NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 : ANAK YANG KEHILANGAN KEHANGATAN

...BAB 6...

...ANAK YANG KEHILANGAN KEHANGATAN...

Pagi itu, rumah Rian sudah kembali sibuk.

Nita berangkat lebih awal.

Sebuah mobil menjemputnya sebelum matahari benar-benar tinggi. Hari itu ia harus menghadiri pemotretan di luar kota, dan menurut perkiraannya, ia mungkin baru kembali beberapa hari lagi.

“Mas, aku berangkat dulu.” Nita berdiri di dekat pintu sambil memeriksa ponselnya.

Rian yang baru turun dari tangga menatap istrinya. “Berapa hari?”

“Belum tahu.” jawabnya singkat.

“Setidaknya kabari aku kalau sudah sampai.”

“Iya.”

Nita mencium pipi Rana yang masih mengantuk. “Sayang, Mama pergi dulu.”

Rana yang digendong Wulan hanya mengusap matanya. “Mama mau pelgi lagi?”

“Iya. Mama kerja dulu...”

Rana langsung memeluk leher Wulan lebih erat.

Nita melihat putrinya. “Rana, mau Mama gendong dulu?”

Rana justru menggeleng. “Mau cama Mama Wulan.”

Nita terdiam sesaat. Wulan jadi merasa tidak enak.

“Rana, sini sama Mama dulu sayang...” Nita mengulurkan tangannya. Ingin menggendong putrinya walau hanya beberapa menit saja.

Wulan mencoba menyerahkan Rana kepada Nita. Namun anak kecil itu malah menangis dan memeluk leher Wulan semakin erat.

“Enggak mau!” teriaknya.

Rian memperhatikan sejak tadi.

Nita menarik napas panjang. “Ya sudah kalau nggak mau.” Ia mengambil tasnya. “Nanti kalau Mama pulang, kamu harus mau sama Mama.”

Rana tidak menjawab. Nita akhirnya menyerah dan pergi.

Pintu utama tertutup. Suara mobil perlahan menjauh.

Wulan menatap Rana yang masih berada dalam pelukannya. Anak kecil itu kemudian menyandarkan kepala di bahu Wulan.

“Mama Wulan.”

Rana memanggil Wulan dengan sebutan Mama karena mengikuti Delon dan Astrid. Seolah Wulan juga adalah Mamanya. Tapi Rian tidak keberatan jika Rana memanggil Wulan dengan sebutan Mama.

“Iya sayang?”

“Jangan pelgi.”

Hati Wulan terasa mencelos. Ia mengusap rambut Rana.

“Mama tidak pergi.”

“Janji?”

“Janji.”

Rian yang berdiri beberapa langkah dari mereka hanya terdiam.

Ia mendengar percakapan itu. Dan untuk kesekian kalinya, ia merasa bersalah.

Bukan kepada Wulan. Melainkan kepada putrinya sendiri.

Rana masih terlalu kecil untuk memahami kesibukan ibunya. Yang ia tahu hanyalah setiap kali bangun tidur, Mama sering tidak ada. Setiap kali ingin bermain, Mama sedang bekerja. Dan setiap kali ingin bercerita, Mama sedang bersiap pergi.

Rian menghela napas. Setelah Nita pergi, rumah terasa lebih tenang.

Wulan membawa Rana ke meja makan. “Rana sarapan dulu yuk...” ajak Wulan, tapi Rana menggeleng.

“Mau roti.” Wulan menawari roti, Rana baru mengangguk.

Wulan mengambil roti dan menyiapkan sarapan untuknya. Rana duduk di kursi kecil.

Ia memperhatikan Wulan yang mengoleskan selai.

“Mama Wulan.”

“Iya?”

“Rotinya enak?”

Wulan tersenyum. “Di coba dulu.”

Rana mengambil sepotong roti. Ia menggigitnya. Matanya langsung berbinar.

“Enyak!”

Wulan tertawa. “Pelan-pelan makannya.”

Rana mengangguk.

Di sisi lain meja, Rian memperhatikan.

Ia baru sadar bahwa hampir setiap pagi Wulan selalu memastikan semua orang makan.

Bukan hanya Rana. Delon dan Astrid juga sudah selesai sarapan.

Bahkan Wulan sendiri baru mengambil makanan setelah semua orang selesai.

Rian teringat kejadian beberapa hari lalu.

Ia pernah bertanya apakah Wulan sudah makan.

Wulan menjawab belum. Ternyata kebiasaan itu masih sama. Selalu mendahulukan anak-anak.

Rian berjalan ke dapur. Melihat Wulan yang sedang sendirian di sana. “Kamu belum sarapan?”

Wulan menoleh. “Sudah.”

Rian melihat meja. Tapi tidak ada piring bekas makanan Wulan.

“Kapan?”

“Sudah tadi.”

Rian tidak menjawab. Ia tahu Wulan berbohong.

Namun ia tidak ingin mempermalukannya.

Rian membuka lemari. Mengambil sebuah piring. Kemudian meletakkan makanan di atasnya.

“Makanlah.”

Wulan mengernyit. “Saya nanti saja.”

“Sekarang.” perintahnya.

“Saya masih banyak pekerjaan.”

“Pekerjaan bisa ditunda lima belas menit lagi.”

Wulan terdiam.

Rian menaruh piring itu di hadapannya. “Duduklah...”

Wulan akhirnya duduk. Ia merasa aneh. Sangat aneh.

Dulu Rian adalah lelaki yang bahkan tidak pernah peduli apakah dirinya sudah makan atau tidak. Sekarang lelaki itu justru menyuruhnya sarapan.

Wulan tidak ingin terlalu memikirkan hal tersebut. Ia mengambil sendok.

“Terima kasih.”

Rian hanya mengangguk.

*****

Hari semakin siang...

Wulan membersihkan rumah. Ia mengangkat keranjang pakaian dari lantai bawah menuju area laundry. Keranjang itu cukup berat.

Wulan menarik napas ketika sampai di tangga. Ia mencoba mengangkatnya.

Namun baru beberapa langkah, seseorang mengambil sebagian pakaian dari dalam keranjang.

“Biar aku bantu.”

Wulan menoleh. Rian. “Tidak perlu, Pak.”

“Ini berat.”

“Saya bisa sendiri...”

“Aku tahu kamu bisa.” Tapi Rian tetap mengambil keranjang tersebut.

Wulan mengikutinya. “Pak Rian.”

“Hm?”

“Saya bisa mengerjakannya sendiri.”

“Aku cuma membantu.”

Mereka sampai di area laundry. Rian meletakkan keranjang. Wulan langsung mengambilnya.

“Terima kasih.”

Rian mengangguk.

Namun ketika Wulan berbalik, ia melihat Rian masih berdiri di sana.

“Ada lagi?” tanya Rian.

“Tidak ada...”

Rian mengangguk lalu pergi.

Wulan memperhatikan punggungnya. Perasaan tidak nyaman di hatinya mulai muncul.

Bukan karena Rian berbuat buruk. Justru karena lelaki itu terlalu banyak membantu.

Wulan takut perhatian kecil itu menimbulkan sesuatu yang tidak seharusnya ada.

*****

Siang harinya, Delon mengerjakan tugas sekolah di ruang keluarga. Astrid duduk di lantai bersama Rana.

Kedua anak perempuan itu bermain dengan balok mainan. Wulan sesekali membantu Rana menyusun mainannya.

“Ini jadi rumah,” kata Astrid.

Rana mengambil balok. “Ini juga.”

Delon tertawa. “Kalau semuanya dipakai, nanti nggak ada atap.”

“Biarkan saja.” Wulan tersenyum.

Rian yang sedang bekerja dari ruang kerjanya beberapa kali keluar hanya untuk melihat mereka.

Ia memperhatikan bagaimana Delon menjaga Astrid. Bagaimana Astrid membantu Rana. Dan bagaimana Wulan mengawasi ketiganya.

Ada sesuatu yang berbeda dalam suasana rumah itu. Lebih hangat dan lebih hidup.

Rian menyadari bahwa sejak kedatangan Wulan, Rana lebih sering tertawa.

Anaknya mulai makan lebih teratur. Tidurnya juga lebih mudah. Bahkan sekarang Rana sering menunggu Wulan membacakan cerita sebelum tidur. Rian sangat bersyukur.

Namun di sisi lain, ia merasa bersalah. Karena perhatian yang seharusnya diberikan seorang ibu justru lebih banyak diterima anaknya dari orang lain.

Menjelang sore, Wulan sedang menjemur pakaian ketika kepalanya terasa sedikit pusing.

Ia berhenti sejenak. Tangannya berpegangan pada tiang.

Rian yang baru keluar dari dapur untuk minum, tak sengaja melihatnya.

“Wulan?”

Wulan langsung berdiri tegak. “Iya?”

“Kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Wajahmu kelihatan pucat.”

“Saya_ cuma sedikit lelah.”

Rian mendekat. “Sebaiknya kamu istirahat.”

“Tidak perlu Pak.” Wulang menggeleng cepat.

“Wulan.”

“Saya masih punya pekerjaan lain.”

Rian menghela napas. “Kamu itu keras kepala sekali.”

Wulan menatap Rian, kemudian berkata pelan, “Pak Rian, saya memang bekerja di sini. Dan saya dibayar untuk mengurus rumah dan menjaga Rana.”

“Aku tahu.”

“Jadi anda tidak perlu terlalu mengkhawatirkan saya.”

Rian mengerutkan kening. “Aku hanya ingin membantumu.”

“Saya menghargainya.”

“Lalu masalahnya?”

Wulan terdiam. Ia tidak ingin menyakiti Rian. Namun ia harus menjaga batas.

“Masalahnya... saya tidak ingin perhatian Bapak kepada saya disalahartikan.”

Wajah Rian langsung berubah. “Apa maksudmu?”

Wulan menarik napas. “Saya hanya ingin hubungan kita tetap sebagai majikan dan karyawan.”

Rian menatapnya. “Aku tidak pernah mengatakan lebih dari itu.”

“Saya tahu.”

“Lalu kenapa bicaramu seperti itu?”

Wulan menunduk. “Karena saya tidak ingin ada masalah.”

Rian merasa tersinggung. “Aku membantumu karena kamu terlihat kelelahan. Aku memperhatikan anak-anakmu karena mereka tinggal di rumahku. Aku melakukan itu semua bukan karena—” Ia berhenti.

Wulan menunggu.

Rian menghela napas. “Sudahlah.” Ia berbalik. Namun sebelum pergi, ia berkata lagi. “Kamu terlalu banyak berpikir, Wulan...”

Wulan menatap punggungnya. “Saya hanya berhati-hati.”

Rian tidak menjawab. Ia melangkah pergi ke kamarnya.

Wulan menggigit bibir. Ia tahu mungkin perkataannya tadi terdengar kasar.

Namun Wulan tidak menyesal. Ia sudah pernah mengalami kehidupan yang membuatnya kehilangan kepercayaan dan dia tidak ingin mengulang kesalahan lagi.

Malam harinya, Rian makan sendirian di meja makan. Nita belum pulang. Rana duduk di samping Wulan menyiapkan makan anak majikannya.

“Mama Wulan, suapin.” pinta Rana.

Wulan tersenyum. “Mau disuapin... Sini." Wulan pun duduk di samping Rana, menyuapi anak itu dengan pelan dan perhatian.

"Enaaak..." sahut Rana memakannya dengan lahap.

Sekali lagi Rian tersenyum melihat pemandangan itu.

Setelah selesai makan, Wulan segera membawa Rana ke kamar karena waktunya Rana tidur.

Rian diam-diam memperhatikannya. Ia teringat percakapan bersama Wulan sore tadi. Ia sebenarnya tidak bermaksud membuat Wulan tidak nyaman. Ia hanya merasa kasihan padanya.

Melihat Wulan bekerja tanpa berhenti membuatnya ingin membantu.

Melihat Delon dan Astrid beradaptasi di tempat baru membuatnya ingin memastikan mereka baik-baik saja.

Namun Wulan rupanya salah memahami perhatian itu.

Rian bersandar di kursi. Mungkin memang lebih baik ia menjaga jarak.

Bagaimanapun, Wulan bukan lagi gadis yang dulu dikenalnya. Ia sudah memiliki kehidupan sendiri. Dan Rian juga memiliki keluarga.

Setelah memastikan Rana tidur. Di kamarnya, Wulan membantu Astrid mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Ia kemudian mematikan lampu.

“Sekarang kalian berdua cepat tidur.”

“Iya, Mama.”

Kedua anak itu berbaring. Wulan keluar kamar.

Di koridor, langkahnya terhenti ketika melihat Rian berdiri sendirian. Mereka saling memandang. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Kemudian Rian berkata, “Wulan.”

“Ya?”

“Maaf kalau tadi membuatmu tidak nyaman.”

Wulan terdiam. “Saya juga minta maaf kalau perkataan saya tadi terlalu keras.”

Rian mengangguk. “Tidak apa-apa.” Setelah itu Rian pergi. Wulan memperhatikannya.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah tersebut, ia menyadari bahwa menjaga jarak dengan Rian mungkin tidak akan semudah yang ia bayangkan.

Sementara di kamar lain, Rana sudah tertidur sambil memeluk bonekanya.

Anak kecil itu mungkin belum memahami apa yang terjadi di rumahnya.

Ia hanya tahu satu hal. Ketika Mamanya pergi, ada seseorang bernama Wulan yang selalu ada untuknya.

Dan tanpa disadari siapa pun, kehadiran Wulan perlahan menjadi kehangatan yang selama ini paling dirindukan anak kecil itu.

Bersambung...

1
Lisa
Moga dgn berjlnnya waktu..Wulan dpt menerima Rian.
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
Lisa
Ibunya Rian ini mengganggu ketenangan aja..udh biarkan Rian mengatur hidupnya sendiri.
Lisa
Ngapain juga Handi peduli sama Wulan..toh mrk udh bercerai dan dari dulu Handi terpaksa nikah dgn Wulan
Lisa
Rian mulai jatuh cinta lg nih 😊
falea sezi
🤣🤣mampus sok cari yg modern makan itu cwek. modern😒😒😒 sukurin dapet istri spek jalang
✨Kayla Rane✨: hahaaa😂 bener k
total 1 replies
Lisa
Handi emg kejam bgt..cpt sembuh y Wulan dr luka fisik & luka batinnya..skrg kmu punya Rian yg selalu ada utkmu..
Lisa
Udh Handi g usah ngawasi Wulan terus..urus aj hidupmu sendiri.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!