kayu dengan erat. "Kenapa ini...? batin Rhea panik mencoba mengabaikan sensasi itu.
"Rhe, lu kenapa? Kok muka lu mendadak pucat gitu? tanya Zora heran, menyadari perubahan raut wajah sahabatnya. " AC nya kedinginan ya?"
"Enggak kok, Ra. Cuma rada masuk angin dikit aja," lirih Rhea pelan, berusaha tersenyum.
Namun, saat Rhea tanpa sengaja melemparkan pandangannya kembali ke arah lorong dapur belakang, matanya membelalak sempurna.
Dari balik kegelapan lorong dapur, sesosok pria paruh baya berjalan keluar secara lambat. Pria itu tidak menapak tanah, melainkan melayang tipis ke atas lantai.
Pria itu mengenakan celemek koki berwarna putih yang bernoda darah kering yang menghitam di bagian dada. Pakaian di balik celemeknya berobek-robek parah, dan yang paling mengerikan kulit wajahnya pucat keabuan bagai mayat dengan kedua rongga mata yang gelap tanpa bola mata.