Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Perangkap di Balik Remang Malam
"Jangan lupa yang aku katakan tadi," tambah Aldo dengan nada suara datar namun sarat akan maksud terselubung.
Sang bartender menyunggingkan senyum mengerti, lalu mengangguk pelan.
"Tenang aja, Al. Drink spesial siap disajikan."
Mita melangkah mendekat dengan gestur tubuh yang dibuat seanggun dan segenit mungkin. Hatinya membuncah girang saat menerima pesan dari Aldo tadi sore. Mita berpikir, gertakannya soal penyimpangan masa lalu Aldo akhirnya berhasil membuat pria itu panik dan terpaksa menemuinya di luar jam kantor.
"Akhirnya kamu mau menemuiku juga, Al," ucap Mita dengan intonasi manja, mengambil tempat duduk tepat di samping Aldo tanpa diundang.
Aldo menoleh pelan, menyeringai menatap wanita di sebelahnya.
"Ya, untuk sedikit memberi pelajaran aja sama kamu."
Mita mengernyitkan dahinya, raut bahagianya sedikit beriak oleh kebingungan. "Maksudmu apa?"
Tanpa aba-aba, Aldo memiringkan tubuhnya. Wajah tampannya mendekat hingga hanya berjarak beberapa sentimeter dari telinga Mita. Aura mengintimidasi yang sangat pekat menguar, membuat napas Mita mendadak tertahan.
"Untuk nggak mengganggu hubunganku dengan Raisha," bisik Aldo pelan, sangat dingin dan penuh ancaman tajam yang menghujam.
Raut wajah Mita seketika berubah kaku, tergantikan oleh kejengkelan yang mendalam. Di saat yang sama, sang bartender menggeser sebuah gelas koktail berwarna kebiruan yang tampak segar ke hadapan Mita.
Tanpa curiga dan terdorong rasa emosi yang membakar dadanya, Mita meraih gelas itu lalu meneguknya cukup banyak hingga tersisa setengah. Rasa manis menyegarkan dengan kadar alkohol yang tersamarkan mengalir membasahi tenggorokannya.
"Kenapa kamu begitu terobsesi sama Raisha, sih?!" semprot Mita dengan nada tinggi yang ditahan.
"Dia itu playgirl! Cowok-cowok tuh cuma dijadikan mainan buat dia! Aku tuh cuma mau kamu nggak terjerat sama godaan binalnya dia, Al!"
Rahang Aldo sedikit mengeras mendengar makian terlarang itu dialamatkan pada Raisha. Binar matanya menggelap menahan geram. Namun, Aldo menahan dirinya untuk tidak main fisik; permainan psikologis jauh lebih mengasyikkan baginya.
Mita, yang belum menyadari perubahan pada tubuhnya, mencoba merapatkan tubuhnya, membelai lengan kemeja Aldo untuk merayunya. Namun, Aldo menepisnya dingin, tidak menggubris sedikit pun sentuhan tersebut.
"Mana pacarmu?" tanya Aldo tiba-tiba dengan nada menyindir.
Mita yang kepalanya mulai terasa sedikit melayang akibat racikan minuman keras bercampur stimulasi bahan kimia halus dari sang bartender tersenyum menyeringai. Pandangannya mulai sedikit kabur, namun keangkuhannya masih tersisa.
"Kamu pikir aku bakal bawa dia ke sini?" igau Mita terkekeh pelan. "Buat apa? Bikin mengganggu kedekatan kita berdua aja..."
Aldo menatap risih ke arah Mita. Dia tentu tahu Mita tidak akan pernah membawa 'pacar barunya' yang didapat dari aplikasi dating online itu. Mita sengaja mengencani pria acak dari aplikasi tersebut hanya demi memancing kecemburuan atau perhatian Aldo. Sebuah taktik murahan yang sudah dibaca Aldo sejak awal.
"Sudah aku duga," ujar Aldo tenang. "Tapi jangan khawatir... pacarmu sudah nyampe ke sini."
Aldo menegakkan tubuhnya, mengibaskan tangan seraya menunjuk ke arah pintu utama bar. Seorang pria berjaket kasual baru saja melangkah masuk dengan wajah memutar mencari seseorang.
Mita terperanjat hebat. Matanya melotot menatap pria asing yang dikenalnya lewat layar ponsel itu kini melangkah mendekat. "G-gimana kamu tahu dia...?"
Belum sempat Mita menyelesaikan kalimatnya, pandangannya mendadak berputar hebat. Badannya oleng ke samping, kepalanya terasa amat berat bagaikan ditindih batu besar. Efek minuman itu bekerja sangat cepat, mengikis kesadaran dan kontrol diri Mita hingga ke titik terendah.
Pria dari aplikasi dating online itu menghampiri meja bar, menatap Aldo lalu melirik Mita yang sudah terkulai lemas memegangi kepalanya di meja.
"Kamu Aldo, ya? Teman kantornya Mita?" tanya pria itu ramah. "Aku Bayu."
"Ya, benar," jawab Aldo datar seraya menjabat tangan Bayu singkat.
Bayu menghela napas seraya memegangi bahu Mita yang sudah tak berdaya.
"Ternyata dia terlalu mabuk. Makasih banyak ya, Bro, udah mendadak menghubungi aku lewat akun Mita buat jemput pacarku ini. Aku kaget pas kamu kasih tahu lokasi bar ini."
"Sama-sama. Dia memang agak hilang kendali malam ini," sahut Aldo dalam obrolan ringan tersebut, menyambut keramahan Bayu yang sama sekali tidak tahu skenario sebenarnya di balik panggilan ini.
"Kepalaku... sakit banget..." gumam Mita lirih dengan suara tak jelas, jemarinya terkulai lemah tak mampu menepis tangan Bayu.
Aldo mengangguk pelan pada Bayu. "Sebaiknya cepat kamu bawa Mita pulang. Dia udah cukup mabuk dan sensitif."
Bayu merangkul pinggang Mita, mengangkat tubuh wanita yang sudah setengah sadar itu.
Sebelum Bayu berbalik pergi, Aldo memiringkan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Bayu dengan senyuman miring yang teramat licik dan berbahaya.
"Dan... cara mendapatkan cewek sepenuhnya yaitu dengan mengikatnya dengan sempurna, baik secara paksa ataupun nggak... Aku yakin kamu tahu maksudku, kan?" ujar Aldo dengan suara rendah yang persuasif.
Bayu tertegun sejenak menangkap kode terselubung dalam kalimat Aldo. Melihat kondisi Mita yang pasrah tak berdaya di pelukannya, sebuah senyuman liar yang penuh hasrat terbit di wajah Bayu.
"Aku sangat paham maksudmu, Bro. Terima kasih sarannya," timpal Bayu seraya tersenyum penuh arti, lalu setengah memapah dan menyeret Mita keluar dari bar.
Mita mencoba memberontak, namun tubuhnya terlalu lemah. Dalam sisa-sisa kesadarannya yang kian menghilang ditelan remang malam, Mita hanya bisa melihat punggung Aldo yang berdiri dingin dari balik meja bar, menyaksikan kehancurannya sendiri akibat perangkap yang dirancangnya sendiri.
Aldo menyesap sisa minumannya sampai habis, menatap pintu bar yang tertutup rapat dengan tatapan tanpa ampun. Duri pertama dalam hubungannya dengan Raisha kini telah dicabut secara permanen.
Bayu telah sepenuhnya menghilang di balik pintu kaca bar, membawa serta tubuh Mita yang terkulai lemas dan pasrah. Denting pintu yang berdenting lambat memutus sisa-sisa jeritan lirih Mita yang tenggelam di antara dentuman musik beritme lambat.
Temannya yang bertindak sebagai bartender melangkah mendekati Aldo seraya mengelap permukaan meja kayu yang sedikit basah. Sebuah kekehan pelan keluar dari bibirnya saat dia menaruh kembali botol racikan ke rak kaca di belakangnya.
"Aku sedikit membubuhi obat di minumannya tadi," ujarnya dengan nada santai, setengah berbisik seraya tertawa kecil. "Cuma sedikit... sekadar buat membangkitkan hasratnya biar tambah menempel sama pria yang menjemputnya itu."
Aldo tidak langsung membalas. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, membiarkan garis bibirnya tertarik membentuk senyuman menyeringai yang dingin dan licik. Racikan itu adalah penyempurna skenario yang sangat bersih.
Mita, yang sibuk menggali lubang kehancurannya sendiri dengan pancingan busuk, kini benar-benar terperangkap dalam jaring yang dipasangnya sendiri. Pria dari aplikasi kencan itu akan memastikan Mita terikat sepenuhnya, memutus total akses wanita itu untuk kembali mengusik kehidupan kantornya.
Sang bartender menuangkan kembali sedikit viski ke dalam gelas Aldo, lalu menatap rekannya itu dengan pendar rasa ingin tahu yang mendalam.
"Tapi jujur, Al... siapa sebenarnya wanita spesial itu?" sahut sang bartender lagi, memajukan tubuhnya sedikit.
"Sampai kamu harus bertindak sejauh ini cuma buat menyingkirkan cewek kayak Mita. Yah... meskipun jujur aja, tindakan kamu malam ini sebenarnya nggak cukup fatal kalau dibandingin sama kelakuan kamu yang sebelum-sebelumnya."
Mendengar sindiran tajam soal masa lalunya, sorot mata Aldo seketika berubah. Pandangan hangat dan senyum liciknya menguap tanpa sisa, tergantikan oleh kerlingan mata cokelat gelap yang begitu tajam dan menusuk, sebuah peringatan implisit yang tak terbantahkan.
Sang bartender serta-merta mengangkat kedua tangannya ke udara, menyunggingkan senyum menyerah sebelum aura intimidasi Aldo membakar seluruh meja bar.
"Tenang, Bro... tenang," sahut bartender itu santai, terkekeh pelan untuk mencairkan ketegangan yang mendadak membeku. "Aku kan cuma bercanda. Lagian kamu tahu sendiri, aku nggak punya fetish aneh sama cewek orang kayak kamu dulu."
Aldo menarik napas panjang, meresapi rasa hangat viski yang membakar tenggorokannya. Tatapan tajamnya perlahan mengendur, namun keseriusan di wajahnya tak berkurang sedikit pun.