Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 — DESA KEDUA: KEMARAHAN
Udara di perbatasan timur bergetar hebat. Tidak seperti reruntuhan Desa Batu Api yang sunyi senyap oleh abu ketakutan, Desa Angin—yang dulunya terkenal sebagai kawasan dataran tinggi yang damai—kini berubah menjadi lautan kawah vulkanik yang mendidih.
Lu Chen memacu kudanya kencang, melompat turun begitu tiba di gerbang utama desa. Tato segel di dadanya yang merepresentasikan identitasnya sebagai perpaduan sepertiga manusia, sepertiga dewa, dan sepertiga siluman langsung memanas, merasakan gelombang aura destruktif yang mendidih di sekeliling kawasan tersebut.
"Hati-hati, suhu di sini tidak wajar," seru Wolf, mencabut pedangnya saat melihat batu-batu karang di sekitar mereka meleleh akibat panas ekstrem.
Mereka menyusuri jalan utama yang dipenuhi retakan magma. Di tengah lapangan desa, puluhan warga berdiri kaku. Tidak ada sisa air mata ataupun keputusasaan di wajah mereka; yang ada hanyalahurat-urat leher yang menonjol keluar, bola mata yang memerah penuh pembuluh darah pecah, serta kepalan tangan yang begitu erat hingga menembus telapak tangan mereka sendiri.
"Mereka terbakar oleh amarah yang dipaksakan," ucap Lin Yue dengan napas tertahan, menghindari aliran lava kecil di dekat kakinya. "Emosi kemarahan mereka ditiup ribuan kali lipat hingga membakar kesadaran dan fisik mereka dari dalam."
Lu Chen melangkah mendekati seorang pemuda desa yang sedang meraung tanpa suara, menatap langit dengan kebencian absolut. Identitas campurannya—yang menyatukan ketenangan manusia, kesucian dewa, dan keliaran siluman—membuatnya mampu merasakan gelombang amarah murni itu menembus relung jiwanya.
JLEB!
Dada Lu Chen terasa sesak. Di dalam benaknya, ribuan suara sumpah serapah, dendam kesumat terhadap ketidakadilan, dan hasrat untuk menghancurkan segala hal bergemuruh hebat, mencoba memprovokasi sisi siluman dan manusianya untuk ikut mengamuk.
"Argh..." Lu Chen terhuyung, mencengkeram kepalanya erat-erat saat pendaran tiga warna di dadanya berkedip tak beraturan.
"Chen!" Xue Ling segera menahan tubuh pemuda itu agar tidak jatuh menyentuh tanah panas. "Kendalikan dirimu! Jangan biarkan amarah mereka meracuni pikiranmu!"
Pesan di Tengah Kobaran Api
Luna yang menyisir sisi dinding batu karang menunjuk ke arah tebing yang membara. "Lihat itu!"
Di atas dinding batu yang terpanggang api, sebuah tulisan besar terukir menggunakan darah yang mendidih:
2/9. UNTUK KEBANGKITAN. HATI KEDUA: KEMARAHAN
Xue Ling menatap tulisan tersebut dengan dahi berkerut tajam. "Dua hati emosi telah direnggut: Ketakutan dari desa pertama, dan kini Kemarahan dari desa kedua. Para jenderal itu benar-benar sengaja memanen sisi tergelap dari umat manusia, dewa, dan siluman."
Tiba-tiba, kobaran lava di sekitar mereka melesat naik ke udara, berputar membentuk pusaran api raksasa yang memunculkan tiga sosok bayangan tanpa wajah.
"Selamat datang di tungku pembantaian, sang Raja Campuran," suara Jenderal Pertama bergemuruh mencemooh. "Rasakan amarah mereka! Bukankah dunia ini memang layak untuk dihancurkan?!"
Lu Chen perlahan menegakkan tubuhnya. Pendar tiga warna di dadanya kembali berdenyut stabil, melawan gelombang provokasi panas di sekitarnya. Ia menatap tajam ke arah bayangan tersebut. "Kemarahan tidak akan menyelesaikan apa pun. Itu hanya menciptakan kehancuran baru."
"Omong kosong!" bentak Jenderal Kedua. "Kau sendiri hidup di atas amarah dan kebencian ras yang menolakmu! Akui saja, di dalam darah campuranmu itu, kau menyimpan amarah yang jauh lebih besar dari mereka semua!"
Hampir Khilaf
Kata-kata itu menghujam tepat di titik terlemah jiwa Lu Chen. Kilasan memori saat ia diusir, dicaci maki sebagai anak haram, dan disiksa oleh tiga ras berkelebat cepat di kepalanya. Sisi siluman di dalam dirinya berontak liar, menuntut pembalasan darah.
Cakar bayangan hitam mulai mencuat dari punggungnya. Napas Lu Chen memburu, matanya memerah penuh amarah. "Bunuh... musnahkan mereka semua..." bisik suara kegelapan di dalam batinnya.
"Lu Chen, sadarlah!" panggil Xue Ling panik, mencengkeram bahu pemuda itu lebih kuat.
Lu Chen terengah-engah. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang mulai diselimuti cakar siluman. Nyaris saja... nyaris saja ia menuruti amarah itu dan membiarkan dirinya dikuasai sepenuhnya.
Dengan sisa kesadaran terakhirnya, Lu Chen menutup mata rapat-rapat. Ia merangkul identitas sejatinya—menyatukan strategi taktis manusia, cahaya penyembuhan dewa, dan ketenangan bayangan siluman ke dalam satu titik harmoni.
CAHAYA TIGA WARNA MELEDAK DAHSYAT.
Gelombang energi murni itu melesat menyapu bersih kobaran api dan menetralisir kutukan amarah di desa tersebut, membuat raga para warga yang tadinya kaku perlahan terkulai lemas dalam keadaan selamat.
Bayangan ketiga jenderal itu terdorong mundur oleh tekanan aura suci tersebut. "Menarik sekali... tapi jalanmu masih sangat panjang, Raja Campuran. Masih ada tujuh hati emosi lagi yang menanti!"
WUS! Mereka lenyap ditelan kepulan asap hitam.
Tekad yang Diuji
Suasana kembali senyap di atas kawah Desa Angin yang kini mulai dingin. Lu Chen duduk bersila di atas batu, mengatur napasnya yang masih sedikit tersengal.
Xue Ling mengembuskan napas lega. "Kau hampir kehilangan kendali tadi."
Lu Chen mendongak, menatap rekan-rekannya dengan sorot mata yang kini jauh lebih tenang dan penuh tekad. "Aku hampir terpancing... tapi aku ingat janjiku pada Bima, dan pada ibuku. Aku tidak boleh dikuasai oleh amarah."
Lin Yue menatap peta perbatasan yang menyala di udara. "Dua hati emosi telah jatuh ke tangan mereka: Ketakutan dan Kemarahan. Kita harus bergerak lebih cepat ke desa ketiga sebelum mereka mengambil emosi berikutnya."
Lu Chen bangkit berdiri, mengenakan kembali jubah perangnya. Tato di dadanya memancarkan pendaran cahaya tiga warna yang terang dan mantap.
"Ayo kita berangkat," ucap Lu Chen tegas. "Kita tidak akan biarkan mereka mengumpulkan sembilan hati dendam itu."
Dan di bawah langit perbatasan yang mulai diselimuti fajar kelam, rombongan kecil Kerajaan Harapan kembali bergerak maju, berpacu melawan waktu demi menyelamatkan Tiga Alam dari kehancuran total.